Sheila menggerutu pada sosok pria yang datang dengan meletakkan setumpuk berkas di atas mejanya. Kaki pria itu menyilang angkuh. Asap mengepul di depan wajahnya. Banyak pria berbaju ketat dengan memamerkan otot yang terlihat seperti roti mengembang, dan kacamata hitam bertengger di atas hidungnya.
"Ada apa ini?" Sheila bersikap acuh dan tidak acuh. Dia menyilangkan tangan pada dadanya. Bersikap arogan kemudian.
"Aku ingin kau membakar bukti!" Pria itu meletakkan puntung rokok ke asbak. Memutar puntung rokok, hingga nyala merah itu hilang. Padam.
"Membakar bukti pekerjaan kotor kalian, Tuan Mercury?"
Pria bernama Mercury mengangkat satu alisnya, merogoh buku cek dalam saku jas. Merobek lembar kedua. Lalu, menulis angka pada lembar tersebut. Kemudian, membubuhi tanda tangannya.
"Kau bisa bahagia menjalani sisa hidupmu dengan uangku! Bukankah menarik?"
Sheila mengangkat satu lembar cek itu ke udara. Mengeja dalam hatinya, jumlah nol yang tercetak di belakang angka satu.
"Tuan Mercury. Terimakasih sudah memberi kekayaan yang luar biasa. Aku akan menyimpan dan menggunakan cek ini."
Sheila melipat cek. Lalu, menunduk pergi sekedar sebagai salam berpamitan kepada pria yang terlihat tenang di luar. Namun, berombak di dalamnya.
"Tepati janjimu! Sembunyikan pekerjaan hitam!"
Sheila menoleh. Dia mengembangkan senyumnya dengan sepasang bola mata indah yang terlihat misterius. Dia berjalan dengan polah bersedia menjadi abdi pada sang penguasa, dan dia bersenandung, "Aku akan mengembalikan dengan caraku."
Blam!
Pintu terkatup rapat kemudian. Mercury menurunkan kacamatannya. Dia terlihat bingung sesaat. Bahkan, untuk pertama kalinya dia harus menggigit jari jempolnya.
"Sakit! Aku tidak bermimpi!"
"Ada apa bosss?"
Mercury berdiri dan berpaling menghadap kedua bodyguard yang terlihat kokoh berdiri.
Plak! Plak!
Mercury menampar dua wajah pria besar berotot yang berada di barisan terdepan.
"Ternyata wanita yang kalian sebut iblis itu. Tidak sesulit yang aku bayangkan. Dia mengambil uangku! Dia bersedia mencuci dosa dengan sabun! Membakar bukti-bukti!"
Seorang pria terdepan menghela napas panjang, "Boss dia licik!"
Mercury mengendus marah. Dia mencengkram leher pria itu dan mendengus, "Dia tidak terlihat licik. Dia ramah, dan dia berkata dia akan menyelesaikan dengan caranya."
Mercury melepaskan cengkraman dari leher pria itu, dan mendengus, "Kalianlah yang berpikiran sempit. Bahkan kalian terlihat banci. Memintaku dengan sederet pria berotot besar, berwajah seram, hanya untuk mengelilingi wanita kecil yang ternyata butuh uang! Dia miskin!Kismin kaum jelata."
Mercury menghela napas panjang. Seakan dia telah lega. Dia-pun melambaikan tangan. Agar setiap pengikutnya membuka jalan untuk dia keluar dari ruangan sempit dan pengap.
***
Satu Minggu Kemudian ....
Mercury terlihat duduk di pinggir kolam renang, dia berendam dengan dua wanita cantik di kiri kanannya. Dua wanita itu hanya mengenakan bra dengan tali spaghetti, yang sebagian tubuhnya terlihat terendam bersama sang pria penguasa.
Dua wanita cantik itu terlihat bergantian meletakkan buah anggur dalam mulut sang pria tirani itu.
"Bosss!" Satu pria tiba datang dengan langkah terburu. Wajahnya peluh keringat. Pucat bak kertas putih.
"Ada apa?"
"Ada dua berita. Yang satu baik. Yang satu buruk. Pilih yang mana lebih dulu?"
Mercury melompat keluar dari kolam renang.
"Katakan keduanya bersamaan!"
"Tidak bisa mengungkapkan dua hal sekaligus."
"Katakan berita baik dulu."
Pria itu menghela napas, "Saat ini kau terkenal dengan seluruh kebaikanmu Boss. Kau terkenal telah menyumbangkan uang untuk panti asuhan, panti jompo, yayasan peduli kanker, dan berbagai kegiatan sosial telah menerima uang atas namamu."
Mercury menyipitkan matanya, "Aku tidak merasa menyumbang apapun."
Mercury berpikir sejenak, "Apakah wanita Sheila itu membuat aku terlihat dermawan ?"
Pria di hadapan Mercury. Mengangguk setuju.
"Ternyata dia wanita yang tidak serakah. Menarik! Mengambil uangku untuk di bagi-bagikan."
"Bahkan wanita itu bernama Sheila meminta segenap orang yang menerima bantuanmu, agar berdoa setiap hari, agar kau selalu sehat dan panjang umur menjalani kehidupan."
Mercury tersenyum. Namun, kilat kesenangan sirna seketika.
"Jika hal itu sangat baik. Lalu, apa yang terburuknya."
Pria itu bergetar dan dengan suara rendah berkata, "Polisi telah mengepung kediaman ini, Boss?"
"Hah?"
"Wanita bernama Sheila itu juga mengantarkan bukti kejahatanmu pada kantor polisi."
"Apaaaa?" Mercury tampak shock. Berdiri kaku. Akan bersiap menyelidiki. Namun, beberapa pria berseragam telah maju perlahan dengan pistol mengarah padanya.
"Kau di tahan, Tn.Mercury!"
"Wanita sialan!" umpat Mercury.
"Jadi saat itu?" Mercury teringat senyuman wanita itu. Terlihat bak malaikat suci yang rakus harta.
"Dia mengambil cek. Agar kau tidak mencekiknya saja, Boss! Sudah aku katakan dia wanita licik bosssss!"
****
Tamat!
Jangan lupa putar lagu Sheila On 7 judulnya : Melompat lebih tinggi