Suara daun daun kering yang ditiup angin mengiringi langkah kami, puluhan pasang kaki berjalan menuju ke pintu besar berwarna putih itu, gedung besar itu hanya berwarna putih, terlihat megah, bersih dan terawat.
Tak ada orang lain selain 73 peserta dan seorang pria berjas rapi yang menuntun kami berjalan masuk ke dalam gedung, tak ada keramaian di bangunan sebesar itu, ditambah lagi kami tidak saling mengenal, keadaan canggung ini terasa sangat tidak nyaman.
"Heh kamu..."
Seorang gadis menyapaku dengan berbisik, kelihatannya kami seumuran, rambutnya lurus pendek sebahu, kacamata minus nya terlihat cocok dengan mata besar miliknya, tubuhnya agak pendek dariku, dia terlihat manis.
"Heh dengar ga sih"
Melihatku yang tak segera merespon, dia pun mendekat dan mengulangi panggilannya, akupun terkejut ketika sepasang mata bulat menatapku terlalu dekat.
"Ah iyaa" jawabku yang jelas sekali terlihat gugup.
"Kira kira ngapain kamu kesini?" tanya gadis itu dengan suara nya yang asli imut tanpa dibuat buat.
Seketika aku teringat kejadian seminggu yang lalu, ketika aku dipukul oleh beberapa masalah, keluargaku yang membutuhkan uang untuk pengobatan nenek, dan aku yang ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.
Tak ada pikiran apapun selain 'aku harus mendapatkan uang', duduk sendirian di halte bus saat hujan deras, terus melamun hingga beberapa bus kulewatkan begitu saja, aku ikut merasakan beban ekonomi keluargaku, walau aku masih belum bisa menghasilkan uang sendiri, namun pikiran ini terus berputar putar di kepalaku.
Kemudian seorang lelaki muda memberiku sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang, dia mengatakan sesuatu saat memberikannya kepadaku.
"Kurasa kau membutuhkan uang, mungkin ini akan membantumu, gunakan kemampuanmu" kemudian dia berlalu sebelum aku menanyakan siapa dia.
Mendengar perkataannya, kukira ini adalah KTP, mungkin dia memintaku untuk menggadaikannya? Aku belum pernah menggadaikan sesuatu, aku tidak tau apakah KTP bisa digadaikan, toh umurku 18 tahun aku juga punya KTP jika bisa digadaikan.
Aku juga sempat berfikir ini adalah kartu ATM, mungkin itu maksudnya...akupun melihat benda itu, terlihat masih baru, namun tidak satupun ekspetasi ku benar.
Ternyata ini semacam kartu undangan, bertuliskan besar disana 'Dath Olympic', dengan nominal uang 10 juta dolar sebagai hadiah utamanya, aku tidak melihat syarat atau ketentuan apapun disana, dan kurasa olimpiade ini geratis.
Namun beberapa kata membuatku ragu dan merasa aneh, 'yang lemah akan kalah, yang cerdas yang akan kembali'...apa maksudnya akan kembali? Kembali kemana? Apakah kembali dengan 10 juta dolar itu?
Namun aku tak memikirkan apa apa lagi selain bisa mendapatkan uang sesegera mungkin, kemudian langsung saja kubalik benda persegi panjang itu, dan sesuai dugaan terdapat lokasi dan tanggal dilaksanakannya olimpiade itu, tertera disini, siapa yang datang berarti dia peserta, berarti tidak ada pendaftaran khusus untuk olimpiade ini.
"Hey?"
Gadis itu menyapaku lagi, aku terlalu sibuk melamun hingga melupakannya, bisa bisanya aku membiarkan gadis seimut ini menunggu jawaban selama itu.
"Ah maaf aku melamun, emm...alasan ku ya"
"Aku butuh uang buat kuliah"
Dia menyipitkan matanya dan berfikir sejenak, meletakkan telunjukknya di dagu dan berkata "em...owh gitu"
"Kalo kamu?" tanyaku.
"Aku...aku butuh uang buat bikinin restoran ayahku"
"Ayah diberhentikan dari restoran tempat ayah bekerja, ayah jago masak...jadi aku pengen buatin restoran sendiri buat ayah"
"Sisanya buat kuliah juga hehe"
"Owhh hebat banget kamu"
"Oiya nama kamu siapa?" tanyaku sedikit basa basi.
"Aku...panggil aja Yuta"
"Kamu?"
"Panggil aja Haku.."
"Salam kenal Haku haha"
Setelah itu, kami pun menjadi teman.
.
.
