Suatu hari di tengah-tengah keramaian pasar.
"Kejar dia!" Segerombolan orang berlari mengejar seseorang.
"Jangan sampai lolos!"
Ada pula yang berteriak.
"Maling, maling!"
Pria lusuh itu terus berlari ke tempat yang jauh dan aman dari kejaran massa.
Ia terus saja berlari meski kaki kanannya terluka. Akibat terkena pecahan kaca. Alas kakinya putus ketika ia berlari kencang. Peluh membanjiri tubuhnya. Dadanya bergemuruh menahan takut yang tak terhingga.
"Tuhan selamatkan, aku." Batinnya memohon. Ia bersembunyi di gudang pengepul rongsokan. Ditangan kananya menggenggam erat sebuah dompet bewarna biru muda.
Deg!
Deg!
Suara jantungnya sendiri dapat ia dengar jelas ke telinganya.
Keringatnya menetesi kedua matanya. Begitu perih. Perlahan ia seka seraya menutup mulutnya dengan satu telapak kirinya.
"Kemana larinya tuh, orang?!"
"Bakar hidup-hidup kalau dapat. Maling jangan dikasih ampun."
"Kita cari ke sana saja, yuk!"
Sayup-sayup suara langkah kaki kian menjauh.
Fiuh!
Ia melepas napasnya dengan lega.
"Hampir saja aku mati," gerutunya. Sambil mengelus dada.
Ketakutannya mulai merenggang. Ia pun mengendap-endap untuk ke luar.
Baru beberapa langkah. Ia kepergok.
"Siapa kamu?!" Suara seseorang mengagetkannya. Berdiri tepat di depan pintu yang sedikit terbuka.
"Maaf. Saya numpang bersembunyi," jawabnya.
"Mau sembunyi atau mau maling?"
Sebelum laki-laki tambun itu mendekat ia berlari dan menabraknya.
Bruk!
"Hei!"
Dia terus berlari kencang dan sejauh mungkin. Setiap langkah kakinya terantuk kayu ataupun akar. Ia hanya merintih sambil berlari dan terus berlari.
Setelah beberapa kilo. Ia merasa aman lalu berhenti sejenak mengatur nafasnya yang memburu.
Dompet biru muda itu ia buka. Satu persatu resleting ia tarik hingga, memperlihatkan lembaran uang dan identitas diri.
Ada tiga lembar uang ratusan bewarna merah.
"Tidak cukup." Ia menghitung lembaran itu. Dan melempar dompet itu sejauh mungkin.
Andai saja istrinya--Tika tak menuntutnya. Mungkin ia tak dikejar-kejar oleh orang. Nyawanya, kini menjadi taruhan antara hidup dan mati.
Setelah itu ia tak ingat lagi. Beni terbangun di dalam jurang.
Ia berjalan beberapa meter. Kemudian menemukan kepala.
"Aaa!" Beni berteriak.
Ia terjatuh menghempaskan bokongnya ke tanah. Beni menyeret paksa tubuhnya agar menjauh dari potongan kepala itu. Beni seperti mengenalnya.
Lalu ia tak sengaja memegang sebuah tangan.
"Aaaa!" Ia kembali berteriak.
"Tolong, ada mayat di sini!"
"Hoek!" Beni memuntahkan isi perutnya.
Hati kecilnya berkata dan penasaran. Lalu, ia bangkit dan mencoba melihat siapa pemilik wajah di kepala tersebut.
Sedikit ragu ia balik.
"Astaga!"
Beni terjatuh.
"Kenapa wajahnya mirip denganku?" tanyanya. Wajahnya berubah pucat sepucat mayat.
"Kenapa!"
Beni menangis ia berusaha mengingat kembali kejadian sebelumnya.
Berusaha keras ia mengingat justru menyakitkan baginya.
"Aaaaaaakh!"
Ia berteriak kencang. Suaranya menggema alam tak kasat mata.
Lima jam sebelum pengejaran ....
"Mas Beni. Bangun!" Tika mengguncang tubuh Beni.
"Apa sih, Tik?!" Pria itu menatap kesal ke arah istrinya.
"Kerja. Jangan tidur aja," sungut Tika.
"Sabar. Aku ingin istirahat barang sehari."
"Apa dengan tidur bisa dapat uang, Mas?!" Tika merepet.
Beni laki-laki paruh baya yang pemalas. Bukan alasan tanpa sebab. Ia baru saja dipecat secara tak terhormat oleh perusahaan ternama.
Tika sang istri memiliki sifat boros layaknya wanita sosialita. Gaya selangit modal dengkul. Setiap hari kerjaannya ngomel dan menuntut uang banyak.
Beni pusing tujuh keliling. Ia tak bisa menyenangkan hati sang istri. Mau tak mau Beni terpaksa mencari kerjaan apa saja. Asalkan, menghasilkan uang. Terutama mencuri. Tak segan-segan Beni bertindak jahat dengan membunuh korbannya. Semua akan ia lakukan. Berharap istrinya senang.
Dengan bermodalkan nekat dan keberanian. Ia menekuni sebagai pencuri.
Nasib apes ia dikejar massa. Karena ketahuan mencuri dompet ibu-ibu yang tengah asik berbelanja.
Beni di kejar hingga ke desa sebelah, bersembunyi di gudang pengepul rongsokan. Apesnya lagi ia ketahuan sama pemiliknya. Ia pun di kejar sampai ke dalam kebun.
Akan tetapi, Beni berhasil lolos dari pengejaran. Ia pun membuka dompet itu kemudian membuangnya setelah mengambil isinya.
"Hoy! Ngapain itu?!" Seseorang orang berteriak.
Beni terkejut dan kemudian berlari sekuat tenaga. Sayangnya, Beni terperosok ke dalam jurang. Ia pun terjatuh dari ketinggian 12 meter tubuhnya terhempas di atas bebatuan.
Tubuh kurus itu hancur berkeping-keping. Satu potong tangan, tergeletak beberapa meter. Telapak tangannya menggenggam erat uang tiga ratus ribu. Merah berlumur darah.
Inilah akhir kisah si Beni pria malas. Demi menyenangkan Tika ia rela menjadi pencuri.