Ke tempat ini hanya membuat luka lama kembali tergores di hatiku. Tiga tahun lalu aku bahagia dan menangis di tempat ini. Di tengah telaga dengan perahu yang menopangku. Aku ingat betul perasaanku waktu itu, kacau. Wajahku terlihat sangat berantakan waktu itu, entah kenapa aku bisa kembali ke tempat ini. Tapi, aku merasa tempat ini adalah tempat ternyaman ketika aku kembali ke kota ini.
Aku duduk sendiri di pinggir telaga, menikmati suasana nyaman di sini. Aku tak mau lagi mengingat kejadian di masa lalu. Aku ingin di sini karena aku rindu kota ini, kota di mana aku tumbuh menjadi wanita yang kuat. Yaa… menjadi Sofia yang kuat. Menjadi Sofia yang tak pantang menyerah dalam segala hal.
Saat senja telah tiba, aku menyudahi heningku, ingin kembali ke rumah tapi tiba-tiba aku bertemu dengan seseorang. Dengan seseorang yang aku kenal. Ya …. Dia mantan kekasihku, dia yang mencampakanku di telaga ini dan memilih wanita lain untuk menjadi pendampingnya. Aku pun terdiam sejenak, lalu beranjak pergi. Karena aku tak mau mengulang masa itu lagi, pura-pura tak mengenalinya adalah jalan terbaik.
“Sofia ….” dia memanggilku, aku pun hanya mengangguk dan terus berjalan.
“Sofia tunggu!” Katanya lalu berlari menuju arahku dan berhenti tepat di depanku.
“Kapan kau kembali dari Perancis?” Tanyanya.
“Aku baru kembali.” Kataku singkat.
“Sofia … aku …” aku memotong bicaranya.
“Maaf, aku harus segera pulang.” Kataku kemudian aku berjalan cepat menuju mobil.
Dia terdiam menatapku pergi, dengan mata sayu menatapku seperti berharap aku kembali. Tapi aku tak mau menghiraukannya. Aku tak mau menoreh luka lama lagi. Luka yang kering tak mau ku gores lagi.
Yaaa…. dia Johan, mantan kekasihku. Aku tak tahu kenapa dia juga berada di sini. Apa yang membawanya ke telaga ini. Dulu, tempat ini memang menjadi tempat favoritku bersamanya menghabiskan waktu, bercanda tertawa mengukir cerita. Tapi, nyatanya semua hanya tinggal cerita.
Aku tak mau lagi menangisi keadaanku yang dulu, aku ingin menatap masa depanku. Aku menyetir dengan tenang dan sudah bersahabat dengan keadaan ini.
Aku melihat mama melambaikan tangannya di teras rumah, aku tahu mama menungguku. Aku tersenyum, turun dari mobil aku langsung berlari memeluk mama. Aku sangat merindukannya, mama juga sangat merindukanku. Kami masuk ke dalam rumah dengan suka cita, melihat Meyra adikku sudah tumbuh menjadi gadis manis yang tak manja lagi. Dia kini sudah kuliah di kedokteran, aku suka dengan kegigihannya mendapatkan beasiswa, katanya dia tidak ingin merepotkanku, papa, dan mama. Aku sangat menyayanginya, dia adik yang hebat.
Aku membuka pintu kamarku yang tidak terlalu luas, tapi sangat nyaman untuk menghabiskan waktu di sini. Semua masih sama, penataan buku-buku di rak buku di meja belajarku. Foto-fotoku bersama mama, papa, Meyra, dan teman-temanku. Boneka teddy bear warna coklat masih setia menempati tempat tidurku. Dan….. aku mendekati secarik kertas yang terpajang di dekat cermin yang di sekelilingnya dipenuhi foto-fotoku. Yaaa…. itu adalah target-target yang kutulis. Dan aku hampir mencapai semua target itu. Tapi, masih ada target yang belum tercapai sampai saat ini, yaitu menikah.
Aku seharusnya menikah dengan Johan tiga tahun lalu, tapi karena penghianatannya semua itu sirna. Tapi, aku bersyukur Tuhan membuka semuanya di saat yang tepat. Saat aku rebahan di kamar, Meyra datang ke kamarku.