Kami semua masuk setelah pintu besar itu terbuka, kemudian berjalan di lorong yang begitu panjang, gedung ini begitu luas, mungkin aku akan tersesat tanpa pemandu itu.
Setelah beberapa menit menyusuri bagian dalam gedung, kami pun sampai di sebuah ruangan yang cukup luas, kursi dan meja berpasangan berjajar rapi di sana, beberapa pria berbaris di sebelah kanan dan kiri serta di depan layar besar yang menyala putih itu.
Kami dipersilahkan duduk, aku mengambil duduk tepat di samping Yuta, setelah semuanya duduk di kursi yang dipilih pintu ditutup dengan sangat kasar.
Brakk!!!
Hampir semua kepala termasuk aku berpaling menuju ke arah sumber suara, seketika semuanya menjadi hening, kemudian layar berwarna putih itu memunculkan beberapa tulisan.
'Yang sudah datang tidak akan bisa pulang sebelum acara ini selesai'
'yang lemah akan kalah, yang cerdas yang akan kembali'
'selamat bermain'
"Keliatannya gak ada peraturan khusus, olimpiade macam apa ini?" protes Yuta kepadaku, sebenarnya aku juga agak aneh dengan hal itu tapi sudahlah ini akan segera dimulai.
Permainan di mulai, pertanyaan pertama muncul di layar besar di hadapan kami, ku cermati angka angka yang muncul, kelihatannya ini soal matematika kelas 1 SMA, untunglah aku masih mengingatnya.
Aku mengangkat tanganku setelah menemukan jawaban, namun seseorang telah mendahuluiku, mereka mempersilahkan yang lebih dulu mengangkat tangan untuk menjawab, dia menjawabnya, sama persis dengan hitunganku, tempat duduknya berubah warna menjadi hijau, menandakan dia lolos...arghh harusnya aku lebih cepat, tapi ini tidaklah mudah, aku berada di tengah-tengah manusia genius.
Soal mulai bermunculan berurutan, namun aku masih kalah cepat dengan para genius disini, lima orang telah lolos dan sekarang pertanyaannya nomor enam, matematika lagi, dan ini...agak sulit kurasa.
Aku mencoba menghitungnya berkali kali, ini lebih rumit dari yang kukira, bahkan belum ada yang mengangkat tangannya, sepertinya kami sama sama dalam kesulitan.
Bingo...aku menemukan jawabannya, aku akan lolos dengan jawaban ini, aku mengangkat tanganku untuk menjawab, namun...arghh aku masih kalah cepat, dan dia yang mendahuluiku adalah seorang gadis, sangat memalukan.
Dia menjawab...namun jawabannya sedikit berbeda dengan jawabannku, aku tidak yakin mana yang benar.
Setelah gadis itu menjawab, tempat duduknya berubah warna menjadi merah, menandakan jawabannya salah, dan seketika akupun berpikir bahwa aku akan menjawab setelah ini, namun...
Dor!!!
Mataku terbelalak ketika melihat langsung peluru dengan cepat melesat dan memecahkan kepala gadis itu, kejadiannya begitu singkat, sampai akupun tidak tau pasti apa yang kulihat, yang kutahu sekarang kepala gadis itu hancur, darahnya mengotori tempat duduknya, tubuhnya terjatuh lemas kelantai.
Tak hanya aku, kelihatannya semuanya menjadi sangat panik, keadaan menjadi sangat hening, tidak ada satupun yang berani berbicara, aku melirik ke arah Yuta, bibir gadis itu gemetar, keringat menetes dari telapak tangannya yang digenggam erat.
"Yuta.." sapaku.
Dia menoleh tanpa arti, matanya bergetar, kulihat jelas ketakutan pada gadis itu, aku mencoba terlihat tenang, menarik senyum, mengangkat tanganku sejajar dengan dada dan menggerakkanya ke atas pelan pelan, bermaksud mengisyaratkan agar dirinya mengatur napas.
Dia mengusap keringatnya dan kembali tenang, pertanyaan pun kembali di berikan, namun dengan suasana yang berbeda, kami merasa sedang ada di ambang hidup dan mati, baru sekarang aku merasakan arti sebenarnya bahwa kesalahan akan membawa kita pada kematian.
Delapan...sembilan...sepuluh...dan seterusnya.
Pertanyaan silih berganti, namun aku belum juga menjawabnya, karena aku tidak ingin gagal dan mati disini, aku memutuskan untuk menjawabnya jika benar benar yakin, banyak yang menjawabnya dengan benar, namun tak sedikit juga yang menjawab dengan salah, beberapa tempat duduk telah berlumuran darah, dengan mayat para peserta gagal yang tidak disingkirkan.
