Ada seorang anak bernama Riska, beliau lahir dari keluarga sederhana. hidup bersama Ibu nya tanpa Ayah yang selalu ia harapkan kasih sayang nya namun hanya ilusi.
Suatu hari ketika Riska ingin melakukan aktivitas nya, Riska melihat Ibu sudah memasak sayur sup untuk sarapan pagi itu. karena Ibu nya tau kalau Riska tidak bisa makan makanan luar karena penyakit yang di derita nya.
"Bu, boleh aku minta sindukkan satu mangkuk sup pagi ini?" Tanya Riska.
"Sudah Ibu siapkan kok di atas meja makan, kamu sarapan dulu gih lalu berangkat kerja ya takut telat" Jawab Ibu.
"Makasih Bu" Balas Riska.
Riska pun langsung menyantap sarapan pagi itu walau rasa nya hambar karena ia tidak terlalu suka sayur sup. setelah selesai makan, ia pamit pada Ibu untuk pergi bekerja.
"Bu aku berangkat" Ucap Riska.
"Hati-hati ya sayang" Balas Ibu.
Riska pun hanya tersenyum lalu pergi dengan motor beat nya. sesampai nya di tempat kerja, ia langsung memarkirkan motor dan mulai bekerja sesuai prosedur yang ada.
Hari-hari nya penuh canda tawa, walau sebenar nya banyak beban yang ia pikul setiap hari di otak dan batin nya. setengah hari berlalu, bel istirahat pun tiba.
"Ris mau pulang?" Tanya teman.
"Iya, aku kan gak bisa makan catering bareng kalian" Balas Riska sambil tersenyum.
"Cepat sembuh ya Ris" Ucap Teman.
"Aamiin, doain yak" Balas Riska.
Riska pun pergi meninggalkan teman nya, dan ya Riska sudah memiliki pasangan benama Sanusi. yang memang perhatian, namun karena memang Riska ini berbeda, Sanusi pun kerap sering cemburu buta.
"Jangan lupa makan siang ya sayang" Notif pesan dari Sanusi.
"Kamu juga sayang" Balas Riska.
Setelah selesai mengabari Sanusi, Riska pun segera pulang ke rumah dan makan siang. setelah makan siang selesai pun ia minum obat dan kembali ke tempat kerja.
☺waktu terus berlalu☺
Jam menunjukkan pukul 20;30 wib, Riska dengan lesu pun tiba di rumah dan langsung membersihkan diri. setelah itu, ia langsung makan dan chatting malam dengan Sanusi.
"Sayang aku udah rapih" Pesan Riska.
"Aku juga, kamu udah pulang?" Tanya Sanusi.
"Iya sudah kok, oh ya kamu makan pakai apa?" Tanya Riska.
"Telur sama mie" Jawab Sanusi.
Ya awal nya semua baik-baik saja, namun saat Riska mulai slow chat teman online dan juga teman-teman nya pun Sanusi mulai cemburu berlebihan bahkan membuat Riska semakin pusing.
"Kamu masih chat sama Papih?" Tanya Sanusi.
"Emang kenapa?" Balik tanya Riska yang sudah capek batin maupun fisik karena setiap pertanyaan cemburu Sanusi selalu itu.
"Semenjak kamu punya rutinitas baru kamu jadi gak prioritaskan aku!, aku tuh mau kamu prioritaskan kayak dulu" Ucap Sanusi mulai kasar.
Riska pun hanya diam sejenak karena setiap Sanusi cemburu, kepala nya seakan hancur dan nafas nya pun kian selalu tidak karuan. rasa rindu yang ia rasakan pun mulai terganti dengan rasa sakit yang ia derita.
"Bu" Panggil nya dengan lirih.
"Iya Nak ada apa?" Tanya Ibu.
"Aku mau air minum, apa ada air hangat yang bisa aku minum?" Tanya Riska.
