Lantai 4
Ada apa dengan lantai 4?
Dalam Numerologi, 4 mengandung arti Esoterik yang berkaitan erat dengan Kerja Keras dan Kedisiplinan. 4 juga melambangkan sifat bumi, Sabar, Teliti, Kreatif dan Cekatan. Empat merupakan angka yang luar biasa, dan dunia mengenal Empat sebagai. Empat Musim, Empat Arah Mata Angin, dan juga Empat Elemen (Tanah, Angin, Api dan Bumi)
Namun tahukah kalian, bahwa di balik kemewahannya Angka 4 juga memiliki sisi yang sangat gelap?😈 Di sebagian negara di dunia seperti China, Jepang dan Hongkong menganggap 4 sebagai angka yang sial😈 Terutama terhadap pembangunan, sering kali lantai 4 di hilangkan dari urutan di lift atau terkadang di rubah menjadi angka lain seperti 3B.
Kenapa demikian? Ada yang berargumen bahwa dalam salah satu bahasa China Asli, penyebutan Angka 4 mirip dengan penyebutan kata KEMATIAN 💀 Karena itu, sering kali angka Empat di hubungkan dengan kesialan. Mereka pun semakin menghindari Angka 4.
Apakah sesederhana itu?😏 Pendapat mana yang akan kalian setujui? Angka 4 adalah angka yang Glamor? Atau angka 4 sebagai angka yang sial?
Sebelum kalian membuat keputusan, simak dulu kisah ini.
Suatu hari, di hari yang cerah seperti biasanya. Di mana semua orang sibuk di hari kerjanya. Ada 3 orang pegawai di salah satu perusahaan Animasi terkemuka. 3 orang itu terdiri dari Dani yang merupakan salah satu pegawai Magang di perusahaan itu, Siska yang merupakan seorang editor Anime, dan juga Riki yang merupakan seorang Dubbing.
Ketiga orang yang tidak saling mengenal itu masuk ke dalam Lift yang sama dan waktu yang sama. Semua bermula biasa saja, Siska menekan tombol lift menuju lantai 6 dan lift mulai bergerak ke atas. Riki berdiri dengan tenang sembari mendengarkan musik di earphones nya. Sedangkan Dani sedang memeriksa tumpukan dokumen yang Dia bawa.
Siska hanya melirik kedua laki-laki di belakang nya itu, dan kemudian kembali melihat angka Lift yang sedang naik. Tetapi seketika....
Gubraaakkkk!!!!....
Riki terhuyung hingga memegang dinding, sedangkan Dokumen yang di bawa Dani jatuh berserakan di lantai. Siska juga terhuyung karena tiba-tiba saja saat itu Lift berhenti bergerak.
"Ada apa ini?" tanya Riki yang mulai melepas Earphones nya.
"Aduh... Dokumen ku jadi jatuh semua" seru Dani yang segera jongkok memunguti dokumenya.
"Sepertinya Lift nya macet" ucap Siska yang mulai menekan semua tombol lantai di Lift.
"Tenang aja... Sebentar lagi juga akan kembali normal" ucap Riki yang mulai memasang Earphones nya kembali.
"Ehh, kita ada di lantai berapa? Aku lagi buru-buru nih" ucap Dani yang sudah berdiri kembali.
Siska mendongak melihat anak panah yang menunjukkan posisi mereka. Seketika Siska membelalakkan setelah melihat anak panah yang berada di antara Angka 3 dan 5.
"Ehh!! Kenapa tiba-tiba Handphone ku mati? Padahal tadi baterai masih full" ucap Riki yang tidak bisa menyalakan handphone nya.
Siska dan Dani juga mulai mengecek Handphone mereka setelah mendengar perkataan Riki. Dan hasilnya 😳 Handphone mereka seketika juga mati.
"Apa sih masalah nya? Ponselku juga mati" ucap Dani yang terus menekan-nekan Handphone nya.
"Bahkan jam tangan juga berhenti bergerak!!😳" ucap Riki setelah melihat jam tangannya.
"Yang benar saja... Apa mungkin mitos itu memang benar? Saat ini kita berada di lantai 4,apa mungkin kita akan sial?" ucap Siska dengan ekspresi nya yang menakutkan.
