Pukul 09.00 wib,
Aku meletakkan satu gelas kopi panas di meja seorang pelanggan. Pelanggan itu belum datang. Namun,aku tau tepat pukul 9 pagi lewat 5 menit. Pintu cafe kopi 'Mantan' akan bergerak, dan gadis itu akan datang dengan senyumannya, dan tangannya melambai padaku sebagai ucapan terimakasih telah mendapatkan segelas kopi gratis.
Ya, segelas kopi gratis, yang di sediakan untuk pelanggan pertama. Nama gadis itu Yuri. Sang penikmat kopi gratis setiap pagi.
Namaku adalah Haikal, sang manager cafe Kopi 'Mantan', yang selalu berdiri di belakang meja dengan celemek. Aku menyamar menjadi waiters, hanya untuk merekam setiap kegiatan gadis kecil itu. Aku menyukai senyum Yuri. Entah, sejak kapan aku tidak mengetahui dengan jelas perasaan itu kapan datang.
Hari ini adalah hari ulangtahunnya. Aku ingin sedikit jujur dengan dirinya. Aku ingin berteman. Walau, rasanya sangat terlambat untuk memulai. Aku dengar dia sudah memiliki kekasih. Namun, aku berpikir lebih berani sebagai seorang pria, apa salahnya sekedar mencoba untuk lebih dekat? aku ingin menjadi sosok dengan langkah kaki yang lebih mendekat, dan berdiri di sisi gadis kecil itu. Walau, aku tidak berharap banyak akan balasannya.
Aku menunggu dengan cemas. Namun, sosoknya belum terlihat.
Pukul 09.30 wib!
Tiga puluh menit telah berlalu.
Pintu cafe tidak bergeming.
'Apakah dia absen hari ini?' pikirku. Aku berjalan menuju pintu. Tidak lama, seorang pria muda datang dan duduk di meja Yuri biasa duduk.
Aku menelan ludah. Mendadak salah tingkah. Karena, aku telah menyiapkan satu pesan manis aku khususkan untuk gadis kecil itu. Namun, yang tampak datang, di luar dugaan.
Aku segera menghampiri meja. Mengambil segelas kopi. Tanpa menyadari secarik pesanku jatuh ke lantai.
"Maaf, kopi ini bukan di khususkan untuk anda."
Pria itu menyipitkan matanya, dan pupil matanya jatuh pada secarik kertas di lantai, dekat kakinya.
Aku ikut mengikuti arah mata pandang pria itu. Aku kalah cepat, pria itu lebih dulu memungut pesanku dan membacanya dengan sedikit suara rendah. Namun, suara pria itu mampu aku dengar. Mendadak, aku salah tingkah kala bibir pria itu membacakan setiap kata yang aku tulis untuk gadis itu.
"Selamat ulang tahun yah. Semoga harimu menyenangkan. Aku ingin berteman denganmu."
Pria itu mengangkat pupil matanya. Dia melirik pada gelas kopi yang aku sembunyikan, dan dia menatapku kemudian.
"Yang berulangtahun hari ini adalah Yuri. Dia berkata setiap pagi, dia akan menerima kopi gratis di sini."
Aku kikuk. Untuk pertama kali menjadi setengah gugup berhadapan dengan orang asing.
"Kau adalah?"
"Seseorang yang spesial menurutnya."
Pria itu terlihat melirik gelas kopi yang aku sembunyikan di belakang punggungnya.
"Bolehkah aku meminta kopi itu?"
Aku menelan ludah. Aku larut dalam kebingungan. Namun, akhirnya meletakkan kopi di depan pria itu.
Pria itu menggeser sedikit penutup kopi. Membuka celah lubang, dan perlahan memiringkan bibir gelas kopi ke dalam mulutnya. Dia menyeruput kopi yang telah menghangat.
Aku tanpa sadar jatuh menatap pria itu. Pria itu tanpa ekspresi. Namun, sepasang matanya terlihat berkaca kemudian.
Dia meletakkan gelas kopi. Aku mematung sesaat akan gelas yang terlihat ringan, dan miring jatuh tergeletak di atas meja.
"Kopi yang bagus. Pantas, Yuri sangat menyukainya," puji Pria itu. Lalu, bersiap berdiri akan pergi.
Aku menghela napas. Kejanggalan di hatiku, mengundangku untuk bertanya padanya, "Yuri mengapa tidak datang hari ini?"
Pria itu tersenyum, "Dia tidak memiliki waktu lagi. Untuk duduk minum kopi. Dia sudah bukan penyuka kopi dunia lagi."
Aku mengerutkan keningku. Masih sangat heran. Ingin rasanya aku menembakkan peluru pertanyaan. Namun, pria itu terlihat tidak berminat untuk menggubris satu katapun lagi. Pria itu pergi begitu saja.
Semenjak hari itu. Gadis kecil penyuka kopi gratis itu, tidak pernah datang. Aku rindu padanya. Sungguh rindu. Namun, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Hingga, akhirnya aku mendengar kabar, dia telah menjadi penikmat kopi langit.
Aku duduk termenung bodoh menatap kertas pesan warna-warni yang pernah aku tulis untuknya. Surat-surat isi hatiku yang tak pernah aku berikan padanya. Hanya aku simpan dalam kotak laciku untuk dirinya. Kini, surat itu tak memiliki kotak tujuannya. Aku menyesal tidak memiliki keberanian, hanya sekedar berkata aku menyukainya semenjak hari pertama aku bertemu dengannya.
***
Tamat 🍀
Jika kita menyukai seseorang, ungkapkan! Walau rasa janggal. Tetapi, setidaknya surat memiliki kotak tujuan.