Di pagi yang cukup cerah, matahari yang sudah bersinar terik di langit membuat Fany, gadis SMP itu terbangun dari tidurnya.
Fany segera merapikan tempat tidur nya dan pergi mandi lalu bersiap-siap ke sekolah dengan seragam yang sudah lengkap dan meminum secangkir susu dari kulkas.
"Bu, Fany berangkat duluan yah" ucap Fany pada ibunya.
"Sayang, kamu gak makan dulu? Nanti laper gimana?" tanya Bu Endar, ibu Fany.
"Enggak kok Bu, tadi aku udah minum secangkir susu di kulkas" seru Fany menyahut.
"Huftt, baiklah..ini uang jajan mu! Jika lapar kamu tinggal jajan di kantin aja ya, sayang" ucap Bu Endar.
"Iya Bu, makasih" ucap Fany mengangguk dan langsung bergegas pergi ke sekolah dengan supir ojol.
Sesampainya di sekolah...
Fany berlari ke kelasnya terburu-buru takut telat.
Krekk... Ia membuka pintu kelasnya.
BYURRR...air yang cukup banyak terkena Fany. Bajunya basah dan rambutnya berantakan tak karuan. Fany melihat ke arah atas, dan benar saja..itu adalah kelakuan Sisil dan temannya.
Karena nilai bagus yang selalu di dapat Fany, dan itu berbanding terbalik dengan nilai Sisil yang lebih rendah dan tidak pernah mendapat peringkat satu. Sisil selalu di marahi orang tuanya di rumah dan akhirnya ia membenci Fany dan merencanakan berbagai perbuatan jahat dan licik dengan teman geng nya.
"Sil, sebenernya masalah Lo sama gue apa sih? Lo selalu aja usil ke gue padahal gue gak pernah ngajak ribut sama Lo!" Ucap Fany kesal.
"Tentu saja semua ini salah Lo! Kalau Lo gak pindah sekolah kesini, mana mungkin mama gue marahin gue setiap harinya karena gak bisa ngalahin Lo!" sambar Sisil.
"Ya gak gini juga kali, Sil! Gue dari dulu nganggep Lo sahabat, tapi ini yang lo balas ke gue?" imbuh Fany.
Sisil terdiam dan pergi ke tempat duduknya, ia merenung sambil melihat ke arah jendela.
"Pagi anak-anak!" Sapa Bu Rini, wali kelas di kelas Fany.
"Pagi juga, Bu!" Jawab murid-murid serempak.
"Fany, kamu..kenapa baju kamu basah kayak gitu?" Tanya Bu Rini heran.
"Emm..ini Bu--" belum selesai berbicara, Sisil menyela omongan Fany.
"Bu, Fany tadi katanya saat lagi naik ojol motor jatuh ke dekat danau di sekitaran sini Bu, jadi basah gitu deh bajunya" jelas Sisil.
"Bener kan, guys?" Tanya Sisil pada BFF nya.
"Bener tuh Bu" ujar teman-teman nya.
"Fany, lain kali kalau kecebur danau atau semacamnya, kamu ganti baju dulu ya di WC! Nanti masuk angin dan dilihat guru lain gak enak" nasehat Bu Rini.
Fany sebenarnya ingin membantah ucapan Sisil, tapi ia tidak ingin ribut jadi memutuskan untuk diam.
"Fany, hari ini ada jam pelajaran olahraga kan? Kamu pakai baju olahraganya aja langsung, nanti ibu jelaskan alasannya pada Pak Rendi" ucap Bu Rini.
"Baik Bu, terima kasih" ucap Fany sedikit menunduk.
Fany pergi ke kamar mandi dan mengganti pakaian nya. Sementara Sisil beserta geng BFF nya tertawa gembira saat ini.
Fany yang sudah selesai berganti pakaian, segera kembali ke kelasnya dan mengikuti pembelajaran dengan baik.
Hingga tiba saatnya jam pelajaran olahraga..
"Anak-anak, kumpulkan PR catatan olahraga kalian ya!" Suruh Pak Rendi, guru olahraga.
Fany yang sudah yakin atas jawabannya langsung membuka tasnya untuk mengambil buku catatan olahraga. Tapi...dimana buku itu sekarang?
"Fany, kamu sudah mengerjakan?" tanya Pak Rendi.