Riki melirik ke ID card Siska, dan mengetahui bahwa Siska seorang Editor Anime.
"Kebanyakan Ngedit Film Horror ya? Sampai percaya dengan mitos seperti itu?" ucap Riki meremehkan Siska.
Siska juga melihat ke ID Card Riki
"Kamu seorang dubbing? Pasti juga sering baca naskah horor sampai tidak takut dengan hantu?" ucap Siska dengan wajah yang datar.
"Enggak lah... Aku ini orang yang cukup realistis, enggak ada yang namanya hantu di dunia ini. Itu semua hanya pandangan manusia saja!" ucap Riki penuh dengan percaya diri.
"Kamu begitu yakin? Lalu kenapa di gedung ini tidak ada lantai 4? Lihat, bahkan arsitektur juga percaya dengan anggapan bahwa lantai 4 membawa kesialan!!" seru Siska sembari menunjuk ke arah tombol Lift yang tidak mencantumkan angka 4.
Riki melihat ke arah tombol Lift, tetapi Riki yang seorang laki-laki sejati mana mungkin mempercayai hal-hal mistis seperti itu.
"Enggak ada masalah!! Kita tunggu saja sebentar lagi juga akan selesai di perbaiki!" ucap Riki penuh keyakinan.
Di samping itu, Dani hanya diam di pojok ruangan mendengarkan pembicaraan Siska dan Riki dengan tubuh yang gemetaran.
"Kamu takut?" tanya Siska ke Dani. Riki juga menoleh ke Dani yang tidak berdiri dengan stabil.
"Enggak!! Aku seorang laki-laki mana mungkin takut dengan hantu!!" ucap Dani yang mencoba tenang.
Riki yang melihat Dani ketakutan mulai melihat sekeliling dan pandangannya terhenti pada pintu kecil di atas lift.
"Mungkin ini akan lebih lama, kita lewat pintu darurat ini saja" ucap Riki sembari meraih kait pintu di atas Lift.
Badan Riki yang tinggi, hanya dengan beberapa kali lompatan akhirnya bisa membuka pintu itu.
"Naik kesitu? Enggak ah, aku pakai rok. Kalian saja, nanti cepat cari bantuan" ucap Siska ke Riki.
"Ya udah" Riki melompat dan meraih atap Lift. Dan akhirnya bisa naik ke atas lift dan menarik Dani untuk naik juga.
"Kamu baik-baik di situ!! Kami akan segera cari bantuan!!" teriak Dani dari atas Lift.
Riki dan Dani sudah berada di atas Lift, dan terlihat sebuah lubang yang memancarkan cahaya di atas mereka.
"Itu ada cahaya, kemungkinan itu salah satu lubang fentilasi di atas ruangan. Kita panjat kesana saja, jaraknya tidak terlalu jauh" ucap Riki ke Dani.
"Baik!!" ucap Dani yang kemudian mengikuti Riki memanjat kabel lift menuju lubang itu.
Mereka merangkak masuk menelusuri lubang itu, hingga berhenti di sebuah fentilasi udara. Dengan sekuat tenaga akhirnya mereka bisa membukanya, dan keluar dari lorong itu.
Namun, sesuatu yang di luar nalar mengejutkan mereka.
"Kita...." Dani tak bisa meneruskan perkataannya.
"Gurun?!!" cetus Riki yang tak percaya dengan apa yang Dia lihat.
"Yang benar saja... Kita hanya merangkak dari lubang, kenapa bisa sampai gurun?" ucap Dani yang mulai ke takutan dan bersembunyi di belakang Riki.
"Enggak mungkin kan? Kita berpindah dimensi?" gumam Riki lirih sembari melihat sekelilingnya.
"Ehm... Sepertinya kita lebih baik tunggu di lift aja" ucap Dani yang berbalik hendak kembali ke dalam lubang.
"Gawat!! Lubang yang tadi kita lewati tiba-tiba menghilang!!" seru Dani sontak mengejutkan Riki.
Riki membalikkan badanya, dan seketika sekelilingnya berubah menjadi dataran gurun yang tak berujung.
Mereka mulai berjalan untuk mencari jalan keluar, namun mereka tetap saja berjalan di gurun itu hingga hari petang tanpa menemukan sedikitpun jalan keluar.
