Suara ribut-ribut yang berasal dari arah belakang panggung itu menarik perhatianku. Kebetulan sekali aku melewatinya sehingga aku bisa memastikannya.
"Oh, ayolah mengapa bisa anak yang seharusnya menampilkan bakatnya dari kelas 3D itu mendadak sakit dan bilang tak bisa tampil?" Kata salah seorang yang kurasa merupakan salah satu panitia eh tidak, bukan hanya sekedar panitia tetapi ketua divisi yang mengurus acara pensi kali ini.
"Aku juga tidak tahu ketua, tapi katanya memang dia mendadak sakit sehingga tidak bisa tampil dan minta digantikan. Jika belum ada yang siap menggantikannya minta diundur jadi terakhir aja sementara kita mau tak mau mencari penggantinya." Salah satu anak buah orang itu yang benar saja seorang ketua menyahut.
Saat itulah, salah satu dari mereka yang berkumpul dan membahas hal krusial itu melihatku dan melambaikan tangannya dengan mata cerah sebagai tanda memanggilku ke sana. Ah, sepertinya aku mendapatkan firasat buruk.
"Kuro-chan, kemari!" panggilnya. Sepertinya aku mengenalnya, kalau tidak salah ia adalah Ayumi salah seorang teman sekelasku yang memang merupakan salah satu panitia acara pensi ini.
Si ketua yang mendengar Ayumi memanggilku,menengokkan kepalanya ke arahku dengan secepat kilat. "Wows, aku tak menyangka ini!"
Ah tidak, firasatku semakin tak enak. Hm padahal aku berniat hanya untuk lewat saja dan pergi ke atap untuk menenangkan hatiku yang galau ini. Tetapi ini, ah sudahlah tak ada salahnya aku menghampiri mereka bukan?
Kulangkahkan kakiku mendekati kerumunan mereka itu. Senyum setiap orang terkembang begitu lebarnya ketika melihatku.
"Haiya, lihatlah! Kuro-chan telah datang, bukankah ini waktu yang sangat tepat?" Si anak pindahan dari China yang biasa dipanggil Xiaohan menyapa begitu aku tiba di sana.
Kata-katanya itu langsung disambung oleh si ketua, "Kau benar Xiaohan. Oh Kuro-chan kau benar-benar penyelamat kami!"
Dalam seketika mereka semua mengelilingi diriku dan memohon-mohon padaku agar menjadi pengganti si orang yang mendadak tidak bisa hadir itu. Ah inilah firasat burukku itu.
"Kumohon, Kuro-chan hanya kau lah yang bisa tampil dalam waktu dekat sehingga tidak mengubah susunan acara yang sudah susah payah dibuat ini. Aku takut yang lain akan marah dan berujung pada acara yang kacau. Apalagi ini pensi terakhir kau di sekolah ini sebelum lulus! Kumohon kau mau ya?" Si ketua masih saja membujuk aku untuk mau menampilkan bakatku disana.
"Tak apa hanya menyanyikan satu lagu saja pun bersama gitar kesayanganmu itu. Setidaknya kau sudah mengisi acara bagian kelas kita. Sebagai sesama anak kelas 3D, kau mau kan ya?" Sekarang giliran Ayumi yang terus membujukku.
Tak mau ketinggalan Xiaohan juga kembali membujukku, "Haiya man, kau harus mau mengisi kekosongan ini, agar kita tidak diprotes sana sini. Kau tak kasihan melihatku?" Padahal kami tak terlalu dekat, tapi kata-katanya itu menggambarkan kami seakan dekat sekali.
"Kak, kumohon bantu kami sekali ini saja ya, tak akan ada yang meragukan bakat dan kemampuan kakak dalam bernyanyi dan bermain gitar. Tak apa hanya perlu satu lagu saja untuk menunjukkan kalau kelas kakak sudah tampil." Si panitia yang menjadi lawan bicara si ketua di awal tadi dan ternyata seorang adik kelas itu pun ikut ambil bagian dalam acara membujukku ini.
Membuat aku lelah mendengar rengekkan mereka ini. Menghela napas dengan berat aku mengangguk, menyetujui permintaan mereka dengan berat hati.
Efeknya langsung terlihat begitu, mereka bahkan sampai melompat-lompat kegirangan layaknya seorang anak kecil.
Mereka bahkan dengan cepat menyuruh orang mengambil gitarku yang kutinggalkan di kelas tadi. Dan menyuruhku untuk duduk dengan nyaman di sana sambil menunggu giliranku.
Sementara mereka kembali sibuk dengan segala macam persiapan untuk acara itu. Untuk setiap yang tampil, hingga tibalah giliranku.