"Sudah pak, tapi...di tas saya tidak ada catatan olahraga. Padahal, saya yakin tadi saya sudah menjadwal mapel hari ini dengan benar!" ucap Fany gugup.
"Jangan percaya pak! Paling itu cuman alasan biar dia gak dihukum!" sela Sisil.
"Bener pak" sahut geng Sisil.
"Fany, bapak percaya orang rajin seperti kamu gak mungkin lupa bawa PR! tapi, yang namanya hukuman tetap hukuman! Jika tidak mengerjakan PR, maka hukumannya harus mencatat macam-macam olahraga bola beserta penjelasannya! Eitss...tapi ini untuk PR saja ya, karena hari ini ada pelajaran yang lebih penting! Paham, Fany?" jelas Pak Rendi.
"Pa..paham pak.." jawab Fany.
Pelajaran pun dimulai. Tidak terasa, akhirnya sudah boleh pulang sekolah. Fany memesan ojol di handphone nya untuk mengantar dirinya sampai rumah.
Di rumah, tepatnya di kamar Fany..
"Huwaaa... Anis!!" Ucap Fany pada sambungan VC ( Video Call ) di hpnya.
"Duh duh, ini sahabat lucuku kenapa nih?" tanya Anis dari dalam telepon.
Anis, dia adalah sahabat terbaik bagi Fany. Dulu Fany, Anis, dan Sisil adalah sahabat dekat. Tapi karena orang tua Sisil yang memaksa Sisil harus belajar giat dan lebih baik dari yang lain membuat persahabatan mereka berantakan bahkan hancur.
"Nis, PR gue ilang tadi masaa... Gue yakin, tadi gue udah taruh di tas! Ishh" gerutu Fany.
"Eh emang kenapa bisa kayak gitu? Emang buku bisa jalan?" tanya Anis dari VC.
"Yaa makanya, gue yakin itu ulah Sisil dan temannya! Soalnya tadi gue juga disiram air seember padahal baru aja masuk kelas" kesal Fany.
"Emang tu anak, ga ada kapoknya bikin ribut! Oh ya Fan, gimana kalo kamu balas dendam aja?" tanya Anis.
"Eh, emang boleh kayak gitu?" tanya Fany.
"Yaa boleh aja sih kalau kamu udah terlalu tersakiti. Sini, gue kasih tau rencananya!" ucap Anis.
"Hum, oke" sahut Fany.
Setelah mengobrol cukup lama di VC, Fany mengerjakan tugas yang diperintahkan Pak Rendi tadi semalaman.
Esok harinya, di sekolah...
"Eh liat deh, tangan Sisil kok pada bengkak sih?" Ucap murid wanita yang suka ghibah.
"Iya tuh, pasti dipukulin mamanya lagi!" sahut temannya.
"Auhh.." lirih Sisil yang lalu pergi ke WC untuk memasang perban pada luka yang terdapat pada kakinya.
Kini, rencana balas dendam Fany dimulai tepat saat Sisil tidak berada di kelas! Sama seperti hal yang dilakukan Sisil pada Fany.
Hari ini, full pelajaran Bu Rini. Karena Bu Rini juga memberi cukup banyak PR dan diberi waktu 2 Minggu untuk menyelesaikan nya.
"Fany.." panggil Bu Rini.
"Ini Bu PR nya" ucap Fany yang langsung memberi tugas pekerjaan rumahnya.
"Ok sipp" ucap Bu Rini.
"Sisil..." Panggil Bu Rini.
"Se-sebentar Bu!" Ucap Sisil gugup.
"Kenapa nak?" Tanya Bu Rini pada Sisil.
"Bu..maaf buku PR saya hilang" ucap Sisil menunduk.
"Wih, masa bisa gitu sih Bu? Dia gak ngerjain PR kali.." gosip para murid disana.
"Apaan sih?! Orang buku PR ku hilang beneran kok" ucap Sisil.
"Eh ehh, tapi kan...hukuman tetap berlaku! Jadi, kamu tetap harus dihukum Sil! Ya kan, Bu?" Imbuh Fany.
"Benar kata Fany, Sisil, ambil soal-soal ini dan kerjakan di rumah nanti! Ibu beri waktu kamu hanya dua hari! Paham?" ucap Bu Rini.
"Paham Bu" ucap Sisil.
