Beby remaja SMP yang gila petualangan. Tinggal di wilayah pedesaan yang masih banyak ditemui hutan, kebun semak dan sawah. Pada hari tertentu setiap pulang sekolah, dia mengumpulkan teman - temannya yang sehobi untuk berjalan memasuki hutan atau hanya sekedar menyusuri sawah sampai ke ujung.
Dia dan temannya tidak peduli apa yang di dapat selama melakukan "penjelajahan" atau bagaimana tanggapan orang lain terhadap mereka, mengingat mereka bukan lagi anak SD yang suka main di sembarang tempat. Karena di jaman sekarang, pelajar SMP di kota besar lebih hobi nongrong di cafe dari pada melakukan kegiatan yang nggak jelas seperti itu.
"Ran, nanti pulang sekolah kita menjelajah lagi ya. Ajak yang lainnya berkumpul di halaman sekolah. Kita titip sepeda kita di sini aja"
"Sip. Siap Beb. Sebentar lagi aku akan kabari anggota yang lain"
"Oke. Jangan lupa bawa bekal ya"
"Air putih?"
"Iyalah, apa lagi? Uang jajan udah habis buat jajan di kantin"
Beby dan Rano tertawa bersama.
Riiiiinnngg....
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Beby dan teman yang lain sudah bersiap. Sepeda dan tas mereka tinggalkan di sekolah. Hanya 1 anak yang membawa tas untuk bekal minum dan akan mereka bawa secara bergantian.
"Kawan, aku cek kehadiran dulu ya"
"Okee..", mereka menjawab serentak.
"Rano dan Beby ada. Ilham ada. Deva ada. Yusi ada. Gea mana?"
"Gea pulang duluan, Ran. Soalnya kemarin pulang dari jelajah, dia dimarahi sama ibunya. Jadi, dia takut kalau harus ikut lagi", kata Diva.
"Oh, ya udah kalo gitu. Sudah lengkap Beb", kata Rano.
"Baiklah. Nanti kita jalan di pinggiran hutan aja"
"Oke siap", semua kompak.
Beby dan keempat temannya segera berangkat. Sebenarnya rute yang mereka lewati bukan rute baru. Mereka sudah sering melewati jalan itu. Tapi mereka selalu menemukan hal yang menarik di tempat tertentu.
Setelah sekitar dua jam sudah berlalu. Mereka berbalik arah untuk kembali ke sekolah dengan rute yang berbeda dengan rute saat mereka berangkat.
"Beb, coba lihat deh. Bunga mawar yang minggu lalu masih kuncup, hari ini udah mekar. Cantik banget ya", kata Yusi.
"Iya Yus. Aku tau, kamu suka banget sama mawar kan? Tapi jangan dipetik ya. Kita nggak boleh ngerusak milik orang lain"
"Siap Boosss.."
"Yus, ini giliran kamu yang bawa tas", kata Ilham.
"Siaappp.. Sini aku bawain", jawab Yusi.
"Kita lewat mana nih, Beb?", tanya Ilham yang mulai kelihatan lelah.
"Kita lewat rute B aja. Lebih cepat dan luas"
"Berarti kita harus masuk hutan dong Beb?", tanya Rano.
"Iya, ini kan udah sore Beb", timpa Deva.
"Nah, makanya kita lewat situ. Karena uda sore, biar kita cepet nyampe sekolah"
"Iya deh. Ayo", kata Rano.
Mereka berjalan masuk ke hutan. Tidak terlalu menjorok ke dalam tapi cukup lebat tumbuhan yang berdiri di sekitar. Jalan setapak yang mereka lalui dihiasi rumput liar yang lumayan tinggi, membuat kaki terasa gatal.
"Teman - teman, kalian berhenti dulu deh"
"Ada apa Beb?"
"Perasaan di depan situ nggak ada kuburan deh. Kok jadi ada kuburannya"
"Mana - mana?"
"Ituuu.. Di situ", Beby menunjuk.
"Beb, jangan ditunjuk pake jari gitu. Nanti bisa bengkok jari kamu?"
