Aku terbangun pagi ini seperti biasanya. Menjalani aktivitasku seperti biasa. Tanpa menyadari apapun di sekitarku.
Bahkan aku memasuki kamar mandi seperti biasa tanpa memperhatikan kalender yang ada di nakas.
Ketika aku kembali dari kamar mandi dan mengambil tempat di depan nakas untuk menggunakan make-up ku, sungguh aku terkejut menyadari di kalenderku bahwa tanggal hari ini adalah bulan Desember 2021.
Bukankah seharusnya sekarang itu bulan Oktober 2021 ya? Jadi mengapa bisa tanggal di kalender maju 2 bulan?
Masih dengan terkejut, aku mengambil ponselku yang ada di atas nakas dan ternyata isinya sama.
Malah di sana terdapat beberapa notifikasi dari orang-orang penting yang beberapa hari lalu masih selalu kuhubungi agar mau bekerja sama dengan perusahaanku.
Sementara sekarang mereka yang mencariku? Untuk apa? Ketika kulihat, ternyata untuk membahas kerjasama kami.
Jadi apakah aku berhasil membujuk mereka bekerjasama? Tapi bagaimana? Mengapa aku tidak mengingat apapun selama dua bulan ini?
Menyimpan kembali ponselku dan memasang make up yang biasa kugunakan, aku akhirnya keluar kamar.
Lagi-lagi aku dibuat terkejut dengan keadaan lur kamar, karena beberapa penataan benda di luar kamar ada yang berubah.
Tapi aku teringat bahwa memang setiap dua bulan sekali akan dilakukan penataan ulang terhadap benda-benda tersebut sekalian dibersihkan agar debunya tidak menumpuk.
Jika ini memang sudah lewat 2 bulan, maka itu adalah hal yang wajar bukan?
Meski aku masih tidak mau mengakui ini, tapi kurasa aku memanglah harus beradaptasi dengan semua ini.
Setelah aku menghela napas, aku pun memilih berangkat ke kantor. Pergi melihat perusahaan akan seperti apa.
Dua bulan yang tidak kuingat, ternyata tidak banyak yang berubah dari perusahaanku.
Perubahan signifikan mengenai bangunan dan yang lainnya memang tidak terasa, karena hanya dua bulan apa yang bakal selesai diubah selama dua bulan mengenai bangunan megah dan tinggi ini? Sulit bukan?
Makanya, secara garis besar mengenai karyawan pun tak banyak berubah. Mereka tetap fokus mengerjakan bagiannya masing-masing.
Meski ada satu dua orang yang menyapa ramah, seingatku dua bulan lalu kami tak sedekat itu hingga mau saling menyapa meski berada di tim yang sama untuk mengurus orang-orang penting itu.
Apa mungkin karena itu akhirnya kami jadi dekat? Sepertinya begitu atau mungkin untuk sekarang anggap sajalah begitu.
Di ruanganku sendiri tak ada yang berubah kecuali tambahan satu sofa di sebrang mejaku.
Meski mengernyit heran tapi rasanya aku tak bisa menanyakan hal ini kepada yang lain atau mereka tak akan percaya, makanya kupilih diam saja.
Tak lama setelah aku berada di kantor, aku mendengar langkah kaki yang berlari ke arah ruanganku.
'Siapa itu? Mengapa dia sangat tidak sopan? Tidakkah ia tahu bahwa ini kantor bukan tempat untuk berlarian' pikirku.
Tapi melihat asistenku yang ada di depanku ini biasa saja, sepertinya hal ini sudah menjadi biasa dalam waktu dua bulan terakhir yang tidak kuingat.
Meski aku merasa kesal, aku juga cukup penasaran. Maka dari itu aku menunggunya sampai di depan pintuku.
Mengapa aku seyakin itu padahal aku bisa dikatakan sedang lupa ingatan atau sebagainya?
Karena saat aku masuk ke sini tadi, aku juga sudah memastikan bahwa dalam dua bulan terakhir tidak ada pembangunan di lorong ini, masih tetap diisi oleh ruanganku saja.
Jadi tak mungkin ia akan memasuki ruangan yang lain, karena memang tak ada ruangan lain di lorong ini.
"Sayang, aku datang!!!" Begitu suara langkah kaki sudah ada di depan pintu, ia berteriak yang langsung membuatku shock.
Suara ini, seratus tahun dalam hidup pun aku tak akan pernah berpikir akan menjadi sepasang kekasih dengan dirinya. Tapi apa benar-benar itu dirinya?
