"Rena, hari ini makan siang bareng yuk." Viki menawarkan dengan senyuman lebar seperti biasanya.
'Duh, jangan senyum kayak gitu dong. Aku kan jadi dag dig dug.' keluh Rena dalam hati. "Ok deh, makan dimana?" Rena menerima ajakan itu dengan senang hati.
"Tempat biasa ya."
"Sip!" jawab Rena sambil mengacungkan jempol.
Pemuda berkemeja biru muda itu segera berlalu meninggalkan meja kerja Rena. Tatapan sendu penuh harap dari si gadis berkaca mata itu mengantar kepergiannya.
Viki dan Rena bekerja pada sebuah perusahaan yang sama, mereka telah bersahabat sejak SMP walau sebenarnya usia Viki lebih tua 2 tahun. Tena pernah bertanya, kenapa Viki bisa sekelas dengannya? Dengan senyum kikuk Viki menjawab karena nakal ia sering tidak naik kelas waktu SD. Saat mereka kelas 1 SMA, benih-benih cinta sudah mulai tumbuh di hati Rena sampai saat ini.
Apakah Viki mengetahuinya?
Tentu saja tidak. Rena pandai menyembunyikan perasaannya, bahkan sampai sekarang ia tidak memiliki kekasih. Sedang Viki, entah sudah berapa kali ia berganti pasangan.
Rena menunduk, ia segera menyelesaikan pekerjaannya agar dapat makan siang berdua dengan Viki.
***
"Vik, gimana sama misi mencari ayah kandungmu? Ada perkembangan?" tanya Rena dalam perjalanan pulang ke kantor setelah makan siang.
Viki tersenyum gembira sambil mengangguk. "Hari Sabtu kami akan bertemu. Hasil tes DNAnya sudah keluar dua hari yang lalu, dan cocok"
"Syukurlah kalau begitu."
"Kamu ikut ya."
"Maaf, nggak bisa. Aku juga ada acara keluarga."
"Sayang banget." Viki terlihat sangat kecewa.
"Sekali lagi maaf ya." Rena tak enak hati melihat raut kekecewaan pada wajah pemuda pemilik hatinya.
"Nggak apa-apa, nanti aku kirim foto-fotonya." wajah Viki kembali ceria.
***
Rena tengah bersiap-siap, ia bersama adik dan kedua orang tuanya akan pergi ke sebuah restoran untuk bertemu orang penting. Kata Papa orang tersebut adalah keluarga dekat, namun sudah lama tidak berjumpa.
Rena dan keluarganya tengah duduk di ruang VIP yang khusus dipesan oleh Papa. Sambil menunggu kedatangan keluarga yang dimaksud, Rena bermain game di ponselnya. Hingga pintu terbuka ia pun tak menyadarinya.
"Rena."
Suara seorang pria yang sangat dikenal oleh Rena membuat gadis berkacamata itu mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Viki?" Rena terkejut melihat sahabatnya itu datang.
"Kalian sudah saling kenal?" Papa Rena mengernyit.
"Kami sudah bersahabat sejak SMP, dan sekarang kerja di perusahaan yang sama, Pa." jelas Rena.
"Mari duduk dulu." ajak Mama pada Viki. "Dan ini siapa?" tanya Mama pada seorang gadis yang berdiri di brlakang Viki.
"Oh, ini calon istri saya."
Deg
Rena terkejut, hal ini memang bukan pertama kalinya Viki mengenalkan seorang gadis. Namun biasanya Viki hanya bilang pacar, bukan calon istri. Rasa sakit mendera dadanya, kali ini Rena sudah tidak punya harapan.
Semua berkenalan dengan gadis cantik itu, termasuk Rena. Sinta, itulah nama gadis yang akan mendampingi Viki sampai maut memisahkan mereka.
Setelah semua duduk, Papa mulai berbicara. "Rena, Sari, Papa sama Mama mau mengenalkan kalian pada anggota keluarga kita. Sebelum bertemu Mama kalian, Papa pernah menikah. Namun karena saat itu pekerjaan Papa masih serabutan, mertua Papa memisahkan Papa dengan istri pertama Papa."
Perasaan Rena tidak menentu, hatinya berontak dan ingin segera lari dari tempat itu.
"Viki adalah anak dari istri pertama Papa." dengan santai dan tanpa beban Papa menceritakannya. Dan Mama pun teelihat bahagia, sepertinya Papa sudah memberi tahu terlebih dahulu. Apalagi Mama juga sangat ingin mempunyai anak laki-laki.
"Akhirnya, Mama punya anak laki-laki." ucap Mama penuh kebahagiaan. Untuk menjaga suasana tidak menjadi canggung dan Mama sedih, Rena pun bersandiwara jika ia baik-baik saja. Jika ia masuk nominasi piala Oscar, pasti ia akan mendapat piala kategori aktris terbaik.
Akhir pekan yang berat untuk Rena, dua kabar yang bagi anggota keluarga lain adalah kabar bahagia. Namun bagi dirinya itu adalah kabar duka.
9 tahun memendam perasaan, saat ia sudah berencana untuk mengutarakan, kenyataan pahit sudah menghadang. Sekalioun tidak ada Sinta diantara ia dan Viki, tetap saja Rena tak bisa memiliki Viki. Karena pemuda adalah putra Papanya, Kakak tiri Rena.