"Ah, masa? Terus gimana nih?"
"Kamu harus masukin jari telunjuk kamu ke mulut, diemut sebentar terus kamu meludah ke arah kiri"
"Sumpah kamu?"
"Iya, swear. Banyak yang bilang kayak gitu. Kita nggak.boleh menunjuk kuburan. Kena karma"
Beby langsung melakukan apa yang dikatakan Yusi. Angin bertiup kencang, hingga menerbangkan daun - daun kering di sekitar mereka. Suasana sepi dan sunyi. Bahkan tidak ada satu hewanpun yang melintas di sekitar mereka.
"Sebentar deh. Kalo nggak salah, seharusnya di depan situ cuma tumpukan batu bata yang biasanya dibakar kan? Terus di sebelahnya ada pohon sawo", kata Deva.
"Nah, iya bener Va. Aku juga ingat kok. Ada pohon sawo yang biasa kita punguti buahnya kan?"
"Bener. Iihh.. Kok jadi serem ya. Jangan - jangan itu kuburan baru"
"Tapi masak iya dalam seminggu langsung penuh kayak gitu kuburannya? Terus pohon sawonya kemana?", Ilham penasaran.
"Kan bisa aja dipotong Beb", jawab Yusi.
"Iya juga sih. Eh, tapi lihat, itu sudah ada batu nisan yang rusak dan patah. Nggak mungkin kuburan baru kondisinya udah seperti", kata Beby.
"Beebb.. Please jangan bilang gitu dong. Aku takut ini. Beneran. Aku mau pulang Beb. Kita cari jalan yang lain aja yuk", pinta Yusi sambil mengguncang lengan Beby.
"Iya Beb. Aku juga mulai merinding. Kenapa kita jadi begini sih? Padahal biasanya kita nggak pernah nyasar", timpal Rano.
"Ini jalannya uda bener kok Ran. Aku berani sumpah. Ini jalan yang biasa kita lewati. Tapi nggak tau kenapa bisa berubah kayak gini", jawab Beby yang sudah mulai cemas.
"Mana udah jam 4 sore lagi. Nanti kalo sebelum maghrib kita belum keluar dari hutan, para orangtua pasti cemas nyariin kita. Gimana nih Beb?"
"Gimana Bebb..? Aku takut. Aku mau pulaanngg", Yusi merengek sambil menangis.
"Diam dulu dong semuanya. Kita putar balik aja. Cari jalan yang lain. Ayo buruan"
Rombongan Beby bergegas meninggalkan titik itu. Mereka berlari beriringan, berharap menemukan jalan yang tepat untuk pulang ke rumah sebelum matahari tenggelam.
Tapi mereka seperti hanya berputar - putar. Tidak menemukan jalan keluar. Yusi menangis sejadi - jadinya, dia adalah satu - satunya anak cewek di grub itu. Sementara Ilham tampak sangat kelelahan seakan sudah tidak kuat lagi berlari.
"Berhenti dulu. Aku sudah tidak kuat berlari. Aku ingin istirahat dulu", kata Ilham sambil ngos - ngosan.
"Sudah hampir petang Ham, ayo kamu pasti bisa", seru Deva sambil mengelap keringat di dahinya.
"Enggak, aku sudah nggak kuat"
"Lihat itu, itu juga kuburan kan?", kata Rano.
"Sepertinya kita dikelilingi kuburan. Kita nggak bisa kemana - kemana. Ham, minum sekarang juga. Lupakan capekmu. Kita cari jalan yang lain", ajak Beby.
"Iya", Ilham langsung menenggak air putih dari dalam tas yang dibawa oleh Yusi.
"Oke, ayo kita lari lagi", ajak Deva.
Mereka kembali berlari menjauhi kuburan yang terlihat berantakan. Tiba - tiba mereka melihat sosok seorang pria tua dari kejauhan.
"Ada orang Beb, lihat itu ada orang" kata Rano.
"Paakk.. Tolong Pak. Tolong kami..", Yusi berteriak.
"Hust, kamu jangan berteriak Yus. Kita kan nggak tau dia baik atau jahat", kata Ilham.
