Lagi-lagi begini, sekuat apa aku berjuang lagi-lagi aku di tepikan. Aku di nomor duakan, hanya saudara-saudaraku yang di nomor satukan dan di puja-puji. Apa rakyat rakyatku lupa jika aku masih salah satu putri kerajaan ini?
Aku Beatrice, usiaku sekarang menginjak 17 tahun. Aku putri pertama kerajaan Zarelka, aku putri yang lahir dengan kekuatan yang besar. Tapi, sebagai ganti kekuatanku yang kuat aku lahir dengan keadaan bisu, ya, aku tidak bisa berbicara.
Aku anak kedua dari tiga bersaudara, dua perempuan dan satu laki-laki. Kakak laki-lakiku, Edward adalah laki-laki yang hebat banyak yang mengaguminya dia cukup perhatian padaku walau aku merasa dia tidak terlalu dekat denganku.
Edward adalah anak dari selir pertama ayahku, dia tidak boleh menjadi raja selanjutnya karena yang boleh hanyalah anak dari raja dan ratu. Tapi Edward sudah bertunangan dengan putri salah satu perdana menteri, setidaknya masa depannya sudah sangat baik.
Adik Perempuanku, Diana adalah anak yang periang dan dia adalah sainganku dalam mendapatkan tahta. Aku tidak terlalu dekat dengannya, dia selalu terlihat menjauhiku dia mengatakan bahwa dia malu punya kakak sepertiku.
Aku tidak peduli, Diana hanya anak terakhir yang manja dan tidak satu pun keahlian yang menonjol yang berarti aku yang memiliki takhta, bukan?
*****
Cur!!
Teh yang panas itu mengalir dari atas kepalaku, aku tidak bisa melawan ini. Tunangan Edward mempermalukanku, ini sudah biasa. Aku tidak bisa melawannya karena Edward lebih memercayainya, ini terus terjadi.
Semenjak dia punya kuasa bisa keluar masuk istana dia sering sekali mengadakan pesta di taman istana, dan sering kali aku tidak pernah diajak padahal aku juga seorang bangsawan bahkan putri juga. Diana yang di undang terlihat akrab dengannya, aku sepertinya tidak pernah dianggap.
Bermula dari beberapa hari lalu aku di suruh ibu untuk Lebih banyak bergaul karena aku salah satu calon pewaris takhta, ibuku sendiri juga tidak terlalu banyak mempedulikanku. Dia juga malu dengan keadaanku, tapi tetap saja dia tidak bisa membuangku aku punya kekuatan yang besar.
Jadilah aku datang ke pesta itu dan langsung di tertawakan oleh nona-nona bangsawan yang lain, mereka menertawai ku dan menghinaku. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku tidak bisa pergi mengadu karena aku tidak bisa bicara, mereka senang dengan itu.
"Beatriceku sayang, kamu boleh ikut." Ujar tunangan Edward.
Aku langsung bersemangat.
"Tapi, kau harus menjadi pelayan kamu disini."
Aku terdiam, aku sudah terlalu berharap. Tapi segera aku mengangguk, aku tidak peduli yang penting aku bisa ikut bergaul. Sampai saat aku salah menuangkan teh di salah satu cangkir teh itu di tuangkan diatas kepalaku, rasa panasnya sangat menyebar di seluruh kepala aku ingin menangis.
"Ada apa Beatrice? Kamu ingin menangis, ya?"
Aku menggeleng.
"Kalau begitu cepat ambil teh yang baru!"
Aku segera pergi, tapi sebelum pergi ada yang menyandung kakiku membuatku terjerembab. Bukannya membantu mereka malah menertawai ku.
Prang!
"Ups, maaf tuan putri."
Seperti belum puas, salah satu pelayan mereka entah sengaja tidak sengaja menjatuhkan cangkir teh di kepalaku yang tentu saja pecah. Aku meringis, rasanya sakit sekali. Beling kaca ini menusuk kulit kepalaku, tapi aku tidak boleh menangis.