Ketika pintu terbuka dan memperlihatkan sebuah wajah yang sangat kutakutkan itu muncul, aku tak bisa lagi menahan kesadaranku.
Hal terakhir yang kuingat adalah dia yang berteriak penuh kekhawatiran.
"Sayang, kamu kenapa?" Sorot mata itu, tak ada kebohongan atau perasaan lain selain khawatir. Aku bisa memastikannya sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran.
***
Ketika terbangun, aku merasa aneh karena aku malah kembali berada di kasurku.
Secara cepat aku langsung terbangun dan menuju ke kalender di atas nakas.
Aku kembali terkejut mendapati kenyataan bahwa kalender yang ada di hadapanku adalah kalender bulan Oktober 2021. Kembali ke dua bulan lalu.
Ah apa maksudnya ini? Aku semakin tidak mengerti.
Aku mengambil ponselku yang seperti biasa terletak di atas nakas di dekat kalender.
Aku menghubungi seseorang yang sudah sangat kupercaya selama ini. Seseorang yang memang profesinya berada di jalur untuk menghadapi masalah seperti ini. Ya dia seorang psikolog.
"Ada apa nih, seorang pemilik perusahaan yang beberapa hari lalu masih sibuk pontang panting meminta mereka si orang-orang penting untuk bekerja sama dengannya, mendadak meneleponku seorang psikolog yang sepi pengunjung di pagi hari?" Candanya setelah mengucapkan salam pembuka.
Aku menghela napas dan menceritakan semua yang kualami tadi.
"Jadi gimana menurut lu Na? Apa yang gue alami itu? Rasanya terlalu ga masuk akal deh. Ini kan bukan dunia novel yang fiksi dan penuh dengan fantasi semacam time travel. Apalagi cuman berjarak waktu dua bulan ke depan pula." Keluhku.
"Oh Andini sayangku. Menurutku kamu itu bukan time travel deh, tapi sedang berhalusinasi. Kamu sepertinya kepikiran dan akhirnya membayangkan kalau semua ini lancar apa yang akan menunggumu dalam dua bulan ke depan. Jadi ya menurutku itu hanya halusinasimu saja." Jelasnya padaku.
Apa ini memang halusinasi? Mungkin iya juga, karena malam sebelum aku terbangun dan mengalami itu semua aku memang sangat terpikirkan akan kerjasama dengan orang penting itu kalau membuahkan hasil akan bagaimana?
Meski aku tak menyangka akan menjalin hubungan romantis dengan seseorang yang tak pernah kubayangkan itu.
Lepas dari itu, rasanya semuanya memang halusinasiku selama dua bulan ke depan.
"Ah, Nanaku tersayang. Kurasa kau benar. Aku terlalu heboh dan berpikir ini semacam time travel, padahal hanya halusinasiku saja. Hahaha."
"Makanya cepet-cepet cari pacar sana! Biar lu gak ngehalu mulu kerjaannya!"
"Heh, gatau diri ya lu! Emangnya lu udah?"
"Belumlah. Ehehehe."
"Tuh kan!"
"Yaudah deh Andini sayang, gue tutup dulu ya telponnya. Soalnya gue baru inget ada janji dengan salah satu klien gue pagi ini jam 9."
"Ye kan masih lama itu bambang, ini masih jam 7 woy."
"Tapi persiapan gue ga sedikit, karena gue juga mesti ngetest dia pake alat test. Tentu gue mesti nyiapin alat testnya, bambang!"
"Yodah deh. Gue tutup ya."
"Iya. Bye. Andinii."
"Bye, Nana."
Ya aku merasa lebih lega setelah bercerita bersama Nana. Memang ya seorang psikolog itu pembawaan dan auranya sungguh berbeda. Membuat kita nyaman aja untuk bercerita. Meski bukan konteks formal seperti tadi. Karena jika itu konteks formal, dia pasti udah kena pelanggaran karena seorang psikolog tidak boleh menggunakan asumsi pribadinya secara langsung kepada kliennya tanpa memastikan kevalidan data dari segala sisinya. Ia juga tak boleh melakukan judgement terhadap klien. Dan masih banyak hal lainnya yang tentu harus dipelajari untuk menjadi psikolog itu.
Dengan senyum di wajah aku kembali mengawali pagiku kali ini dengan cerah dan semangat untuk mengejar mereka agar mau bekerjasama denganku.
FIN~~