Setelah makan malam, aku langsung kembali ke kamarku. Malam ini sepertinya aku harus begadang lagi mengerjakan tugas sekolah yang diberikan oleh guruku beberapa hari yang lalu. Sekolah online membuatku memiliki banyak tugas yang harus dikerjakan. Materi dan tugas yang diberikan oleh mereka sangat tidak sebanding.
Itu sebabnya aku lebih suka sekolah offline seperti sedia kala. Aku mengambil buku-buku yang kuperlukan beserta alat tulis. Tidak lupa ponsel harus selalu ada didekatku. Ponsel itu berguna untuk mencari informasi tentang semua tugas serta jawabannya nanti. Sengaja tadi aku mode pesawat ponselku. Kini, begitu mode itu kunonaktifkan banyak sekali notifikasi yang masuk.
Ting! Ting!
Aku mendengus melihat beberapa temanku bertanya tentang tugas yang harus dikumpulkan esok hari. Namun, mataku tertuju pada seseorang yang mengirim sebuah gambar. Aku penasaran dan segera membuka chatnya. Ternyata gambar itu adalah foto jawaban dari tugasnya. Aku tersenyun melihat gambar itu.
"Thanks, Wil," balasku.
"Jangan bagikan ke yang lain, ya?" pintanya padaku.
"Kenapa?"
Tentu aku bingung dengan permintaannya, karena biasanya Wildan juga akan mengirim jawaban ke yang lain.
"Itu khusus buat lo," katanya dan segera offline.
Sebenarnya aku masih bingung dengan sikap Wildan yang tiba-tiba itu. Namun, aku tidak terlalu memikirkannya. Segera kusalin jawaban yang dikirim Wildan tadi pada buku tulisku. Aku sangat beruntung memiliki teman yang cerdas seperti Wildan. Bunyi dering ponsel mengagetkanku yang sedang fokus menulis. Kulihat layar ponsel itu tertera sebuah nama.
"Halo?" sapaku, tapi mataku masih fokus pada tulisan di buku.
"Win, contekin gue dong. Gue belum nih yang nomer 5," ucap suara dari seberang sana.
"Gue juga belum," jawabku tidak sepenuhnya bohong, karena memang aku belum menulis yang nomor lima.
"Jangan bohong lo! Wildan bagi lo jawabannya, kan?"
Eh? Bagaimana bisa dia tahu? Ah ya, aku lupa jika Wildan dan orang yang menelponku saat ini adalah saudara kembar.
"Minta sama si Wildan. Gue nggak boleh kasih tau siapa pun," ucapku akhirnya.
"Ckck dia pelit, Win."
"Bukan urusan gue. Kalo gue bagi tau lo nanti Wildan nggak mau contekin gue lagi. Bye, gue mau lanjut nugas lagi."
Aku segera mengakhiri percakapan kami. Lalu aku kembali melanjutkan menulis jawaban yang tadi sempat tertunda. Tiba-tiba aku terkikik geli saat membayangkan pasti Wildan dan kembarannya sedang bertengkar akibat tugas sekolah ini.
📖📖📖