Swoshh!
Sebuah bola basket masuk ke dalam ring dari kejauhan. Mengejutkan pandangan Shark , seorang pemuda yang berada duduk di bangku penonton. Pemuda itu mengangkat kelopak matanya, berkeliling mencari sosok penembak dalam kegelapan.
Tidak ada. Sosok itu terlihat tidak ada.
Dug!dug!dug!
Bola basket yang berada di bawah ring. Terangkat merangkak ke udara. Tiba-tiba terpantul-pantul mendekati Shark, dan mengejutkan seluruh inderanya. Dia duduk kaku seakan melihat bagaimana seorang teman lama menemui dirinya.
Tidak mampu berkata. Tenggorokannya tersumbat.
Perlahan sosok yang tidak terlihat menampakkan wujudnya yang terlihat transparan dengan setiap fitur wajah yang terlihat pucat bak putih kertas. Berkas-berkas sinar bulan seakan menunjukkan wujudnya. Yang terlihat tidak asing.
"Goonch?"
Sosok bernama Goonch mengangguk-angguk kepala. Lalu, tangan itu menangkap bola dan menembakkan kembali pada ring.
Swoshh!
Bola berhasil masuk lagi.
"Kau takut padaku?" tanya Goonch dengan suara serak. Dia mengulurkan tangannya, dan berkata, "Sekarang aku bukanlah pesaingmu lagi. Kau bukan lagi orang yang mampu aku sentuh dengan tinjuku. Begitupula aku, bukanlah sosok yang mampu kau injak lagi."
Shark mematung. Dia tidak mengulurkan tangannya. Membiarkan tangan Goonch menggantung di udara. Seluruh inderanya terkunci pada sosok teman baik yang telah menjadi transparan.
"Shark, kau masih tidak ingin berbaikan denganku?"
Shark membisu. Bersiap berdiri. Namun, dia kembali di dudukan oleh angin yang terlihat menjatuhkannya dengan cepat ke kursi.
"Aku hanya ingin berbaikan lagi, Shark. Aku datang terakhir kalinya untuk meminta maaf. Setelah itu, aku tidak akan pernah hadir lagi."
"Minta maaf untuk?" satu kalimat tanya akhirnya terlontar dari tenggorokan Shark.
"Mungkin kau telah melupakan apa yang telah aku lakukan padamu. Namun, aku tetap tak mampu pergi. Jika, tidak minta maaf dengan padamu."
Shark mengerutkan kening. Sepenuhnya, dia mencoba mengingat apa yang terjadi. Namun, dia telah melupakannya.
"Aku sudah lama meninggalkan peyembahan harga diriku. Jika seseorang bersalah padaku. Aku tidak akan pernah mengejar untuk minta maaf ataupun membalasnya. Jadi, pergilah dengan tenang," jawab Shark.
Goonch tersenyum dan berbisik, "Bisakah aku meminta padamu. Karena, hanya kau-lah teman terbaikku. Setelah kematian itu yang menyadarkanku. Aku percaya kau akan mampu melanjutkan mimpiku."
"Mimpi?"
"Jadilah penembak yang tepat pada ring lawanmu. Wujudkan jika kau mampu! Ambil bagian yang tak bisa aku ambil!"
Goonch menjauhkan posisi kepalanya berdiri angkuh dengan dagu terangkat, "Mimpiku adalah mimpimu. Bukankah kita satu pikiran. Satu tujuan. Satu kesukaan. Satu hati. Kau tau kan mimpiku yang belum terwujud."
Deg! Shark membius tajam seluruh atensinya. Karena, dirinya dan Goonch menyukai satu wanita yang sama.
Swosssh!
Satu bola basket kembali masuk ke dalam ring dengan tepat. Lalu, Goonch berbalik dan menunjukkan punggung yang berjalan menjauh, mengecil, dan menguap hilang dalam kegelapan.
=_= Tamat =_=