"Aduh, Beatrice apa perlu kuobati?" Tanya tunangan Edward.
Aku tidak menjawab, tapi dia melanjutkan.
"Oh ya, kamu kan putri yang kuat kenapa tidak menyembuhkan diri sendiri dengan kekuatan itu?"
Aku bangkit berdiri, lalu tertatih-tatih pergi menjauh. Aku pergi tanpa arah tapi setelah merasa telah bersembunyi aku langsung berhenti dan duduk sejenak, tapi tanpa kusadari ada seorang anak yang melihatku.
"Wah, kau terluka."
Aku menatap bocah di depanku dengan malas, siapa anak ini?
"Kalau tidak diobati nanti kau mati, lho." Serunya.
Aku mengangguk, memang itu yang kumau. Aku sudah malas dengan takhta tidak bisakah aku mati saja?
"Kau mau mati ya?"
Aku mengangguk, lalu mengambil sesuatu di kantung yang kusembunyikan. Itu sebuah pisau, dan aku memberikannya pada anak itu. Lalu aku juga mengeluarkan lima keping emas falka, pasti anak ini akan mengambilnya setidaknya memang segini harga nyawaku.
"Kau ingin aku membunuhmu?"
Aku mengangguk.
Aku menunggu, anak itu pasti akan membunuhku. Siapa yang akan menolak 5 keping emas falka yang jarang bisa kau dapatkan, 5 keping sudah bisa membuatmu menjadi orang kaya mendadak. Bisa punya rumah, kereta, makan enak seumur hidup, dan lain-lain jadi siapa yang mau menolak ini?
Anak itu menggenggam pisaunya laku menatapku, dia meminta tanganku.
Srats!
Tanganku di sayat pelan-pelan, lalu darahku di usap pada pergelangan tangan. Aku heran, kenapa dia melakukan itu? Tapi dalam sekejap darah yang berada di pergelangan tangan itu membentuk sebuah gelang berwarna merah dengan banyaknya mutiara, aku terkejut mendapati itu dan menatap anak ini baik-baik.
"Hahh, hidupmu ini menyedihkan sekali, ya?" Anak itu duduk di hadapanku dan mengembalikan pisauku.
"Kau ini aneh, pisau yang tidak terlalu tajam ini mana bisa membunuhmu dengan cepat. Yang ada nanti membunuhmu dengan siksaan," ujarnya lagi.
Aku menunduk, dia benar pisaunya tidak tajam yang ada jika aku mati aku akan mati dengan siksaan yang menyakitkan. Sama saja, tidak ada kematian yang mudah rupanya.
"Daripada kau mati, lebih baik buat kontrak denganku!"
Aku menatapnya, dengan ekspresi yang bertanya 'kontrak apa?'.
"Aku ini iblis, walaupun tubuhku kecil usiaku sudah dua puluh tahun."
Aku jelas tidak menyangka, bukankah iblis sudah dimusnahkan?
"Aku bisa mendengar suara hatimu, iblis yang kalian musnahkan itu bukan iblis ras ku jadi aku masih bisa hidup."
Aku lega, setidaknya komunikasi ini berjalan dengan baik. Aku tidak bisa bahasa isyarat hanya bisa mengisyaratkan beberapa hal saja yang membuat banyak orang kesal saat bicata padaku.
"Dengar, bunuh diri itu selalu menjadi solusi orang saat terpuruk dengan masalah kecil."
'maksudmu masalahku kecil, begitu?' tanyaku dalam hati sedikit tidak terima dengan ucapannya.
"Benar kan? Hanya karena di permalukan begitu, huh? Harusnya kau balik melawan, katanya punya kekuatan besar."
Aku meringis, lalu di dalam hati mengatakan semuanya. Bahwa hanya karena kekuatanku besar mereka tidak akan takut padaku karena kekuatanku di kendalikan ayahku, aku tidak bisa memakai kekuatan ini untuk membela diriku sendiri.