Mereka menepuk pundakku dan terlihat menyemangatiku. Sepertinya mereka dapat mengetahui jika aku memang dalam kondisi hati yang buruk karena patah hati. Memang sudah menjadi rahasia umum mengenai kisahku yang menyedihkan itu.
Dan mereka memakluminya. Malah Ayumi dan yang lainnya sempat membisiki diriku untuk menyanyikan lagu yang mewakili perasaanku untuk bisa meluapkan apa yang ada di hati ini.
Tentu saja ucapan itu kusetujui dalam hati. Karena itu aku memilih lagu tersebut. Lagu yang dipopulerkan oleh Back Number yang berjudul Happy End.
Ketika aku berada di panggung dan telah mengambil posisi untuk duduk di tengah dengan mik tepat dihadapanku dan gitar kesayanganku yang kupangku, seluruh penonton mendadak hening.
Sepertinya mereka kaget karena bukan seseorang yang mereka ketahui akan tampil yang berada di atas panggung ini tetapi diriku. Diriku yang kisah cintanya sudah menjadi rahasia umum begitu juga dengan kesukaan dan kecintaanku pada gitar dan menyanyi.
Tentu saja aku sudah menduga hal ini, makanya aku tak ambil pusing juga tak merasakan gugup sedikitpun. Malah aku terkesan mengabaikan mereka semua demi mengungkapkan apa yang kurasa lewat lagu yang kubawakan ini.
Jreng jreng. Gitar pun perlahan kupetik, kualunkan suaraku mengikuti liriknya.
Sayonara ga nodo no oku ni tsukkaete shimatte
(Ucapan selamat tinggal seolah tergantikan di tenggorokanmu)
Seki wo suru mitai ni arigato utte itta no
(Bagai mengeluarkan batuk, kau justru mengucapkan terima kasih)
Tsugi no kotoba wa doko ka to poketto wo sagashite mo
(Meski pun kau mencari kata-kata selanjutnya di dalam saku)
Mitsukaru no wa anata wo suki na watashi dake
(Hal yang kau temukan hanyalah diriku yang mencintaimu)
Heiki yo daijoubu da yo yasashiku nareta to omotte
("Tak apa-apa, aku baik-baik saja" kupikir aku sudah terbiasa)
Negai ni kawatte saigo wa uso ni natte)
(Aku masih berharap akhir ini adalah sebuah kebohongan)
Ah ketika lirik itu terlontar dari mulutku, berbagai kenanganku dengan dirinya mulai menari-nari dengan indahnya di otakku. Sayangnya setiap kali kenangan itu menari, setiap itu juga sakit kurasakan.
Karena aku sadar, seperti lirik itu aku masih berharap bahwa akhir kisah kita itu hanyalah sebuah kebohongan.
Seharusnya kau tahu bahwa aku memang mencintaimu. Tapi mengapa kau malah mengucapkan terimakasih bukannya selamat tinggal untukku?
Ah tapi aku seharusnya sudah terbiasa bukan karena selama ini selalu mengatakan aku baik-baik saja padamu. Padahal jauh di lubuk hatiku ini, aku kenapa-kenapa!
Nyatanya aku masih tak bisa terbiasa. Aku masih merasa sakit!
Aoi mama karete yuku
(Aku menjadi layu dan pucat)
Anata wo suki na mama de kiete yuku
(Kau yang masih kucintai pun menghilang)
Watashi mitai tote ni totte
(Mohon pilihlah orang sepertiku)
Oku ni atta omoi to issho ni nigiritsubushi ta no
(Dengan menggenggam erat perasaan yang ada di dalam hatiku)
Daijoubu daijoubu
(Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja)
Ima sugu ni dakishime te
(Peluklah aku sekarang juga)
Watashi ga ire ba nani mo iranai to
(Aku tak memerlukan hal yang lainnya)
Soredake itte kisu wo shite
(Mohon ciumlah aku, hanya itu saja)
Nante ne uso da yo gomen ne
(Bercanda, aku berbohong, maafkan aku)
Ya, aku menyadari dengan seperti ini berarti mau tak mau aku mesti merelakanmu untuk pergi menjauh dariku. Kumohon, siapapun yang kau pilih nantinya setidaknya dia haruslah mencintaimu seperti diriku ini.
Dengan seluruh sisa rasa milikku ini yang kugenggam erat, aku bisa katakan bahwa aku memang baik-baik saja. Jadi kau tenang saja.
Kau tahu bukan? Aku tak membutuhkan apapun darimu. Meski hanya satu ciuman perpisahan pun, yang jelas hanya candaan.