Bau darah ini sangat menggangguku, terlebih lagi aku sangat benci bau darah, bau ini membuatku mual, dan aku sangat sulit untuk berkonsentrasi.
Pertanyaan nomor 46, pengetahuan sosial, kurasa aku sangat beruntung kali ini, jawabannya langsung melintas di kepalaku, otakku memerintahkan tanganku untuk bergerak, namun rasanya hatiku menahan ku untuk mengangkat tangan, kali ini otak dan perasaanku sedang tidak baik baik saja, mereka tidak sepemikiran kelihatannya.
Namun aku memaksa tubuhku untuk bergerak, akhirnya aku mengangkat tangannku, dengan jantung yang berdegup sangat kencang aku mengangkat tangan dengan gemetar, pria itu menunjuk dan mempersilahkanku untuk menjawab.
....
...
....
Jantung, kumohon tenanglah, aku takut jika kau melompat keluar, tetaplah disitu yang bekerjasamalah dengan ku...
...
..
...
Bibirku gemetar ketika mengucapkan jawabanku, namun aku berusaha terlihat biasa saja di depan semua orang, aku tidak ingin mereka memberikan gelar penakut kepadaku.
Jujur saja setelah menjawab pertanyaan, jantungku semakin ingin melompat keluar, apakah akan berwarna merah atau hijau tempat duduku setelah menjawab, warna sialan ini tidak muncul muncul.
Jeng jeng ...
Jantungku serasa berhenti, perutku terasa panas, dan aku benar benar ingin muntah sekarang, rasanya sangat pusing hingga membuat pandanganku sedikit kabur.
Akupun duduk dengan lega, mengatur napas dan memijat kepalaku, syukurlah jawabanku benar, bangku sialan ini berwarna hijau juga, walau tadi menyesakkan namun sekarang aku sudah lega.
Beberapa pertanyaan selanjutnya bermunculan, namun aku belum melihat Yuta mengangkat tangannya dan menjawab, aku terus memperhatikan gadis itu, di sisi lain ada rasa khawatir jika dia tidak dapat lolos dan akan mati di tempat seperti ini.
Pertanyaan terakhir.....
Apa ini? Apakah hanya ada 50 soal? Lalu apa yang akan terjadi pada orang orang yang tidak menjawab?
Yuta terlihat panik, namun kulihat ada harapan di matanya ketika melihat soal terakhir itu, soal itu berbahasa Mandarin akupun tidak dapat membacanya, namun...apakah Yuta bisa?
Gadis itu mengangkat tangannya, sudah kuduga dia akan melahkukannya, namun? Apakah dia mengangkat tangan karena terdesak atau memang bisa menjawabnya.
Mejanya berwarna hijau, syukurlah gadis itu menjawab dengan benar, dia menatapku dan tersenyum manis.
Dor!!
Dorr!!
Dor!!
23 orang yang belum menjawab soal sama sekali tempat duduknya berubah warna menjadi hitam, para pria yang berdiri sebagai eksekutor mengarahkan pistolnya ke arah mereka, melepaskan tembakan berkali kali dan menghabisi mereka.
Tinggal 26 peserta yang masih hidup, kami dipersilahkan untuk istirahat sebentar untuk sesi berikutnya, mereka mengarahkan kami ke ruangan yang baru namun terlihat sama seperti ruangan sebelumnya, bahkan setiap sudutnya sama persis.
"Hei..aku Edo dan ini Miya, bisakah kita berteman"
Ucap seorang pria dewasa dengan teman wanitanya, dia menyapaku dan Yuta ketika kami mengambil duduk bersebelahan, mereka juga mengambil duduk di dekat kami.
"Hai...aku Haku dan ini Yuta temanku"
"Hai Haku...Yuta...salam kenal" uca wanita bernama Miya itu.
Mereka lebih tua dari kami, mereka tidak menanyakan atau memberitahu apa tujuan mereka kemari, namun mereka meminta kami untuk bekerjasama.
"Ini sangat tidak benar, aku ingin pulang"
Keluh Miya menangis, kelihatannya dia sangat terkejut dengan kejadian ini, tak hanya dia, kami semua tak akan menduga bahwa olimpiade berhadiah fantastis ini meminta nyawa sebagai gantinya.
Menurutku ini benar-benar tidak manusiawi, ini salah, mengapa mereka mengumpulkan orang orang pintar untuk bersaing dan dibunuh?
Edo mengatakan idenya kepada kami, dia berencana untuk kabur dari sini, tanpa berdebat kamipun setuju, karena kami memang benar benar tidak ingin mati hari ini.
