HARI ini penduduk kota sangatlah riang gembira. Kesibukan mereka yang tiada akhir, serasa diberkahi oleh Tuhan malam ini. Meteor Shower, ribuan bintang yang jatuh, akan muncul dan bisa kita semua lihat di kepala gunung nanti malam.
Pagi-pagi sekali sudah banyak orang yang membicarakannya. Saat mengambil langkah keluar toko, banyak yang menyapaku. Aku membalasnya hanya dengan anggukan kepala. Burungpun ikut menyapa dengan berkicau merdu bersama-sama.
Yang pertama kutahu sangat bersemangat hari ini adalah Kepala Desa. Kumisnya yang hitam dan hampir menutupi hidungnya itu bersungut-sungut, mengikuti bibirnya yang berbicara panjang lebar dan bersemangat, menyapaku. "Halo, nak! Hohoho! Meteor Shower akan muncul malam ini!" Kali ini ia menarik kumisnya pelan-pelan, kebiasaanya ketika berbicara, "Apa nanti kau akan datang?"
Aku mengangguk, mencoba tersenyum, namun kelihatannya tampak canggung. "Oh, ya, tentu."
"Bagus! Bagus!" seru Kepala Desa sambil manggut-manggut. Lalu, ia berbalik dan mulai mengambil langkah keluar dari rumahku. "Gadis itu juga pasti senang melihatmu ada disana! Baiklah, sampai berjumpa nanti malam, nak! Hohoho!"
Gadis itu?
***
Beberapa bulan yang lalu.
"Permisi!"
Di musim panas yang aneh, musim yang cuma ada panas dan suara serangga meringis, aku bekerja sebagai pandai besi di kota tempat tinggalku. Namun, tak pernah sekalipun aku mendapat pujian dari Bosku, yang sebenarnya Kakekku sendiri. Rasanya kesal! Kenapa aku tidak pernah mendapat pujiannya?
"Aku sudah berusaha! Memangnya apa yang salah?!" sentakku dengan nada tinggi, marah karena hasil kerjaku dihina untuk kesekian kalinya.
Kakek hanya berdiam diri, lalu alisnya turun dengan tidak mengenakkan. "Berusaha? Hasilmu masih jelek, bodoh! Kau harusnya mengamati pekerjaanku dengan benar!" Kakek juga tidak mau kalah rupanya. Alat bercocok tanam yang sudah kutempa juga hanya diamatinya sekilas.
Aku jadi semakin geram. "Pekerjaanmu? Kau selalu memarahiku saat terus-terusan mengamatimu! Lagipula—"
"Maaf, permisi!"
Suara teriakan itu belum pernah kukenali. Badanku menoleh kebelakang, dan tampaklah seorang gadis yang cantik dan belum pernah kulihat. Rambutnya berwarna pirang keemasan panjang, dikuncir kuda. Bola matanya biru terang, bagaikan langit pagi. Kulitnya juga seputih susu dan tidak bernoda sedikitpun. Sempurna, jika boleh kukatakan. Hanya kurang satu hal: Ia bau sapi.
Siapapun itu, aku tidak peduli. Aku merasa kesal sekali saat itu hingga membentaknya. "Siapa? Mau apa disini?!"
"Nak! Bicaralah yang sopan dengan orang lain!" sahut Kakek menanggapi perkataanku yang memang kalau dipikir lagi tidak sopan.
"Ah, maaf." Kepalanya menunduk, meminta maaf. Setelah mengangkat kepalanya lagi, ia memperkenalkan dirinya. "Aku pendatang baru. Kepala Desa menyuruhku untuk berkeliling. Benarkah Ini Toko Pandai Besi di kota ini?" tanya gadis itu memastikan.
Kakek langsung tersenyum semringah. "Benar, nak! Pelanggan rupanya! Kemarilah sini, silahkan lihat-lihat, kau juga bisa memesan khusus disini!" jawab Kakek dengan ramah.
Gadis itu berjalan masuk dan berdiri di sebelahku, yang sejak tadi berdiri di dekat kasir. "Terima kasih! Pekerjaanku berkebun mungkin akan menjadi lebih baik dengan peralatan yang lebih bagus!"
