-- Seluruh latar dan karakter dalam cerita ini hanyalah fiksi --
"Hah? Kenapa aku bisa kalah!?"
Aku berteriak sedikit panik karena kaget.
Saat ini jam kosong. Kami berlima, semua anak laki-laki, bermain UNO dengan mengatur tempat duduk melingkar. Siapa yang kalah dalam permainan ini akan mendapatkan tantangan. Dan akulah orangnya.
"Sip, jadi sebaiknya kamu ngajak kencan perempuan."
"Kau bilang apa barusan?" kataku yang masih tidak ingin percaya.
"Tantangannya ajak satu anak cewek buat nge-date," jawab salah satu anak yang bermain denganku.
"Lebih tepatnya berlibur bersama di akhir pekan ini," timpal yang lain.
"Gak, gak, gak. Gak mau," kataku merengek.
"Hei, sudah kalah jangan kabur."
"Kalian sengaja, ya?" kataku, yang setelah selesai bermain menyesal karena ikut serta. Semua orang di kelas tahu kalau aku tidak bisa berbicara dengan perempuan. Lebih tepatnya canggung. Dan sekarang aku bingung harus bagaimana karena tantangan ini sangat membebani mentalku.
"Kalian sedang apa?"
Suara itu ... suara yang sangat kukenal. Namanya Claire. Dia anak perempuan yang lumayan populer di kelas karena cantik dan pintar. Dia juga pernah menolongku saat aku tersesat dalam perjalan pulang karena aku baru pindah ke kota ini. Dia bertanya pada orang-orang dan terus mengajakku berbicara sampai ke tujuanku, bahkan dia sempat membelikanku makanan sebagai hadiah pindahan, katanya. Waktu itu aku sangat terbantu. Siapa sangka kami satu sekolah, bahkan sekelas. Sejak itu aku selalu memperhatikannya walau kami tidak pernah berbincang satu kalipun di sekolah.
"Hei, Claire. Kami sedang mencarikan teman bermain untuk anak ini."
"Teman?" Dia memandang ke arah kami dengan heran.
"Sebenarnya dia mendapat dua tiket ke aquarium dari kenalan, tapi kami tidak bisa pergi dengannya," jawab salah satu anak di sebelahku.
"Apa kau akhir pekan senggang? Bagaimana kalau kau temani dia?"
"Hei, kalian--" Aku yang panik langsung dibungkam oleh salah satu anak yang duduk di sebelahku. Bisa-bisanya mereka berbohong semulus itu.
Claire terdiam, terlihat sedikit berpikir.
"Kalau akhir pekan rasanya tidak masalah," jawabnya.
Serius?
"Tapi, apa kamu yakin mau pergi berduaan dengan orang sepertiku? Kurasa lebih baik mengajak anak yang lain--"
"Anak ini akan sangat senang kalau kau pergi bersamanya! Tahu, 'kan, dia sedikit pemalu, jadi pergi dengan banyak orang yang tidak dikenal itu agak ...." kata salah satu anak.
"Baiklah," jawab Claire yang sedikit ragu. "Akhir pekan, akan kutunggu di depan jam taman kota jam sepuluh, oke?"
Aku menelan ludah. Melihatnya tersenyum seperti itu padaku membuat hatiku sedikit luluh.
"Dan kalian, sebaiknya cepat bereskan ini sebelum guru datang," katanya lagi. Sepertinya tujuan awal dia datang kemari karena mau menegur kami.
Setelah dia pergi, anak yang membungkam mulutku melepaskan tangannya. Akhirnya aku bisa bernapas sedikit lega, tapi ternyata tidak semudah yang kukira.
"Kalian gila, ya? Kenapa memintanya?" kataku. "Lagian dari mana juga aku punya tiket aquarium pemberian kenalan--"
Salah satu anak menyodorkan dua tiket ke aquarium padaku. Mereka menyeringai, menatapku dengan puas. Pasti mereka sudah merencanakan ini, aku yakin itu.
Kemudian bel berbunyi dan jantungku berdetak tak karuan menunggu datangnya akhir pekan.
--
Hari Minggu, jam sepuluh kurang.
Aku berlari ke arah taman kota. Mataku menyapu pandangan sekitar, melihat apakah Claire sudah datang. Dan benar saja, dia berada di depan jam yang ada di sana sambil menungguku. Saat mata kami bertemu, dia tersenyum.
"Ah, maaf ... aku terlambat," kataku dengan suara agak lirih. Aku harap aku tidak terlihat terlalu gugup karena melihatnya yang memakai baju kasual. Dia terlihat sangat manis.
"Enggak, kok. Aku yang datang terlalu cepat," balasnya. Kemudian dia menyodorkan satu gelas kopi ke arahku.
"Hari ini dingin, ya," katanya. "Tadi aku membeli ini sebentar karena kupikir ini bisa menghangatkan kita."
Di hadapanku ... ada malaikat?
"Terima kasih," kataku sembari menerima kopi yang ada di genggamannya.
"Kalau begitu, ayo jalan."
