Shena keluar dari kamarnya dengan seragam lengkap.
Ini adalah hari senin, ia harus berangkat lebih pagi supaya tidak di hukum. Dia sudah lelah senin lalu di suruh lari keliling lapangan karena bangun kesiangan.
"Maaa Shena berangkat dulu." Ucapnya sembari mencium punggung tangan ibunya.
Shena adalah putri tunggal, ia tidak memiliki ayah karena sudah meninggalkan sejak dirinya masih bayi. Ibunya yang selama ini memperjuangkan hidup mereka, meski begitu mereka adalah golongan orang kaya karena mamanya bekerja di salah satu perusahaan besar.
Tak lupa Shena memasang earphone saat sudah di dalam mobil, mendengar deretan lagu BTS merupakan ritual pagi untuk menyemangatinya. Dia akan terus memakainya hingga sopir menegurnya karena sampai. Terkadang, dia sampai bernyanyi bahkan ngerap yang tidak jelas sampai membuat telinga sang sopir sakit.
Apalah daya pak sopir yang bekerja demi uang, setiap hari ia harus mendengar suara melengking tidak karuan milik putri majikannya itu.
"Neng sudah samapi." Tegur pak sopir.
"Oh." Shena langsung menaruh hp dan earphone Nya ke dalam tas dan keluar mobil.
Seperti biasa, saat turun ia akan melihat deretan foto para suaminya itu. Maksudnya adalah ketujuh member BTS.
"Hay Shen." Sapa sahabat tercintanya.
"Ra lo tau gak? Semalem gue nonton live nya Taehyung, sumpah dia ganteng banget Raaaaa." Shena sudah hampir menjerit memberitahu kabar itu.
"Udah ih malu, lo makin lama makin gak waras." Ujar Shena. Ia celingak-celinguk memastikan tidak ada orang yang melihat tingkah sahabatnya.
"Rara, gue pokoknya harus nikah sama mereka." Ujarnya dengan percaya diri.
"Emang lo siapa sehingga mereka mau nikah sama lo? Udah cari yang nyata aja kenapa sih." Rara duduk di kursinya.
"Cuman mereka yang ngerti gue Ra, gak bakalan ada cowok yang kayak mereka." Shena terus membela diri.
"Terserah lo." Ucap Rara merasa jengah, Shena sudah benar-benar di buat gila oleh idolnya.
Selama upacara, Shena sama sekali tidak bisa fokus. Ia terus membayangkan wajah Tae semalam. Dia bahkan sampai senyum-senyum sendiri.
Padahal, Shena adalah gadis yang cukup populer di kalangan cowok, perawakannya yang manis dan gigi gingsulnya membuat siapapun terpesona melihat dia tertawa. Sayangnya, dia sama sekali tidak pernah melirik mereka satupun, dengan alasan ketujuh pangeran idolnya itu.
Setelah upacara, mereka akan di beri istirahat selama satu jam, Shena dan Rara menggunakan kesempatan itu untuk ke kantin tentunya.
"Ra, gue kemarin abis beli album terbarunya BTS." Lagi-lagi Shena membahasnya.
"Iya gue udah tau lo pasti gercep." Jawab Shena tidak tertarik. Dia bukan tidak suka BTS, Hanya saja tidak segila Shena.
"Shena, boleh gabung gak?" Tanya sang ketua OSIS.
"Boleh Vano." Jawab Rara.
Shena hanya diam tanpa melirik Vano, dan Vano malah duduk di samping Shena. Jelas cowok itu punya maksud tersembunyi.
"Gue suka sama lo." Ucap Vano tanpa basa-basi pada Shena.
"Hah?" Shena yang kaget hanya planga plongo.
"Gue suka sama lo Shena, lo mau gak jadi cewek gue?" Tanya Vano sekali lagi.
"hehehe, gue ke kamar mandi dulu ya Van." Shena berusaha menghindar dari menjawab.
Sesegera mungkin Shena melangkah pergi dari sana, ia benar-benar menuju kamar mandi.
Setelah 5 menit di dalam kamar mandi, akhir ia selesai dan keluar.
"Hay." Sapa seseorang menampilkan deretan giginya.
Shena terbelalak sampai ingin pingsan. "Taehyung?" Shena membelalakkan matanya tidak percaya.
