Bermula dari teks sederhana
Pertama kalinya Aku jatuh hati pada rasa kopi, adalah ketika Aku sedang menunggu keretaku di salah satu stasiun di Jakarta yang ramai penumpang.
Menunggu memang bukanlah sesuatu yang Aku sukai semenjak dulu. Tapi semenjak Aku mencicipi kopi buatannya, Aku pun rela menunggu lama hanya demi segelas kopi favoritku.
Hari ini, untuk ke sekian kalinya Aku kembali menginjakkan kakiku di Kedai Kopi ini, masih memesan kopi yang sama dan dilayani oleh Barista yang sama.
“Selamat datang kembali. Ada yang bisa Saya bantu untuk hari ini?” tanyanya dengan senyum yang sumringah.
“Seperti biasa, Caramel Frappucino tanpa whip cream ekstra es,” jawabku mantap dengan nada seriang mungkin seperti biasanya.
“Tidak mau coba Caramel Macchiato? Sekali-kali Kamu juga harus coba yang lain,” ujar Barista bernama Kenta itu. Aku menggeleng pelan dan dilanjutkan dengan anggukan mantap darinya.
“Jadi berapa semua?” tanyaku berulang-ulang kali setiap selesai memesan. Dan berulang-ulang kalinya juga Kenta itu menjawab
“Seperti biasa.”
Kemudian Aku mengeluarkan selembar uang kertas seratus ribu rupiah serta kartu member yang sudah mulai pudar gambarnya, karena terlalu sering Aku ambil dari dompetku.
Tak seberapa lama kemudian, Kenta kembali lagi ke hadapanku, sudah membawa segelas Caramel Frappucino milikku, memberikan sedotan hijau dan tissue dua lembar kepadaku, seperti biasanya.
Yang membuatku akhirnya jatuh hati pada kopi bukan hanya sekedar aroma dan rasa kopi yang dibuat oleh tangan seorang barista bernama Kenta tersebut. Tapi Aku juga jatuh hati pada setiap kata-kata yang Ia tulis di gelas plastik, seperti pagi ini.
Pagi ini pukul 5 pagi, Ia menulis rangkaian kata yang berhasil membuatku lebih semangat untuk melangkahkan kakiku menuju kantorku. Isinya kurang lebih seperti ini.
''Even if today is really hard for you, please remember that I will stay here until evening, waiting for you because I know you need my coffee after you had a bad day.
Smile. I love your smile. –Kenta''
Aku menyeruput kopiku lebih semangat lagi setelah membaca setiap kata-kata penyemangat dari Kenta setiap pagi.
Aku telah mengenal Kenta 6 bulan lamanya.
.
Seperti telah diatur oleh yang maha kuasa, sepulang Aku kerja, cuaca di Jakarta malam itu hujan deras dan akhirnya Aku harus menunggu lama.
Tapi setelah satu setengah jam Aku menunggu, hujan tidak berhenti juga. Dan saat itulah Aku bertemu kembali dengan Kenta.
Barista pertama yang membuatku jatuh cinta pada kopi, dan Barista pertama yang berhasil membuat hariku lebih semangat karena Ia menuliskan kalimat penyemangat di gelas plastik untuk kopiku.
“Mau ikut pulang dengan saya, ka Sharon?” tanyanya setelah kami mengobrol basa-basi sekitar 15 menit.
“Tidak usah, Saya akan menunggu hingga hujan reda saja,” jawabku waktu itu sambil mengangguk sopan.
“Tak apa Kak, lagipula sekarang sudah jam 11 malam. Bukannya anak gadis tidak boleh di luar rumah sendirian hingga larut malam?” ujarnya lagi yang membuatku terdiam dan meratapi nasib sendiri.
“Lagipula apartemen Saya juga searah dengan apartemen Kakak,” lanjutnya lagi, dan akhirnya Aku memutuskan untuk ikut setelah berpikir berulang-ulang kali, dan meyakinkan diriku sendiri, kalau Ia tidak akan berbuat macam-macam padaku.
.
Setelah beberapa kali Aku bertemu lagi dengannya, walaupun hanya kebetulan bertemu di jalan menuju Kompleks Apartemen kami masing-masing.
Sekarang Aku tahu, ternyata Kenta adalah salah satu teman dekat Kakakku sendiri. Aku tahu bukan langsung darinya, tapi Aku tahu, Ketika Aku mengantarkan Kakakku ke acara reuninya bersama teman-teman SMA nya, Aku bertemu dengan Kenta, dan kami mengobrol sedikit-sedikit.
Ternyata jarak umur kami hanya berbeda 3 tahun, tidak terlalu jauh. Ia bekerja di Kedai Kopi tersebut karena Dia memang ingin.
Orangtuanya sama sekali tidak tahu kalau anak kebanggaan mereka itu bekerja di Kedai Kopi tersebut. Kenta merupakan Mahasiswa Ekonomi di salah satu Universitas ternama di kota Jakarta, dan sedang menyelesaikan tesisnya yang tidak kunjung berakhir.
“Kamu sendiri sedang apa di sini?” tanyanya padaku waktu itu. Aku pun menjawab pertanyaannya sejujur-jujurnya, tanpa berbohong sedikitpun.
Kemudian Kakakku muncul, Ia berulang kali berkata, kalau Ia sama sekali tidak percaya Kenta bisa mengenalku.
Dari kedai kopi sederhana itulah akhirnya Aku dapat menjalin hubungan spesial dengan laki-laki bernama Kenta itu.
Dari keisengannya menulis kata-kata di gelas plastikku, akhirnya kami saling mengenal dan berakhir untuk menjalani hubungan yang cukup spesial di antara kami berdua.
°°°°°°°°