Di sebuah pertempuran untuk menguasai sebuah wilayah, terdapat pasukan besar yang dipimpin oleh seorang jenderal hebat yang memiliki banyak prestasi hebat di berbagai pertempuran.
Jenderal itu dibantu oleh seorang asisten yang lebih bijaksana dan pintar dari jenderal itu, dan jenderal itu bisa mendapatkan banyak sekali penghargaan berkat nasihat asistennya itu.
Di pertempuran kali ini, pasukan mereka mendapat bantuan dari kerajaan mereka berupa pasukan bantuan berkulit gelap dan mereka berasal dari kalangan budak, rakyat biasa, dan tawanan perang.
Pasukan jenderal itu tak menerima kedatangan pasukan bantuan itu karena harga diri mereka sebagai pasukan berkulit putih dan berasal dari keluarga yang cukup berada yang tak ingin bekerjasama dengan orang-orang bawahan, anggapan para kulit putih terhadap orang kulit gelap, seperti biasanya, orang kulit putih akan selalu merasa paling hebat.
Asisten itu memiliki sebuah rencana untuk menggunakan pasukan bantuan itu dalam pertempuran mereka.
“Jenderal, saya memiliki sebuah ide mengenai rencana kita selanjutnya...” asistennya berkata, “Bagaimana kalau kita menyatukan dua pasukan kita dan langsung menyerang musuh dari pertahanan terdepan mereka?”
Asistennya telah mengetahui dengan jelas rencana pasukan berkulit gelap. Pasukan itu akan menyerang dengan senjata seadanya dan para budak itu memiliki tubuh yang kuat, selain itu para tawanan perang tentunya memiliki lebih banyak pengalaman tentang perang dibandingkan pasukan kulit putih mereka yang kebanyakan tergolong pemula tentang perang, sebab itulah asisten berencana menggunakan tubuh kuat para budak itu untuk barisan depan dan sisanya mendapatkan senjata yang lebih baik lagi.
“Aku sudah memiliki rencana, dengan membagi pasukan menjadi empat pasukan lebih kecil, kita akan menyerang dari segala penjuru...” jenderal itu berkata, “Pasukan pertama kita bagi menjadi dua, dan pasukan bantuan dibagi menjadi dua.” Ia kemudian menjelaskan anggota setiap pasukan.
Asistennya menyadari kalau ada kekurangan dalam setiap pasukan, contohnya pasukan kecil pertama kekurangan tubuh kuat, pasukan kecil kedua kekurangan penyerang jarak jauh, pasukan ketiga dan keempat kekurangan senjata tetapi mereka kelebihan tubuh kuat.
“Emm, begini...” asistennya berniat mengoreksi, tetapi jenderal itu mengibaskan tangannya, menolak apapun yang ingin dikatakan asistennya.
“Aku sudah belajar banyak dari nasihatmu, yakinlah bahwa pasukan kita akan menguasai kerajaan itu.” Ujar jenderal itu kemudian melangkah pergi.
Asistennya hanya bisa menghela napasnya dan bergerak memberitahu rencana yang telah jenderalnya buat pada semua pasukan.
Dan pertempuran pun terjadi. Untuk beberapa menit pertama, pasukan kecil pertama yang bertugas di bagian utara dan pasukan kecil kedua yang bertugas di bagian timur berhasil mengimbangi pasukan penjaga kota, tetapi selanjutnya, mereka mulai mengalami kemunduran akibat beberapa anggotanya tewas.
Hingga pada akhirnya, komandan pasukan kecil pertama dan keduanya memutuskan untuk mundur, menyelamatkan diri.
Sementara itu, pasukan kecil ketiga dan keempat yang berisi budak, rakyat biasa, dan tawanan perang, mereka bertugas di bagian selatan dan barat.
Mereka berhasil menerobos masuk dengan rencana para tawanan perang, dan saat mereka berniat menerobos lebih jauh, para pasukan penjaga muncul dan melawan mereka.
Akibat kurangnya perlengkapan mereka, mereka dipaksa mundur dan pasukan kecil ketiga dan keempat memutuskan untuk kabur.
Jenderal yang menerima laporan itu terkejut dan ia marah besar. Ia memanggil komandan setiap pasukan dan menanyai satu persatu komandan itu tentang bagaimana caranya mereka maju.
Mereka pun menjelaskan, bahwa pasukan mereka kekurangan berbagai hal, yaitu kekurangan orang bertubuh kuat, kekurangan senjata, kekurangan perlengkapan, strategi yang salah, dan sebagainya.
Jenderal yang mendengar itu bingung, ia sudah yakin dengan rencananya, karena rencana mengepung dari segala arah adalah rencana andalannya.
Saat itulah, asisten datang dan ia mengusulkan rencananya yang sebelumnya.
Menyadari kalau pikirannya sedang buntu akibat kekalahan itu, jenderal memilih menerima usulan asistennya dan mengarahkan pasukannya.
Para kulit putih tak terima dengan keputusan jenderal, beberapa bahkan berniat kabur, tetapi saat jenderal datang langsung dan mengarahkan langsung, mereka langsung diam.
Orang-orang bertubuh kuat diberikan perlengkapan yang lebih baik, para prajurit kulit gelap diberikan senjata yang lebih baik, dan sebagainya. Persiapan kali ini benar-benar serius.
Asistennya meminta untuk memimpin langsung pasukan kali ini, agar lebih mudah untuk mengarahkan semua pasukan.
Pertempuran kembali berlangsung, dan pasukan kali ini berhasil menerobos masuk dan mengalahkan seluruh pasukan penjaga kerajaan itu.
Saat jenderal mendengar kabar itu, ia terdiam untuk waktu lama, hingga utusan asistennya datang dan menyerahkan surat dari asistennya.
“Mungkin kita boleh membeda-bedakan kemampuan orang berdasarkan warna kulit mereka, tetapi ingatlah bahwa setiap orang memiliki kelebihan masing-masing yang membuat kita semakin kuat jika bersatu. Bukankah indah jika kita berhasil menerapkan rencana ini dalam pertempuran kita selanjutnya?”
Jenderal tersenyum tipis dan bergumam, “Ya, kau benar, lain kali aku akan mendengarkan apa yang kau dengarkan, karena kau adalah orang yang lebih bijak dariku...”