Ibu pun langsung membawakan segelas air hangat, lalu Riska meminum nya perlahan karena untuk menelan air pun pasti sakit rasa nya.
Setelah itu, Ibu Riska menyuruh nya istirahat sehingga membuat aktivitas chat dengan Sanusi pun terputus.
☺hari pun kian terus berganti☺
Riska kini tengah berdiri di sebuah rumah kosong sambil memegang pisau. lalu ia tersenyum melihat indah nya sebuah langit dan juga seisi alam nya.
"Tuhan, andai beban ini tidak lah berat, aku ingin melanjutkan hidup ku. tapi kenapa aku tidak pernah bisa menjadi apa yang aku inginkan?" Ucap Riska dengan senyuman.
"Aku ingin sekali bertemu Sanusi, cuma mau bilang kalau aku ingin jadi diri aku sendiri dan menuntut banyak hal dari manusia yang penuh dosa ini. tapi sepertinya memang ia tidak menginginkan aku lagi melainkan hanya ingin memiliki. jadi Tuhan, maafkan aku harus melakukan ini" ucap Riska sambil memegang pisau dengan erat.
Riska pun memggores tangan nya dengan pisau berkali kali namun tidak merasa sakit sedikit pun karena besar nya luka batin yang ia simpan di hati.
Hingga akhir nya Riska kembali ke rumah dengan luka yang ia sembunyikan di balik kain yang ia kenakan. lalu ia melanjutkan tugas nya sebagai Anak yang baik lagi.
☺Pagi itu☺
Riska langsung mengabari Sanusi dan men spam chat nya yang walau tiada balasan dari Sanusi karena ia tau pasti itu yang akan terjadi.
"Aku tau kamu akan pergi meninggakan aku lagi ay, tapi walau begitu. aku gak bisa mengharaf lebih lagi sama kamu, karena aku tau memang aku ini manusia dosa yang memaksa ingin bahagia namun tidak sadar akan banyak kurang nya." ucap batin Riska.
Dan dari situlah, Riska pun sudah tidak tahan dengan banyak nya beban yang ia pikul, rasa sakit, siksaan batin, bahkan jantung nya seakan meronta ingin segera lepas dari tubuh Riska.
Hingga suatu hari, Riska pun ke rumah Sanusi dan mengetuk pintu Rumah nya sampai Sanusi keluar. namun ia langsung menutup pintu yang kemudian Riska tahan walau tangan nya terjepit dan bengkak.
"Ay maaf!" Teriak Sanusi sambil memegang tangan Riska.
"Aku baik-baik saja, ini cuma luka kecil" Ucap Riska sambil menarik tangan nya.
"Kamu ngapain kesini?" Tanya Sanusi dengan pura-pura tidak khawatir.
"Cuma mau kasih undangan dari sahabat ku, oh ya maafin aku ya belum bisa jadi pacar yang baik bahkan hanya bisa jadi pacar yang menyiksa kamu saja. mungkin mulai besok aku gak akan lagi nyakitin kamu sayang, karena aku tau kamu capek ya harus nerima aku yang jadi diri aku sendiri." Ucap Riska.
"Kamu ngomong apa si?" Tanya Sanusi.
"Gak sayang, oh ya ini kamu habiskan yak nanti. aku pamit dulu" Ucap Riska lalu pergi.
Sanusi pun masuk ke dalam rumah nya dengan bingung karena sikaf Riska yang gak biasa, lalu ia pun membuka isi kotak yang isi nya tahu balado lalu ada surat kecil juga di atas penutup kotak.
Lalu Sanusi pun membaca nya di barengi Riska yang kini sudah ada di jalan besar yang ramai akan truk dan mobil besar dengan senyuman yang terus merekah di bibir Riska.
Dan setelah membaca surat itu, Sanusi pun bergegas pergi dengan motor nya menyusul Riska yang pasti Sanusi tau dia dimana.
Namun saat sampai di tempat tersebut, Sanusi hanya melihat motor Riska yang tengah tergeletak hancur dan banyak warga yang berkumpul.