Sisil menunduk malu dan mengiyakan.
Hari-hari berlalu, sampai hari Ahad pun tiba...
"Fan, kita ke taman yuk hari ini" Ajak Anis dari sambungan telepon.
"Hum, ok" jawab Fany.
Fany dan Anis yang sudah janjian bertemu itupun pergi ke taman dan jalan-jalan disana sambil sesekali membeli beberapa jajanan.
"Hiks...ma..bukan begitu maksudku!" tangis gadis dari belakang tugu.
"Gak ada tapi-tapian! Kakak mu aja pinter masa kamu gak bisa kayak dia!" marah seorang wanita tua di sampingnya sambil memukuli anaknya.
"Nis, i..itu kan...Sisil!" ucap Fany pada Anis.
"Eh, kenapa anak manja itu ada disini?" sahut Anis.
"Nis, kayaknya dia lagi gak baik-baik aja! Kita harus samperin!" Ucap Fany.
"Eh...tapi Fan.." awalnya Anis menolak, tapi karena melihat Sisil yang terus dimarahi membuat ia iba dan kasihan pada mantan sahabat nya itu.
"Maaf Bu, udah cukup ya Bu!" Ujar Fany pada ibu Sisil.
"Oh, jadi kalian ini teman yang membuat anak saya jadi bodoh?!" ucap Bu Geena, ibu Sisil.
"Bu, jangan! Mereka gak ada hubungannya denganku!" sela Sisil.
"Jangan ngelawan saya, wanita jelek!" Hina Geena pada darah dagingnya sendiri.
"Bu, cukup! Disini banyak orang jadi jangan macam-macam Bu" ingat Fany pada Bu Geena.
"Benar Bu, mohon maaf tapi tempat ini bukan tempat untuk memarahi anak!" tegas Anis
Bu Geena terdiam dan pergi meninggalkan mereka begitu saja dengan bayinya.
"Sil, kamu...kamu baik-baik aja kan?" tanya Fany khawatir.
"Kenapa...kenapa kalian bantu aku!" tanya Sisil sedikit menangis.
"Sil, sesama manusia kan harus saling membantu, benar kan, Nis?" Ucap Fany.
"Iya Sil" ucap Anis tersenyum.
"Kenapa? Setelah hal yang aku lakukan pada kalian, tapi...kalian...hiks...maaf, maaf, aku terpaksa meninggalkan kalian!" tangis Sisil pecah.
"Sil..aku tahu! Kamu itu wanita kuat! Jadi bersabar dan jangan menangis ya!" ucap Fany seraya memeluk Sisil, begitupun Anis.
"Fany, se-sebenarnya...PR mu waktu itu.." Sisil gugup.
"Ya, aku sudah tahu" ucap Fany mengangguk.
"Lalu, apa PR ku itu ulah.." Sisil menghentikan omongannya.
"Ya, awalnya aku memang berniat untuk mengambil PR mu, tapi aku mengurungkan niatku dan hanya mengambil kembali PR yang kau sembunyikan kemarin. Aku yang merasa kesal juga ingin menyembunyikan PR mu, tapi tidak jadi." Jelas Fany.
"Lalu, siapa?" tanya Sisil.
"Emy, dia yang menyembunyikan PR mu, ia disuruh oleh Defara dan Aine. Buktinya sudah kurekam dan kuberikan pada Bu Rini!"
"Hah? Banyak banget pelakunya, Fan!" ucap Anis yang tidak percaya.
"Benar, dengarkan rekaman ini" sambungnya.
Ternyata memang benar, ketiga orang tersebut lah yang bersekongkol. Sisil menangis, kenapa? Karena Emy, Defara, dan Aine yang selama ini ia anggap teman ternyata menusuk dirinya dari belakang. Dan disamping lain, malah sahabat sejati yang ia tinggalkan sekarang adalah penghibur terbaik di tengah kesedihannya.
Persahabatan itu pun kembali, mereka menikmati hari yang tenang dan nyaman seperti biasanya. Sisil yang sudah tidak tahan dengan kelakuan ibunya memutuskan tinggal di rumah Fany. Setiap ada PR ataupun tugas, mereka selalu mengerjakan nya bersama.
Hubungan ketiga sahabat yang pernah hancur itupun kini kembali harmonis seperti dulu lagi❤️
❤️THE END...❤️