Tak hanya kami, Edo mengajak semuanya ikut serta dalam rencana, mereka semua setuju kecuali Jean, dia mengancam akan melaporkan kami jika kami memberontak, Jean masih muda namun dia sangat cerdas, dia tidak mau memberontak karena dia yakin dengan kemampuannya dan akan pulang hidup hidup dengan 10 juta dolar yang sangat dia inginkan itu.
"Tolonglah, jika kau memang yakin akan menang, apakah kau tidak memperdulikan nyawa kami?"
"Apakah aku harus peduli? 10 juta dolar lebih penting bagiku"
"Hei! Kami punya keluarga yang menanti kami pulang, bayangkan bagaimana mereka sangat kecewa jika hanya tubuh kita yang pulang?" Edo menarik kerah Jean, wajahnya memerah karena marah, dia benar benar ingin pulang, dia mengkhawatirkan keluarganya.
"Terserah, jika ingin pergi maka pergilah, uang itu akan menjadi milikku"
Jean tetap tenang, mata sayunya memandang ke tepi, wajahnya terlihat datar dan tak terlihat takut sedikitpun.
Edo melepaskan Jean, kamipun kambali ke tempat duduk kami, sebelum penjaga dan eksekutor masuk ke dalam ruangan.
.
.
.
.
Baiklah, ini akan dimulai, mereka membuka pintu besar itu, para pria berjaga di depan pintu dan yang wanita bersembunyi melindungi tubuhnya di balik bangku.
Pintu itu terbuka, mereka bersiap ketika para penjaga mulai masuk...
Brukk...
Brakk....
Bughh....
Mereka menyerang brutal, dengan peralatan seadanya mereka memberontak, ada yang mengayunkan kursi ke kepala penjaga hingga menggunakan tangan kosong untuk memukul wajah bertopeng para eksekutor itu.
Para penjaga yang paling depan tak ada yang tersisa, mereka semua babak belur hingga ada yang pingsan, namun para penjaga dan eksekutor di belakang, mereka segera menarik pelatuk pistolnya.
Dor...
Dor..
Dor!!
Mereka membidik para pemberontak, tiga orang terbunuh dalam waktu singkat, kekacauan ini seperti perang pribumi tanpa persenjataan lengkap melawan penjajah keji dengan mesin maniak yang dapat menghilangkan banyak nyawa dalam hitungan detik.
Dor!!!
Pistol itu mengarah ke kepala Edo, dia tidak sempat menghindar, namun dengan cepat Jean mendorong Edo.
Bughh...
Mereka terjatuh.
"Kau? Kenapa kau ikut?" tanya Edo.
"Cuihh..jangan berfikiran positif, aku hanya ingin makan ice cream bersama adikku"
Edo tersenyum, menangkap tangan Jean yang membantunya berdiri.
.
.
.
"Yuta...ayo!!"
Setelah penjaga lengah, aku memanggil Yuta dan Miya yang masih bersembunyi, kemudian kamipun berlari keluar dari ruangan, sedangkan Jean, Edo dan beberapa pria lain masih disana dan akan mengambil jalan lain sesuai rencana.
Kami berlari keluar, berusaha mengingat rute kami masuk tadi, namun kurasa ini agak sia sia, semua dinding ini terlihat sama, lorongnya sangat panjang dan membuat kami seperti berputar putar saja.
"Haku! Kemana kita akan pergi?" tanya Yuta khawatir.
"Entahlah apakah dari kalian ada yang ingat"
Semuanya menggeleng, dalam keadaan sangat khawatir jika disusul eksekutor, kamipun tetap berlari bersama.
Dor!!
Dor!!
Di depan mereka menghadang, menembakkan peluru ke arah kami, beberapa terjatuh begitupula Yuta.
"Yuta!!!"
Aku mendekat, ternyata dia masih hidup, dia beruntung karena hanya kakinya yang tertembak, namun lukanya sangat parah, di tidak dapat berjalan.
"Pergilah!!" teriak Yuta mendorongku.
Aku tak segera meninggalkannya, tanpa berkata atau permisi, aku mengangkat tubuhnya dan menyusul Miya dan yang lain yang sudah berlari.
"Tinggalkan aku, kau akan semakin lambat jika membawaku" Yuta menangis meremas kerahku.
"Tidak, kita akan keluar bersama, lariku tidak akan menjadi lambat hanya karena tubuh ringan mu ini"
Ya...walau berkata begitu, kami berdua tertinggal, Miya dan yang lain sudah tidak terlihat, karena kehilangan jejak akupun memutuskan untuk bersembunyi.
