Ini adalah sebuah cerita sekaligus sharing untuk kalian. Apakah kalian pernah merasakan apa yang dinamakan cemburu atau iri hati kepada orang lain?
Misalnya, iri karena kelebihan mereka. Kalian lalu berpikir, kenapa Aku tidak seperti dirinya yang berbakat? Kenapa Aku begitu bodoh? tidak berbakat? ataupun tidak berguna?
Oke, stop thinking like that. You are different from the other, jangan pernah menyamakan satu manusia dengan manusia lain jika kalian punya hati sensitif.
Seperti halnya Saya.
Saya akan menceritakan suatu hal. Walaupun singkat dan sederhana, Saya harap ini akan bermanfaat bagi kalian.
Sekitar beberapa tahun yang lalu, mungkin saat Saya Tk. Saya memiliki satu kelebihan dominan, yaitu menari. Baik itu untuk modern maupun tradisional.
Waktu itu Saya tidak terlalu banyak berpikir dan beranggapan bahwa semuanya akan selalu menyenangkan dan Saya selalu akrab dengan yang lain.
Tapi, apa kalian yakin?
Saya selalu bersenang-senang tanpa memedulikan perasaan orang lain. Sekitar kelas 4 sekolah dasar, keadaan yang bermula biasa saja mulai berubah.
Pada saat Saya sekolah dasar, memenangkan penghargaan baik itu untuk akademis, bahasa asing, tari, menyanyi, pidato, story telling maupun melukis adalah hal wajar untuk didapatkan.
Orang lain mengatakan bahwa Saya multitalent dan serba bisa. Otak kanan kiri seimbang.
Bila kalian beranggapan bahwa Saya sombong, terserah kalian. Jangan kalian pikir, memiliki banyak bakat artinya segala hal menjadi pijakan mulus tanpa adanya batu yang akan membuatmu tersandung.
Tidak seperti itu.
Berawal dari iri hati, Saya yang sesungguhnya sulit untuk berteman karena pemalu mulai dikucilkan. Teman-teman Saya seolah hanya menganggap diri Saya sebagai bingkai penghias kelas.
Tidak diajak bicara bila bukan Saya yang memulai percakapan, selalu canggung sama yang lain, dan sebagainya. Tentu, sebagai anak kecil, Saya merasa sedih dan bahkan pernah menangis sendirian di rumah.
Gambar dijadikan bahan pelampias, menari dijadikan bahan pelupa, tidur dijadikan tempat berpikir. Bukan berpikir bagaimana pelajaran besok atau hasil ujian, namun berpikir bagaimana caranya agar semua hal kembali normal.
Setelah sekiranya satu tahun, libur panjang akhirnya tiba. Disaat itu Saya mulai berpikir, apakah mereka iri denganku? cemburu dengan apa yang Aku punya?
Tapi, tidak ada yang tahu bahwa Saya juga cemburu kepada mereka. Cemburu bagaimana rasa senangnya berteman, bermain, iri karena penampilan, iri karena latar belakang dan lain-lain. Saya juga tahu ketika itu, Saya adalah tipe perempuan pemalu untuk berbicara kepada orang asing dalam artian tidaklah dekat.
Hingga saat kelas 5 Saya mulai berubah menjadi pribadi yang lebih terbuka. Saat itu Saya mendapatkan teman yang telah menghilang. Berbicara dengan Saya sembari bergurau dan bercerita dari satu anak ke anak lain.
Hanya saja, apa kalian pikir ini telah selesai?
Tentu tidak, Saya yang naif berpikir bahwa semuanya biasa saja. Hingga suatu saat, Saya mendengar suara tawa mereka. Bukan karena cerita lucu nan menyenangkan, akan tetapi tertawa setelah membicarakan Saya.
Membicarakan Saya dibalik punggung.
Hal baik?
Tentu tidak!
Saya menangis di dekat kelas. Sialnya, Ayah Saya melihat dan membawa Saya pulang. Skip untuk pelajaran dan kembali ke-esok harinya.
Entah Saya lucky atau tidak, ada dua teman yang mendekati Saya. Pertama S [Saya hanya menyebutkan inisialnya saja] dan satu lagi T.
Teman T memberitahu Saya tentang kelakuan anak bermulut pedas tersebut bila Ia tidak boleh bermain dengan Saya. Mendengar itu Saya pun menjadi kesal dan heran.
Namun, Saya masih tidak memberikan dendam dan mencoba mengerti. Si T akhirnya mulai bermain dengan Saya, bermula dari sanalah teman yang lain ikut nimbrung.
Untuk si S, Ia merupakan teman seperjuangan Saya. Ia juga adalah salah satu anak terbully oleh tajamnya verbal. Selain itu, Ia memiliki satu hobi yang sama dengan Saya yaitu menggambar.
Kami bersenang-senang sampai kelas 6 tiba. Tepat pada hari kelulusan, ada satu hal yang kurang wajar. Saya tidak menangis akan perpisahan dan merasa bahagia Akhirnya bisa terlepas dari teman-teman palsu.
Pada saat SMP Saya yang sudah tidak naif, tak terlalu banyak berharap mengenai teman. Tapi, Saya rasa ... Saya mendapatkan sebuah jackpot bukan hanya lucky semata.
Walaupun hanya 4 orang, mereka merupakan teman sekaligus sahabat yang selalu Saya idamkan. Tak berhenti sampai disana, ke-empatnya juga adalah anak pintar dan berprestasi sehingga tahu mana perilaku yang benar dan salah. [Bukan berarti semua anak pintar adalah anak pengertian nan baik, bukan berarti juga anak yang tidak pintar adalah anak nakal]
Setiap istirahat kami tidak membicarakan keburukan orang lain karena menganggapnya sebagai hal negatif sekaligus sebuah dosa. Dan lagi, tidak ada untungnya membicarakan keburukan orang lain.
Mereka yang seperti itu hanyalah orang inscure terhadap diri sendiri dan merasa cemburu. Padahal setiap manusia telah diberikan kelebihannya masing-masing oleh Tuhan.
Yah, cerita Saya berhenti sampai disini. Jika terus dilanjutkan cerita ini tidak akan pernah selesai. Saya harap cerita Saya bermanfaat bagi kalian.
Oh, ya jangan pernah memikirkan hal negatif apa lagi untuk urusan diri sendiri. Yakinlah, kalian diciptakan bukan tanpa alasan. Setiap manusia mempunyai ujian sebagai bagian dari takdir.
Kalian adalah kalian, Saya adalah Saya. Mungkin kalian memiliki bakat terpendam namun masih belum dikeluarkan secara maksimal.
Ingat, yah "Be Yourself" Tidak perlu merasa iri kepada manusia lain karena semua manusia telah diberikan (kelebihan/kekurangan) sama rata dan adil oleh Tuhan. Jangan pernah mengatakan: Ah! Tuhan tidak adil. Masa Saya tidak berbakat dan begitu bodoh? apalagi Saya selalu dikucilkan.
Hey, Hey, Hey!
Setiap manusia memiliki UJIANNYA SENDIRI. Bakat tidak terlalu penting untuk masa depan, yang penting adalah berbuat kebaikan dan terus berusaha jika ingin sukses.
Thanks udah mau baca.
Jika ada salah kata dan menyinggung kalian mohon maklum, Saya hanyalah sebatas manusia yang tidak sempurna.
See U
-Marionatte Rose-