"Ini sudah malam, apa benar yang di katakan wanita tadi? Angka 4 memang membawa kesialan hah... Apa mungkin kita akan mati kehausan di sini?" gerutu Dani yang duduk terkapar karena lelah.
"Kamu laki-laki baru jalan beberapa meter kok udah letoy!!" seru Riki meneriaki Dani.
"Sudahlah... kita istirahat dulu, capek banget nih" ucap Dani sembari mengipasi lehernya dengan tangan.
Riki pun duduk di samping Dani dan beristirahat. Hari semakin gelap, tanpa adanya cahaya mereka duduk di tengah kegelapan di atas gurun yang sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan.
"Apa kita akan mati?" tanya Dani lirih
"Enggak" jawab Riki dengan malas.
Dan tiba-tiba....
"Ahhhhh!!!!...... " Dani tersedot ke dalam tanah hingga tak terlihat wujudnya.
"Hei!!! Kamu dimana?!! Jawab!!" teriak Riki sembari meraba-raba ke arah Dani.
Namun Dani menghilang tanpa jejak, Riki yang panik mulai tak bisa duduk dengan tenang. Di tengah kegelapan, Riki berjalan perlahan tanpa arah tujuan. Hingga Riki mendengar suara seseorang di tengah kegelapan.
"Apakah ada orang?!!" teriak Riki menuju sumber suara itu.
Orang itu terlihat sedang jongkok sembari makan sesuatu. Riki berjalan perlahan mendekati orang itu.
Hingga ketika jarak Riki hanya tinggal beberapa langkah...
"Halo... Apa kamu bisa membantu ku?" tanya Riki yang sudah dekat dengan orang itu.
Hening... Hening....
Orang itu yang semula menikmati makanannya seketika berhenti setelah Riki memanggilnya. Perlahan.... Orang itu membalikkan kepala nya
"Whaaaaaaa!!!!!" sontak Riki terjingkat kebelakang melihat orang itu yang mampu memutarkan kepalanya 180° seperti halnya burung hantu.
Mulut yang penuh dengan tetasan darah, daging mentah yang Dia genggam. Menambah rasa takut yang di alami Riki.
Riki terus mundur kebelakang, Dan monster itu terus merangkak mendekati nya.
"Tidak!!! Jangan kesini!! Pergi!!" teriak Riki yang sangat ketakutan.
Monster itu semakin mendekati Riki, hingga Riki berhenti karena menabrak seseorang di belakangnya. Perlahan Riki mendongak ke belakang, betapa menakutkan nya Monster yang lain berada tepat di belakang Riki.
"Waaa!!!😫😫😫😫 Tolong!!!" Riki memejamkan matanya dan berteriak sekencang kencang nya.
Hingga sebuah suara terdengar keras dari langit.
Cut!!!!
Riki terkejut melihat pemandangan di sekitarnya. Semua yang tadinya berupa gurun, seketika berubah menjadi dinding putih. Dan terlihat, kamera ada di mana-mana. Di samping itu, ada yang lebih mengejutkan lagi.
Siska dan Dani yang dari awal bersama nya terjebak di lift bersamanya, saat ini sedang tertawa di balik luar ruangan. Lengkap bersama sutradara dan juga tim kru yang lain.
"Ada apa ini?" tanya Riki kebingungan.
Siska dan Dani datang menghampiri Riki yang masih dalam keadaan bingung dan ketakutan.
"Hahahaha!!! Selamat, kamu jadi orang pertama yang mencoba progam gurun tanpa batas buatanku. Aku yakin progam ini akan jadi wahana yang paling di minati pengunjung!!" seru Siska sembari menepuk bahu Riki.
"Ini semua?... Cuma Progam? Dan Kamu?" Riki kebingungan dan menunjuk Dani dengan jarinya. Namun, Dani justru tersenyum ke Riki.
"Aku Dani, seorang aktor visual dari pembuatan Anime" ucap Dani memperkenalkan diri.
Riki hanya bisa menahan emosi nya, karena mendapat pengalaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Dari kisah itu, apakah kalian masih yakin bahwa lantai 4 membawa kesialan?😏 Atau itu hanya pemikiran dari Imajinasi manusia yang terlalu sering di bicarakan hingga terpati di pemahaman manusia??
Bagaimana menurut kalian?😂