"Siapa tau dia bisa menolong kita", jawab Yusi sambil terus menangis ketakutan.
Pria tua itu berjalan ke arah mereka. Untuk mengurangi rasa takut, mereka saling berdiri merapat. Bergerombol tanpa tahu apa yang akan terjadi kepada mereka selanjutnya.
Semakin terlihat jelas, pria tua itu membawa celurit di tangan kanannya dan seutas tali di tangan kirinya. Yusi semakin ketakutan hingga meremas lengan Ilham.
"Haamm.. Aku takuutt.."
"Beb, dia membawa celurit dan tali", kata Deva.
"Kita lari ke arah kanan, dalam hitungan tiga. Kalian siap? Satu... Duaa.. Tigaa.a..", Beby memberi perintah.
"Aaa.a... Toloonngg.. Tolong kamiii...", teriakan Yusi kencang sekali.
Pria tua itu mengejar mereka.
"Beb, dia mengejar kita", kata Rano sambil terengah engah.
"Lari, kita terus saja lari", seru Beby.
Bruukk..
Yusi terjatuh.
"Beebb.. Tolooonngg...", teriak Yusi.
Pria tua bercelurit semakin mendekat. Gerombolan remaja SMP itu berhenti untuk menolong Yusi.
"Tunggu. Jangan lari lagi", kata pria tua.
"Bapak siapa? Kami cuma mau minta tolong Pak, jangan sakiti kami", Beby.
"Rumah kalian dimana?"
"Di ujung jalan setelah kuburan itu Pak?", sahut Rano.
"Kuburan? Tidak ada kuburan di tempat ini. Mawar ini kalian petik dari mana?"
Mereka saling menoleh kebingungan.
"Yuss..", Beby menatap Yusi.
"Maaf, aku memetiknya"
"Aku kan sudah bilang. Jangan dipetik"
"Maafin aku Beb", Yusi kembali menangis.
"Hutan seperti ini adalah tempat misteri dan magis. Kita tidak tau ada kehidupan lain yang tak terlihat mata. Jadi kalian tidak boleh aneh - aneh. Apalagi merusak yang bukan milik kalian. Dasar anak kecil", kata pria tua sembari mengambil mawar yang terjatuh.
"Jadi gimana Pak? Apa yang harus kami lakukan?", tanya Deva.
"Kubur mawar ini sekarang juga"
"Dimana Pak?", Deva melanjutkan.
"Di sini. Asalkan mawar ini tidak kalian bawa keluar dari hutan, kalian akan selamat"
Saat itu juga, mereka membuat lubang cukup dalam di tanah untuk mengubur mawar yang dipetik Yusi tanpa sepengetahuan teman - temannya. Lalu pria tua itu mengantar mereka pulang, kembali berjalan di rute yang telah mereka lewati sebelumnya.
Anehnya, semua kuburan yang mereka lihat menghilang. Pohon sawo dan tumbukan batu bata kembali terlihat. Suasana kembali menjadi asri. Tidak terlihat mencekam seperti sebelumnya.
Jalan aspal di sekitar rumah warga juga mulai terlihat. Kini mereka bisa kembali ke sekolah tanpa dimarahi oleh para orang tua.
"Pak, terima kasih banyak atas bantuannya. Kami mohon maaf telah mengganggu hutan ini. Kami janji nggak akan mengulanginya lagi", kata Beby yang menjadi ketua kelompok penjelajah.
"Tidak apa - apa. Sekarang kalian pulanglah. Dimana sekolah kalian"
Secara serentak mereka menunjukkan jari telunjuknya ke arah jalan menuju sekolah, "Di sana Pak"
Ketika mereka menoleh, pria tua itu sudah menghilang.
"Beb, lari Beebb...", teriak Ilham.
***
Dalam bahasa Jawa, kata Kalap sering diartikan sebagai suatu kondisi, dimana penglihatan seseorang dialihkan oleh makhluk gaib. Sehingga mata mereka melihat apa yang sebenarnya tidak ada. Seolah mereka berada di dunia yang berbeda.