Bagaimana jika kamu bekerja di kedai kopi, tapi tidak menyukai kopi? Terdengar lucu, kan? Aku mengenal seseorang yang seperti itu. Putra namanya, dia adalah manajer di kedai kopi ini.
Aku tidak memanggilnya dengan embel-embel 'Pak' atau 'Bang', karena nyatanya Putra sendiri yang memintaku agar hanya memanggil namanya. Kami yang paling lama bekerja di kedia kopi ini. Putra seorang manajer dan aku barista. Berbeda dengan Putra yang tidak menyukai kopi, aku sebaliknya. Aku sangat mencintai kopi.
Bagiku, kopi adalah minuman dengan citarasa yang unik. Pahit, sepat, dan manis yang berpadu di lidah mampu membuai para penikmat minuman hitam itu. Kembali lagi pada Putra. Aku sering meledeknya karena pria itu belum pernah sekali pun mencicipi rasa nikmat kopi.
"Belum tau rasanya sudah bilang tidak suka," ledekku.
"Kenapa kamu suka sekali meledekku? Aku tidak suka bau kopi yang menyengat, juga warnanya tidak menarik."
Aku hanya bisa geleng-geleng mendengar alasan tidak masuk akal yang terlontar dari mulut Putra. Bagaimana bisa dia bertahan di sini jika katanya tidak suka dengan bau kopi? Entah siapa yang bermasalah di sini sebenarnya.
Suatu hari, aku tiba-tiba saja memiliki ide. Aku masih belum menyerah meminta Putra agar mau mencicipi kopi. Sudah ribuan rayuan agar Putra mau mencicipi setidaknya satu tetes saja. Namun, hingga saat ini aku masih belum berhasil. Beruntung sebuah ide tadi terlintas.
Aku berencana melancarkan aksiku pada malam ini. Kebetulan Putra sedang lembur, pria itu sedang sibuk di ruangannya bersama dengan kertas-kertas yang entah apa isinya. Setelah para karyawan pulang, aku masih bertahan di kedai. Aku beralasan ada barang yang tertinggal dan masih mencarinya.
Setelah kedai benar-benar sepi. Aku segera menuju meja barista untuk meracik kopi dengan resep yang kuciptakan sendiri. Saat ini, aku berharap semoga Putra tidak mendengar suara mesin kopi yang menyala. Dalam hati aku terus berdoa agar rencanaku kali ini berhasil.
"Lihat saja nanti. Aku akan membuatmu tergila-gila dengan kopi. Apalagi kopi buatanku," gumamku tersenyum senang.
Cukup lama aku meracik kopi hingga menjadi sebuah minuman yang tersaji dalam gelas. Aku tersenyum puas melihat hasil karyaku. Setelah membereskan semua barang-barang yang tadi kugunakan, aku segera menuju ruangan Putra. Kuketuk pintu ruang itu dan dari dalam terdengar pria itu menyuruhku masuk.
Aku segera masuk dengan hati-hati. Aku tidak ingin kopi buatanku tumpah dengan sia-sia.
"Kenapa kamu belum pulang?" tanya Putra menoleh ketika menyadari kehadiranku.
"Setelah ini aku pulang. Aku mau memberimu minuman ini dulu," jawabku.
"Apa itu?" tanya Putra mengernyitkan dahinya.
"Silahkan di coba," ucapku tersenyum tanpa mempedulikan pertanyaannya.
"Kopi, ya?" tanyanya.
Sial! Bagaimana dia bisa tahu? Padahal bau kopi ini sudah kusamarkan.
Aku masih mencari cara agar Putra mau mencicipi kopi buatanku ini. Setidaknya rencanaku kali ini harus berhasil. Aku akan sangat puas jika bisa melihat Putra meminum kopi buatanku.
"Baik, aku akan meminumnya."
Spontan aku menoleh. "Benar?"
Putra tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Aku sangat senang, akhirnya pria di depanku ini mau merasakan rasa nikmat kopi.
"Tapi kamu minum dulu. Aku tidak tau apa yang kamu masukkan ke dalam minuman itu. Siapa tau kamu memasukkan sianida di dalamnya," ucap Putra terdengar sangat menyebalkan di telingaku.
"Mana mungkin aku punya sianida," kataku kesal.
Putra hanya mengedikkan bahunya tak acuh. Aku mendengus kesal melihat tingkahnya saat ini. Alhasil aku menuruti kemauannya dan meminum kopi itu. Hampir saja aku tersedak saat tiba-tiba Putra merebut gelas ditanganku. Namun, hal selanjutnya hampir saja membuatku mati di tempat. Sesuatu yang dilakukan Putra lebih mematikan daripada racun sianida di dalam kopi.
Pria itu menciumku dan menyesap semua kopi yang belum sempat kutelan. Mataku membulat sempurna dan tubuhku membeku seketika. Otakku seperti kehilangan syarafnya. Putra menjauhkan wajahnya dan tersenyum. Sepertinya sedang meledeki ekspresiku saat ini.
"Ternyata benar katamu, kopi rasanya tidak sepahit itu. Malah sangat manis," ucap Putra tersenyum lebar.
☕☕☕