Hal terindah yang pernah aku alami adalah, ketika dia mengatakan kamu pasti bisa melewati semua ini. Ya, karena hanya dialah orang pertama yang pernah memberiku semangat untuk tetap bertahan...Padahal, dia sendiri tidak dalam kata baik. Saat ini, masih ditempat yang sama....dia kembali menatapku dengan tatapan penuh rindu. Seolah hari esok tak akan kembali bertemu. Mungkin, apa yang dirasakannya juga yang aku rasakan sekarang. Enggan menerima kenyataan, bahwa aku atau dia...akan menghilang dalam sekejap. Tanpa kita sadari, hari itu mulai dekat. Mengikis jarak dan waktu yang beberapa hari ini kita lewati bersama.
"Nyenyak tidurnya?," tanya sosok disampingku. Aku tersenyum sembari mengangguk. "Pantes, gue telepon nggak diangkat."
"Sorry, ketiduran heheehee..."
"Ada kemo jam berapa?."
Aku diam, bukannya tidak tahu jawabannya...tapi, pertanyaan itu selalu membuat dada ku sesak setiap kali mendengarnya. Kemo? Ahh aku sampai hafal diluar kepala bagaimana ruangan itu menyiksaku tiap detiknya. "Ra, kamu oke kan?."
"Oke kok," balasku tersenyum getir.
"Nanti aku temenin, ya?."
"Jam berapa, hm?."
Senyumku semakin lebar, lihatlah dia... aku tahu dia juga tidak suka masuk ke dalam ruangan itu. Tapi, setiap kali aku ragu...dia orang terdepan yang mengajukan diri untuk menemaniku. Hanya dia.
"Siang nanti, jam dua."
Kita sama-sama terdiam setelah senyum hangat itu pudar. Menikmati semilir angin di pagi hari, juga sinar hangat mentari yang paling aku suka...lengkap dengan dia berada disampingku.
Sebelum jauh kalian menikmati kisah pilu ini, kenalkan....aku, Nara anggita putri. Perempuan lemah yang tak pernah percaya akan keajaiban. Dan dia, Rega anandito. Laki-laki paling tegar yang pernah aku temui. Dia, sosok yang membuatku bangun dari lubang gelap waktu itu. Awal pertemuan kita. Dimana akal sehatku tak lagi berfungsi. Atap rumah sakitlah yang menjadi awal aku bertemu dengan Rega. Malaikat tak bersayap yang tuhan kirim untuk ku.
Sore itu, diatap rumah sakit....aku, menangis dalam diam. Satu kenyataan yang tiba-tiba melintas seketika menghancurkan hidupku detik itu. Kenyataan bahwa sel jahat sudah bersarang didalam tubuhku sekitar tiga minggu lalu benar-benar meluluh lantahkan semua rencana yang sudah aku susun rapi. Harapan, yang telah hancur tak bersisa. Tapi, dia datang dengan segala petuah yang membuatku sadar akan hidup yang lebih berarti dari apapun itu. Meski, waktu terus berjalan cepat melahap sisa umurku yang baru saja menginjak tujuh belas tahun.
Kaki ku sudah siap naik keatas tembok pembatas, namun sebuah tarikan membuat tubuhku terhuyung ke belakang. Ingin rasanya mencaci maki orang itu, tapi-
PLAK
"Lo gila ya?!."
"Mau bunuh diri, iya hah? JAWAB?!."
Pipiku terasa kebas, mataku melotot sempurna menatapnya yang lebih menatapku tajam. Disini, bukan aku yang gila...tapi dia. Menampar perempuan yang sama sekali tidak dia kenal, apa itu benar?
"Apa? Bisu ya?! Sampai nggak bisa jawab hah?!."
"Kamu, nampar aku?," balas ku lirih. Sungguh, aku belum bisa mencerna apa yang terjadi secepat ini. Dia, laki-laki itu menamparku? Bahkan seumur hidup aku tidak pernah merasakan tamparan dari kedua orang tuaku.
"Iya, kenapa? Nggak terima?! Nih, tampar balik," balasnya menunjuk pipinya. Masih sama, wajah penuh amarah.
"Kamu gila!," sarkasku.
"Lo yang gila! Di luar sana masih banyak orang yang ingin dikasih umur panjang, kalau bosen hidup nggak kayak gini! Kalau nyawa bisa dibeli, gue beli nyawa lo!."
Mataku memanas kala itu. Dia, benar-benar meluapkan amarahnya. Dan aku bisa merasakan rasa sakit yang ia rasa dari sorot matanya yang terlihat sayu. "Maaf," ujarku sembari menunduk. Tak kuat menatapnya lama-lama...entah kenapa, aku sangat menyesal telah menyia nyiakan waktu yang masih tersisa.
Suara helaan napas kasar darinya membuatku mendongak. Lagi, tatapan itu terasa hangat meski aku tahu...dia, masih kesal dengan apa yang aku lakukan. "Lo tahu, hidup itu sangat berarti bagi orang-orang tertentu. Dan, lo yang masih berdiri sempurna ini-."
"Kamu nggak tahu apa-apa," potongku.
Beberapa menit kita hanya saling diam. Berdiri dengan embusan angin sore yang menerpa tiap inci wajah. Pemandangan senja di ufuk barat seakan menghipnotisku ke masa lalu yang begitu menyenangkan. Tidak ada hadirnya yang begitu kelam.