Sesampainya kami di dalam aquarium, mata Claire berbinar.
Cahaya redup yang digantikan oleh ikan-ikan menari di sepanjang kami berjalan membuat suasana hati kami sedikit bersemangat. Kilauan birunya memantul ke arah Claire dan dia seperti dicahayai oleh sesuatu.
"Lihat! Ikan yang besar sekali!"
Dia tertawa kecil, melihat dengan heran ikan-ikan yang berenang. Baru pertama kali aku melihatnya seperti ini. Aku pernah ke aquarium sebelumnya, tapi suasananya beda sekali.
"Hei, kamu tahu, tidak," katanya seperti memanggilku.
"Sebenarnya aku belum pernah ke aquarium. Aku bersyukur kamu mengajakku ke sini," katanya lagi. Lalu dia berbalik, tersenyum kepadaku.
Bagaimana caraku memberitahunya bahwa ini semua sebenarnya tantangan untukku karena kalah saat bermain UNO?
"Sebenarnya aku sudah tahu, kok," katanya lagi.
Hm? Tahu masalah apa?
"Kalau kamu kena tantangan harus pergi denganku kemari," tambahnya.
Aku menundukkan kepala, tidak bisa menatapnya. Rasanya aku sudah memperalatnya sebagai bahan tantangan.
"Maaf," kataku.
Dia menggeleng. "Justru aku yang minta maaf. Kamu pasti tidak suka ke sini bersamaku, 'kan?"
Eh?
"Aku tidak pernah berpikir begitu," kataku.
"Loh? Tapi ... setiap kali aku mengajakmu berbicara, kamu selalu mengalihkan pandangan."
Itu karena aku canggung berbicara dengan orang yang kusuka!
"Serius, aku tidak membencimu," kataku lagi.
Dia mengedipkan mata, kemudian tertawa.
"Syukurlah. Kupikir kamu membenciku," katanya kemudian. "Ternyata aku salah paham."
"Mana mungkin aku membencimu. Justru aku menyukaimu--"
Ah. Bodohnya aku keceplosan di saat seperti ini. Aku harap dia tidak mendengarnya.
"Apa?" katanya. "Kalau kamu tidak membenciku lalu apa? Aku ingin tahu kelanjutannya."
"Enggak, itu--" Dengan gugup aku mengalihkan pandangan. Gawat. Siapa sangka dia tipe agresif seperti ini.
Kemudian terdengar pemberitahuan bahwa akan ada pertunjukkan lumba-lumba yang digelar di luar. Bagus. Ini kesempatan yang tepat untuk mengalihkan pembicaraan.
"Katanya ada pertunjukkan lumba-lumba, bagaimana kalau kita--"
Claire menarik tanganku. Pandangannya sangat lurus ke arahku dan membuatku sedikit gugup.
Di saat orang-orang mulai berjalan menuju tempat pertunjukkan lumba-lumba digelar, kami diam tanpa berkata apa-apa. Hanya tinggal kami berdua di sini.
"Claire?"
"Tolong. Biarkan aku mendengarkan kelanjutannya," katanya.
Aku menahan napas. Jantungku berdetak kencang sekali dan rasanya seperti mau mati.
"Aku ... menyukaimu." Aku mengalihkan pandangan darinya karena malu.
Claire masih diam dan menatapku dengan seksama. Kemudian dia tertawa dan menggenggam tanganku dengan erat.
"Aku juga," katanya.
Aku sedikit bingung. "Hah?"
"Apa kamu ingat pertemuan pertama kita? Saat itu kamu menolongku dari ajakan para preman jalanan."
Aku mencoba mengingat kembali pertemuan dengan Claire. Aku yang tersesat, lalu saat mengecek handphone ternyata baterainya habis. Kemudian aku berjalan ke gang, lalu menyambung ke gang lain, dan di sana ...
Ah. Aku bertemu dengan seorang gadis yang dikepung oleh beberapa lelaki. Saat itu aku tidak menyadari kalau dia dalam bahaya, dan aku bertanya jalan kepada mereka. Karena aku sangat capek, wajahku terlihat sangat menyeramkan bagi mereka.
"Ah ...." Aku mulai mengingatnya.
Claire tertawa. "Kalau kamu tidak datang menanyakan jalan, entah apa yang akan terjadi. Terima kasih banyak waktu itu. Dan sejak itu aku selalu memperhatikanmu."
Kalau memang begitu, maka itu menjelaskan kenapa saat aku melihatnya dia bisa merasakan tatapanku dan berbalik memandang ke arahku. Ternyata seperti itu.
"Kalau begitu, apa mulai sekarang kita pacaran?" Claire bertanya. Wajahnya terlihat manis sekali.
Aku mengangguk. Kami tertawa bersama. Lalu sambil bergandengan, kami berjalan menuju tempat pertunjukkan lumba-lumba.
Syukurlah aku bisa pergi ke aquarium dengannya hari ini.
FIN
---
Thumbnail source: https://www.pixiv.net/en/artworks/93595847