“Kak Sofia ….” Katanya setelah membuka pintu kamarku.
“Hei Mey …..masuk. kenapa?” Tanyaku.
“Disuruh mama makan dulu, mama udah nyiapin makan malam buat kita…” Katanya lalu duduk di sampingku.
“Papa masih di Manado?” Tanyaku dan Meyra mengangguk.
Papaku adalah seorang insinyur pertanian yang sekarang sedang bertugas di Manado.
“Kak,.. gimana rasanya hidup di Perancis?” tanya Meyra.
“Mmmm … ya gitu Mey, di negeri orang harus bisa nyesuain sama lingkungan sana, makanan yang cocok sama kita, yang halal, semua harus disesuaikan. Kenapa Meyra tiba-tiba tanya gitu, Meyra pengen ke luar negeri juga?” tanyaku.
“Dua tahun lagi kan Meyra lulus kak, Meyra mau nerusin S2. Kebetulan di kampus Meyra ada yang ke daerah Eropa. Nah, Meyra pengen ngejar beasiswa itu kak.” Katanya.
Aku tersenyum mendengar apa yang Meyra katakan, aku bangga sama dia. Aku langsung memeluknya,”Kakak yakin Meyra pasti bisa.” Ucapku dan dibarengi dengan anggukan Meyra.
Kami akhirnya keluar untuk makan di meja makan bersama mama, mama sudah menunggu dengan senyum hangatnya. Sangat adem melihatnya.
“Wahhhh …Fia udah kangen banget masakan mama, ini pasti enak banget.” Ucapku dan didukung anggukan Meyra dan senyuman mama.
“Mama sengaja masak semua ini buat kamu, mama tau kamu pasti kangen masakan mama kan?” kata mama sumringah dan aku mengangguk.
Kami makan dengan lahap disertai dengan cerita-cerita manis tentang kegiatanku di Perancis selama 3 tahun ini. Meskipun sudah seringkali aku ceritakan, tapi mereka sangat semangat untuk mendengarkannya langsung dariku. Sayang, papa masih ada di Manado. Aku sangat merindukan papa, cinta pertamaku.
“Sofia, tadi sore sebelum kamu datang, tante Mita ke rumah. Kamu masih inget kan tante Mita?” tanya mama
“Tante Mita yang temen mama waktu SMA itu kan, yang dulu tinggalnya deketan sama kita waktu Fia masih SD. Jelas inget bangetlah ma, orang tante Mita juga sering banget komunikasi sama Fia” Jawabku berusaha mengingat.
“Iya… tadi dia ke sini sama anaknya, Ivan. Kamu pasti udah lupa gimana Ivan, sekarang dia ganteng banget lho.” Kata mama bersemangat menceritakan tentang Ivan anak tante Mita.
“Fia nggak inget Ivan yang mana ma, seinget Fia dulu temen main Fia di kompleks tuh Angga, Riska, Tiara, Dido, sama Izas. Kalau Ivan, Fia belum pernah ketemu kayaknya. Tapi, tante Mita pernah cerita tentang Ivan itu” Kataku mengingat-ingat.
“Oiya, kamu nggak inget, waktu kecil Ivan itu kan sekolahnya di pesantren. Mama lupa.” Kata mama.
“Wah, anak pesantren nih.” Kataku.
“Besok katanya tante Mita ke sini lagi, mama ada acara di rumah sama temen-temen mama. Mumpung kamu di rumah, Meyra juga mumpung lagi libur kuliahnya.” Kata mama bersemangat.
“Wah ada bau-bau perjodohan nih kayaknya….” Meyra mencoba menggoda, tapi mama melarangnya untuk berkata seperti itu, hingga membuatku tersenyum malu.
Aku tahu mama sudah memikirkan masa depanku, mama ingin sekali aku cepat menikah agar ada yang menjagaku. Meskipun aku terlihat mandiri, tapi aku memang butuh pundak untuk bersandar. Butuh teman untu berbagi segala hal. Mama tahu, aku sudah sembuh dari luka yang pernah aku rasakan 3 tahun lalu. Luka goresan yang perih, yang membuatku sangat terluka dan memilih pergi ke Perancis untuk melupakannya.
