"Aku mencari ibu untuk anak-anakku," ucap Samuel ke Maria.
Maria sangat senang. Ia merasa Samuel mengajaknya menikah. Tapi saat tahu Samuel sudah punya anak, Maria jadi ragu.
Menjadi ibu tiri?
Tidak pernah ada di kamusku.
Tapi Maria tetap menikah dengan Samuel karena Samuel itu orang kaya. Hidupnya akan terjamin.
Di sisi lain, anak-anak Samuel juga menyukai Maria karena ia cantik, sayang dengan mereka dan mereka ingin punya mama.
Setelah menikah, sifat asli Maria muncul. Ia tidak sayang lagi ke anak-anak Samuel.
Saat anak-anak Samuel memanggil Maria dengan sebutan mama, Maria marah.
"Mama ..."
"Jangan pernah panggil aku mama. Aku bukan mama kalian."
Maria juga tidak segan-segan memukul Sasa dan Kiki, anak tirinya, jika mereka melakukan kesalahan sekecil apapun.
Tapi saat Samuel di rumah, Maria bersikap seperti malaikat. Ia sayang dengan Sasa dan Kiki.
Samuel tidak curiga dengan Maria. Sampai akhirnya Samuel menemukan memar di tubuh Sasa.
"Sasa kenapa?"
"Sasa jatuh, Pa." Sasa berbohong. Ada Maria di dekatnya. Ia tidak berani bilang kalau Maria lah yang telah memukulnya.
"Lain kali hati-hati, ya." Samuel berpesan ke Sasa.
"Iya, Pa."
Kekerasan terhadap Sasa dan Kiki berlangsung terus menerus. Sampai akhirnya guru sekolah mereka memberitahu Samuel. Ada yang tidak beres dengan Sasa dan Kiki. Wajah mereka selalu terlihat murung. Di badan mereka juga penuh dengan memar.
Samuel mencoba berbicara dengan Sasa dan Kiki.
"Bicara sama Papa. Apa ada yang buat kalian jadi begini?"
Sasa mulai menangis. Selama ini ia memendamnya sendiri karena ia tahu ayahnya mencintai Maria. Ia tak ingin papanya sedih.
"Bilang sama Papa. Jangan menangis." Samuel mengusap air mata yang jatuh di pipi Sasa.
Sasa menunjuk Maria.
Samuel memandang Maria.
"Bukan aku." Maria berusaha mengelak.
"Tak perlu membela dirimu. Aku sudah punya bukti kalau kau melakukan kekerasan fisik ke anak-anakku. Aku menceraikanmu."