"Lo, ngapain disini?."
Aku menoleh, menatapnya dari samping seperti ini membuatku sadar...ada yang berbeda dari aura wajahnya. Dan, satu hal lagi...dia memakai baju rumah sakit.
Belum sempat membuka suara, getaran disaku ku mengalihkan atensi. Segera ku angkat ketika nama kakak laki-laki ku terpampang.
"Aku balik dulu," ujarku setelah panggilan terputus.
Baru lima langkah, suaranya kembali terdengar...dan, dari situlah aku tahu siapa dia.
"Rega anandito, nama lo...siapa?."
Aku membalikkan badan. "Nara anggita putri."
"Orang bandung, ya?," tanya nya.
"Kok tahu?."
"Bahasa lo terlalu baku, pakai 'aku' 'kamu'," balasnya diselingi kekehan kecil. Aku ikut tersenyum.
Aku berbalik, namun lagi -lagi suaranya menghentikan langkahku. "Nara, semangat ya...kamu, nggak sendiri disini."
Aku hanya diam, tak ada niat membalikkan badan. Entah kenapa perkatan itu berhasil membuatku sesak sekaligus haru. "Sampai jumpa kembali."
Dan, benar...kita bertemu kembali atas restu Semesta.
.
.
.
"Inget nggak waktu kamu nampar aku?."
Rega sedikit terkejut, lalu memasang muka masam seketika. "Bahas yang lain aja, jangan yang itu!."
"Emang kenapa?," godaku menaikkan sebelah alis. Lucu, menatap wajahnya yang memerah.
"Emang kenapa?! Ya menurut lo?."
Aku tertawa kencang, sampai beberapa orang disekitar sekilas menatapku. "Makasih."
"Untuk?."
"Waktu itu.."
"...kalau nggak ada kamu, mungkin aku udah nggak ada disini."
"Dan gue nggak bakal kenal sama cewek manja kayak lo."
"Manja? Aku nggak manja ya!."
Belum sempat Rega menyahut, suara dari belakang mengalihkan atensi kami. Sosok pemuda gembul berlari memanggil manggil nama Rega. Sampai dia tepat behenti dihadapan dengan napas terengah engah. "Lo ngapain sih pakai lari-lari segala. Udah tahu badan kelebihan lemak, nggak takut kalau jatuh menggetarkan bumi?!,"ujar Rega yang kubalas kekehan.
"Ck, nggak lucu!," ujar pemuda yang kukenali dia teman Rega. Tapi, aku lupa siapa namanya.
"Kenapa pagi-pagi kesini? Tumben amat."
"Gawat ga, kemarin ada gosip kalau cewek lo selingkuh," ujarnya terang terangan. Sedangkan, Rega...dia, membeku. Matanya menatap kosong kedepan. Ya, aku tahu apa yang dirasakan Rega saat ini. Meski aku tak pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai. Karena aku, tak pernah merasakan apa itu cinta. Tapi, kenapa dadaku sesak melihat tatapan Rega yang seakan runtuh.
"So..sorry Ga, gue cuma mau kas-."
"Its okey, lo nggak salah...Gue tahu kok, kalau ini bakal terjadi. So, gue nggak terlalu sakit hati. Karena sejak awal, gue udah bilang sama Rania, kalau dia boleh pergi kapan aja."
Aku tersenyum getir, bagaimana bisa si Rania meninggalkan sosok sekuat Rega dengan begitu mudah. Setahuku, Rega pernah cerita...kalau dia dan Rania sudah menjalin hubungan sejak kelas sepuluh SMA. Jika dihitung sampai saat ini, hampir lima tahun mereka berpacaran. Ya, umurku dan Rega terpaut tiga tahun.
"Jadi, lo sepagi ini cuma mau kasih gue berita itu?."
Pemuda itu menggaruk kepalanya. Meringis menatap Rega. "Iya heheehee..."
"Ck, apa gunanya HP kalau nggak lo gunain bego!."
"Ya namanya juga berita hot, nggak enak lah kalau lewat pesan."
"Terserah, mending pulang aja gih! Ada kelas pagi kan hari ini?."
"Iya, yaudah gue balik dulu..."
"...Bye Rega, bye Nara," ujarnya melambaikan tangan. Kembali berlari menjauh hingga suara Rega memecah lamunanku.
"Nanti, kalau lo cari pasangan...jangan lihat dari sikapnya yang pendiam apalagi baik banget sama lo, suka cari muka doang orang kayak gitu."
Aku mengerutkan kening bingung. Menghadap sempurna kesamping agar jelas melihat wajahnya yang terlihat pucat. "Terus, kamu suruh aku cari pasangan yang nggak baik gitu? Yang benar aja dong Rega," balasku memutar bola mata malas.
"Bukannya gitu, maksud gue...Cari laki-laki yang ketika marah dia tidak menyembunyikannya. Dia akan terus terang dan mencari solusinya bersama, bukan memendam lalu hilang begitu saja. Dan jangan remehkan orang pendiam, dia bisa menghilang kapan saja setelah dia merasa bosan. Kita tidak bisa melihat orang dari sisi baiknya saja, karena terkadang...orang yang kita anggap baik belum tentu hatinya seputih susu. Malah, orang yang kita anggap buruk...dialah yang aslinya baik."