Aku menatapnya bingung. Berkebun? Oh, jadi gadis ini yang diberi pekerjaan oleh Kepala Desa untuk mengurus perkebunan yang terlantar itu. Tidak ada orang yang mau mengurusnya, hingga Kepala Desa berkeliling kota lain untuk mencari pengurusnya. Aku pikir karena badannya yang berbau seperti sapi, ia masuk dalam keluarga peternak sapi yang kebetulan tinggal di dekat sini.
Mata gadis itu mengerjap-ngerjap, barangkali ada diantara benda-benda di dalam toko menarik perhatiannya. Ternyata, ia memilih alat penyiram tanaman. "Tolong aku beli yang ini." ujarnya sambil merogoh beberapa uang logam dari sakunya, "Berapa kira-kira harganya?" tanya gadis itu memastikan.
"Hmm, 2000 Golden." jawab Kakek sambil memainkan janggutnya yang sudah panjang.
Bibir gadis yang semerah delima itu tersenyum lebar. "Sempurna!" serunya seraya memberikan uang logamnya yang berjumlah 4 bijih, masing-masing bernilai 500 Golden.
"Aku baru ingat alat penyiramku selalu bocor saat menyiram bunga dalam jumlah banyak. Terima kasih! Aku sangat terbantu!" katanya sambil mengambil alat penyiram itu dari toko.
Kakek hanya manggut-manggut sambil sedikit tertawa. Setelah itu, gadis itu langsung memberi salam pada Kakek, dan juga padaku. Lalu, ia pun keluar dari Toko Pandai Besi.
Tunggu, rasanya aku merasa bersalah?
Karena perasaan tidak enak ini, aku langsung keluar mengejar gadis yang sudah hendak pergi itu. Dengan nada sedikit serak, aku berteriak. "Tunggu!"
Ia berhenti melangkah, dan menoleh padaku. Lalu, bertanya. "Iya, ada apa?"
Kepalaku terasa sangat gatal, mungkin karena topi yang kukenakan ini terasa sangat panas. Aku pun langsung melepasnya dengan kasar. Lalu, mulutku langsung mulai bergerak, "Maaf." ujarku dengan hati-hati, "Aku tidak sengaja melampiaskan emosiku kepadamu."
"Kakekku orang yang tegas. Setidaknya sekali saja, aku ingin Kakek memujiku. Hari ini sepertinya aku membuat kesalahan lagi, dan, err..."
"Aku kena omel lagi."
Gadis itu mendengarkan ucapanku tanpa bereaksi. Setelah aku terdiam sebentar, dia langsung menjawab, "Tidak masalah. Aku juga sering melihat orang seperti itu di kotaku dulu." komentarnya. "Aku juga seringkali seperti itu, haha!"
"Maksudmu, tidak dihargai seperti aku?" tanyaku tidak percaya.
"Kurang lebih." singkat, namun membuatku jadi punya dua perasaan yang aneh. Satu senang, satu tidak enak.
"Oke."
Astaga rasanya jadi canggung sekali!
Kukira dia sudah selesai bicara, jadi hendak aku tinggal, ternyata ia masih ingin mengucapkan satu—dua patah kata lagi, "Jangan terlalu dipikir dalam ucapan seseorang yang sedang bergejolak emosinya. Hidup itu penuh latihan! Eh, tapi aku sama sekali tidak tahu menahu tentang dirimu, sih. Maaf, aku sepertinya terlalu banyak bicara!"
"Ah, tidak. Tidak masalah." jawabku agak grogi.
Gadis itu mengangguk. "Kalau begitu aku pamit dulu, ya." Nampak seperti mengingat sesuatu, ia kembali berbicara. "Omong-omong namaku Alicia. Kamu?"
Jujur saja, aku tidak suka ketika ditanya soal namaku, karena memang bukan nama yang bagus. Tetapi, mata biru gadis itu—tidak, Alicia, menatap seluruh ekspresi wajahku, menebak-nebak siapa namaku. Rasanya tidak enak untuk tidak mengabulkan ekspetasinya. "Ash" ungkapku.
Ayo, silahkan tertawa!
Tapi ternyata Alicia sama sekali tidak tertawa, bibirnya malah hanya tampak senyum tipis. "Ash, ya? Nama yang bagus! Kalau begitu, sampai jumpa lagi, ya, Ash."
