Srr! Cyurr!
Suara kopi yang di tuangkan pada gelas terdengar sangat menenangkan, begitulah apa yang di pikirkan pemilik cafe/toko kopi ini. Pemilik (Manajer) toko kopi ini setelah menuangkan kopi di gelasnya langsung membawa cangkirnya ke tempat bersantainya.
Manajer itu meminum kopinya sambil membaca buku novel kecil yang biasa dia bawa, itu sudah puluhan kalinya dia membaca buku kecil yang berisi 90 halaman itu. Dia tidak bosan, karena buku itu menceritakan tentang dirinya.
Dia membaca buku sambil sesekali menyeruput kopinya, sungguh menenangkan paginya sekali. Jendela di samping tempat duduknya di biarkan terbuka begitu saja, membuatnya bisa menikmati udara segar pagi yang belum tercampur dengan polusi udara.
Dia membalik satu persatu halaman novel itu, sebenarnya dia membaca dengan wajah yang datar karena setiap kata di novel ini sudah dia hafalkan. Dia hanya ingin mengenang semuanya, dia juga ingin membaca lebih dalam novel tulisan adik sepupunya.
Citt!
Suara mesin kopi yang tengah mendidih membuatnya harus bangun dari sofa empuknya, dia harus mulai bersiap mulai sekarang. Tapi sebelum bangun dia meneguk kopinya, tegukan terakhir yang membuat cangkir itu harus di bersihkan sekarang.
Manajer itu mulai mempersiapkan semuanya, dengan gesit dia menatuh semua camilan di rak kaca cemilan yang berada di meja kasir. Lalu dia mempersiapkan semua kopi yang dia punya, kau boleh meminta kopi apapun karena di toko kopinya ini dia punya semuanya.
Matanya melihat kearah jam digital yang dia taruh di meja kasir, jam itu menunjukkan pukul 06.00 pagi. Inis udah waktunya untuk membuka tokonya, jadi dia mulai berjalan menuju pintu masuk dan membalikkan kata 'close' menjadi 'open'.
Setelah melakukan itu, manajer ini keluar dari toko untuk memberi makan ikan yang berada di kolam yang tepat di depan tokonya. Entah siapa pemiliknya, tapi sungguh malang ikan-ikan yang ada disini karena tidak ada yang pernah memberikan makan kecuali manajer ini.
Tuk! Tuk!
Makanan ikan yang berbentuk bulan berwarna merah itu turun menuju air kolam yang langsung di makan oleh ikan-ikan kecil yang ada disana, manajer yang melihat itu tersenyum tipis ini hiburan pagi baginya.
Ckit!
Manajer itu menoleh sekilas, pelanggan setianya sudah datang.
"Manajer, selamat pagi!"
Manajer itu membalas sapaan pelanggannya, "Selamat pagi, Deon."
Anak remaja yang selalu datang tepat waktu ke tokonya, Deon anak yang bersekolah di dekat tokonya. Anak ini adalah pelanggan setia si manajer, tidak pernah absen datang ke toko ini.
"Hari ini mau cream puff?" Tawar sang manajer.
"Boleh."
Deon duduk di kursi yang berada dekat dengan kasir, itu tempat favoritnya. Manajer segera langsung menuangkan susu hangat pada sebuah cangkir dan menaruh beberapa buah cream puff di piring kecil, lalu berjalan menuju meja Deon.
"Terimakasih, manejer!"
Bocah itu langsung memakan cream puff yang di berikan, sementara itu sang manajer duduk di hadapannya menatap bocah laki-laki ini.
"Kemarin kau berkelahi lagi, ya?"
Deon dengan wajah berantakan dengan cream langsung mengangkat wajahnya, "Apwa? Tidyak!"
Manajer itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, lalu mengambil tisu lalu mengelap wajah bocah di depannya ini.
"Lalu jika tidak berkelahi kenapa banyak hansaplas di wajahmu?" Tanya sang manajer.
"Itu karena Bobi! Entah kenapa menjelang melahirkan dia sedikit sensitif." Deon menggerutu, mengambil tisu untuk mengelap wajahnya sendiri.
Bobi adalah kucingnya, Deon bercerita jika kucingnya itu tengah hamil dan sekarang sudah masanya untuk melahirkan.
"Memangnya kau apakan dia?"
"Tidak melakukan apa-apa kok, hanya saja menceburkan tubuhnya ke air dingin."
"Kenapa kau melakukannya?"
"Pertama, dia sangat bau. Kedua, aku lupa dia sedang hamil dan lupa mengisi bak dengan air hangat."
Manajer itu hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar tuturan anak laki-laki ini, tapi syukurlah dia tidak berkelahi atau bahkan di aniaya lagi.
Deon segera meneguk susu hangatnya sampai habis, lalu mengelap mulutnya dan berdiri.
"Berapa yang harus kubayar?" Tanyanya polos.
"Gratis."
"Sungguh?" Deon bertanya dengan mata berbinar, jarang sekali sang Manajer memberi hal cuma-cuma.
Manajer itu mengangguk, lalu Memberinya sebuah bungkusan.
"A-apa ini?" Deon menerimanya dengan hati-hati, lalu mengintip isinya.
"Itu hadiah untuk pelanggan setiaku, semoga kamu suka." Manajer menjawab tanpa menoleh, dia sibuk membersihkan piring dan cangkir.
"Terimakasih,"
Manajer mengangguk, lalu kembali pada tugas cuciannya. Tapi kemudian dia merasa ada yang menarik lengannya, saat menoleh rupanya Deon yang masih belum berangkat sekolah.
"Kenapa?" Tanya sang manajer sambil mengeringkan tangannya.
"Aku tidak akan kemari lagi, ini hari terakhirku." Ujar Deon sambil menunduk.
Sang manajer kemudian tersenyum, "Aku tahu kok."
"Eh?"
Deon langsung mengangkat wajahnya.
"Aku tahu dari ibumu,"
"Ohh..."
Melihat Deon yang lesu, manajer langsung mengusap kepalanya.
"Semoga betah di tempat barumu nanti, jangan merepotkan banyak orang disana."
Deon menatap manajer dengan tatapan berkaca-kaca, dia ingin menangis tapi langsung di sekanya air matanya. Sepertinya dia malu menangis di depan wanita yang selalu memberinya sarapan itu, dia bukan anak kecil lagi.
"Jangan kangen padaku! Aku akan kemari jika libur nanti," ujarnya kemudian.
Manajer kemudian terkekeh, "Baiklah, baiklah, aku tidak akan kangen denganmu."
Deon langsung keluar dari toko, sang manajer mengikutinya.
"Terimakasih atas bantuan manajer selama ini."
Manajer tersenyum, "sama-sama."
"Aku berangkat!" Deon menaiki sepedanya.
Manajer kemudian melambaikan tangannya, "Hati-hati, sampai jumpa lagi!"
Deon mengayuh sepedanya, dia membalas lambaian tangan dengan senyuman. Setelah itu anak itu menghilang, dia sudah pergi.
Kemudian sang manajer menatao langit yang sedang memancarkan sinar matahari, lalu tersenyum tipis.
"Ayo semangat juga untukku!"
--------------
Halo, ini cerpen pertamaku saat mengikuti lomba menulis cerpen 30 hari. Semoga suka, sampai bertemu lagi!