"Tunggu deh Ga, sumpah aku nggak paham kamu ngomong apa."
Rega tersenyum hangat, menatapku lurus sembari membenarkan posisi duduknya. "Gini, intinya...kalau lo pengen tahu sifat orang sebernarnya....lihatlah dari cara dia marah."
"Kalau dia marahnya dipendam, jauhi dia. Karena orang seperti itu bisa seperti ular berbisa. Kalau dia marahnya terang terangan, dia tipe orang yang terbuka dan bertanggyng jawab. Jadi..."
"....Cari pasangan dari cara dia marah. Kalau baik saja tidak cukup membuktikan bahwa dia benar-benar sayang."
Hening
"Jadi, kamu udah salah lihat sisi baik Rania?," pertanyaan itu tak butuh waktu lama keluar dari mulutku. Dan, detik selanjutnya aku menyesali pertanyaan yang keluar begitu saja.
"Hm, benar...gue kira, Rania perempuan baik yang nggak pernah ninggalin gue. Tapi, nyatanya dia pergi sebelum tahu gue didiaknosis"
"Hah??," mataku melebar. Apa? Rega bilang sebelum...jadi, Rania-
"Iya, Rania pacaran sama sahabat gue sendiri."
"Gue tahu itu sebelum dua bulan akhir ini. Dan, sekarang semua udah terbongkar."
Aku tertegun. Sungguh, tidak bisa dijelaskan lagi rasa sakit yang dirasakan Rega. Aku saja, yang mendengar kenyataan itu, terasa sesak. "Kamu hebat Ga."
"Gue nggak sehebat itu kali, Ra."
"Tapi, dimata aku....kamu yang paling hebat."
"Oh ya, satu lagi."
"Apa lagi?."
"kalau cinta sama orang jangan terlalu dalam. Ntar susah kalau move on."
"Idih sok bijak, padahal kamu sendiri gagal cinta," ledekku memalingkan wajah.
"Gue nasihatin lo loh ini. Besok kalau lo cinta sama orang jangan kayak orang bodoh! Gue nggak bisa selalu jagain lo, jadi kalau cari pasangan yang bener. Jangan ujung-ujungnya makan hati."
"Udah ah nggak jelas Ga."
Hening kembali menemani...Hingga suara lembut dari belakang mengalihkan keadaan. "Sayang, masuk yuk. Waktunya sarapan."
Aku dan Rega tersenyum manis menatap wanita paruh baya itu. Wanita yang beberapa hari ini juga memberiku semangat....utuk hidup layaknya orang lain. "Nara juga sarapan bareng yuk, tante udah beli bubur ayam kesukaan kamu loh."
"Wahh tante tahu aja Nara udah laper," balasku.
"Iya dong, yaudah yuk kita masuk...udah terik juga nih mataharinya."
Kami bertiga akhirnya meninggalkan taman rumah sakit yang selalu menjadi tempat ku bersama Rega menghabiskan waktu.
Aku tahu, Rega tidak sekokoh yang kulihat dari luar. Dia...sosok laki-laki yang bersembunyi dibalik tawanya, menutupi luka yang Semesta torehkan. Sejak dia memberitahuku,bahwa penyakit yang ia derita saat ini tak akan bertahan lama...detik itulah, ragaku seakan ditarik paksa. Bahwa Semesta punya rencana, bukan kita yang berencana.
Aku juga tidak ingin penyakit ini, tidak pernah menginginkannya. Tapi, aku paham...dengan adanya penyakit ini, aku dan Rega bisa mengenal satu sama lain. Saling menyemangati satu sama lain. Dan...di rumah sakit inilah cerita kita dimulai.
"Nanti kamu ada kemo Nara?," tanya tante farah.
"Iya tan," balasku sembari mengangguk.
"Tante temenin, ya?."
"Nggak usah bun, biar Rega aja..nanti kalau sama bunda kasihan dia. Nggak bisa nangis," sahut Rega yang kubalas lemparan krupuk yang langsung ditangkapnya.
"Siapa juga ya yang nangis."
"Ya lo lah siapa lagi?."
"Nggak ya!."
"Udah jangan ribut, habisin dulu itu sarapannya."
Kami berdua mengangguk. Seharusnya, mereka ada disini...kedua orang tua ku. Tapi, sejak mereka berdua berpisah aku dan bang Yogi memilih tinggal bersama nenek. Dan sekarang, lebih tepatnya satu bulan sebelum penyakit ini ada...nenek telah berpulang ke rumah tuhan. Meninggalkanku dan bang Yogi sendiri. Andai, bang Yogi tidak berubah sejak keluarga kecil kami rusak...mungkin, sekarang dia ada disini. Menemaniku dimasa masa berat yang tak kubayangkan. Dan, mama..papa...mereka hanya bersikap acuh saat mengetahui aku divonis kanker hati.
"Jangan ngelamun," suara Rega memecah pikiranku. Segera aku menghabiskan makanan ini, lalu kembali ke kamar inap ku.
Seperti biasa, kamar bernuansa putih ini yang menjadi teman ku selama dua minggu. Menjadi saksi betapa kejamnya sel-sel jahat itu menggerogoti tubuhku. Rasa sakit yang tak akan pernah bisa aku jelaskan.
