Enam tahun sudah berlalu semenjak Melly lulus SMA. Tentu saja dia berpisah dengan Evan. Setidaknya secara fisik. Tapi Melly masih menunggu Evan, menunggu dia datang dengan janjinya, agar kehidupan masa depan lebih baik.
Melly tidak melanjutkan kuliah karena dia memutuskan untuk menekuni hobinya di bidang perkebunan. Saat ini dia dipercaya Ronald untuk memegang Boutique Garden di cabang yang lain. Melly sangat mengapreasiasi permintaan Ronald, karena kebaikan dia selama ini.
"Mell.."
"Iya Buukk.."
"Sarapan dulu Nak"
"Iya Buk, sebentar lagi Mell keluar kamar. Masih PW nih"
"Ya udah, kamu istirahat dulu kalau begitu"
"Makasih Buk"
Hari ini Mell merasa malas sekali keluar kamar, bahkan ia juga berencana untuk bolos kerja.
Riinngg... Riinng...
"Hallo Nald"
"Kamu nggak papa kan Mell?"
"Iya, baik. Aku nggak papa kok. Ada apa Nald?"
"Kamu udah telat setengah jam"
"Aku hanya sedikit lelah Nald. Bentar lagi aku berangkat ya"
"Lebih baik kau berangkat sekarang"
"Kenapa?"
"Evan datang"
Melly langsung mematikan ponselnya dan bergegas untuk berangkat. Tanpa mandi, tanpa sarapan.
"Dis, ibuk sama ayah mana?"
"Keluar Mbak Mell, kenapa?"
"Aku berangkat dulu ya. Ntar sarapan di jalan aja"
"Oh, okee..", kata Disa sambil membereskan meja makan.
Mell melajukan sepeda motornya dan berharap Evan masih menunggunya di Boutique Garden. Saat ini suasana hatinya sangat bahagia. Bersemangat karena akhirnya dia akan bertemu dengan kekasihnya setelah menunggu sangat lama tanpa kabar.
Tiba di lokasi, Mell memarkir sepeda motornya dan merapikan rambut yang sedikir acak - acakan karena terkena angin saat di perjalanan.
"Mell"
"Ronald, dia dimana?"
"Dia menunggumu di sana", Ronald menunjuk bagian bunga Siklok. Tempat yang sama saat Evan mencium bibir Melly untuk pertama kali.
"Oh, makasih", Mell berlari menuju Evan.
Nafasnya sedikit terengah - engah. Hatinya deg - degan dan matanya berbinar.
"Evaann..", Mell berteriak memanggil nama Evan sambil tersenyum sumringah.
Evan menoleh ke arah Melly. Dia banyak berubah. Tampilan keren khas anak remaja SMA kini berubah menjadi sedikit maskulin dan dewasa. Tubuhnya juga semakin berisi, kulitnya sedikit cokelat dan rambutnya terlihat rapi.
"Mell"
"Kamu berubah banget", Mell memeluk Evan.
"Kamu apa kabar?", Evan tak membalas pelukan Mell. Dia justru mengalihkan pertanyaan.
"Aku? Aku baik Van. Kamu sudah lama di sini? Aku kangen banget sama kamu", Melly menangis.
"Mell.. Jangan nangis, malu dilihatin orang. Ini.."
"Ini kertas apa?"
"Kamu buka nanti ya"
"Tapi Van, ini..."
"Van.. Ayuk", wanita lain memanggil nama Evan.
"Aku pulang dulu ya. Kamu jaga diri. Hati - hati kalau kerja atau lagi pergi. Maafin aku", kata Evan mengakhiri percakapan.
Melly terlihat bingung bahkan sampai air matanya berhenti menetes. Lalu dia membuka selembar kertas pemberian dari Evan.
"Ronald, boleh aku pinjam laptop kerjamu sebentar?"
"Boleh, buat apa?"
"Evan memberiku ini"
Sebuah nama akun Instagram tertulis di kertas itu.
"Ini nama akun Instagram Evan. Mungkin dia ingin aku berteman dengannya agar kami bisa kembali komunikasi"
"Baiklah. Silahkan kamu pakai laptopnya. Aku pergi dulu ya"
"Jangan. Kamu di sini saja, temani aku sebentar. Firasatku buruk Nald", Mell duduk di kursi kerja Ronald.
"Baiklah", menepuk pundak Mell.
Mell langsung mencari nama akun yang dia pegang. Benar saja, itu adalah akun milik Evan. Mell menangis sejadi - jadinya. Dia patah hati, benar - benar patah hati dan tidak bisa berbuat apa - apa.
Penantian dan kesetiaan dia selama ini sia - sia. Dia dihianati tanpa ada penjelasan apapun.
Mell melihat banyak foto di sana, termasuk foto seorang gadis kecil yang dalam captionnya ditulis dengan nama Keisha. Ya, Keisha adalah anak Evan dan perempuan yang datang bersamanya di Boutique Garden.
Selang 15 menit setelah menyelesaikan tangisannya, Evan mengirim sebuah pesan panjang:
"Melly..
Maafin aku. Bukannya aku tidak ingin memberi tahu yang sebenarnya kepadamu, tapi aku hanya bingung harus mulai dari mana.
Setahun setelah lulus SMA, aku bekerja dengan pamanku dan dia membiayai kuliahku di pelayaran. Setelah lulus aku banyak bekerja di atas kapal. Sehingga hanya sedikit waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga apalagi dirimu.
Lalu tanpa sengaja, aku bertemu dengan wanita yang sekarang menjadi istriku. Aku berfikir, bahwa dirimu pasti tidak akan menungguku selama itu. Aku juga selalu merasa cemburu dengan kedekatanmu dengan Ronald. Aku selalu berfikir kalau kalian diam - diam pacaran di belakangku.
Itulah alasan, kenapa selama kita bersama, aku tidak pernah menembakmu. Aku tidak pernah memintamu untuk menjadi pacarku. Aku takut terluka, tentang suatu hal yang belum pasti. Sehingga, aku memutuskan untuk menikah.
Sejujurnya aku keliru. Karena aku tidak bertanya langsung tentang hubungan kalian berdua waktu itu.
Sekali lagi, maafin aku. Semoga kamu bahagia ya Mell"
***
"Mell, kamu nggak papa kan?", tanya Ronald.
"Sialan kamu Van. Dasar cowok nggak tau diri. Penghianat. Kurang ajaaaaaar.. Haarrgghh.hh... Aku benci sama kamu. Bencii... Dasar Monyeettt..."
--- SELESAI ---