Kala itu air mengguyur basah tubuh ini, menerobos masuk ke sela-sela jemari kami, memberi kesan indah dalam suasana hati. Hujan malam itu membuat mata ini tak ingin berkedip meski sekejap, hanya untuk mendapatkan satu kesempatan indah bersama dengannya. Ulasan senyum sumringan yang aku dapati, seraya mempererat genggaman tangan ini, seolah tak ingin hujan ini berhenti. Setelah hujan mulai reda, baru aku sadar bahwa terang telah kembali. Butiran air tertinggal di kening kami begitu pula deraian air mengalir berjatuhan dari basahnya tubuh kami. Ku lepas pandangan bersembunyi di balik badan, memalingkan rasa bahagia malam ini. Namun, tanpa ku sadari dua tangan meraih pinggang ini dan sebuah dagu tertempel di pundak.
(Jadikan malam ini bahagia untuk mu sebab, esok hari akan terganti terang yang panjang.)
Sontak senyuman yang tadinya melebar menjadi kilasan menyakitkan.
(Bukankah terang pun kamu tetap di sisiku?) Aku pun berbalik lalu memandang wajah putus asanya. Aku tidak tau apa yang akan terjadi esok hari kepada hubungan kami, sampai bibir yang tadinya mengembang indah bungkam begitu saja. Mata bahagia yang baru saja ku lihat, menunduk tak berdaya.
(Entahlah...) suara nan lirih penuh keperihan.
Tak tau apa yang akan dia lakukan padaku setelah bahagia malam ini.
Aku menatap tajam matanya kemudian menggenggam tangannya. (Beri aku kejelasan...) Air mata berjatuhan, bercamur dengan sisa air hujan. Tatapan dalam nan rentan itu menjawab semua pertanyaan ku (Hubungan kita tidaklah mudah untuk jadi bahagia. Sebab, kamu dan aku terhalang jarak dan waktu.) Dia mengusap air mata ini lalu mencium keningku, memeluk erat tubuhku dan membawaku dalam kesedihan mendalam.
(Aku mampu mencintaimu dalam jarak dan waktu. Aku bisa menunggu sampai kapan pun kamu mau. Tapi jangan tinggalkan aku dan cinta kita...)
Senyumnya melebar pahit seraya membelakangiku.
(Maaf, tapi aku tidak bisa menjalin kisah jarak jauh seperti ini...) belum sempat dia berucap, lebih dulu ku bungkam mulutnya dengan pelukan hangat. (Jangan katakan itu, aku mohon....) lirihku di pundaknya. Air mata ini tak kunjung berhenti seolah mengerti betapa sakit hati.
Tanpa berkata apa pun, dia mulai melepasku.
Perlahan kakinya melangkah menjauhi ku dengan pandangan tertunduk.
(Meski kamu menghancurkan bahagia malam ini, tapi kamu tetap memberiku kehancuran...betapa jahatnya kamu.) Ingin aku menghardiknya sampai ku luapkan amarah ini tapi, dia tak mengjiraukan aku dan hanya melambaikan tangan lalu masuk ke beranjak pergi.
Arghhhhhhhh.......
Kedua kaki ini lemas seketika. Raga ini seolah tak bernyawa. Badan terasa bergetar dengan batulatan kepedihan.
SEKILAS PANDANG tubuhnya pun mulai menghilang.