Jauh dari sini, aku memandang langit. Di langit yang biru, angin berhembus. Sejuk dan nyaman dibawah pohon dengan angin yang berhembus.
Tapi dalam lamunanku ada rasa yang hilang.
"Apa itu? Kenapa aku merasa sakit disini? Apa ada yang salah dengan diriku?," didalam hati Ais yang terdiam menghabus air mata.
saat Ais melamun dalam kesepiannya, ia mendengar suara yang sangat merdu. Tapi Ais tidak menemukan asal suara tersebut. Karena Ais tidak menemukan sumber suara yang merdu tersebut Ais. Kembali melihat langit yang indah dengan awan tibis yang berselimut imajinasi bentuk yang berbeda.
Tiba- tiba langit menjadi gelap, yang tadi cerah kini kembali gelap. Ais yang merasakan hawa dingin, kembali masuk ke dalam rumah. Belum sempat ia berdiri, hujan turun dengan deras. Tapi anehnya Ais tidak terkena air hujan. Tubuh Ais kering. Aus yang binggung berpikir dalam hati," Kenapa tubuhku tidak basah? Pohon saja kena tetesan air hujan?". Belum sempat ia mendapatkan jawaban. Ais mendengar suara syair yang begitu indah. Ais yang penasaran dengan suara tersebut, pergi meninggalkan tempat dia saat itu duduk.
Ais yang merasa aneh dengan kondisinya. Disetiap langkah Ais melangkah, ia tidak terkena tetesan air hujan. Seperti ada yang melindungi Ais.
Tidak lama kemudian Ais menemukan seorang yang berpakaian biru langit sedang bermain dengan tetesan air hujan. Sambil bersyair, Ais yang mendengar syair itu merasa tersentuh.
Tapi Ais tidak bisa mendekatai sosok laki- laki tersebut. Entah kenapa tubuh Ais seperti membeku. Ais yang ingin memanggil orang tersebut, tapi mulut Ais tidak bisa dibuka mulutnya.
Ais hanya terdiam mendengar alunan syair yang dibacakan oleh laki- laki tersebut. Ais yang memandang dengan teliti, sosok tersebut. Tapi entah kenapa Ais merasa kalau laki-laki tampat tersebut, bukan berasal dari desa Ais tinggal. Dia seperti pangeran yang turun melindungi Ais dari tetesan air hujan yang turun.
Tidak lama Ais memandang pangeran tampat itu, hujan berhenti turun. Dan seketika laki-laki tampan itu menghilang dari penglihatan Ais.
Ais yang terkejut, terdiam sesaat dan mencari laki-laki itu. Tapi Ais tidak menemukannya, ia hanya terdiam duduk melamut. dan berharap dia akan bisa bertemu dengan pangeran tampannya.
Tapi apa daya jika kita berdua beda dunia, kita tidak bisa bersama. Hati yang sakit, hanya bisa memandang dari jauh di langit yang sama. Tapi tida bisa bersatu dalam satu ikatan cinta yang suci.