Aku mencoba membuka hati setiap kali, mama menyodorkan beberapa foto anak dari kenalannya atau teman-temannya. Ya … aku memakluminya. Tapi, ketika aku tidak menyukainya, mama pun tidak memaksa. Mama tahu bagaimana aku melihat seorang laki-laki.
Keesokan harinya, mama sudah memesan banyak makanan di rumah. Selain itu, mama juga membuat beberapa kue andalannya. Mama sangat senang kalau ada acara di rumah, mama merasa rumah ini lebih hidup ketika banyak orang berkumpul di rumah.
Beberapa teman-temannya sudah datang. Mereka ada yang membawa anak dan sebagian aku kenal mereka. Hingga tante Mita dan Ivan anaknya datang. Mama menyambutnya dengan senang, cium pipi kanan dan kiri. Ivan pun mencium tangan mama. Begitu, sopan dan attitude yang bagus menurutku.
Aku diminta mama untuk membawakan beberapa makanan dan minuman untuk tante Mita dan anak-anaknya. Kemudian, aku membawakannya. Aku sedikit melirik ke arah Ivan, ternyata dia sangat manis.
“Ya Allah, nak Fia sekarang tambah cantik banget. MasyaAllah, katanya kemarin baru pulang dari Perancis ya. Tante kangen banget sama kamu.” Kata tante Mita sambil memelukku.
“Iya tante ….” Kataku.
“Oya …. Kenalin, ini Ivan anak tante. Mungkin kalian belum pernah ketemu sebelumnya, maklum Ivan setelah lulus pesantren langsung kuliah ke Turki dan kerja di sana, jadi kamu belum sempet ketemu Ivan.” Jelas tante Mita mempromosikan anak laki-laki.
Ivan pun memperkenalkan diri tanpa bersentuhan tangan denganku, aku paham. Itu adalah prinsipnya.
“Oya Fia, mama sama tante Mita ke dalam dulu ya sama temen-temen, kamu temenin nak Ivan dulu. Kalau kalian pengen keluar, ya udah keluar aja gpp.” Kata mama dengan penuh semangat.
“Betul itu, Ivan jagain nak Fia ya ….” Kata tante Mita dan aku melihat Ivan mengangguk dengan sopan.
Beginilah cara orang tua kami berusaha mendekatkan kami. Aku yang belum sama sekali mengenal Ivan, dan sebaliknya membuat kami agak canggung. Tapi, sepertinya Ivan adalah orang yang gampang akrab dengan siapa saja.
“Mama banyak cerita tentang kamu…” kata Ivan dan aku mengangguk.
“Kita pernah satu komplek ya ternyata, tapi kita nggak pernah ketemu.” Ucapku.
“Iya … dari kecil aku sudah di pesantren, terus kuliah langsung berangkat ke Turki sekaligus kerja di sana, jadi mungkin kita nggak pernah ketemu.” Katanya.
Setelah kita ngobrol banyak, dia tahu aku sebelumnya pernah terluka oleh laki-laki. Karena tante Mita banyak menceritakanku padanya.
“Mama suka banget kayaknya sama kamu…” katanya.
“Oya … padahal udah 3 tahun nggak ketemu sama aku. Tapi, tante Mita adalah orang yang lumayan sering hubungin aku selain mama, papa, dan Meyra.” Kataku menjelaskan.
“Kamu adalah satu-satunya perempuan yang bisa mengambil hati mama, mama bisa sesayang itu sama kamu. Mungkin karena aku anak tunggal kali ya, tapi dulu pernah ada perempuan yang mau dekat sama aku, tapi mama kurang setuju.” Katanya menjelaskan.
“Terus?” tanyaku.
“Ya udah, kalau aku orang tua setuju, ya lanjut. Tapi kalau orang tua nggak setuju, ya udah berarti belum jalannya gitu aja.” Katanya.