Jam berdetak semakin cepat. Hingga tak terasa kini aku sudah berada diruang kemo bersama Rega. Ya, dia selalu menepati janjinya. "Ck, lupa bawa tisue lagi."
"Ngapain bawa tisue?," tanyaku.
"Ya buat hapus ingus lo lah...Nanti baju gue lagi yang kena korban," ujar Rega sangat-sangat menyebalkan. Dasar. Tidak tahu saja dia bagaimana rasa sakit yang aku rasakan.
"Ihh jahat banget..."
"...Sana pergi aja!."
"Iya iya becanda, gitu aja marah."
Aku mulai memejamkan mata saat rasa nyeri yang merabat perlahan ke sekujur tubuhku menyerang. Lagi, rasa ini lagi yang harus aku lawan. "Ra."
"Hm?."
Aku mencengkram kuat tangan Rega yang berada disampingku. Sedangkan Rega mengelus elus puncakku, seperti biasa yang dia lakukan ketika aku merasa kesakitan.
Tak kunjung bersuara aku kembali berdehem, membuat Rega tersenyum kecil. Apa ada yang lucu, pikirku. "Mau ngomong apa Ga?."
"Jangan bosen jadi temen gue, ya?."
"Apaan sih, nggak jelas."
"Kalau nanti gue berubah...jangan benci gue, ya?."
Aku mengerutkan kening bingung. Berubah bagaimana maksudnya?. "Ngomong apa sih Ga?...Emang kamu berubah kenapa?."
"Ya bisa jadi gue nggak mau temenan lagi sama lo."
"Hah, oh..nggak mau temenan lagi sama aku? Oke, fine."
"Bagus," balasnya mencubit hidungku. Sungguh, apa yang dipikirkan Rega saat ini?
"Dasar. Menyebalkan!."
.
.
.
"Hahhh bosen banget," kesalku melempar bantal ke arah pintu. Hari ini hari minggu, namun tetap sama... Bang Yogi tak kunjung datang meski hari ini hari libur. Ya, aku tahu dia sibuk dengan tugas kuliah yang tak hanya sebutir. Tapi, apa aku ini tak lagi penting baginya?.
"Rega kemana sih, tumben nggak kesini."
Ceklek
"REGAAAA..."
"Hussttt! Nggak usah teriak teriak kali Ra," balas Rega kembali menutup pintu.
Senyumku semakin lebar. Entah kenapa, aku selalu ingin berada didekat Rega. Rasa nyaman yang dia berikan dua minggu ini membuatku ketagihan.
"Udah sarapan?."
"Udah, kamu?."
"Hm."
Rega mendudukkan dirinya disisi brankar. Hari ini, wajah itu terlihat berseri. Dan lagi, senyumku mengembang sempurna. "Kenapa senyum-senyum?."
"Enggak," balasku menggeleng.
"Hari ini ada kegiatan?."
"Eemm nggak ada sih," sahutku lesu. Apa yang bisa diharapkan di rumah sakit ini selain berbaring diatas brankar?.
"Kalau...Bang Yogi?."
"Kayaknya nggak ke sini deh."
Hening. Menit berikutnya suara Rega membuat bibirku melengkung ke atas. Dia, benar-benar malaikat yang tak pernah kusangka kehadirannya, sampai detik ini.
"Mau ketaman sambil baca novel?."
"AAHHHH MAAUUUUU..."
Rega memutar bola matanya.
Sudah hampir tiga jam kami hanya duduk ditaman. Lebih tepatnya, aku asyik membaca Novel yang dibelikan Rega lewat tante Farah. Sedangkan sosok disebelahku sedari tadi hanya diam, entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Biasanya, dia suka sekali menggangguku ketika sedang asyik dengan dunia haluku. Namun, kali ini dia hanya sesekali menatapku dari samping...lalu kembali mengarahkan pandangannya kedepan.
Kali ini, dari ekor mataku...aku bisa melihatnya menatap ku begitu lama. Dan...ada setetes air yang keluar dari sudut matanya. Spontan aku menoleh...tatapan kami bertemu, namun dengan segera dia berpaling dan mengahapus bekas air matanya itu. Apa yang kulihat itu benar? Rega menangis dalam diam didepan ku?
"Re..rega-."
"Mau ke kantin? Gue traktir pie kesukaan lo...gimana?," potongnya cepat. Senyum lebar itu masih bisa kulihat, tapi...jauh dilubuk sana, ada luka yang teramat dalam.
"Kenapa?," satu kata yang tak pernah aku tanyakan....Dan yang selalu ditanyakan Rega untuk ku.
Rega diam. Kembali menatap lurus kedepan.
"Aku tanya kenapa, Rega?!."
Rega menoleh, menunjukkan senyuman yang kini berubah menyayat hatiku. Perih, seakan aku bisa merasakan apa yang dia rasakan. "Are you oke?."
"Oke, sekarang ke kantin ya? Gue borong semua pie-nya buat lo, hm?!."
"Aku nggak butuh itu Ga..."
"....Ada yang kamu sembunyi-in kan?."
"Hah, sembunyi-in apa sih? Nggak ada."
"Bener?."
"Iya Nara yang paling gemoyy nggak ada," balasnya mencubit kedua pipi ku. Dasar, kalau tidak pipi ya hidung yang menjadi sasaran kejahilanya.
"Sakit Rega iihhh!."