"Sayang" Ucap Sanusi lirih mendekati kumpulan warga.
Dan di lihat nya Riska sudah tergeletak dengan sebagian wajah yang sudah bercucuran darah sambil memegang erat lolipop kesukaan nya.
"Sayang!" teriak Sanusi sambil memeluk Riska.
"Ehmm.. ku pikir kamu gak akan kesini, oh ya sayang, aku lagi pengen lolipop sambil jalan bareng sama kamu. aku juga lagi pengen makan kebab dan juga burger selagi aku bisa, tapi maaf aku ceroboh sampai gak melihat truk melintas. jadi aku hanya bisa beli lolipop ini, aku kan gak minta uany dari kamu, apa sekarang kita boleh menghabiskan waktu sebentar sayang?" Tanya Riska sambil tersenyum walau sekarat.
"Kita akan habiskan waktu bersama selama nya sayang, kamu harus kuat kita akan pergi yak . kita akan pergi" ucap Sanusi.
Lalu Riska pun di larikan ke rumah sakit, dan di sana Sanusi terus memegang tangan Riska sampai ia masuk ruang Icu.
Dua jam berlalu, Dokter keluar dengan hasil positif, dimana Riska berhasil selamat dari masa kritis nya.
Dan hari terus kian berlalu, hingga kini Riska di pindahkan ke tempat rawat dan disana Sanusi terus menemani Riska walau Riska hanya bisa terbaring dan tersenyum dengan wajah yang kini cacat tak secantik dulu.
"Kenapa kamu masih di sini sayang?, apa kamu benar mau menghabiskan waktu dengan aku akhir bulan ini?" Tanya Riska.
"Kapan pun kamu mau, aku siap menemani kamu" Balas Sanusi.
"Ehm.. makasih ya sayang, tapi maaf ya ehm kamu pasti malu ya sebelum nya karena aku penyakitan, dan sekarang wajah aku pun ehm.., sudahlah maafkan aku yak" Ucap Riska.
"Gak sayang, kamu tetap cantik kok" Balas Sanusi.
"Jangan bohong sayang, ehm.. maaf ya sekali lagi, bukan aku udh gak peduli kamu cemburu sayang, tapi aku hanya ingin kamu mengerti kalau aku juga bisa sendiri tanpa harus setiap jalan minta uang ke kamu buat di beliin makanan, lalu menghabiskan waktu kamu dan malah merepotkan kamu juga karena penyakit aku. aku cuma kangen kamu, dan saat otak aku sakit memikirkan penyakit aku, batin aku, ehm aku cuma mau sehari aja sama kamu walau aku tau kamu tetap akan menolak" Tutur Riska.
"Gak sayang kamu gak boleh ngomong gitu ya" Ucap Sanusi.
"Aku gak akan ngomong gitu lagi, kan aku udah menghabiskan hari ku sama kamu walay di rumah sakit, kini aku bisa tenang. ehmm aku ngantuk sayang," ucap Riska tiba-tiba.
"Yaudah kamu tidur yak" Balas Sanusi.
"Jaga diri baik-baik ya sayang, aku sayang banget sama kamu. tapi maaf aku lelah dan ini udah saat nya aku pergi" Ucap batin Riska.
Lalu saat Riska menutup mata pun, dari situ juga detak jantung Riska sudah tidak berdetak. membuat Sanusi yang awal nya lega karena kondisi Riska membaik pun harus terpukul karena itu semua hanyalah tipuan atau haluan Sanusi dan dalam nyata kini Riska sudah tidak tertolong nyawa nya saat di tengah perjalanan menuju Rumah sakit.
Cerita pun tamat....
Pesan moral☺
"Jangan sia-siakan Wanita yang setia menemani mu, karena percayalah, walau dia jauh sekalipun ia akan terus mengingat mu walau dalam keadaan sekarat pun"
#Ar ariska