Aku kagum dengan pemikirannya, attitude-nya memang best banget.
“Kamu sekarang sendiri atau sudah ada pasangan?” tanyanya.
“Mmmm …. Masih sendiri.” kataku.
“Papa kamu, kapan pulang dari Manado?” Tanyanya.
“Kayaknya sih minggu depan, kenapa?” tanyaku.
“Kalau papa kamu udah pulang, aku ingin membawa kedua orang tuaku untuk silaturahmi ke sini bertemu dengan kedua orang tuamu.” Katanya tenang.
“Maksudnya?” aku bertanya karena aku tak tahu apa maksudnya.
“Begini Sofia, mama sudah banyak cerita tentang kamu. Dari cerita-cerita mama, aku yakin kamu adalah perempuan yang baik. Aku juga yakin kamu adalah perempuan yang selama ini aku nantikan. Aku ingin melamarmu, Sofia.” Katanya membuatku kaget hingga jantungku mau copot. Seberani ini, cowok yang baru mengenalku langsung ingin melamarku. Dia begitu yakin denganku.
“Kamu yakin sama aku? Meskipun kamu baru bertemu sama aku kali ini?” tanyaku bergetar.
Ivan tersenyum,”Sofia, aku sudah jatuh cinta denganmu lewat cerita-cerita dari mama. Aku sudah sangat yakin denganmu ketika mama memperlihatkan fotomu dan menceritakan kepribadianmu. Ditambah mama sangat menyayangimu dan sangat percaya sama kamu untuk menemani masa tuaku. Dan kamulah yang selalu ada dalam doaku selama ini.”
Aku terdiam mendengar ucapannya. Orang yang memperjuangkanku lewat doa-doanya, melalui sujudnya, melalui ikhtiarnya yang tak pernah kuketahui. Inikah jawaban Tuhan atas doa-doaku selama ini? Mungkinkah kami dipertemukan lewat doa yang kami panjatkan selama ini.
“Boleh?” tanyanya.
Aku mengangguk, dan dia tersenyum tenang. Setenang itu wajahnya, seteduh itu wajahnya membuatku lebih tenang.
Setelah acara selesai, Ivan, tante Mita dan teman-teman mama yang lain pamit untuk pulang. Aku masuk kamar dengan memegang dadaku yang masih berdebar. Ivan, laki-laki yang baru kukenal melamarku dan sangat percaya aku. Sangat menjagaku ketika kami mengobrol tadi, tak pernah sedikitpun menyentuhku.
Mama pun masuk ke kamarku, lalu memberikanku sekotak hadiah dari tante Mita katanya.
“Ini dari tante Mita buat kamu. Tadi tante Mita juga ngasih Meyra hadiah.” Mama menyerahkan hadiahnya padaku.
Aku membuka kotak kecil itu, dan betapa kagetnya aku, hadiahnya berupa kalung berlian yang sangat cantik.
“Ma ….” Kataku membuatku susah untuk bicara. Mama mengangguk, sepertinya mama tahu maksudku.
“Ma … tadi Ivan bilang, kalau minggu depan papa pulang dia pengen aku ngasih tau dia. Dia mau silaturahmi ke sini sama orang tuanya.: kataku membuat mama tersenyum.
“Kamu gimana?” tanya mama.
Tanpa menjawab satu patah kata pun, aku hanya mengangguk menahan tangis yang kupendam. Mama pun tersenyum lalu memelukku. Aku tahu mama sangat bahagia mendengar ini. Aku tahu mama sudah mengenal Ivan dengan baik, karena itu mama yakin dengan Ivan.
Hingga papa pulang dari Manado, keluarga Ivan datang ke rumah. Hanya dengan keluarga inti, Ivan melamarku. Dan berjanji di depan kedua oranga tuaku dan adikku untuk selalu menjagaku, membahagiakanku, membimbingku, mendukungku dalam segala hal.
Dan inilah, hari yang kami nantikan, aku menemukan orang yang tepat untuk hidupku. Dengan restu orang tuaku, aku menerima lamaran Ivan. Dan aku yakin padanya.