Kekuatan yang aku miliki adalah penghancuran, aku bisa menghancurkan apapun yang ingin kuhancurkan tidak peduli sekeras dan sekuat apa benda itu. Tapi kelemahan dari kekuatan ini, ada yang harus mengendalikannya seperti sekarang yang memegang kendali atas keluarnya kekuatanku adalah ayahku sendiri. Aku tidak bisa merasakan kekuatan ini, aku hanya sebagai wadah singgah kekuatan ini.
Apalagi setelah kudengar kekuatan ini akan berpindah setelah 18 tahun bersemayam di tubuh seseorang yang berarti aku tidak akan di butuhkan kembali.
Anak itu tertawa, aku lagi-lagi bingung dengan sikapnya.
"Kau ini terlalu naif, kau menganggap semuanya menyayangimu."
'aku tidak seperti itu!' teriakku dalam hati.
"Oh ya? Lalu kenapa kau membiarkan saja tubuhmu di siram teh panas?"
Aku diam.
$karena kau bodoh dan lugu."
'jangan sembarang bicara!'
Tiba-tiba angin berhembus kencang, aku entah kenapa merasa marah sekali. Dengan sekali tatap aku menghancurkan satu pohon yang ada di hadapanku, tapi aku kemudian sadar. Bukankah tadi aku mengaktifkan kekuatanku sendiri?
"Sudah sadar? Kau hanya di peralat, kau di pengaruhi. Ayahmu hanya menguasai seperempat kekuatanmu, sisanya kau yang bisa mengendalikannya. Sebesar itu kekuatanmu pohon besar ini hancur berkeping-keping." Anak itu sudah berdiri di hadapanku lalu tersenyum.
'Aku tidak tahu jika selama ini-'
"Sudahlah, kau mau kubantu?"
'bantu?'
"Aku akan membuatmu bisa bicara lagi, bahkan memberi tahu caranya melepaskan jerat kendali ayahmu."
Aku mendengar semuanya, tapi sadar juga akan sesuatu. Jika begini harus ada imbalan setimpal...
"Benar, setelah kau membalas dendam aku minta kau untuk hancurkan kerajaan ini. Bagaimana?"
Aku terdiam, ini keputusan yang berat tapi aku juga tidak bisa diam saja...
'Aku setuju.'
*****
Ini hari penobatan, hari ini tepat umurku menginjak 18 tahun. Pemilihan putri mahkota, aku harus mengikutinya. Aku berjalan di sekitar lorong istana, semua pelayan yang melihatku bergidik ngeri mereka gemetar bahkan tidak berani melihatku.
Hari ini tepat setelah dua Minggu aku sudah bisa bicara dan belajar mengendalikan kekuatanku dengan benar atas saran bocah itu, hari pertama aku sudah menjadikan pelayan yang selama ini menyiksaku sebagai bahan percobaan. Aku sengaja meremukkan tulang-tulang mereka sementara dan menjadikan mereka sebagai bidakku, tidak buruk setidaknya aku senang karena punya budak untuk disuruh-suruh.
Semua orang terkejut mendapati aku yang tiba-tiba bisa bicara, aku hanya mengatakan bahwa ini hadiah untukku di umur ke 18. Tapi kukira raja dan ratu akan membuat pesta selamat atas aku yang bisa bicara mereka justru berpura-pura tidak tahu apa-apa. Aku sengaja menahan semuanya sampai hari ini, lihat saja jika gelar putri mahkota tidak di berikan padaku maka hari ini aku akan menghabisi kalian semua.
Aku duduk di kursi ku, aku dapat mendengar semua bisik bisik yang ada. Banyak yang menertawakanku.
"Kenapa dia masih disini?"
"Tidak tahu diri, aku ykain dua akan kalah."
"Putri Diana akan menang!"
"Beatrice pasti menjadi alat saja bagi Putri Diana."
Aku tersenyum miring, lalu membatin.
"Sesuka kalian saja, tunggu saja jemputan malaikat maut hari ini untuk kalian."
