Malam itu, aku benar-benar dipaksa untuk mengikuti uji nyali yang akan diadakan di sekolahku untuk membuktikan kebenaran dari salah satu kisah misteri di sekolah.
Padahal aku benar-benar takut dan tak ingin mengikutinya, apalah dayaku yang diseret oleh sahabatku yang selalu penasaran itu untuk mengikuti ini.
Bukan tanpa alasan aku takut, karena biasanya hal-hal buruk selalu terjadi padaku di acara-acara seperti ini. Katakanlah ketidakberuntungan selalu berpihak padaku.
Tapi demi dia yang memohon mati-matian bahkan sampai menangis di hadapanku, akhirnya aku mengiyakan.
Hei tolong bayangkan, jika ada seorang lelaki berperawakan tinggi besar memohon-mohon bahkan hingga menangis di hadapanmu yang memiliki tubuh mungil nan imut, apa yang akan kau lakukan?
Pusing bukan? Jadi mau tak mau aku menyetujuinya. Meski aku masih merasa takut. Apalagi aku dengar setiap orang yang berhasil melewati tantangan itu, keesokan harinya akan menghilang.
Ah tidak, aku semakin takut membayangkannya.
Greb. Tanganku digenggam hangat oleh sahabatku. Aku yakin dia sedang menguatkan diriku untuk mengikuti ini. Makanya aku hanya mendengus membalasnya.
Dan lihatlah dia malah tertawa melihat dengusanku. Sungguh sahabat yang syialun bukan?
"Sudahlah, Ca. Sekarang giliranmu untuk membuktikannya." katanya
Aku menghela napas. Dengan menguatkan hati aku mulai melangkah masuk ke gedung sekolah.
Kakiku terus berjalan hingga sampai di toilet wanita di lantai dua.
Aku memasuki toilet itu dan memilih toilet kedua dari ujung, yang konon itu ada penghuninya yang disebut Hanako.
Aku mulai mengetuk pintunya dan memanggil nama Hanako sebanyak 3x sebagaimana peraturan yang selalu disebut selama ini untuk memanggil Hanako.
Setelah ketukan ketiga, aku mencoba berbalik untuk pergi meninggalkan toilet itu. Tak pernah kuharapkan akan ada jawaban dari bilik toilet yang kuketuk tadi.
Aku membeku seketika mendengar suara tawa tiba-tiba bergema dari bilik toilet.
"Hihihi. Apa yang kau butuhkan sehingga memanggilku?" Tanya sebuah suara yang mirip anak kecil.
"Ti-tidak ada a-apa - a-apa kok." Tergeragap aku menjawab seraya menahan air mata dan rasa takutku yang kian membuncah.
"Tapi kau sudah memanggilku. Maka kau harus membayar harganya." Kata suara itu lagi.
"A-apa? Harga yang ha-harus kubayar? A-apa itu?"
"Iya. Nyawamu."
Brak. Setelah kata-kata itu meluncur suara pintu toilet yang terbuka paksa membuat aku kehilangan kesadaran sangking takutnya.
~~~
Ketika aku tersadar, aku berada di sebuah ranjang dan bernuansa putih. Ah sepertinya aku mengenalnya. Ya, ini uks yang ada di sekolah.
Ketika aku menoleh, aku mendapati kepala sahabatku berada di kasur sebelahku dan tertidur. Perlahan kuusap keningnya. Ia menggeliat dan bangun.
Melihat aku yang telah sadar, ia menggerutu.
"Ah kamu, baru dikerjain gitu aja udah pingsan."
Mataku melotot mendengarnya. Jadi selama ini aku dikerjain olehnya?
Yang benar saja, aku takut setengah mati mendengarnya. Tapi ternyata itu semua hanya settingan yang dia buat untuk menakut-nakutiku?
Aku bersidekap di hadapannya. Bibirku sudah kutekuk tanda aku marah besar padanya.
"Ah, Cacaku sayang. Kenapa kamu mesti marah sih? Kan kita emang ngerjain kamu tapi itu juga sebatas muterin kaset perekam aja di toilet kok." Jelasnya.
Semakin pula aku melotot marah. "Jadi semua pertanyaan yang aku jawab setengah mati dan gugup itu hanyalah sebuah rekaman?"
"Ya, kami meminta tolong salah seorang anak untuk membacakan teks dan bersuara layaknya seorang hantu anak kecil yang selalu tinggal di toilet. Memangnya semenakutkan itu ya?"
"Kau tidak tahu seberapa menakutkannya itu bagiku. Huhuhu. Kau jahat Lex. Kau sangat jahat padaku. Padahal aku sahabatmu!" Pekikku histeris.
Alex memelukku dan berulang kali meminta maaf. Ia sungguh tak menyangka akan berdampak sampai seperti ini padaku.
Namun satu hal yang tak kuketahui bahwa, seorang anak perempuan kecil yang menunggu toilet itu memang memperhatikanku sejak aku masuk kamar mandi itu. Ia menyeringai melihat semua tingkahku. Bahkan ia sampai menggebrak pintu toilet itu di akhir sebelum aku pingsan.
FIN~~~
A/N : Hayoloh. Kalo gitu si Caca alias aku itu tau darimana ya? Hahaha.