Alicia melambaikan tangannya padaku. Karena tidak terbiasa melambaikan tangan pada seseorang, aku tidak membalasnya. Aku menunduk dan mengenakan topiku kembali. Gadis bernama Alicia itu memang tampak seperti seseorang dengan tensi yang aneh. Tetapi, aku yakin, Ia bukan anak yang jahat.
"Oh, sudah selesai berbincangnya?" ucap Kakek yang tiba-tiba sudah berada di belakangku. Membuatku memekik kaget. "Kakek?! Sejak kapan—"
"Gadis itu memang paling cantik kalau banyak tersenyum! Iya, kan, Ash?" potong Kakek.
Ah, Kakek ini memang benar sekali. Pikirku sekilas. Tapi mana mungkin aku berkata seperti itu! Harga diriku serasa tidak menerimanya! Pada akhirnya, aku hanya mendengus kesal, "Tidak juga."
"Hmm, kau bilang begitu tapi matamu masih mengikuti kepergian gadis itu." tuduhnya sambil memainkan janggutnya lagi.
Ya ampun!
"Pasti mata Kakek sudah rusak! Mana ada!" sergahku menolak mentah-mentah fakta tersebut. "Sudahlah, aku mau lanjut menempa lagi!"
Cepat-cepat aku kembali ke toko. Tidak mengenakkan sekali ada seseorang yang selalu mengamati gerak-gerikmu, apalagi orang yang sudah tua. Peka sekali pikiran mereka! Oh, ya Tuhan. Semoga saja aku dijauhkan dari kepekaan perasaan mereka.
"Padahal biasanya dia jarang melanjutkan pekerjaan ketika hatinya tidak enak. Lucu sekali." bisik Kakek pada dirinya sendiri.
----
Alicia sejak hari itu seringkali datang ke Toko Pandai Besi kami. Entah itu untuk menganggu pekerjaanku, atau bahkan mengajakku berkunjung ke peternakannya maupun kebunnya ketika aku senggang. Seringkali aku menolaknya, tetapi Kakek malah mengacungkan jempol tiap kali gadis itu menarik-narikku keluar. Aku semakin tidak paham.
Hari ini ia mengajakku berbelanja di swalayan yang ada di kota. Dari raut wajahnya, aku mengerti sekali ia sangat gembira hari ini. Melihat dirinya yang seperti itu, entah kenapa membuat hatiku sedikit tenang. Padahal biasanya aku kesal melihat seseorang bahagia. Alicia sejak memasuki swalayan hanya memainkan keranjangnya dengan asyik. Lalu, menemukan sesuatu.
"Lihat! Lihat! Harga bumbu kare sedang diskon!" katanya bersuka ria sambil menunjuk etalase bertuliskan 'DISKON BESAR-BESARAN' yang sangat besar.
"Kenapa kau senang sekali, sih? Kan cuma kare biasa?" tanyaku heran.
Kepala Alicia menggeleng, "Tidak, Ash. Ini bukan kare biasa. Ini bumbu paling luar biasa di dunia ini! Berkat ini aku selalu hidup, kau tau?" Senyumnya malah semakin mengembang. Tinggi sekali semangat anak ini. Rasanya lucu melihatnya bersemangat.
"Iya, iya."
Tanpa sadar aku mengelus kepalanya karena gemas. Alicia langsung terdiam, menatapku bingung. Astaga! Cepat-cepat aku kembalikan tanganku ke samping kaki-kakiku. "Maaf, nggak sengaja. Kamu pasti nggak suka, ya?"
"Eh, ah? Bukan!" Ucapan Alicia semakin buyar. Rasanya aku jadi semakin malu. "Tidak, rasanya ini pertama kalinya kepalaku dielus oleh seseorang! Haha, jangan dipikirkan!"
Benarkah? Hatiku lucunya jadi semakin lega.
"Ash, kamu begini juga pada perempuan lain?" Kali ini Alicia malah bertanya pertanyaan yang aneh.
"Hah? Tidak pernah, kok." sergahku canggung. Mana pernah ada perempuan yang mau dekat denganku kecuali dia.
"Hehe! Jadi aku yang pertama, ya? Hm, hm." simpul Alicia sambil bersenandung. "Kalau begitu, lanjut mencari diskon, yuk."
Perempuan memang aneh. Sehabis banyak bergerak, malu sendiri, lalu bernyanyi-nyayi kecil. Mungkin hari itu, bila aku tidak memutuskan untuk bekerja sebagai pandai besi, Alicia tidak akan pernah bertemu denganku. Dan mungkinkah ia hari ini pergi dengan lelaki lain?
