Cinta bukan hanya tentang memiliki. Kadang, melepaskan adalah cara terbaik untuk mencintai seseorang. Walau nyatanya sulit, namun percayalah! Pengorbananmu tidak akan berakhir sia-sia.
Itulah sederet kalimat yang coba kutanamkan dalam hatiku. Aku yang mencintainya, namun tak bisa memilikinya. Karna aku hanyalah gadis biasa yang mencoba meraih sesuatu yang tidak akan pernah bisa aku dapatkan.
Aku menulis beberapa kalimat di secarik kertas. Pikiranku kembali melayang memikirkan telepon Nia, sahabatku yang begitu bahagia tadi. Suaranya yang begitu antusias disaat aku mati-matian menahan tangis. Namun, untuk apa dan kenapa aku menangis?
Aku bukan teman ataupun pacarnya. Lalu, kenapa aku menangis? Apa karena aku berdebar saat melihatnya? Atau karena wajahku memerah hanya karena bertatapan dengannya?
Haha, ini sungguh konyol! Starla, kau itu hanyalah pengagum rahasianya. Hanya sebatas itu! Jadi, kau tidak punya HAK untuk bersedih. Kau tak pantas, Starla! Kau sama sekali tidak pantas!
Tap-tapi, kenapa? Kenapa air mataku tidak mau berhenti? Kenapa rasanya begitu sesak? Padahal aku sendiri tahu kalau aku tidak punya hak apapun terhadap dirinya.
Apa sesakit ini rasanya mencintai? Lalu, kenapa aku harus mencintai seseorang yang jelas-jelas tidak bisa aku miliki?
Aku sedih, marah, kecewa. Tapi tak tahu perasaan ini ditujukan kepada siapa. Dia yang kucintai namun tidak bisa kumiliki, sahabat yang bahagia tanpa tahu diriku begitu terluka, atau ... Diriku sendiri yang hanya bisa mencintainya dalam diam?
Kenapa aku harus merasakan perasaan sialan bernama cinta? Disaat aku sendiri tidak berani mengungkapkannya.
Ting
Aku melirik ponselku yang ada di atas nakas. Itu pasti Nia kan? Dia sedang bahagia dan membagikan kebahagiaannya. Lalu, kenapa aku harus bersedih? Tidak! Aku tidak boleh seperti ini. Seharusnya aku juga ikut bahagia, bukan?
Aku menyeka air mata dan ingusku walau masih sesenggukan. Aku mengambil ponsel dan mengecek notifikasi.
Nia❤ :
Starla!
Gue masih gak nyangka bisa dijodohin sama Kak Avi
Astaga, gue seneng bangeettt
La?
Starla! Kok gak dibaca sih?
La!
Starla!
STARLA!
Anda :
Iya, selamat ya Ni
Sorry baru bales. Gue abis baca novel online jadi, baru buka chat lo.
Nia❤ :
Ih, Starla kebiasaan deh
Karna gue lagi seneng, kali ini gue maafin
Eh, besok mampir Cafe kuy
Anda :
Boleh
Tapi, lo yang traktir ya
Nia❤ :
Iya deh iya, gue yang traktir
Eh, emak gue udah teriak-teriak
Bobo dulu ya
Lo juga bobo jangan kemaleman
Anda :
Siap komandan!
Aku menutup ruang chatku dengan Nia.
Aku berjalan ke balkon kamar. Angin dingin membelai tubuhku saat aku membuka pintu balkon. Aku berjalan ke tepi. Menatap langit malam yang tampak indah diterangi sinar bulan dan gemerlap bintang.
Benar, dia adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kudapatkan.
Aku menguatkan tekadku. Untuk melupakannya. Sebelum rasa sakit ini semakin menyiksaku.
Ya, aku pasti bisa!
⭐⭐⭐
"Vi, lo seriusan nolak perjodohan itu?" tanya Lean. Avi mengangguk yakin.
"Mending pertimbangin dulu deh, Vi. Daripada lo jomblo mulu gak pacaran," saran Kleon.
"Gak," tolak Avi. Dia benar-benar tidak ingin dijodoh-jodohkan seperti ini. Lagian ini kan untuk masa depannya. Mereka tidak bisa memaksanya menyukai seorang gadis yang bahkan tidak dia kenal.
"Serah lo Vi. Tapi, emang lo gak ada niatan buat cari cewek gitu?"
"Gue punya calonnya," kata Avi ragu-ragu. Telinganya sedikit memerah memikirkan gadis itu. Gadis yang diam-diam menaruh surat di lokernya setiap hari. Gadis yang mukanya merah padam hanya karena ditatapnya beberapa detik. Gadis yang tingkahnya selalu membuat Avi gemas. Ya, gadis itu! Em, gadis itu siapa ya?
Aish, Avi bahkan tidak tahu namanya. Dia hanya beberapa kali melihat wajahnya. Yang ia tahu hanya nama samaran yang gadis itu tulis di setiap surat. Selebihnya, dia tidak tahu apapun tentang gadis itu.
Sepertinya dia harus mulai mencari tahu perihal gadis itu mulai sekarang. Avi diam-diam bersemangat. Tanpa sadar mengulas senyum tipis yang sangat jarang ia keluarkan.
Kleon dan Lean melongo melihat senyum Avi. Avi tersenyum? Hah, ini beneran Avi senyum?! Kulkas berjalan itu ternyata bisa tersenyum?!
Wow, apakah ini nyata?
"Psstt Yon, itu Avi beneran senyum? Mata gue gak lagi rabun kan?" bisik Lean.
"Gak Yan, Avi emang senyum. Astaga, apa Avi beneran punya calon pacar?"
"Calon pacarnya perempuan kan, Yon?"
"Yakali laki-laki. Lo pikir Avi gay?"
"Gue emang ngiranya gitu,"
"Gue juga sih,"
Avi yang tersadar dari lamunannya segera menarik senyumnya. Kembali berekspresi datar seperti biasa.
Mereka bertiga sampai di depan loker kelas 11. Avi membuka lokernya. Beberapa surat terjatuh ke lantai karena lokernya kelebihan muatan. Dia memeriksa setiap surat. Mencari surat dari gadis itu.
Keningnya mengerut, kenapa suratnya tidak ada? Apa gadis itu lupa mengirimnya hari ini? Tapi, bagaimana bisa? Bukankah gadis itu selalu datang pagi untuk memasukkan suratnya?
"Kenapa, Vi?" tanya Kleon saat menyadari Avi mencari sesuatu.
"Surat gak ada,"
"Lah, itu surat banyak banget lo gak liat, Vi?" tanya Lean heran.
"Yang dari dia gak ada,"
Avi mengambil perlengkapannya dari loker. Dia berjalan kembali ke kelas dengan lesu. Kleon dan Lean yang mengikutinya dari belakang hanya bisa memendam rasa ingin tahunya. Avi menantikan surat dari seorang gadis? Apa gadis itu calon pacar yang Avi maksud tadi?
Kleon dan Lean tidak sadar kalau Avi berhenti berjalan.
"Avi, ngapain berhenti?"
Avi tidak menghiraukan mereka berdua. Matanya menyipit melihat secarik kertas yang tertempel di dinding mading.
'Bintang ajari aku perbedaan,
Tentang kita yang sama sama bersinar,
Dan langit malam sebagai jarak tak terbantahkan,
Menyadarkanku bahwa kamu tak lebih dari sekedar impian.'- Sang Pengagum Bintang.