Raja datang dan berdiri, semuanya mengucapkan salam sejahtera untuknya lalu raja datang dengan sebuah mahkota di tangannya. Di hadapannya Ada aku dan Diana, kota lihat saja siapa yang akan di berikan mahkota itu.
Tap!
Mahkota itu di pakaikan di kepala Diana, aku tidak terkejut bahkan puas dan tertawa setelahnya semua mata melihat padaku.
"Hahaha, lucu sekali!"
"Putri beatrice sudah gila sepertinya."
"Dasar haus perhatian."
"Kasihan dia tidak dipilih hingga gila,"
Diana datang mendekatiku, dengan wajah dibuat seperhatian mungkin dia berbicara sambil berbisik.
"Jangan mengacaukan upacara penobatan ku, jika tidak mau membusuk di penjara bawah tanah."
Lihat, dia malah mengancamku.
Aku mengangkat wajah dan melihat matanya, dia terkejut dengan perbuatanku lalu dengan sekali kibasan tangan kepalanya sudah berputar 180° membuat Diana mati di tempat.
Krak!
Suara tulang di putar ternyata seru juga, aku tidak takut justru menendang mayatnya. Semuanya panik melihat itu beberapa penjaga menahanku, tapi sekali lagi dengan kibasan tangan mereka jatuh dan mati di tempat karena otot mereka kuhancurkan. Sekali lagi aku tidak ngeri, aku puas dengan suara dan cairan merah yang memenuhi tanggung penobatan.
Aku mendekati ayah dan ibu, lalu tersenyum.
"Padahal aku sudah berjuang selama ini tapi tidak pernah dianggap, beginikah balasan kalian?"
Ayah memegang gelang yang biasa dipakai untuk menahan kekuatanku tapi tetap saja tidak berefek padaku, gelang itu sudah di tukar oleh bocah itu. Ayah dan ibu dengan ekspresi ketakutan menatapku takut, aku yang seorang monster sedang memburu mereka.
Aku sudah malas dengan wajah itu, jadi dengan cepat aku menghancurkan otak mereka saja. Aku tidak membunuh orang tuaku, mereka bukan orang tua kandungku karena aku putri raja sebelumnya mereka hanya memanfaatkanku.
Aku mendekati Edward dan tunangannya, lalu dengan sekali gerakan jari telunjukku tunagannua mati dengan mengenaskan dengan tubuh yang hancur. Edward ketakutan tapi berusaha melawanku, aku mendekatinya lalu berbisik.
"Pergilah sejauh mungkin dari kerajaan ini, aku masih berbaik hati padamu."
Setelahnya aku berjalan turun panggung, lalu berjalan dengan santai sambil mengibas tanganku semuanya melayang begitu saja dan mati dengan cepat. Sekejap saja sudah ada ratusan mayat di istana, tapi setelah merasa bosan dan sudah puas membunuh aku keluar menemui bocah itu.
"Sekarang pakai sisa kekuatanmu dan hancurkan kerajaan ini." Perintahnya.
Perlu kekuatan yang banyak dan konsentrasi tinggi, tapi dengan waktu yang tidak lama kerajaan Zarelka hancur. Kerajaan yang berdiri selama 55 tahun, hancur karena aku. Aku menatap kehancuran itu dengan mata nanar dengan ekspresi datar, aku akan hidup bahagia setelah ini.
"Bagus, sekarang semua tugasmu selesai, Beatrice."
Aku mengangguk, "Aku akan mengembara setelah ini, jadi kuharap aku tidak bertemu denganmu lagi."
"Baiklah, lagipula kontrak kita selesai. Semoga kau senang dengan pengembaraanmu."
Begitulah, kami berdua terpisah. Aku tidak merasa bersalah atas semuanya, aku hanya menyesal karena aku terlalu mencintai kerajaan itu hingga aku hampir menangis. Aku tidak ingin kerajaan Zarelka dikotori oleh banyak orang tidak bertanggungjawab hingga harus memusnahkan semuanya.
"Kalianlah yang membuatku menjadi seseorang yang jahat, itu balasannya."