Yah, tidak perlu kupikir dalam-dalam. Apa yang sudah terjadi, ya terjadi. Disaat Alicia mulai meluncur ke dalam swalayan meninggalkanku, dua orang perempuan berbincang di belakangku dengan suara yang sangat keras sampai telingaku mendengarkannya.
"Omong-omong, hari ini katanya bakal banyak bintang jatuh malam ini, ya?" tanya si anak pertama.
Anak kedua langsung meloncat kaget. "Serius malam ini? Ya Tuhan! Aku belum memanggil anak-anak untuk berkumpul!"
"Ah, jangan lupa ajak Daniel, ya! Tidak seru kalau yang paling tampan tidak diajak!" saran anak pertama.
"Waah! Kau benar! Aku harus segera mengajaknya!!"
Melihat gadis seumuran Alicia aku jadi berpikir, bukannya gadis-gadis memang sejatinya berbincang-bincang seperti itu, ya? Aku tidak pernah melihat Alicia berbincang-bincang dengan teman perempuannya. Padahal parasnya cantik. Bukannya gadis yang seperti itu mudah mendapatkan teman?
"Ash? Kau dimana?" panggil Alicia dari kejauhan. Lalu, ia tampaknya melihat batang hidungku dari kejauhan. "Hey! Ayo kemari! Diskonnya keburu lari!"
Kakiku langsung berlari mendekatinya. Nampaknya Alicia sudah mau pulang melihat keranjangnya yang sudah penuh dengan bahan makanan. Setelah mendengar percakapan gadis-gadis tadi, aku teringat lagi ucapan Kepala Desa tadi pagi. 'Gadis itu juga pasti senang melihatmu ada disana!' Apa benar itu dia? Cepat-cepat aku panggil Alicia, "Hei."
"Oh, kenapa Ash? Mau beli sesuatu juga?"
"Bukan. Nanti malam, kau ikut kan melihat Meteor Shower?"
"Kepala Desa pasti sudah bilang ke kamu, kan? Iya, aku ikut." Alicia menoleh padaku, menatap mataku dengan serius.
"Kenapa kamu bisa tau?" tanyaku curiga.
"Karena aku yang minta." ungkapnya. Pernyataannya semakin membuatku merasa aneh.
"Kenapa?" tanyaku lagi.
"Karena aku ingin kamu tahu!"
"Kenapa ingin aku tahu?"
"Kenapa katamu? Karena..." Ucapan Alicia berhenti sejenak. Ia pun membuang mukanya dari pandanganku. "Sudahlah, nanti saja dibahas! Sekarang ayo pulang saja! Nanti malam harus datang, lho!"
Langkah kakinya langsung jadi cepat. Aku bersusah payah mengejarnya sampai ke kasir. Apa dia marah? Otakku kupaksa berpikir mengatasi hal ini. Lalu, tiba-tiba sebuah ide mengalir di otakku. "Bagaimana kalau kita berangkat kesana bersama? Bahaya kan anak perempuan datang malam-malam? Aku akan menjemputmu!"
Alicia berhenti, lalu mengangguk. "Boleh." katanya. Kali ini tanpa menatapku. "Jam delapan malam, ya?"
Setelah itu, ia tak mengucapkan sepatah kata apapun. Setelah mengantarnya pulang ke rumahnya, aku minta pamit. Tidak seperti biasanya, Alicia juga mengantar kepergianku dengan diam. Dia juga tidak menatap wajahku dengan mata berbinar lagi. Ada yang aneh dengannya. Tidak, biasanya dia memang aneh, tapi hari ini semakin aneh lagi.
Saat sampai di toko, aku menemukan Kakek duduk-duduk di kursi, dan aku pun ikut duduk sambil menceritakan kejadian di swalayan tadi sedetail mungkin pada Kakek. Namun, hanya ini komentar yang kudapat:
"Kau yang payah, Ash." komentar Kakek.
"Kakek selalu bilang aku payah." balasku kesal.
"Dengar," ujarnya sambil mencari sesuatu di dalam lemari. "Anak perempuan itu memang ekspresif. Tapi, bukan berarti mereka bisa jujur."
