"Kamu ke gereja, dia ke masjid. Kalian nggak bakal pernah bersatu." Kata-kata itu terus saja menjadi pengingat untukku.
Mengingatkan jika aku dan dirinya tidak bisa bersama. Ada pembatas tinggi di antara kami yang sangat sulit dilewati. Yang bisa kulakukan hanya memandangnya dari jauh. Banyak sekali perbedaan di antara kami.
"Tipe kayak Layla nggak bakal mau diajak pacaran," ucap salah seorang temanku kala itu.
Awalnya aku tidak paham mengapa Layla tidak berminat pacaran. Ternyata memang di agamanya melarang untuk berpacaran.
"Terus kalo nggak pacaran gimana?"
"Taaruf namanya. Kalo mau lo bisa taaruf sama Layla."
"Eh? Bisa?"
"Heh, jangan buat Carlos sesat."
Setelahnya aku mencari tahu tentang taaruf atau apalah itu. Aku membaca-baca artikel di internet. Kini aku paham dan ternyata jarak di antara kami makin terbentang.
"Carlos baru pulang?" tanya seseorang mengagetkanku ketika hendak membuka gerbang rumah.
"Oh? Layla, iya tadi kerja kelompok dulu soalnya."
Dia adalah Layla. Teman sekaligus tetangga paling dekat dengan rumah. Sejak SMP kami tidak satu sekolah, tapi kami dipertemukan kembali ketika kuliah. Kebetulan kami berada pada fakultas yang sama, tapi berbeda progam studi.
Keluarganya sangat baik, mereka sering menghantar makanan ke rumahku apabila ada acara keagamaan atau acara apapun itu. Walau aku dan Layla berteman dan bertetangga, kami tidak seakrab yang dibayangkan. Hanya sekedar bertegur sapa bila bertemu dan sepertinya hanya aku yang berharap lebih dari hubungan pertemanan ini.
"Bang, katanya Layla mau menikah, ya? Tapi dari sepengetahuan Mama, kayaknya Layla belum punya pacar."
"Mama denger cerita itu darimana?" tanyaku malas. Sebenarnya perkataan Mama mengusikku saat ini.
"Tadi ibunya Layla antar ini. Katanya akan ada tamu yang berkunjung, terus tadi Mama lihat tamunya itu cowok sama orang tuanya juga."
"Belum tentu juga itu tamunya Layla, siapa tau hanya saudara yang berkunjung."
Ya, aku hanya mencoba menghibur diri. Tentu mendengar kenyataan itu membuat sesuatu dalam dadaku berdenyut. Aku menjatuhkan diriku di tempat tidur. Pikiranku melalang buana, mengingat kembali memori-memori bersama dengan Layla.
Semasa SD dulu kami cukup sering bermain bersama. Namun makin dewasa entah bagaimana bermula, kami menjauh dengan sendirinya. Jarak itu tiba-tiba saja terbentang.
Aku menatap gelang yang kupakai, gelang pemberian Kakek sebelum beliau meninggal. Aku selalu memakai gelang ini, gelang dengan tanda salib kecil sebagai bandulnya. Lalu mataku beralih pada tanda salib yang terpasang di dinding kamar. Salib yang setiap hari kugunakan untuk berdoa dan meminta perlindungan pada Yesus.
Aku bangkit dari posisiku dan berjalan mendekati salib itu. Berdiri didepannya, kutangkupkan kedua tangan bersiap untuk berdoa.
"Tuhan, aku akan melepaskannya sekarang. Namun, apakah namanya masih boleh tersimpan dalam hatiku? Aku tau Tuhan kami berbeda, aku hanya tidak ingin melupakannya. Aku ingin dia berbahagia dengan hidupnya sekarang. Aku hanya ingin kebahagian untuknya. Tolong kabulkanlah doaku ini. Amin."
🍂🍂🍂