Halo semuanya, selamat membaca tulisan yang seratus persen hanya karangan dariku. Seratus persen orisinil ya gengs.
Semua nama tokoh, karakter benar-benar hanyalah imajinasi dari penulis saja. No baper.
***
"Selamat pagi, bisa aku bertemu dengan Tuan Reo Onigiri?" tanya ku pada seorang resepsionis yang kebetulan sedang sibuk mengetik sesuatu dengan keyboard berwarna putih di depannya.
Resepsionis itu tersenyum,
"Apakah anda sudah ada janji sebelumnya?" tanya nya dengan suara yang sangat lembut setidaknya itulah yang terdengar di telinga ku.
Aku mengangguk dan balas tersenyum. Meski sebenarnya aku belum membuat janji dengan Calon ayah dari anak-anak ku itu.
Benar, Reo adalah tunangan ku. Kami sudah berpacaran selama satu tahun. Dia adalah salah satu pimpinan kantor cabang perusahaan milik ayah ku.
"Sebentar, saya telepon dulu, dengan nona siapa?" ucap nya lagi mengajukan pertanyaan padaku.
Tiba-tiba saja terbesit di pikiran ku untuk mengejutkan Reo. Aku menahan tangan resepsionis itu ketika akan menghubungi Reo dan memberitahu kan tentang kedatangan ku.
"Aku Pevita tunangan nya, aku rasa kamu tidak perlu memberitahu dia, biar aku mengejutkan nya, Oke!" ucap ku sambil mengedipkan sebelah mata ku pada resepsionis yang sedang tersenyum itu.
"Dia ada di lantai berapa?" tanya ku pada resepsionis itu. Meskipun kantor ini juga adalah milik ayahku tapi aku benar-benar tidak tahu dimana ruangan Reo. Aku baru pertama kali kemari tujuan ku tentu saja untuk mengejutkan pria tampan yang paling kucintai itu.
"Lantai tiga, ruangan sebelah kanan!" jawab resepsionis yang sekilas wajahnya mirip dengan Mpok Alpha yang wajahnya sering nangkring di berbagai acara televisi itu.
"Baik, terima kasih ya!" sahut ku sebelum aku melangkah menuju ke arah lift.
Aku menaiki lift dan menekan tombol yang bertuliskan angka tiga. Oh ya biar ku perkenalkan diriku dulu.
Nama ku Pevita Peace, bukankah namaku sangat cantik. Ayahku memberi nama dengan arti perdamaian. Memang sekilas mirip artis tapi aku yakin aku lebih cantik darinya. Astaga.
Ting!
Pintu lift terbuka, aku menarik nafas dalam-dalam, sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pria tampan bernama Reo Onigiri itu. Apa kalian tahu wajahnya bisa membuat kalian semua tak akan bisa tidur setelah melihatnya. Kalau banyak yang mengidolakan Adipati Dolken, dia lebih tampan dari itu. Kalau ada yang suka pada tubuh atletis Deni Sumargo, dia jauh lebih atletis dari itu, dan kalau ada yang suka pada suara Afgan Syahreza, kalian akan kena mental jika mendengar suara kekasih ku itu.
Baiklah, aku sudah sangat siap untuk bertemu dengan Reo. Tapi saat aku memegang handel pintu aku mendengar suara seseorang berbicara dari arah dalam.
"Tenang saja sayang, setelah aku mendapatkan semua harta Pevita, maka aku akan segera menikah dengan mu! aku hanya mencintai mu Nurma, Pevita itu gadis polos dia tidak akan pernah menyadari hubungan kita selama ini. Iya, aku senang kamu bisa berteman dengannya juga, jadi kita bisa sama-sama mendapatkan keuntungan dari gadis polos itu!"
Tangan ku ku tarik kembali dari handel pintu, aku tahu itu suara Reo dan Nurma, dia adalah sahabat ku.
Aku melangkah mundur, rasanya sungguh berat tapi kakiku seperti tak memijak bumi lagi. Hatiku begitu sakit.
Aku menghirup udara sebanyak yang paru-paru ku mampu. Aku meraih sebuah ponsel yang berada dalam tas ku. Aku berjalan menjauh dari ruangan Reo.
Setelah menyelesaikan telepon dengan seseorang yang sangat rahasia dan membuatku harus mengeluarkan uang yang bisa membeli tiga buah mobil Alphard. Aku kembali mencari kontak lain.
Kontak dengan tulisan "Malaikat Tampan".
"Halo sayang, aku baru saja memikirkan mu!" ucap Reo yang aku tahu benar dia sedang berdusta.
"Sayang, aku punya hadiah untuk mu. Kamu pasti akan sangat suka. Datang cepat ke kafe Cinta ya!" ucap ku dengan nada manja pada pria kejam itu.
"Baik sayang aku datang!" ucap nya.
Aku memutuskan panggilan telepon, lalu aku berjalan ke arah roof top kantor ini. Aku melihat arlojiku. Saat aku sudah sampai di roof top, aku melihat ke arah mobil berwarna merah yang aku yakini adalah mobil Reo.
"Kamu bilang aku gadis polos, lihat apa yang bisa di lakukan gadis polos ini Reo! tiga... dua...satu..."
DUARRR!
Mobil merah itu meledak.
"Selamat tinggal sayang!" ucapan terakhir ku pada pria yang pernah aku anggap malaikat dan menganggap ku gadis polos.
***
No baper gengs, ciyus ngarang doang...