"Aku tidak mengerti kalau penjelasannya dihiasi dengan bokong yang bergerak-gerak." jawabku karena tampaknya Kakek tidak niat menasehati.
"Jadi, kau ini sebagai pria—Nah, ini dia." ucap Kakek tampak menemukan sesuatu.
"Jadi apa?"
Tangan Kakek menunjukkan sesuatu yang berpendar. Cincin berlian. Kilauannya yang berwarna biru membuat mata terkagum-kagum, tak kurangnya aku juga. Aku pun langsung berdecak kagum, "Waw! Ini milik Kakek?"
Mulutnya langsung menghela napas panjang. "Yah, dengarkan penjelasanku dulu. Dengar, Ash. Berikan ini kepada anak perempuan yang benar-benar kau sukai." Cincin itu digenggaman kepadaku. "Alicia, gadis itu, sudah pasti menyukaimu. Aku sudah lama mengamatinya. Tidak mungkin seseorang yang tidak jatuh cinta, menatapmu dengan mata penuh perhatian seperti itu."
"Tapi, aku tidak yakin dengan diriku sendiri, kek." ungkapku jujur. Selama ini, aku mengamati gadis itu sebagai seseorang yang menghiasi hariku, tidak pernah ku berpikir untuk mendampingi harinya. "Aku tidak tau apakah aku benar-benar menyukainya."
"Kau selalu memperhatikannya, Ash. Sejak itulah dirimu mulai tertarik padanya. Kau sudah lama menyukainya, hingga lupa dengan definisi perasaan itu sendiri."
"Ambillah, dan berikan padanya. Ini buatan Kakek untuk nenekmu dulu. Kudoakan hubunganmu dengan gadis itu berjalan lancar."
Aku mengangguk dan menerima cincin itu. Tak lupa juga aku berterima kasih. "Terima kasih, kek."
Pertemuan kami akan dimulai jam delapan malam. Tidak biasanya aku menanti-nanti jam malam seperti hari ini. Rasa senang bercampur gugup, tidak buruk juga ternyata. Cepat-cepat aku mandi dan memakai pakaian rapi untuk menjemput Alicia. Toh, walaupun aku bilang pakaian rapi, aku hanya mengenakan jaket tebal, kaos, dan celana panjang biasa. Alas kakiku juga sepatu boots yang seringkali aku pakai.
Jam delapan malam pun akhirnya tiba. Setelah berpamitan dengan Kakek, aku mengunjungi rumah Alicia. "Halo, permisi?"
Tok, tok. Dua kali aku mengetuk pintunya. Setelah beberapa saat, pintu dibuka, dan tampaklah Alicia dengan penampilannya yang menawan.
Alicia tampaknya mengenakan wewangian yang sangat menyegarkan, membuat perasaan siapa saja menjadi senang. Gadis yang berbau sapi dulu itu sepertinya sudah berubah. Ia pun mengenakan gaun berwarna biru malam berlengan panjang dengan pita berwarna kuning di sekujur bagian dada dan renda-renda putih indah di bagian bawah. Rambut pirangnya dikuncir kuda setengah, penampilannya jadi tampak semakin elegan. Untuk alas kakinya, ia mengenakan sepatu boots yang cantik, walau hanya tampak ujungnya karena tertutup oleh gaunnya yang panjang.
"Kalau begitu, mari?" ajaknya.
"Oke, kemarikan tanganmu. Biar kugandeng." kuulurkan tanganku pada Alicia. Ia melihatku dengan bingung
"Ash, kau suka sekali bercanda!" tawa Alicia langsung meledak.
"Tidak, aku serius. Takut kau kenapa-kenapa." jawabku serius.
"Eh..."
Alicia pada akhirnya pun setuju untuk kugenggam tangannya. Tangannya begitu mungil dan hangat. Lucu rasanya. Inikah tangan perempuan? Berbeda sekali dengan lelaki, tangan kami begitu besar dan kasar.
Setelah sampai di tempat pengamatan Meteor Shower milik kota, aku melihat banyak sekali orang berkumpul disitu. Anak-anak sampai orang dewasa semuanya mengamati bintang-bintang yang berjatuhan di dalam remangnya malam. Rerumputan hijau yang tertutup kegelapan jadi sedikit menakutiku. Tapi, pemandangan langit malamnya benar-benar indah. Bintang tak henti-hentinya berjatuhan dengan cantik bagaikan permata yang disebar-sebarkan di seluruh penjuru dunia.