Setelah selesai memborong semua pie yang ada di kantin...Aku dan Rega kembali kemar inapku. Hari ini, aku tak menemukan keberadaan tante Farah disekitar. Biasanya jika hari minggu, tante Farah dan Om Reno pasti datang. Entahlah.
"Habisin!."
"Iya, bawel."
"Ra."
"Hm?."
Sepuluh detik terlewatkan begitu saja. Dan aku, masih setia menunggu Rega melanjutkan ucapannya.
"Kebiasaan ihh...kalau mau ngomong-ngomong aja! Jangan dipotong, bikin penasaran tahu nggak," dumelku susah payah karena pie yang menyumpal didalam mulut.
"Ditelen dulu...keselek baru tahu rasa."
"Ck, udah apaan?!."
Rega tersenyum tipis sebelum membuka suaranya. Bersamaan dengan detak jantungku yang mendadak menggila.
"Gue mau ke Singapure."
Pie yang masih kugenggam kini perlahan jatuh diatas ranjang. Tatapanku seakan terkunci dengan tatapan teduh Rega. Lidahku terasa kelu. Ada rasa tak nyaman didalam sana. Waktu seakan berhenti detik itu juga.
"Gue dapat donor jantung."
"Kapan?," hanya itu yang bisa keluar dengan cepat dari mulutku.
"Besok."
Setetes buliran yang tak kusadari jatuh begitu saja tanpa bisa ku cegah. Aku memalingkan wajah, tak sanggup lagi memandangi wajah Rega yang seakan menambah rasa sesak. Besok? Secepat itu.
"Ra-."
"Aku seneng banget kamu bisa dapat donor jantung," balasku cepat tanpa menatapnya. Menduduk dengan rematan tangan yang semakin kuat, berusaha tak kutumpahkan semuanya didepan Rega. Aku tahu, seberapa besar perjuangan Rega mendapatkan pendonor selama ini.
"Selamat Ga, aku doain semuanya lancar."
Tubuhku seketika luruh dalam dekapan Rega. Menggigit bibir dalam-dalam nyatanya tak membuat air mataku berhenti. Aku semakin terisak dalam pelukan hangat yang selama ini Rega berikan.
"Maaf, Ra."
Aku menggeleng. Semakin memeluknya erat. Sungguh, aku senang Rega mendapat donor jantung...tapi, di sisi lain ada hati yang menangis. Ditinggal oleh sang pemilik rumah yang selama ini ia tinggali.
"Gue selalu disini, Ra. Gue nggak bakal ninggalin lo sendiri."
"Gue bakal ada disisi lo, meski kehadiran gue nanti...nggak nyata."
Tangisku semakin kencang. Rega, kalau boleh jujur...hanya kamu yang aku punya saat ini. Tapi kenapa, caramu berpamitan seakan pergi untuk selamanya? Sakit. Sakit Ga.
"Nggak lama kok Ra..."
"....Cuma dua sampai tiga bulan aja."
"Cu..cuma kamu bilang?...kalau aku udah nggak ada-."
"Ssuutt...Nggak boleh ngomong gitu," potong Rega menempelkan jari telunjuknya kebibirku.
"Jangan lama-lama Ga," balasku sesenggukan.
"Nggak lama Ra, dua bulan aja."
Aku mengangkat jari kelingkingku. "Janji?!."
Rega tersenyum lebar, menautkan jari kelingkingnya. "Janji."
.
.
.
Sudah satu bulan Rega meninggalkan Negara ini. Dan satu bulan juga aku keluar dari penjara itu. Rasanya sangat berbeda, hari demi hari terasa hambar. Semangat hidupku pun tak lagi sama seperti adanya Rega. Berat badanku juga merosot drastis. Tinggal menghitung waktu, kapan tuhan memanggilku. Hari ini, tepat hari ulang tahun Rega yang Ke Dua puluh. Ingin sekali memberi ucapan selamat kepadanya, namun nomornya tidak aktif sejak dia ke singapure.
Tuhan, apa boleh aku minta satu hal?...Tolong, beri kesempatan aku untuk bertahan. Hanya sampai aku kembali bertemu dengannya. Menghabiskan waktu bersama, menemaniku membaca novel, menghabiskan sepuluh pie, menonton drakor bersama. Masih banyak lagi, tuhan. Aku mohon, bawa dia kembali.
"Nara."
Deg
"Re..rega?."
Aku tidak sedang berhalusinasi kan? Dia, dia ada disini?
"Apa kabar?."
Plak
"Awwhh," ringisku. Ini, nyata. Aku tidak mimpi.
"Hahhaaaa lo nggak lagi mimpi Ra...Ini bener gue, Rega anandito," ujarnya begitu lantang.
Dibawah sinar bulan hari ini, didepan rumahku...Aku kembali menemukan tempat pulangku. Tanpa pikir panjang segera aku menghambur ke dalam pelukannya. Pelukan yang selama ini aku rindu, sekarang sudah sampai dititik temu.
"Aku kangen banget Ga," ujarku yang masih memeluknya erat. Tidak ada hangat yang kurasa, tubuh Rega kali ini terasa begitu dingin.
"Gue juga, Ra."
Aku melepas pelukan kami. Menatap wajah itu dalam-dalam. "Are you oke, Ga?..."