Sttt....
Aku membawa Yuta bersembunyi di belakang lemari, namun sial..darah Yuta berceceran dan meninggalkan jejak.
Aku berdiri, meninggalkan Yuta menuju ke sebuah jendela, aku merobek kain putih itu untuk membalut kaki Yuta.
Sebelum kembali, aku melihat keluar, jendela ini... menghadap langsung ke tebing?...tak kusangka bangunan sebesar ini berdiri di tepi tebing sedalam ini, benar benar tidak membiarkan kami kabur.
.
.
.
Setelah membalut kaki Yuta, aku kembali membawanya pergi, sungguh jantungku serasa berhenti ketika tubuh besar menabrakku.
Brukk!
Aku berfikir jika eksekutor itu akan menembak ku dan Yuta, namun ternyata dia adalah Edo, disusul Jean yang berladi dibelakangnya.
"Di mana yang lain?" tanya Edo.
"Tidak tau" jawabku sangat jelas, mana aku tau keberadaan mereka di bangunan sebenar ini.
"Kami terpisah, banyak yang tewas" ucap Edo.
"Sebaiknya jangan buang buang waktu untuk berbicara, ayo pergi" ucap Jean.
Kami berlari, menyusuri lorong panjang bercabang dengan mengandalkan 'feeling', dan setelah sekian lama, kami menemukan jendela yang memperlihatkan langit dan tanaman bunga dibaliknya, kelihatannya kami bisa keluar dari jendela besar itu.
Edo mendekati jendela, meraba kaca dengan tangan kiri dan dengan tangan kananya yang mengepal, otot ototnya mengeras bersiap untuk memukul kaca itu.
Door!!!
Peluru yang datang entah dari mana menembus kepala Edo, tubuh pria itu terjatuh ke lantai setelahnya.
Kami hanya tinggal bertiga, Jean melihat sekeliling dan terhenti pada satu sudut, akupun mengikuti pandangannya, terlihat disana tiga pria membawa pistol yang mengarah pada kami.
"Pergi!!" Jean berlari ke arah mereka bertiga berniat mengulur waktu untuk kami pergi.
Aku menurunkan Yuta, memecahkan kaca itu dengan tanganku, tentu saja ini tidak mudah, kaca ini tebal dan serpihannya menusuk tanganku.
"Haku...jangan memaksakan dirimu" Yuta mencegahku untuk memecahkan kaca ini setelah melihat darah di kepalan tanganku.
Prakkk!!!!
Kaca itu pecah, terjatuh dengan serpihan tajam dimana mana, di sisi lain aku melihat Jean yang tubuhnya sudah berlumuran darah, namun tenaganya masih meronta dan mencoba membunuh tiga pria itu.
"Pergi"
Perintahku pada Yuta ketika aku berlari nyusul Jean, kupikir sekarang tak apa aku mati, namun setidaknya ada yang tetap hidup diantara kami, pergilah Yuta...
Dor!!!
Salah satu dari mereka menembak Yuta, tepat di mata kirinya, tubuhnya langsung tergeletak, namun aku masih melihat tangannya menggenggam erat, dia masih hidup dan kesakitan.
Dadaku sesak sekali melihatnya, pria itu menembak Yuta sekali lagi, dan dia benar benar tiada sekarang.
Darahku serasa mendidih, tak memikirkan apa apa lagi, aku langsung berlari kearah pria yang menembak Yuta, kelihatan lengah sepertinya, aku berhasil merebut senjatanya.
Serasa membalik keadaan, aku menarik pelatuk dan melepaskan tiga peluru langsung ke kepala pria sialan itu, dan dia pun tewas.
Kemudian pandanganku tertuju pada Jean yang sudah tergeletak di lantai, dengan dua pria yang kini menghadap kearahku, aku mengangkat pistol ditanganku dan menembakkan peluru lebih cepat sebelum mereka menembakku.
Dor!!!
Dor!!
Dor!!
Tiga? Aku bertanya kepada diriku, kenapa ada tiga suara tembakan, aku hanya menarik pelatuknya sekali, bahkan aku tidak melihat dua pria sialan itu mengangkat pistolnya.
Pandanganku menjadi kabur, serasa perih di mana mana, kepalaku pusing dan tubuhku mati rasa.
Tubuhku terjatuh ke lantai, aku tau itu, namun aku tidak merasakan apa apa, yang kulihat hanya pandangan kaburku ke tubuh Jean di depan sana, setelah itu semuanya menghilang...
---TAMAT---