Kali ini aku mau menceritakan, masa lalu Keito di dunia tempat ia sebelumnya datang ke dunia pararel tempatnya sekarang.
MC/Protagonistku pada Housamo, ini lebih mirip sebagai OC yang di selipkan kedalam cerita di game.
Let's begin his history.
***
Keito di besarkan oleh seseorang pria penjaga kuil. Karena kepercayaan pria itu kepada dewa begitu fanatik, ia mengajarkan Keito agar mengfokuskan diri terhadap kepercayaannya itu. Membuatnya tidak dapat menikmati hal duniawi, karena pria itu mengajarkan bahwa dunia yang ia tempati bukanlah dunia yang abadi.
Di sekolah, ia tidak begitu banyak teman, karena murid-murid lain sering meledeknya sebagai dewa kematian. Hal itu di karenakan Keito selalu mengenakan kimono berwarna hitam saat berada di kuil. Dan murid-murid lain percaya bahwa Keito selalu diikuti oleh hantu kemanapun ia pergi.
Sepulang sekolah, Keito akan membantu pria yang membesarkannya mengurus kuil dan berdoa. Saat mengambil air di sumur, ia melihat banyak anak-anak bermain di halaman, yang berada di bawah kuil. Keito selalu berharap dapat merasakan hal-hal itu dapat terjadi pada dirinya, meski ia sangat sadar hal itu tidak akan pernah dapat ia rasakan.
Banyak juga anak-anak di kota saat ia pergi bersama pria yang merawatnya untuk berbelanja, membahas tentang hal-hal menarik, seperti komik, acara tv dan game. Keito tidak pernah mendapatkan itu. Bahkan jika ia ketahuan mendapati game terinstal pada handphonenya. Pria itu akan menghukum Keito. Dan berkata, "Dunia ini bukanlah tempat yang abadi, dan patut kita syukuri, ini adalah hukuman dari dewa sebagai arahan menuju dunia yang kekal."
Terus menerus hidup dalam mengisolasi dirinya dari dunia yang dapat ia lihat meski tak bisa di rasakan. Membuat Keito hari itu sepulang sekolah, tidak kembali ke kuil tempat ia tinggal. Ia hanya berjalan-jalan menelusuri kota Roppongi yang ramai malam itu.
Ia melihat handphonenya yang begitu banyak pesan dari pria yang merawatnya, karena hanya ada satu nomor yang ia simpan di dalamnya, menanyai keberadaannya, bahkan memiliki 76 panggilan masuk yang tidak ia jawab. Keito terus berjalan menelusuri kota, tanpa tahu ia harus pergi kemana. Ia sungguh merasakan dirinya kosong sekali.
Mengingat soal game, ia segera duduk di bangku tengah kota. Mendownload game pada handphonenya. Ia merasa begitu gugup dan penasaran, seperti apa rasanya bermain game. Saat game itu berhasil terinstal. Aneh baginya, game itu tidak bereaksi sama sekali. Ia terus menekan ikon game itu beberapa kali pada layar, tanpa di sadari ia berjalan menuju jalan raya dan tidak melihat lampu penyebrangan telah berwarna merah.
Kecelakaan terjadi disana. Keito melihat semua orang berkerumun. Merekamnya, tidak ada satupun yang membantunya mebawa ia pergi dari tempat ia terbaring. Ia berharap seseorang datang. Siapa saja, Ia merasa menyesal tidak mendengarkan ucapan pria yang merawatnya. Ia masih tergeletak dengan tubuh nyeri dan sulit untuk di gerakan, bahkan bernafas semakin sulit ia rasakan. Membuatnya begitu mengantuk, aneh dalam kondisi seperti ini. Keito jelas tidak sadar bahwa ia sedang mengalami pendarahan.
Segalanya gelap. Begitu sepi sekali, sunyi dan tidak lagi ada suara keramaian.
Saat terbangun, Keito berada di sebuah asrama Roppongi Academy yang tidak asing baginya. Cait Sith berada disana masih tertidur di sampingnya. Ia merasa habis mimpi buruk, meski tidak mengingatnya. Aizen seperti biasa sudah mendobrak pintu dan meniupkan peluit untuk membangunkan murid-murid di asrama.
Keito mencoba mengingat-ingat mimpinya semalam, walau hal itu tidak berhasil. Ia masih tidak tahu kenangan apa yang terjadi pada dunia sebelumnya ia datang kemari. Apa ia harus berusaha atau ia harus mempasrahkan diri untuk tinggal disini. Sekarang baginya adalah, ia bersyukur dapat menikmati hidupnya bersama Cait Sith, Ose dan Horus. Mungkin Aizen akan masuk hitung juga.
Selesai
***
Kuharap ini bukan cerita cerpen terakhir tentang Housamu yang ku buat. Aku jujur menikmati juga menulis cerita ini, mungkin ini adalah tulisan favoritku sendiri belakangan ini setelah The Hogwarts Tales hehehe.
Aku berterima kasih banyak, untuk yang sudah membaca tulisanku.