Bagaimana ya memulai cerita ini? Aku yang menulis ini pun bimbang, apakah cerita ini akan mengharukan, mendebarkan, atau bahkan terlalu banyak dramanya hingga orang-orang bosan membacanya?
Ini benar-benar sulit, ini pertamanya untukku di beri tugas untuk menulis naskah. Sepertinya direktur agensiku sudah kehabisan banyak ide hingga para aktrisnya di suruh untuk menulis script naskah untuk sebuah drama. Tapi sayangnya, aku ini bukan seorang penulis yang handal.
Tunggu sebentar, kalian pasti tidak tahu siapa aku. Tapi jelas saja sih, aku saja helum memperkenalkan diriku.
Namaku Charlotte Stuart, aku lahir di Sidney Australia. Usiaku sekarang 22 tahun, dan sudah menjadi artis kurang lebih selama 15 tahun. Aku ini artis muda yang sangat terkenal karena sudah meniti karirku di bidang ini sejak usiaku 7 tahun, muda sekali bukan?
Awalnya, aku juga tidak terlalu percaya diri di bidang akting begini. Tapi ternyata setelah berlatih justru aku terbiasa, ya karena itu aku di kenal. Apalagi aku suka memerankan perang protagonis yang di sakiti, jika aku mengeluarkan tangisanku semuanya akan bersimpati. Itulah kekuatan besarku dalam dunia akting.
Aku berada dalam naungan agensi yang besar dan terkenal, agensi yang sudah melahirkan banyak sekali idol, artis, dan penyanyi. Tapi belakangan ini agensiku mengalami penurunan modal dan iklan, karena beberapa artis terlibat skandal yang membuat citra agensiku buruk.
Sebenarnya dengan popularitasku sendiri, agensi ini bisa di selamatkan. Tapi pak direktur sendiri melarangnya dan malah memikirkan ide aneh dimana membuat sebuah drama. Dasar, sekarang aku harus membuat naskah. Masalahnya, aku ini paling buruk di pelajaran mengarang dan bercerita!!
*****
"Masih kebingungan?"
Aku menoleh sekilas, ternyata yang mengajakku berbicara adalah kakak sepupuku, Iris.
Aku hanya bisa mengangguk perlahan, kak Iris memberikan sesuatu padaku.
"Ini mochi?" Tanyaku.
"Iya, makanlah. Untuk mendinginkan kepalamu," balas kak Iris.
Aku langsung mengambil sumpit dan mengambil sedikit bagian dari mochi yang besar itu, setelah satu suapan aku langsung merasa melayang. Ini mochi yang enak sekali, kak Iris memang tidak pernah gagal dalam memasak!
"Jadi apa masalahmu?"
Aku menyelesaikan kunyahanku dahulu lalu berbicara, kak Iris adalah konsulen bagiku dan yang lainnya. Dia adalah mama kami, memang aneh tapi dialah yang mengurus kamu berenam dari dulu. Dia selalu mendengarkan dan memberi saran yang tepat, bisa dibilang dia adalah orang yang bisa di andalkan!
"Direktur memintaku untuk menulis script untuk drama baru." Keluhku, tidak lupa memasukkan lagi satu suapan mochi.
Kak iris terlihat berdiam diri sebentar, "Ah iya, katanya agensimu kesulitan. Tapi kenapa harus kamu yang menulis naskahnya?"
"Dia yakin jika aku ini berbakat, karena itu dia memilihku!" Ketusku, aku benar-benar frustasi.
"Apa temanya?"
"Tentang patah hati."
"Bukannya itu justru persis seperti keadaanmu sekarang?"
Aku terdiam, menjatuhkan sumpit begitu saja. Menerawang jauh ke masa lalu yang menyakitkan, bahkan sampai sekarang.
****
Aku Charlotte, umurku sekarang 20 tahun. Aku sedang menyelesaikan studi pertamaku di universitas, sulit sih karena harus membagi waktu dengan waktu syuting tapi tidak apa karena ada pacarku yang selalu menyemangatiku.
Seperti orang-orang pada umumnya, aku juga mempunyai kekasih. Semua aktris pasti pernah menjalin hubungan dekat dengan lain jenis, tapi karena kami artis semuanya harus tertutup rapat rapat. Begitu pula dengan kekasihku, kami sudah berpacaran selama tiga tahun belakangan ini.
Sein Harrolds, teman dekatku sejak kecil sekaligus mantan managerku. Entahlah, kami berdua cukup cocok satu sama lain. Walaupun berbeda usia 6 tahun aku senang berada di dekatnya, bisa di bilang aku tidak bisa jauh darinya apalagi melepaskannya.
Banyak yang mendukung kami, dan Sein pun walaupun jarang serius menanggapi pertanyaan 'kapan kalian akan menikah?' aku yakin dia akan melamarku segera setelah studiku selesai. Terlalu percaya diri, bukan? Tapi ternyata itu semua salah.
Semenjak Sein bekerja di sebuah sekolah untuk melihat bagaimana kinerja sekolah yang di beri biaya akomodasi yang banyak olehnya dia semakin sulit di hubungi, aku merasa hubungan kami merenggang. Sudah dua bulan bahkan kami tidak bertemu, ya bisa di maklumi karena aku ada tur keliling untuk pembukaan drama baru saat itu. Aku kira kamu akan kembali seperti semula, tapi itu salah.