"Gue pasti mimpi." Ucap mengusap kedua matanya berulang kali. Tiba-tiba Taehyung mencubit pipinya.
"Lo gak mimpi." Ujarnya mengelus rambut Luca.
"Tae." Shena langsung memeluk pria yang selama ini di cintai nya. Dia berulangkali menepuk kepalanya untuk memastikan kebenaran ini.
"Lo udah makan?" Tanya Taehyung melepas pelukannya dan membelai pipi Shena.
"Lo kok bia lancar bahasa indo?" Tanya Shena merasa aneh.
"Gue belajar demi lo." Jawabnya, membuat hati Shena semakin berdebar.
"Kalo ini mimpi gue gak mau bangun." Ujar Shena.
"Ini bukan mimpi Shena, liat mereka." Taehyung menunjukan ke enam member lainnya.
Shena semakin terkejut melihat mereka yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Lo serius?" Tanya Shena menatap Tae.
Tae hanya mengannguk dan mendekati Wajah Shena perlahan. Shena memejamkan matanya, biasanya adegan seperti ini Tae akan menciumnya. Sungguh terasa hangat nafas Taehyung saat menyetuh wajahnya.
"Woy Shena." Rara memercikkan air ke wajah Shena beberapa kali.
"Hah Tae?" Shena langsung berdiri dan celingak celinguk.
"Tae, Tae. Lo gue tungguin dari tadi malah molor di sini." Ucap Rara menoyor kepala Shena.
"Tadi gue sama Taehyung Ra, sekarang dia dimana?" Tanya Shena.
"Lo benaran gila ya, mana bisa Tae ada di sini."
"Tadi beneran ada Shena, lo harus percaya." Kekeh Shena.
"Lo pikir dia ke sini buat lo?" Shena mengangguk.
Rara meninggalkan Shena, gadis itu benar-benar sudah gila.
"Rara gue gak bohong." Shena mengejar langkah Rara.
"Udah jelas-jelas lo ketiduran tadi di depan toilet Shen, lo cuma mimpi." Rara menghentikan langkahnya.
Shena hanya menunduk, benarkah itu hanya mimpi?
Tapi kenapa pas di cubit sakit.
"Lo harusnya sadar Shen. Taehyung itu idol, dia punya banyak fans kan? Kenapa dia harus milih lo? Emang lo siapa sampai dia bisa milih lo?" Tegas Rara.
"Lo kok ngomong gitu Ra?" Shena memperlihatkan wajah sedihnya.
"Gue cuman pengen lo sadar, hubungan kalian gak lebih dari sekadar fans sama idol. Kalo lo mau cari pasangan cari yang nyata. Gimana kalo Taehyung nikah sama orang lain? Lo mau bunuh diri?"
"Tapi jodoh kan gak ada yang tau." Jawab Shena lagi.
"Jodoh gak ada yang tau, tapi Taehyung lebih gak tau sama lo. Kalo lo suka dia ya sebatas kagum aja Shen, gak usah terobsesi sampai lo lupa kehidupan nyata lo."
Shena malah menangis mendengar perkataan Rara, selama ini ia begitu terobsesi dengan idolnya sampai terkadang ia melupakan kewajibannya. Ia kadang lupa makan, lupa PR, bergadang dan telat sekolah.
"Gue cuman pengen yang terbaik buat lo, gue gak mau masa depan lo hancur karena tingkah lo sendiri."
"Lo benar Shen, mereka terlalu jauh. Gue gak mungkin bisa ngejar mereka." Shena menghapus air matanya.
"Dia gak akan pernah bisa gue dapetin " Shena berbicara dengan nada yang lirih.
Selama ini dia sudah begitu membutakan diri dan hanya memikirkan idolnya, dia tau dia sudah terlalu jauh melangkah.
Ada yang nyata, tapi tidak bisa di dapatkan. Begitulah yang Shena pikirkan, dia harus merubah pola pikirnya dari sekarang.
Mungkin setelah ini dia harus banyak belajar untuk mengubah kebiasaannya. Dia harus sadar siapa mereka dan siapa dirinya. Dia harus sebatas mengagumi tanpa mengorbankan dunianya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
SETELAH BACA, SILAHKAN LIKE DAN KOMENTAR. TENANG AJA GRATIS KOK DAN SANGAT MUDAH. KALIAN CUMAN TINGGAL PENCET KOK.
TERIMAKASIH.