"....wajah kamu kenapa pucat, badan kamu juga dingin banget?," ujarku panik. Rega membalas dengan senyuman sembari mengelus puncak kepalaku.
"Masih dalam fase pemulihan. Tapi oke kok."
"Hahh?? Terus kenapa disini? Kok boleh pulang sih? Katanya dua bulan gimana sih Ga? Nanti kalau kamu kenapa napa gimana? Kok malah keluyuran, nggak istirahat aja hah??."
"Awwhh awhhh awhhhh sakit Ga..lepas!."
Aku mengusap hidungku yang terasa panas. Masih sama, Rega yang suka menganiyaya hidungku.
"Dasar Bawelnya nggak hilang-hilang!."
"Jawab Rega!."
Rega membuang napas kasar. Lalu menarikku keluar halaman. "Udah nanti aku jelasin, sekarang masuk!," ujarnya membukakan pintu mobil. Baru saja ingin protes, tubuhku didorong olehnya sampai benar-benar duduk dengan tenang.
Selama perjalanan aku terus memojokkannya agar dia mau cerita, tapi yang kudapat hanya sebuah deheman berulangkali.
"Tahu ahh," kesal ku memalingkan wajah keluar jendela. Mengamati suasana malam yang padat akan kendaraan beroda dua.
"Dari pada nanya kenapa gue udah ada disini...kenapa nggak nanya keadaan gue aja, Ra?."
Aku tertegun. Menoleh kearah Rega sesaat.
"Sorry," sahutku lirih. Benar, aku merasa menyesal sekarang. Bodoh, kenapa tidak menanyakan keadaannya setelah menjalani operasi besar itu sih?.
Rega terkekeh. Menjulurkan tangannya untuk mengacak acak rambutku sekali lagi. Uhhh sangat kekanakan. "Gi..gimana operasinya?."
Rega teridam. Tak menjawab pertanyaanku. "Udah sampe, yuk turun!."
"Hah?," aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Pantai? Rega mengajakku ke pantai?
"Ga ngapain ke pantai?."
"Udah ayo!."
"Ihh Rega," teriakku kesal saat dia beranjak meninggalkanku yang masih loading. Yang benar saja, tiba-tiba nongol langsung ngajak jalan ke pantai tanpa cerita bagaimana dia selama ini di Singapure. Menyebalkan.
"Regaaa ihh tungguin!."
"Ck, lama banget jalan...kayak siput."
"Resek ya pulang-pulang dari Singapure!."
Rega tak menimpali, tetap berjalan entah mau kemana. Aku terus mengikuti langkahnya dari belakang, sesekali diam-diam tersenyum memandang punggung lebar itu masih bisa kuraih.
"Rega."
"Hm?."
Kini langkah kita sejajar. Berjalan ditepi pantai ditemani kemerlap lampion dari para pengunjung lain. "Jawab dulu, operasinya lancar kan? Kamu benar-benar udah sehat kan?."
Rega mengangguk sekali, membuatku memajukan bibir kedepan. Detik berikutnya bibirku tertarik membentuk bulan sabit tak kala Rega mengambil tanganku dalam genggamannya. "Terbangin lampion mau?,"tanyanya.
"Maauuuu....."
Wajah itu memancarkan raut penuh bahagia. Meski wajahnya terlihat pucat...dan itu, serasa mengganjal penglihatanku. Rega, seperti Rega yang dulu. Dan dari sorot matanya, seperti biasa...penuh rahasia.
"Kamu nulis apa Ga?," tanyaku melongok ke secarcik kertas yang mulai Rega gulung.
"Rahasia...."
"....Udah nulis belum?."
Aku menggeleng. "Bentar."
Hanya satu yang aku minta...Kalau tuhan ijinkan, aku mau...Rega selalu ada untukku. Kita berdua, selamanya. Rega untuk Nara. Nara untuk Rega.
"Udah."
Lampion ku dan Rega akhirnya melambung tinggi. Semoga, permintaan itu sampai ketempatnya.
"Selamat ulang tahun Rega," ujarku tersenyum lebar.
Rega menyambut senyumku begitu manis. "Lo tahu, kenapa gue ada disini?."
"Hah? Ke..kenapa?."
"Karena itu..."
"....Ucapan selamat ulang tahun, dari Nara."
Aku membulatkan mata sempurna. Karena...karena sebuah ucapan ulang tahun dia rela kesini dalam masa pemulihan?.
"Kamu-."
"Iya gue gila, Ra," potongnya sembari tertawa kecil.
"Ga, kamu-."
"Gue takut, kalau nggak bisa ketemu lo lagi Ra..."
"....Cuma dengan ucapan selamat ulang tahun aja dari lo, udah buat gue sembuh. Sekarang...gue udah tenang, kalau sewaktu waktu-."
Rega diam, tak melanjutkan ucapannya. Dan detik berikutnya, jantungku seakan dipompa begitu cepat. "Gue nggak bisa disini terus. Sakit, Nara."
"Maksud kamu apa Ga?."
CEETAARRRRR
Aku mendongak, menatap langit yang tiba-tiba menggelap. Setetes air hujan jatuh mengenai pipiku. Dan malam ini, bukan seperti malam yang indah bagiku. Perasaan aneh ini akan terjawab di hari esok.
"Kita pulang, ya?."
