Beberapa belas tahun yang lalu, saat aku masih mengenakan seragam putih biru, walau lebih tepatnya oranye putih. Begitulah warna seragam sekolahku.
Awal masuk sekolah menengah pertamaku agak kurang menyenangkan. Karena diikuti oleh masa puber, depresi dan transisi menjadi remaja. Membuatku lebih memilih menjauhi diri dari sosialisasi di sekolah. Meski demikian, pasti ada satu atau dua teman sekelas yang membawa diriku untuk berbaur dengan murid-murid lain. Hingga aku akhirnya bisa bergaul dengan hampir semua murid satu angkatanku, meski berbeda kelas.
Ada satu guru di sekolahku yang aku kagumi, pertama kali aku melihatnya saat di aula sekolah, di mana tempat mading berada. Kadang saat baru datang ke sekolah, aku sering melihat mading. Karena di mading suka terpampang perlombaan dengan hadiah menarik, jadi ya, anggaplah seorang event hunter pada usia dini, hahaha. Guru yang ku sukai datang pagi itu, menyapaku dan murid lain yang berada di sana. Ia di kenal pribadi yang ramah namun tegas.
Hingga akhirnya, aku mendapatkan kelas yang diajar olehnya. Betapa senangnya sampai sulit diungkapkan dengan kata-kata. Selama jam pelajarannya. Yang kuperhatikan bukanlah materi pelajaran yang beliau sedang terangkan. Melainkan aku hanya memandangi dirinya menjelaskan materi. Tidak hanya itu, aku juga sering menggambar wajahnya pada buku tulisku di bagian belakang. Dan saat sampai di rumah, gambar yang ku gambar di sekolah sebelumnya, akan ku pandangi lagi sebelum tidur. Bahkan hampir aku berfikir, bahwa ketertarikanku kepadanya seperti obsesi.
Pada hari kamis selanjutnya, beberapa murid laki-laki terkena hukuman dari guru yang kusukai, karena tidak mengerjakan PR. Mereka diminta untuk berdiri hormat di depan tiang bendera, hukuman klasik, ya? Meski ia kembali mengajar di kelas, tak jarang ia kembali ke halam sekolah, memperhatikan murid sekelasku yang dihukum. Aku melihat dari balik jendela kelas, guruku sambil memperhatikan para murid yang di hukum, terkadang mereka terlihat juga saling mengobrol tertawa-tawa. Rasa iri hati mengisi hatiku.
Minggu setelahnya, aku tidak mengerjakan tugas PRku, berharap agar mendapatkan hukuman darinya. Akhirnya aku diminta olehnya hormat kepada bendera di halaman sekolah, sendirian hahaha. Guruku sering mondar-mandir memperhatikanku, bukannya menyesal, tetapi aku malah merasa senang. Ia penasaran sekali karena aku tidak mengerjakan PRku, aku tidak pernah telat dalam tugas sekolah, karena sesampainya di rumah aku selalu menyelasikan tugasku lebih awal, kenapa? Karena di rumah aku tidak memiliki begitu banyak aktifitas, jadi kuisi dengan itu semua.
Usai hukuman, guruku membawaku ke kantornya, tidak biasanya, tidak seperti murid-murid lain. Ternyata ia menduga, aku tidak mengerjakan tugasku karena aku sedang ada masalah di rumah. Aku menjelaskan, tidak ada masalah sama sekali, dalam hati aku berkata, "Aku ingin di hukum, karena agar bisa melihat guruku lebih jelas."
Saat pulang sekolah, guruku memanggilku, ia mengajakku untuk pulang bersama. Walau arah rumah kami berbeda arah, hanya sampai jalur tertentu lalu kami berpisah, menuju arah rumah masing-masing. Tetapi, aku senang sekali dapat jalan berdua dengannya. Saat malam dan tertidur, aku bahkan langsung memimpikannya, bisa memperhatikan ekspresi wajahnya lebih jelas.
Pagi itu di sekolah beberapa murid perempuan sedang asik berbincang tentang model yang kala itu trend di masanya, begitu juga aku. Aku memang menyukai mereka, meski aku tidak terlalu fanatik. Tidak untuk guruku, mungkin ya.
Aku ikut mengobrol bersama mereka di kelas pagi itu, sebelum kelas di mulai, membahas soal percintaan. Penjelasan yang membuatku kepikiran sepanjang hari adalah, "Bahwa tidak ada cinta yang tanpa alasan." Jelas teman sekelasku. Menurutku benar, jika kita rasional, pasti akan ada jawaban yang kita tidak sadari alasannya.
Aku berfikir selama berada di kelas, jam istirhat pertama, hingga jam istirahat kedua bertemu. Apa alasanku menyukai guruku. Setelah ku cerna matang-matang, ternyata karena dia adalah orang yang pintar, tegas dan perhatian. Sungguh, secara penampilan beliau terlihat biasa-biasa saja.
Selama masa sekolahku, yang ku lakukan ya, hanya seperti itu, menyukainya dalam diam. Hingga hal yang mungkin membuatku akan merasa merindukannya tiba. Acara kelulusan sekolah. Disana aku duduk di ruang auditorium yang diisi para murid, sementara para pengajar duduk di bagian depan. Aku hanya memandanginya dirinya dari belakang.
Usai acara kelulusan, kami semua berfoto bersama. Aku jujur sangat ingin menyimpan kenangan dapat berfoto bersamanya, tetapi aku malu untuk memintanya. Akhirnya, hal itu tidak pernah terjadi, tidak ada kenangan berupa foto bersama guru yang ku sukai.
Bertahun-tahun berlalu, aku masih selalu mengingat guruku hingga aku duduk di bangku kuliah, semester satu. Teman-temanku setelah sekian lama, mengabariku, bahkan ada yang datang kerumah, mereka berencana mengadakan reuni sekolah tahun angkatanku. Mereka memintaku agar menjadi panitia, aku sibuk kala itu karena tugas kuliahku yang banyaknya bukan main, apa lagi beberapa material yang harus disediakan belum ku beli. Ya, aku tetap meniyakannya untuk dapat menjadi bagian dari panitia.
Kami bersama pergi menuju sekolah lama kami, aroma sekolahku terasa khas sekali, setelah sekian lama, membawa banyak kenangan. Nuansanya tidak ada yang berubah. Saat menuju kantor kepala sekolah untuk meminta izin mengadakan reuni di sekolah. Aku bertemu dengan guru yang kusukai. Tak jarang ia menyapaku dan memuji ini dan itu. Aku sempat berfikir bahwa ia mungkin lupa denganku, ternyata tidak. Aku senang bisa merasakan salim tangan dengannya lagi.
Pada tahun-tahun sebelumnya, aku sudah banyak memikirkannya, memcoba realistis, bahwa rasa sukaku pada guruku, bukanlah cinta, melainkan rasa kagum. Bahkan sampai sekarang aku masih mengingat wajahnya. Saat aku merasa terpuruk atau dalam kondisi yang tidak baik. Aku hanya perlu membayangkan dirinya, aneh memang, tapi saat membayangkan dirinya, aku bisa sedikit lebih tenang.
Tapi, apakah perasaan kagum dapat berubah menjadi cinta? Aku tidak terlalu mengerti faham tentang hal-hal seperti itu. Jika iya, aku berharap di kehidupan selanjutnya, dapat bertemu dengannya kembali. Dan bukan sebagai guru dan murid.
Agar aku bisa mengatakan seluruh isi hatiku, kepadanya.