Konna toki omoidasu koto ja nai to wa omoun dakedo
(Aku berpikir untuk tidak mengingat saat seperti ini)
Hitori ni shinai yo tte are jitsu wa ureshikatta yo
(Tetapi kau berkata takkan membiarkanku sendiri, sebenarnya aku bahagia)
Anata ga yuuki o dashite hajimete denwa o kureta
(Kau memberanikan diri dan meneleponku pertama kalinya)
Ano yoru no watashi to nani ga chigaun darou
(Sebenarnya apa yang salah denganku di malam itu?)
Dore dake hanarete itemo donna ni aenakutemo
(Terpisah sejauh apapun, tak dapat bertemu pun)
Kimochi ga kawaranai kara koko ni iru noni
(Perasaanku takkan berubah, aku akan tetap di sini)
Aoi mama karete yuku
(Aku semakin layu dalam keadaan memucat)
Anata o suki na mama de kiete yuku
(Aku semakin lenyap dalam keadaan menyukaimu)
Watashi o zutto oboete ite
(Selalu ingat aku terus menerus)
Nante ne uso da yo genki de ite ne
(Itu hanya bercanda, baik-baik di sana ya)
Perpisahan ini meski semakin menyakitiku karena perasaanku yang semakin dalam sementara kau memilih untuk menghilang, tetap ku berharap bahwa kau akan baik-baik saja di sana.
Nakanai watashi ni sukoshi hotto shita kao no anata
(Kamu yang memasang ekspresi kelegaan kepada aku yang tak menangis)
Aikawarazu nonki ne soko mo daisuki yo
(Seperti biasanya kamu bersikap santai, aku menyukai sisi itu juga)
Ki ga tsukeba yoko ni ite
(Tanpa disadari kau ada di sampingku)
Betsu ni kimi no mama de ii no ni nante
(Bukan berarti aku berharap kau bisa terus seperti ini)
Katte ni namida fuita kuse ni
(Dengan seenaknya kau menghapus air mataku)
Mieru zenbu kikoeru subete
(Semuanya pun dapat terlihat dan terdengar)
Iro tsuketa kuse ni
(Dan menjadi berwarna)
Kau yang seenaknya menghapus air mata yang mengalir di wajahku, membuat hatiku semakin sakit, kau tahu!
Karena dengan kau yang seperti itu membuatku menjadi berharap walau aku tahu itu hanya akan membuatku semakin sakit.
Aku semakin dapat melihat dan mendengar semuanya dengan jelas. Semuanya menjadi lebih berwarna. Padahal sebentar lagi kau akan memilih menghilang dan pergi dariku.
Aoi mama karete yuku
(Aku menjadi layu dan pucat)
Anata wo suki na mama de kiete yuku
(Kau yang masih kucintai pun menghilang)
Watashi mitai tote ni totte
(Mohon pilihlah orang sepertiku)
Oku ni atta omoi to issho ni nigiritsubushi ta no
(Dengan menggenggam erat perasaan yang ada di dalam hatiku)
Daijoubu daijoubu
(Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja)
Ima sugu ni dakishime te
(Peluklah aku sekarang juga)
Watashi ga ire ba nani mo iranai to
(Aku tidak memerlukan hal yang lainnya)
Sou itte mou hanasanai de
(Jangan tinggalkan aku, hanya itu saja)
Nante ne uso da yo sayonara
(Bercanda, aku berbohong, selamat tinggal)
Selesai sudah. Satu lagu yang mewakili seluruh hatiku ini telah selesai kubawakan. Namun emosi dalam diriku belum juga selesai, malah terus bergejolak.
Tanpa mengucapkan apapun lagi aku memilih undur diri dari panggung membiarkan para panitia penanggung jawab menyelesaikan bagian terakhirnya. Sungguh aku tak sanggup lagi.
Aku memilih berlari terus berlari ke halaman belakang sekolah. Menumpahkan seluruh hatiku yang putus asa di sana.
Hingga kurasakan bahuku ditepuk oleh seseorang. Ketika ku lihat dirinya di sana berdiri di hadapanku dan tersenyum begitu manis, malah hatiku semakin sesak rasanya.
Ia kembali menghapus air mataku yang mengalir itu. Tangannya yang lembut mengusap air mataku dengan perlahan. Senyuman tak pernah lepas dari wajahnya.
"Terimakasih atas segalanya, Kuro-chan."
Setelah itu ia malah memberiku sebuah pelukan hangat membuatku membeku dan tak membalasnya.
"Kuharap engkau bisa menemukan akhir yang membahagiakan untukmu." Ucapnya lagi sebelum ia berbalik dan meninggalkanku yang masih mematung memandangi dirinya yang pergi menjauh.
Apa katanya tadi? Menemukan akhir yang membahagiakan untukku? Ha? Apa kau bercanda? Aku sudah menemukannya bodoh! Meski itu hanya dalam mimpi.
FIN~~