Hari ini Hana mampir lagi di coffee shop favoritnya. Setiap hari setelah pulang bekerja, ia selalu datang. Bukan karena menu kopinya yang enak tapi Hana tertarik dengan manajer toko kopi di sana.
Setelah mengantri beberapa saat Hana memesan minuman, "Ice Americano satu."
Hana terkejut melihat manajer coffee shop yang menjadi kasir.
"Atas nama siapa?"
"H-Hana." Hana tergagap.
Setelah beberapa saat ice Americano milik Hana jadi.
Hana mencari tempat duduk yang memudahkannya untuk bisa mencuri pandang dengan manajer coffee shop.
🌼🌼🌼
Manajer coffee shop ~ Sudah satu minggu ini ia nggak datang. Biasanya setiap sore ia selalu memesan ice Americano dan duduk di pojokan. Ada apa, ya?
Teman Hana datang ia membeli satu gelas ice Americano.
Manajer coffee shop yang bernama Joshua itu memberanikan diri bertanya.
"Teman Anda yang biasanya datang ke sini, mengapa tidak datang lagi?"
"Ia sakit."
"Sakit?" Joshua ingin menjenguk Hana.
"Hana sakit maag. Sebenarnya ia tidak diperbolehkan minum kopi karena maagnya. Tapi ia suka kamu. Jadi, ia datang ke sini terus."
"Apa saya boleh meminta nomor ponselnya?"
"Aku akan kasih nomor Hana. Tapi ada satu pertanyaanku. Anda suka Hana juga?"
"Iya ... Aku menyukainya. Hanya saja aku nggak bisa deketin dia karena ia customer dan aku cuma pegawai di sini." Joshua selama ini ingin berkenalan dengan Hana tapi ada pembatas karena pegawai coffee shop dilarang mendekati customer selama jam kerja.
Teman Hana memberikan nomor hp dan alamat Hana.
Joshua langsung ke rumah Hana saat shift-nya selesai.
Joshua memencet bel. Hana membukanya. Ia mengira temannya yang datang. Hana terkejut saat tahu siapa yang datang. Hana buru-buru menutup pintu rumahnya. Ia mencari cermin. Merapikan penampilannya yang berantakan.
Hana membuka pintu lagi. Ia mempersilakan Joshua masuk.
Tapi mereka berdua hanya diam. Hana dan Joshua bingung mau bicara apa.
"Maag ..."
"Ada ..."
Mereka berbicara bersamaan. Hana mempersilahkan Joshua berbicara terlebih dahulu.
"Maag-mu bagaimana?"
"Sudah mendingan."
Suasana menjadi sunyi senyap lagi.
"Sebentar ... Aku bikinkan teh." Hana menuju ke dapur. Ia membuat teh. Lalu menyuguhkannya ke Joshua. Joshua meminumnya.
"Aku menyukaimu." Hana dan Joshua berbicara bersamaan lagi. Mereka saling berpandang-pandangan.
"Kau tak perlu lagi membeli kopi jika bikin sakit maag. Tapi kau tetap harus datang. Biar aku bisa selalu melihatmu. Setelah pulang bekerja, aku akan mengantarmu pulang."