Saat pulang setelah tur keliling ku, aku diajak makan malam keluarga besar. Disana aku mendapati hal yang sangat menyakitkan, Sein akan segera menikah dengan muridnya...
Segera saja aku langsung angkat kaki dari ruangan itu, pergi sejauh mungkin. Aku hilang selama beberapa hari, semua orang panik mencariku. Aku tahu aku merepotkan semuanya, tapi aku masih belum terima. Apa yang salah dari hubungan kami hingga dia meninggalkanku duluan?
Tok! Tok!
Ada yang mengetuk pintu apartemenku, aku bersembunyi disini selama beberapa hari. Apartemen lusuh yang jorok di Afrika, jauh sekali bukan?
Aku mengira itu pemilik apartemen bau ini, tapi setelah membuka pintunya yang ada di hadapanku adalah Sein.
"Kenapa kesini?" Tanyaku pelan.
"Aku yang harusnya bertanya, kenapa kau menghilang dan memilih berdiam disini?"
Aku menggigit bibir bawahku, aku mulai merasa kesal.
"Apa masalahmu? Kau bukan siapa-siapa bagiku, jangan ikut campur!" Aku menatap matanya nyalang, berharap dia balik menatapku dengan wajah kasihan dan memilih bersamaku tapi ternyata salah...
Sein menatapku, tapi dengan ekspresi kesal.
"Kekanakan sekali, kau lupa umurmu sekarang berapa?" Dia malah tertawa.
Aku yang mendengar responnya langsung terdiam, lalu kemudian mengamit gagang pintu.
"Aku tidak tahu apa masalahmu dengan muridmu itu, tapi bisa dibilang berpacaran denganmu adalah kesalahan besar yang pernah kuperbuat." Ujarku dengan suara yang di tinggikan sedikit agar dia bisa mendengarnya.
"Maksudmu apa?"
Aku mengangkat wajah dan menatapnya dengan tatapan meremehkan, "Aku tidak percaya orang yang pintar sepertimu lemot dengan hal ini, apa perlu kusingkat ucapanku tadi?"
Sein tidak menjawab.
"Aku harusnya tidak pernah berpacaran denganmu, aku harap keesokan hari kita bersikap selayaknya orang dewasa. Jangan berlebihan, kau punya istri sekarang dan bahkan calon anak." Aku bersiap menutup pintu, air mata ini tidak sanggup lagi kutahan.
"Kau harus pulang." Desaknya.
"Aku akan pulang besok, agar bisa melihat pernikahanmu. Jangan khawatir aku akan memberikan hadiah yang paling besar untuk calon keponakanku," jawabku sambil tersenyum.
Kemudian Sein mengangguk, "Baiklah, aku pergi dahulu."
Aku menutup pintu kamar apartemenku, menjatuhkan diriku dan menyandar ke arah pintu mengeluarkan semua tangisan yang kutahan. Tapi aku tidak menangis terlalu lama, entahlah aku merasa semaunya memang sudah selesai. Aku sudah dewasa, aku bukannya anak remaja kemarin sore yang batu di putus hubungan oleh pacar. Aku adalah wnaita berumur 20 tahun yang baru patah hati, tapi apakah aku harus terus menangisi hal itu?
Aku menyeka wajahku yang sembab lalu tersenyum dan bergumam, "Aku akan lebih kuat, aku tidak boleh menangis karena hal sepele ini."
Walaupun begitu tentu saja aku masih tidak terima, tapi setelah kufikir lagi Sein dan aku bukanlah jodoh. Aku tidak akan pernah mendapatkannya, lihat saja dia yang baru mengenal muridnya saja sudah langsung menikahinya bagaimana denganku yang sudah tiga tahun bersamanya?
"Pada akhirnya, aku tidak bisa mendapatkanmu. Sampai kapanpun itu,"
*****
"Charlotte, halo selamat siang."
"Iya pak direktur Han?" Tanyaku, aku sedang menulis sesuatu di buku kecilku.
"Kamu sudah melihat beritanya, bukan? Naskahmu yang di jadikan drama sukses besar!" Seru pak direktur dengan nada gembira.
Aku mengangguk, "Sudah pak, selamat ya."
"Aku senang sih, tapi apa kamu tidak bisa pergi ke Korea sekarang?"
"Maaf pak, saya sedang fokus pada ujian akhir saya. Bapak sendiri tahu saya sedang di Indonesia,"
"Iya, iya, aku tahu. Kalau nanti ke Korea hubungi aku siapa tahu kamu berminat menjadi aktris lagi."
"Baik pak, tapi saya tidak bisa berjanji." Balasku.
"Tidak apa-apa, pikirkanlah dulu sembari menikmati hari-harimu di negara tropis itu."
"Baik pak,"
Tut!
Aku menutup telepon segera, lalu kembali fokus dengan tulisanku. Aku menatap pemandangan di luar jendela, pantai di Bali memanglah menenangkan mata dan hati.
Inilah aku, Charlotte Aira Stuart yang berumur 23 tahun. Charlotte yang sudah berubah banyak, berhenti menjadi aktris dan menjadi mahasiswa semester kedua di salah satu universitas Indonesia. Aku senang berada di negara ini, walaupun panas tapi setidaknya aku nyaman. Segera aku mengalihkan pandanganku pada bukuku kembali lalu tersenyum.
"Kali ini cerita patah hati siapa lagi yang akan kuambil?"