Aku mengangguk. Lagi, Rega menggenggam tanganku. Dan aku, tetap berada dibelakangnya. Menatap punggung itu tetap berada didepan mataku. Takut, rasa takut yang tak tahu datang dari mana kembali menyapa.
"Besok kamu sibuk nggak?," tanyaku setelah turun dari mobil.
"Ada apa?."
"Ya...Sibuk nggak?."
"Nggak tahu," balas Rega mengangkat bahunya.
"Kalau nggak si-."
"Masuk gih! Udah mau hujan nih," potong Rega.
"Yaudah hati-hati Ga."
Langkah ku terhenti tak kala panggilan dari Rega membuatku kembali memandangnya dari jauh.
"Semangat Nara!."
"Gue udah nepatin janji, i am comeback."
"Jangan lupa senyum....Aku sayang kamu, Nara."
.
.
.
Sudah ku bilang dari awal, bahwa Rega adalah malaikat yang tuhan turunkan untukku....dan, itu bersifat sementara. Iya, hanya saat aku terluka. Namun...setelah itu, dia pergi entah kemana. Setelah kabar gembira yang aku sampaikan kepadanya satu minggu lalu menguap begitu saja tanpa kehadiran raganya. Seharusnya, dia ada disini. Menemaniku kala beban berat dihidupku terangkat. Dikala sel-sel jahat itu telah terangkat dari tubuhku. Seharusnya aku merasa senang, seminggu setelah operasi hati, keadaanku berangsur membaik. Tapi nyatanya tidak. Serasa ada yang hilang. Rasanya hampa.
Pagi harinya, setelah Rega membuatku terpaku dihalaman rumah waktu itu...setelah dia membuatku terbang tinggi atas pernyataan konyolnya, dan hampir membuatku pingsan ditempat...esok harinya kabar mengejutkan kembali menyapa. Kabar bahwa pendonor hati yang cocok untukku sudah ada. Di situlah percakapan aku dan Rega terakhir kalinya.
"Ada apa Ra?," ujarnya dengan suara serak dari seberang telepon.
"Rega."
"Hm?."
"Reegaaa," panggilku lagi dengan senyum lebar yang tak bisa dia lihat. Pagi ini, pagi yang cerah...secerah perasaanku semalam. Setelah Rega-
"Iya Nara ada apa?," balasnya lirih.
"Kamu tahu nggak hari ini aku bahagiaaa banget."
"Bahagia kenapa?."
"Coba tebak," balasku antusias. Kudengar Rega menghela napas kasar. Aku bisa membayangkan wajah masamnya saat ini, yang selalu dia tunjukkan ketika kesal dengan tingkahku yang katanya suka kekanak kanakan.
"Eemm gara-gara kemarin malam gue-."
"Stop! Jangan dibahas, nggak asyik ihhh."
"Terus apa? Gue nggak punya banyak waktu Ra, lo mau ngomong apa?."
"Ihh mau kemana sih? Gaya banget nggak punya waktu, Rega sok sibuk," sarkasku memberenggut.
"Mau pergi, cepet mau bilang apa?."
"Oke oke! Emm itu..."
"...Aku udah dapat pendonor hati Regaaaa," teriakku. Tak terasa setetes cairan berhasil lolos dari kelopak mataku. Sungguh, hari yang sangat indah. Setelah ini, aku yakin...kita, aku dan Rega bisa menjalani hidup lebih baik lagi.
"Selamat Nara..."
"...Gue ikut bahagia."
Bibirku seketika melengkung kebawah mendengar balasan Rega yang tak menunjukkan ekspresi senang. "Apa-apaan itu? Cuma gitu doang hah? Kamu nggak seneng ya aku dapat pendonor hati?."
"Bukannya gitu Nara, gue seneng banget malah lo bisa lanjutin hidup tanpa harus jalanin kemo lagi."
"Ga-."
"Ra, gue bener-bener nggak punya banyak waktu," potong Rega, suaranya terdengar berat. Aku mengernyitkan alis ketika suara yang sangat kukenali samar-samar terdengar. Suara alat detak jantung.
"Ga, kamu...di rumah sakit?."
"Ra, bisa dengerin gue du..dulu?."
"I..iya."
Aku tidak tahu, kenapa ritme jantungku semakin tak beraturan setelah satu kata yang keluar dari mulut Rega.
"Maaf...."
Hening
"...Nggak usah cari gue lagi, ya."
"Rega-."
"Gue mau pindah Ra."
Cukup lama kita hanya saling diam. Lagi, dia selalu bisa membuatku terbang tinggi lalu jatuh di detik itu. "Kenapa, kenapa harus pindah Ga?."
"Ra-."
"Pindah kemana?," potongku.
"Jauh."
"Regaa pindah kemana?!," bentakku.
"Nanti lo juga tahu. Oh ya, gue punya satu nasihat buat lo..."
"....Semangat terus ya, jangan jadi Nara yang nekat kayak dulu, hm?."
"Tuh kan baru aja dibilangin jangan jadi Nara yang dulu, suka nangis...apaan tuh, hapus nggak air matanya?!."
Air mata sialan. Dengan kasar aku menghapus cairan yang terus jatuh ke pipiku. Rega, kenapa harus pergi disaat seperti ini?
"Hikkss jahat Regaaa jahaatttt...."
"Iya, gue tahu gue jahat."
