Dulu disebuah desa, hidup seorang anak laki-laki berusia 14 tahun, bernama Rio. Ia tinggal bersama kakak perempuannya bernama Hesti yang berusia 21 tahun.
Rio merupakan anak yang ceria dan suka sekali tersenyum. Namun, dibalik senyuman itu, tersimpan memori kelam yang hanya ada dipikiran Rio.
Ayah, ibu dan adik Rio, meninggal dalam sebuah kebakaran rumah yang disebabkan oleh hubungan arus pendek ketika Rio berumur 11 tahun. Saat itu, Rio yang duduk dibangku kelas 5 SD, sedang berada dirumah neneknya didesa yang saat ini ia tempati.
Hati Rio hancur ketika melihat jasad ayah, ibu dan adiknya. Kesedihan yang ia rasakan sangat membuatnya terluka secara mental dan membuatnya mengurung diri selama berhari-hari.
Satu tahun kemudian, Rio sudah kembali ceria dan kini sudah duduk dibangku kelas SD. Dia sedang menjalani ujian kelulusan yang akan menentukan lulus atau tidaknya Rio dari sekolah dasar.
Menjelang sore, Rio kembali kerumah dengan wajah senang sambil membawa selembar kertas bertuliskan "LULUS". Namun, kebahagiannya seketika sirna ketika melihat tubuh neneknya terbujur kaku dan terbungkus kain kafan.
Kertas yang Rio bawa, terjatuh ketanah saat dia berlari kearah neneknya untuk memeluknya yang terakhir kali.
"Hiks... Hiks... Nenek, kenapa kau meninggalkan aku dan kak Hesti? Kenapa? Hiks... Tolong, nek. Jangan pergi. Jangan pergi menyusul ayah, ibu dan adik. Kami masih membutuhkanmu disini," ucap Rio terbata-bata.
Rio tidak menyadari kehadiran arwah neneknya yang sedang memeluknya dari belakang.
"Rio, cucuku yang paling tampan. Berhentilah menangis. Kau tidak perlu menangisi seseorang yang sudah pergi. Karena itu hanya akan membuatmu tersakiti. Lupakanlah kenangan buruk itu dan mulailah hidup yang baru tanpa nenek. Maafkan nenek yang tidak bisa menemanimu sampai akhir. Selamat tinggal cucu tampanku Rio," ujar nenek Rio yang perlahan terbang kelangit.
Rio yang masih larut dalam kesedihannya, seketika tersentak ketika merasakan pelukan hangat dari neneknya walaupun sebentar.
"Nenek... Selamat tinggal, nek. Aku akan menyusul ayah, ibu, adik dan nenek suatu hari nanti. Tolong tunggu aku ya nek," gumam Rai pelan.
***
2 tahun kemudian,
Rio kini sudah berusia 14 tahun dan telah duduk dibangku kelas 8 SMP. Rio bersekolah disebuah sekolah favorit dikota dekat desa.
Walau dikata dekat, waktu yang harus ditempuh jika menaiki sepeda adalah dua jam dan satu jam jika menaiki sepeda motor atau mobil.
Rio selalu berangkat jam setengah 5 pagi menggunakan sepeda pemberian kakaknya. Disana, Rio selalu diejek dan dihajar oleh murid lainnya yang merupakan anak pejabat.
Mereka selalu menghajar Rio dengan alasan Rio berbeda dari yang lainnya, karena berasal dari desa dan bisa masuk kesana melalui beasiswa dan bantuan dari sekolah.
Hal ini membuat Rio menjadi karakter pendiam dan tidak suka membuka dirinya. Namun, Rio sedikit mau membuka dirinya ketika ada dua orang yang tiba-tiba ingin menjadi temannya.
"Hai, namamu Rio, 'kan? Perkenalkan namaku Lia dan dia Akbar," sapa seorang murid wanita bernama Lia. Ia ditemani oleh seorang murid laki-laki yang bernama Akbar.
Rio menerima ajakan pertemanan itu. Tapi, Rio masih kaku ketika pertama kali berteman dengan Lia dan Akbar.
Waktu berlalu dengan cepat. Sudah dua bulan sejak Rio berteman dengan Lia dan Akbar. Selama itu pula Rio semakin akrab dengan mereka berdua dan sudah tidak kaku lagi.
Seperti saat ini. Mereka bertiga sedang duduk didepan kelas saat jam istirahat. Lia dan Akbar sedang memakan bekal makanan mereka. Sedangkan, Rio hanya diam sambil melihat foto keluarganya yang ada ditangannya.
"Hm? Rio, siapa mereka?" tanya Akbar yang kebetulan melihat foto yang dipegang Rio.
"Oh, ini? Ini adalah foto keluargaku," jawab Rio dengan senyum terukir diwajahnya.
"Keluargamu? Coba aku lihat," ucap Lia lalu mengambil foto keluarga Rio.
"Aku tidak pernah melihat mereka. Yang aku pernah lihat hanya kakakmu saat pertemuan orang tua beberapa minggu yang lalu," ucap Lia lalu mengembalikan foto itu kepada Rio.
"Kau memang tidak pernah melihatnya dan tidak akan pernah. Karena mereka telah pergi," balas Rio.
