"Agatha, Gue udah dapet kabar...!" bisik seorang wanita kepada Dia, Agatha Floryn.
Mata perempuan itu sedikit memicing, "siapa?" tanya Agatha dengan pandangan sinis.
"Anak buangan, si Bella dari kelas sebelah...!" balas Luna memutar bola matanya malas.
"Lo harus kasih pelajaran! Karena Dia udah nyebar aksi bully kita ke seluruh gedung sekolah ini!"
"Yah, walaupun ga begitu berdampak sih..." lanjut Luna menggeleng enggan, merasa cukup lucu akan tindakan si Bella yang naif.
Sedikit terkekeh, Agatha kemudian menopang wajahnya menggunaka tangan. Terlihat sudut bibir perempuan itu tertarik, penuh kesinisan.
"Seriously? Cuma anak sampah aja kenapa belagu banget?" tanyanya dengan sudut bibir tertarik jijik.
"Huh! Tau tuh, udah bosan hidup kayanya..." balas Luna berdecak.
"Hais, berani-beraninya anak sampah ngelawan Gua" Agatha Floryn bangkit dan mulai berjalan menuju kelas sebelah.
"Yah, itu anak bodoh amat sih! Cari masalah kok ke Ratu" cibir Luna merasa heran akan tingkah si Bella yang sok berani.
"Wih, siapa lagi nih yang kena sial?" senggol Arkha ikut berjalan di sebelah Luna.
Mengunyah permen, lalu Luna menjawab, "Bella, anak culun ranking dua sekolah"
"Oh, yang nyebarin video kita?" Pria itu menyipitkan matanya.
"Tahu dari mana Lo?" heran Luna.
Mendesah tidak berdaya, "Gue punya kuping! masa iya tadi Lu ngobrol sama Ratu kaga kedengeran. Plis deh, Gua tuh ga tuli yah..."
Mempercepat jalannya, "Serah!"
Ikut mempercepat jalan, "idih, tiba-tiba marah. Moodian banget sih!" gerutu Arkha jengkel.
.
.
BRAK!
pintu kelas tiba-tiba terbuka, menampilkan seorang Agatha dengan pandangan remeh.
"Ra-Ratu?! Kenapa Dia kesini?" bisik salah satu pelajar ke pelajar lainnya.
Menelan ludahnya kasar, "Gu-Gua ga tahu!"
"Siapa nih yang cari gara-gara ke Ratu?" tanya seorang perempuan berwajah menor kepada gengnya.
"Ga tahu sis, bu-bukan kita kan sasarannya?" tanya yang lain cukup takut.
"Maybe, padahal sebentar lagi bel pulang. Tapi, kenapa..."
"Guru-guru pada kemana sih? Agatha mau buat onar lagi nih!" ujar sang wakil ketua kelas celingukan.
"Heh, Bodoh! Masa iya lo lupa?! para guru lagi pada rapat sekarang! Mana ada lewat di lorong!"
"Yah, sapa tahu kek!" balas sang wakil ketua kelas mencibikkan bibirnya.
"terus gimana dong? ga lapor ke guru nih?"
"I don't know, semoga aja bukan kita yang kena sial!" balas pelajar lain mulai menepi.
"Ma-mau ngapain lo?" tanya ketua kelas menghadang Agatha.
Memiringkan kepala, "menurut lo gimana? apa gua harus lapor semuanya ke elo? bukan Tuhan bukan nenek, emang lo polisi apa...? cih!" ujar Agatha sinis. Ia lalu mendorong sang ketua kelas hingga ditangkap oleh Arkha dan pria lainnya.
Menyeringai lebar, "hehe ... lebih baik lo diem aja atau ... tempat tinggal lo bakal pindah ke rumah sakit!" bisik Ryan tepat di telinga sang ketua kelas.
"Aduh, jangan menggertak yang lemah dong...! apalagi yang berjiwa rusa, belum diterkam aja udah bakal lari duluan..." Arkha terkekeh geli menanggapi wajah sang ketua kelas yang penuh peluh keringat akibat takut.
"Ja-jangan...! Ba-baik Gu-Gua ngerti ... Gua bakalan diem...!" ucap sang ketua kelas dengan badan bergetar.
Mengusap kepala bagaikan mengusap bulu kucing, "nah! anak baik! kalau begitu, jika ada yang terluka dari kelas lo, Lo diem aja! Bila lo ngelanggar omongan Gue, ga hanya lo doang yang bakal masuk ke rumah sakit!" sinis Kate, salah satu teman Agatha dari kelas MIPA 2 dengan senyuman ramah.
Memejamkan mata merasa cukup bersalah terhadap teman sekelasnya, "Ba-baik...! lakukan sesuka hati kalian! tapi- tapi janji jangan nyakiti sepupu Gue...!"
Tertawa kecil, "Janji...!" Kate tersenyum remeh.
"Maybe, itu sih tergantung Ratu" gumam Kate pelan seraya berbalik.
.
.
"Bella..." Gumam Agatha tidak senang.
"Akhirnya ketemu..." ujarnya tatkala mendapati ada seorang gadis yang tengah melangkahkan kakinya ingin pergi dari kelas.
"Bella...! Sini Lo!" Agatha kemudian menarik rambut Bella dengan kasarnya.
"Akh!!!!"
Mata perempuan itu menyipit ketika melihat wajah si Bella dari jarak dekat. Agatha merasa familiar dengan wajah Bella, secara perlahan Ia mulai menarik kacamata kuno itu.
"Akh! Jangan!"
Semakin curiga, Agatha lalu menarik kencang benda tersebut hingga pecah menabrak ubin.
Pyar!!
Matanya melebar, "Kau-!!!" geram Agatha ketika Ia melihat wajah asli tanpa kacamata seorang Bella.