Kepala Desa yang menyadari kehadiranku dengan Alicia langsung menyapa kami dengan riang gembira, "Halo, anak-anak muda! Hohoho! Mesra sekali! Jadi teringat diriku di masa lalu." Tampaknya Kepala Desa mengamati kami yang bergandengan tangan. Ketika aku hendak melepaskan tanganku, Alicia malah menggenggamnya lebih erat.
"Kalian bisa melihat Meteor Shower itu dimanapun. Nikmati suasananya!" katanya sebelum akhirnya mulai menyapa yang lain.
Aku mengajak Alicia menuju tempat yang agak sepi. Bukan karena apa-apa, tapi kerumunan orang yang ada di tempat itu memang sangat berisik. Rumput-rumput yang kami injak sangatlah licin, sehingga beberapa saat aku takut kami tiba-tiba terjatuh karena Alicia tidak berhenti menggenggam tanganku.
"Ash, dengar." ucap Alicia tiba-tiba. Kepalanya menunduk. "Ingat ucapanku di swalayan tadi siang?"
Aku diam. Mencoba mendengarkan ceritanya dengan seksama.
"Mungkin sebaiknya aku bicara dari awal." ucapnya memulai cerita. "Sebenarnya aku datang ke kota ini karena aku selalu dirundung di tempat asalku. Mereka membenci wajahku yang selalu diidamkan oleh kekasih mereka."
"Aku tidak pernah punya teman sebelumnya. Tanganku selalu gemetar tiap kali bertemu anak perempuan lain. Tak lain halnya dengan anak lelaki juga. Tapi, pada hari pertemuan kita, Kau memanggilku."
"Walau aku sadar kau mungkin menjaga jarak, karena aku tau Ash tidak pernah memanggil namaku. Kau selalu setia menemaniku kemanapun aku mau, kapanpun." nada bicara Alicia menjadi agak serak, air mata langsung membasahi kedua pipinya. Ingin kuusap air matanya, tetapi Alicia langsung mengalihkan pandanganya ke langit. "Maaf, ya, Ash. Gadis payah ini menyukaimu."
Sinar Bulan menampakkan cahayanya, dan aku melihat gadis ini menangis sambil memaksakan senyum dibawah sinarnya. Bintang-bintang yang berkilauan berjatuhan, bagaikan menemani air mata Alicia yang mengalir. Diantara teriakan bahagia orang-orang yang mengucapkan harapannya, aku memeluk gadis yang rapuh ini. Mencoba menghiburnya. "Tidak, itu tidak benar."
Kulepas rangkulanku dan mengamati wajah berantakannya baik-baik. "Alicia tidak payah, kok. Malah dirimu yang selalu menemaniku." ujarku. Kedua tanganku menggenggam bahunya erat-erat. "Kecantikanmu seharusnya bukan untuk bahan rundungan. Mereka harusnya bangga memilikimu!"
Kutundukkan badanku di depannya. Aku merogoh saku jaketku, lalu mengambil cincin berlian yang diberikan Kakek. Tangan kanan Alicia kugenggam, dan kupasang cincin itu di jari manisnya. "Biar kuberikan ini padamu. Cincin ini punya kekuatan ajaib. Dengan ini, kamu akan selalu bahagia bila bertemu orang."
"Ash..."
"Alicia, aku juga menyukaimu." ucapku lantang dan yakin. "Maukah kau jadi gadisku seorang?"
Tangis Alicia malah semakin pecah. Ia mengangguk dan berseru, "Iya!" Lalu, aku pun kembali berdiri dan memeluk seluruh badannya.
Malam itu, kami menikmati pemandangan Meteor Shower bersama, hanya kami di tepi wilayah pengamatan yang sepi. Mata bengkak Alicia masih nampak, tetapi wajah cerianya sudah kembali. Berkali-kali tangannya yang mungil menunjuk berbagai bintang yang berjatuhan dan memanggil namaku dengan suaranya yang lembut. Tangannya serasa ikut senang mengenakan cincin berlian yang senada dengan mata birunya itu.
Aku bersyukur akhirnya Alicia kembali pada dirinya sendiri. Dan aku juga turut berharap pada bintang jatuh ini, semoga hal buruk tidak mendekati kami.