PLAAK
Suara tamparan yang mendarat ke pipi mulusnya terdengar keras. Tania terhuyung dan tersungkur diatas lantai.
"Cepat katakan.. dimana kamu simpan uang itu, hah!? " Bastian dengan emosi menghukum putri semata wayang nya itu.
Gadis kecil itu ketakutan, melihat mata yang melotot hendak keluar menatap nya. Mata itu bukan milik Ayahnya , mata itu beda dengan mata sang Ayah yang penuh kasih sayang. Mata itu bengis, mata itu mengeluarkan api. Dan gigi itu, gigi yang seolah menggigitnya itu, bukan milik Ayahnya.
Tangannya Kasar mencengkeram dagunya, hingga mulut mungil gadis yang masih kecil itu menganga secara terpaksa.
Bastian sudah merasa bosan bermain dengan gadis kecil manis di hadapannya. Dia mulai merutukki dirinya dalam hati, juga merutuki korbannya dengan kasar.
Seorang anak kecil, anak kecil yang selalu dia jadikan mainannya setiap hari. yah... dialah psikopat yang berhasil kabur dari penjara.
Tawanya khas menggelegar seisi ruangan,
" Hahahahahaha.... " lalu tersenyum miring, seolah puas melihat sang korban ketakutan dengannya.
****
Wajah gadis kecil itu penuh lebam saat dia pergi ke sekolah.
" Nia.. wajahmu kenapa? "tanya Saskia teman sebangku sekaligus teman karibnya sejak kecil.
Tania sengaja segera menutupi luka itu dengan telapak tangannya yang mungil.
" gak apa apa kok, cuma tadi malam jatuh dari atas tempat tidur " jawab Tania dengan malu malu, karena gadis kecil itu berbohong.
Saskia masih belum percaya dengan pengakuan Tania, Saski masih serius memperhatikan luka itu sembari memperhatikan ekspresi wajah temannya itu.
"Selamat pagi anak anak" Tiba tiba suara yang tegas dan lantang, membuat kelas yang tadinya ramai, menjadi sunyi sepi, begitupun kedua bocah itu, kini menghadap ke depan, siap menerima pelajaran sekolah.
***
" Nia.. aku mau main ke rumah kamu" ucap Saski ketika bel pulang sekolah berbunyi. Tania menoleh dan ingin menolak, tapi Tania tidak tau bagaimana menolaknya, segera otak Tania bekerja mencari cara, berbicara tanpa menyinggung perasaan Saski.
" Ehm... Saski... Ayahku sedang sakit, lebih baik jangan dulu main ke rumah ya, takut mengganggu istirahat beliau".
" Wah.. malah kebetulan sekali dong, aku sekalian jenguk Ayahmu yang sedang sakit. " balas Saski, malah terlihat kegirangan.
Tania menunduk, dia tidak bisa berkata apa apalagi, untuk melarang sahabatnya ke rumahnya. Sementara Saski tersenyum , tetapi dalam hatinya ia khawatir, seperti nya ada sesuatu yang Tania sembunyikan.
***
Ada sebuah mobil jeep terparkir di depan halaman rumah Tania, kala mereka tiba di depan rumah.
" Mobil siapa ini? " tanya Saski dengan seketika.
Tania juga nampak berpikir, wajahnya nampak sangat serius dengan dahi berkerut.
" Nia.. apa yang terjadi dengan Ayah kamu? " mulut Saski semakin suka untuk bertanya, karena hatinya merasakan keanehan dengan kehidupan Tania semenjak seminggu yang lalu, setelah kepulangan Ayahnya bekerja dari luar kota.
" Saski, lebih baik kita sembunyi, aku gak tau siapa yang ada didalam" Ajak Tania, dan itu membuat Saski tambah penasaran.
Tak lama, pintu terbuka dari dalam, kedua bocah remaja itu mengambil langkah seribu untuk bersembunyi di balik pohon yang berada di depan rumah Tania.
" Ada apa dengan Ayahmu, kenapa kamu bersembunyi? " tanya Saski sambil berbisik.
" Aku gak tau, sikap Ayahku berubah semenjak kepulangannya dari luar kota" jawab Tania dengan tidak lagi bermaksud menutup nutupi.
" Maksudnya apa? " Saski semakin penasaran.
" Hushh" segera Tania memberi isyarat, menyuruh Saski untuk diam. Dengan menempatkan jari telunjuk nya menempel pada mulut.
Saski pun menurut, mereka diam bersembunyi mengendap endap di belakang pohon, ketika tiga orang laki-laki termasuk Ayahnya menuju mobil yang terparkir dan masuk ke mobil tersebut. Tak lama kemudian mobil pun melaju meninggal kan rumah.
***
Malam hari tiba, Tania sudah terlelap diatas tempat tidur, ketika pintu kamarnya dibuka, dan Bastian masuk ke dalam. Tania terperanjat, bangun dan duduk dengan jantung yang berdebar karena ketakutan. Telapak tangannya langsung di tempat kan ke dada, seolah menghalau, dengan itu maka jantung nya tidak akan jatuh.
Bastian mendekat ke gadis remaja itu, dan Tania semakin ketakutan.
" Siapa kamu sebenarnya? " ucap gadis kecil itu bertanya dengan rasa panik dan nafas yang cepat.
Bastian tersenyum miring. sorot matanya jahat, dan menyipit. "Aku Ayah kamu Nak" ucapnya tertawa sinis.
" Bukan... kamu bukan Ayahku,... siapa kamu..? " gadis kecil itu semakin ketakutan, bergerak mengkerut ke belakang hingga terpaksa beranjak dari ranjang tidurnya.
Bastian semakin senang menakut nakuti anak saudara kembarnya itu, baginya hal ini adalah sebuah permainan yang asyik.
" Pergi.. pergi... kamu penjahat. " teriak Tania , mencoba menghindar dari Bastian yang memang seorang buronan yang kabur dari penjara.
" Terlambat gadis kecil, aku memang akan membunuhmu.. hahahahaha... " seru Bastian. Tania berlari menuju jendelanya, dan dengan panik membuka kunci jendela tersebut.
" Kamu tidak akan bisa lari dariku. " lanjut Bastian, masih dengan tertawa senang, dan berjalan hendak menangkap Tania.
" Tolong.. tolong.. " Tania berteriak minta tolong dengan mencoba untuk nekat loncat dari jendela.
Bastian semakin mendekat, dan Tania dengan memejamkan mata nekat loncat ke bawah. Bastian terkejut, ternyata keponakannya itu punya nyali untuk mengambil resiko. pria kejam itu menoleh ke bawah, melihat Tania tergeletak di tanah dengan kepala di banjiri darah.
" B... k.., dia mati. " umpat Bastian dan kemudian segera berlari keluar rumah, menghindar dari jerat hukum.
***