Dadanya tentu naik turun, tanda sebuah kemarahan tingkat tinggi. Agatha lalu mengatupkan kedua bagian giginya, "jalang! apa yang lo lakuin di sekolah Gua!!" Ia menarik rambut Bella sampai menabrak dinding.
Brak!!
"Akh!!"
Kian menarik rambut itu, matanya berkilat penuh emosi, dengan wajah geram Ia kembali bertanya, "Jalang!! apa yang lo lakuin di sekolah Gue?! Jawab!!!"
Menarik bibirnya sinis, "oh! atau Veronika?! Huh! dasar jalang tidak tahu malu! Apa lagi yang ingin Lo lakuin sekarang?! HA!!!" Agatha meninggikan nada suaranya yang membuat pelajar lain terkejut setengah mati.
Sungguh, dalam mimpi mereka sekalipun, mereka tidak pernah membayangkan Agatha sampai semarah ini. Apakah keduanya memiliki dendam? pikir semua orang kian melangkah mundur, terkecuali Ryan, Arkha, Kate, dan Luna. Ke-empatnya hanya menatap datar perempuan bernama Veronika itu. Seolah mengerti mengenai permasalahan yang tengah berlangsung.
Tertawa sinis sebagai tanggapan, Veronika kemudian memegang tangan Agatha.
"Hei, bukankah ini tidak sopan? apalagi terhadap calon ibu tirimu..." ucap perempuan itu tersenyum miring.
Napas Agatha menggebu-gebu, Ia lalu melepas eratan tangannya terhadap rambut Veronika.
Berwajah penuh kemenangan, "ada apa? Apakah Kau takut diabaikan oleh ayahmu itu-
PLAK!!
"Kau-!"
Agatha menampar keras pipi Veronika hingga meninggalkan bekas merah, "PERSETAN DENGAN IBU TIRI!! KAU-! JALANG PEREBUT SUAMI...!! TIDAK BERHAK MENJADI IBUKU!!!"
"SETELAH MEREBUT DADDY DARI MOMMY-!! APAKAH KAU MASIH BELUM MERASA PUAS?! HA!! DASAR...!! WANITA MURAHAN...!!" Agatha kemudian melempar tubuh Veronika sampai menabrak meja. Perempuan itu meringis ketika tahu bahwa dahinya mengeluarkan darah.
"KAU-!!"
"KAU APA?!!" balas Agatha penuh emosi. Ia lalu menendang perut Veronika hingga tersungkur kembali.
Buk!
Dengan kasar, Agatha lalu menarik rambut Veronika. Bibirnya bergetar, "Kau telah merusak keluarga Kami ... Apa Lo pikir, Gue akan tinggal diam!!!"
"Jangan pernah berpikir, hanya karena Gua jarang pulang ke rumah ... berarti Gua ga peduli sama keluarga sendiri...!"
"Kate, ambilin gunting!!"
"Luna, pegang tangan Veronika biar Dia gerak-gerak!"
"Siap, Ratu!" balas keduanya seraya melakukan apa yang diminta oleh Agatha.
"Apa ... apa yang ingin Kau lakukan?! Dengar! umurku lebih tua 5 tahun darimu...! Kau seharusnya menghormatiku!! Dan lagi Aku adalah-rhhhm!"
Menatap dingin Veronika, Agatha lalu menyumpal bibir perempuan tersebut menggunakan banyak remukan kertas.
"Dengar, di dunia ini Gue paling benci sama Jalang! terutama jalang perebut suami orang kaya Lo!" ucap Agatha datar sembari mengambil gunting dari tangan Kate.
"Erhm!! Wrhmm!!
Cltak!
Cltak!
Cltak!
Agatha memotong rambut panjang Veronika. Tentu saja perempuan itu panik! rambut, adalah bagian dari dirinya, jika itu dipotong ... tamatlah sudah sang masa depan.
"Whrmmm!!!"
Tersenyum miring, "nah! selesai!" ucap Agatha tersenyum ramah setelah memotong rambut perempuan itu.
Agatha lalu mengambil gumpalan kertas tersebut dengan jijik dari mulut Veronika, lalu Ia lemparkan ke sembarang arah.
"Apa ... apa yang Kau lakukan kepada rambutku!!"
Terkekeh kecil, "Ngaca sana!"
Mata Veronika melebar saat melihat rambutnya berubah, bahkan itu sangat drastis. Jika awal-awal panjang dan elegan namun kini telah berubah layaknya rambut pria. Mungkin lebih buruk dari rambut seorang pria?
Aliran air menetes dari pupilnya, melihat itu Agatha tertawa remeh, lalu Ia membisikkan sesuatu, "Lo tahu, Ayah Gua paling ga suka sama perempuan tomboy!"
Menggeleng enggan, Veronika kemudian meraba rambutnya dengan isak tangis, "Aku berniat kemari karena ingin menghancurkan ibumu dan juga Kau! tapi ... tapi kenapa?"
Ckrek!
Agatha mengambil gambar Veronika menggunakan ponselnya, "apa yang akan terjadi jika Gua bagiin photo ini kepada Daddy? Lo tahu, Daddy ... never want to hurt me, of course kecuali Mommy Gua! yah, itu gara-gara Lo rebut sih!" sarkasnya kejam.
"Ti-tidak! jangan!! TIDAK!!!" Veronika berlari keluar kelas, merasa sangat malu dan bersumpah tidak akan mengganggu Agatha lagi jika Ia ingin menjaga harga diri.
"Bye Bye!" lambai Agatha.
"Hehe, itu akibatnya sih ... karena melawan ratu" batin Arkha, Ryan, Kate, dan Luna bersamaan.
.
.
Thanks, sudah mau baca~
Cerita ini memang agak gaje sih, wkwk
See U
-Marionatte Rose-