"Pergi kemana?" tanya Akbar.
"Pergi ke surga," jawab Rio sambil melihat foto keluarganya dengan senyum dan mata yang menatap sayu.
Akbar dan Lia saling bertatapan lalu meminta maaf kepada Rio, karena telah membicarakan keluarganya yang telah tiada.
"Tidak apa-apa. Aku bisa memakluminya," balas Rio ramah.
Namun, foto yang dipegang Rio, tiba-tiba diambil oleh seseorang. Rio terkejut, lalu melihat kebelakang tubuhnya. Terlihat seorang murid laki-laki bertubuh besar dan tinggi, berdiri dibelakang Rio.
"Siapa mereka? Apa mereka keluargamu yang miskin?" tanya murid laki-laki itu yang bernama Dino. Dialah orang yang selalu menghajar Rio ketika disekolah.
"Dino kembalikan itu!" ucap Rio marah lalu berusaha mengambil foto keluarganya dari tangan Dino.
"Mau mengambil ini?" tanya Dino yang dibalas anggukan oleh Rio, "Tidak boleh."
Dino mendorong Rio sampai terjatuh lalu menyobek foto keluarga Rio dihadapan matanya sendiri.
Rio menatap kosong sobekan foto keluarganya yang sudah hancur menjadi sobekan-sobekan kertas kecil.
"Kau... Kau!!!" Rio berteriak marah lalu menendang Dino sampai terjatuh ketanah, "Apa kau tahu apa yang kau lakukan?"
Rio memukul pipi Dino menggunakan tangan kanannya, "Apa kau tahu apa yang aku rasakan?"
"Apa kau pernah merasakan bagaimana rasanya ditinggal pergi keluarga? Apa kau pernah merasakannya? Jawab!" teriak Rio yang berhasil menarik perhatian seluruh murid.
"Rio, tenanglah!" ucap Akbar sembari berusaha menenangkan Rio.
Rio kemudian mundur mengikuti Akbar. Tapi, tatapan tajam dan kebenciannya terhadap Dino masih belum bisa dihilangkan.
"Dasar kau anak miskin!" ejek Dino.
"Apa kau bilang? Dasar anak pejabat manja yang tak tahu bagaimana kerasnya hidup tanpa keluarga! Apa kau tahu? Aku sudah menahan ini selama bertahun-tahun. Kau mengejekku, aku diam. Kau menghajarku, aku diam. Tapi, kali ini tidak."
"Kau merusak satu-satunya kenanganku bersama keluargaku. Kau merusak satu-satunya memori yang tersisa dari keluargaku. Kau merusak masa laluku bersama keluargaku."
"Apa lagi yang kau inginkan, hah?! Aku sudah muak dengan tingkah lakumu. Aku muak." teriak Rio dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.
Tak lama kemudian, para guru pun datang untuk menenangkan Rio dan merawat Dino yang wajahnya babak belur.
Rio kemudian kembali ke kelasnya untuk menenangkan diri bersama Akbar dan Lia. Baru saja Rio masuk, sebuah telepon masuk dihandphone-nya yang ia simpan disaku celananya.
Rio mengambil handphone-nya lalu mengangkat telepon yang masuk, "Halo..."
Tuk... Krak...
Rio tiba-tiba saja menjatuhkan handphone-nya ke lantai hingga hancur. Lalu dengan sebuah gerakan cepat, Rio berlari keluar kelas dengan sangat cepat dan berhasil mengagetkan Akbar serta Lia.
"Hei, Rio! Kau mau kemana?" tanya Akbar lalu pergi menyusul Rio.
Sedangkan, Rio terus berlari tanpa memedulikan sekitarnya. Dipikirannya saat ini, hanya ada telepon yang ia terima dari rumah sakit.
'Apa anda Tuan Rio, keluarga dari Nona Hesti? Jika benar, tolong segera kemari. Karena Nona Hesti baru saja mengalami kecelakaan...'
"Kak, kau tidak boleh meninggalkan aku! Tidak boleh!" gumam Rio dengan berlinang air mata.
Rio kemudian menyeberang jalan tanpa melihat kanan kiri hingga...
Tin... Tin...
Gubrak...
"RIO!!!" teriak Akbar dan Lia dari pinggir jalan setelah melihat Rio tertabrak mobil.
Mereka berdua segera berlari menghampiri Rio yang tak sadarkan diri. Terlihat darah keluar dari kepala, tangan dan dada Rio. Akbar dan Lia lalu memanggil ambulans untuk membawa Rio ke rumah sakit.
***
Beberapa menit kemudian,
Rio sampai dirumah sakit dan saat ini berada diruangan UGD. Disamping Rio ada seorang wanita cantik yang juga mengalami kecelakaan. Wanita itu tak lain adalah Hesti, kakak Rio.
"Ka-kakak..." gumam Rio pelan.
Rio kemudian meraih tangan Hesti yang terjuntai kebawah, "Kak... Akhirnya ki-kita bisa menyusul ayah, ibu, adik dan nenek disurga."
Itulah kata-kata terakhir Rio sebelum menghembuskan nafas terakhirnya disamping kakaknya yang telah menghembuskan nafas terakhirnya beberapa saat sebelum Rio.