"Hiksss...jangan pergi, Ga."
"Nggak bisa Nara."
Seperti itulah akhir ku dengan dia. Yang sampai saat ini masih ku nanti kehadirannya. Ditaman ini, taman rumah sakit yang sama...aku memandang jauh kedepan. Merasakan hadirnya yang selalu ada, disini. Disampingku.
"Kamu dimana Ga?."
Seperti kala itu, celotehannya dipagi hari yang tak kupahami kembali terlintas. Rega yang dengan bijaknya menasihatiku tentang perasaan...bahkan dirinya sendiri gagal dalam bercinta. Aku rindu masa itu, Rega. Rindu disaat kamu menemaniku membaca novel ditaman ini.
"Aku kangen, Ga. Kamu tahu...semua sama aja, nggak ada yang peduli sama aku. Termasuk kamu."
Dan ya, masih seperti dulu. Pie kesukaan ku tersaji diatas meja ruang inap. Entah siapa yang menaruhnya disana. Yang pasti bukan para suster atau dokter, karena mereka mengaku sendiri waktu beberapa hari lalu aku tanyai. Apa mungkin, Rega. Tapi, kenapa harus bermain dejavu seperti ini?
"Apa ini dari kamu, Ga?."
.
.
.
Setahun sudah aku menjalani hidup tanpa adanya kabar dari Rega. Cowok yang sampai saat ini ada dalam bayang-bayang hidupku. Ingin rasanya memaki takdir yang selalu mencampur adukkan rasa suka bersama duka dalam sepaket.
"Ini kak bunganya."
"Ah iya makasih dek, berapa?."
"Sepuluh ribu."
Aku mengeluarkan nominal uang yang di beri tahu si adik penjual bunga. Setelahnya, langkah kaki membawaku memasukki jejeran gundukan tanah yang tersusun rapi. Hari ini, tepat ulang tahun Rega..aku ingin menceritakan semua tentangnya kepada nenek. Dulu, sebelum Rega pergi...aku pernah punya satu keinginan untuk mengenalkan Rega kepada nenek. Rega yang sudah ku anggap sebagai rumah untuk pulang, namun kini sosoknya hanya serpihan kenangan yang hanya bisa aku kenang.
"Nara datang Nek, maaf lama nggak ke sini."
"Oh ya nek, sekarang Nara-."
Ucapanku terhenti saat sosok yang kukenali melewatiku bersama beberapa orang dibelakangnya. Berhenti didepan sebuah makam yang tak jauh dari tempatku sekarang. Tak kusangka dia menangkap pandanganku yang masih mengarah padanya. Ada getar tak biasa ketika raut wajahnya berubah tegang.
Entah kenapa naluriku mengajak untuk mendekat. Langkah demi langkah, hingga jarak antara kami terkikis...aku bisa melihat wajah pemuda gembul itu semakin gelisah. Dan, tiga orang lainnya menatapku asing.
"Hai," sapaku tersenyum kecil. Kutatap satu persatu mereka....dan, yang terakhir netraku menatap batu nisan itu-
Lemas, tubuhku luruh. Lagi, dia membuat kejutan besar yang tak pernah bisa aku bayangkan.
"Na..nara," panggil pemuda yang sampai saat ini tak bisa ku ingat namanya. Berjongkok disampingku sembari mengelus punggungku. Bukan itu yang kubutuhkan sekarang, bukan.
Tuhan, ternyata benar. Kau lah pengatur rencana terbaik sebaik baiknya umatmu berencana.
"Ke..kenapa? Ini..bukan dia, kan?."
Anggukan juga tetesan air mata dari sosok disampingku menghantam keras hatiku yang kembali sesak. Sakit.
"Jantungnya udah nggak bisa bertahan lagi. Semua yang dia bilang ke kamu itu bohong...."
"...Termasuk operasi jantung."
Kamu tahu Rega, satu hal yang belum aku pahami....yaitu kamu, kamu adalah pendusta handal yang pernah aku kenal. Sosok yang sampai kapanpun tak pernah bisa aku pahami.
"Dia..masih ada disini Ra. Di dalam tubuh mu, ada bagian dari hidupnya."
"AKU NGGAK BUTUH ITU...BUKAN HATI DIA YANG AKU BUTUH... BUKANN HIKSSS.."
"Aku tahu, hati aku rusak. Aku butuh pendonor hati...Tapi bukan harus hati kamu, Rega."
'Jantung aku udah rusak, Ra. Tinggal hitung mundur aja, sampai mana tubuh ini bisa bertahan.'
"Cuma sampai disini ya, Rega?."
.
.
.
♡ Hargai apa yang kamu miliki, sebelum itu menjadi apa yang pernah kamu miliki ♡
♡ Ada dua tipe manusia. Manusia yang tertawa karena bahagia. Dan manusia yang tertawa karena menutupi luka ♡
♡ Mereka hanyalah sahabat yang sama-sama hebat dalam menyembunyikan luka ♡
♡♡♡♡
JANGAN LUPA LIKE END KOMEN FRIENDSS♡
PANTAU TERUS, AKU BAKAL SERING BIKIN CERPEN BUAT KALIANNN🤗
SARAN GENRENYA JUGA BOLEH LOHH, YUK KOMENN MAU CERPEN KAYAK APA NIH?
SEE YOU NEXT NEW CERPEN👋