Pukul 23.45, Dimas berjalan sendiri menyusuri koridor rumah sakit yang gelap dengan menenteng box berisi sample darah pasien yang akan dibawa ke ruang laboratorium. Dimas baru saja pindah ke rumah sakit ini selama 2 hari.
Dalam perjalanan menuju lab Dimas menyapa seorang perawat yang berpapasan dengannya, tapi perawat itu tidak menggubris seolah-olah tidak melihatnya. Berikutnya Dimas bertemu dengan pasien yang berjalan di atas kursi roda. Dimas pun melakukan hal yang sama, dia mencoba menyapa tapi pasien itupun tidak mempedulikannya.
Dimas tidak ambil pusing dengan kejadian-kejadian itu, dia segera masuk ke dalam laboratorium untuk mulai memeriksa beberapa sample darah. Di lab dia bertemu dengan rekan kerja barunya, tapi rekannya itu juga acuh padanya.
Dimas mulai berpikir, apakah ada yang salah dengan dirinya karena tidak ada seorangpun yang menyapanya.
-----
Esok malamnya, Dimas kembali bertugas seperti biasa. Malam ini dia bertemu dengan seorang perawat cantik di meja jaga. Dia begitu tertarik dengan perawat itu karena terlihat berbeda dari perawat-perawat yang dia kenal sebelumnya. Perawat itu seperti memancarkan cahaya dari seluruh tubuhnya. Dimas memberanikan diri untuk menyapa perawat cantik itu.
"Hai," sapa Dimas pendek.
Dan benar dugaan Dimas. Tidak seperti orang lain yang ditegurnya, perawat itu langsung merespon sapaannya.
"Kamu siapa?" tanya perawat itu.
"Aku Dimas,"
"Dimas? Aku belum pernah lihat kamu di sini,"
"Aku baru pindah kesini tiga hari yang lalu,"
Dimas mengulurkan tangan untuk berkenalan, dan perawat itu menyambutnya.
"Sasthi," ucap perawat itu ramah.
Dimas merasakan kehangatan di tangan Sasthi.
Perkenalan itu terjadi begitu singkat, Sasthi dan Dimas kembali melanjutkan tugas masing-masing.
"Sasthi, kamu tugas malam?" tanya seseorang selepas kepergian Dimas menuju laboratorium.
"Iya Pak," jawab Sasthi pendek.
Seseorang yang menyapanya adalah Pak Mulyanto, kepala kepegawaian di rumah sakit ini. Karena penasaran Sasthi bertanya,
"Pak, apa ada petugas baru di Rumah Sakit ini? Namanya Dimas,"
"Dimas?"
"Iya, sepertinya dia petugas laboratorium,"
Pak Mulyanto terlihat bingung.
"Sepertinya tidak ada,"
"Bapak yakin?"
"Sangat yakin Sasthi, Bapak baru saja membereskan file seluruh petugas medis dan karyawan makanya Bapak pulang selarut ini. Tapi baik di file karyawan atau petugas medis, tidak ada petugas baru yang bernama Dimas," jelas Pak Mulyanto.
"Kalau begitu terima kasih Pak,"
"Ada sesuatu Sasthi?"
"Tidak Pak, saya hanya bertanya,"
Pak Mulyanto kemudian melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumah.
Karena Sasthi begitu penasaran dengan Dimas, dia lalu mendatangi ruang laboratorium. Dia ingin mencari informasi tentang Dimas. Di laboratorium dia bertemu dengan Arya yang bertugas malam ini.
"Arya," sapa Sasthi singkat.
"Hei Sas, tumben kesini ada apa?"
"Cuma mau tanya, apa ada petugas baru di lab ini yang namanya Dimas?"
"Dimas?? Ngga ada, aku cuma tugas sendirian beberapa malam ini,"
Dengan rasa penasaran Sasthi meninggalkan ruang laboratorium dan menyusuri lorong rumah sakit yang gelap. Tanpa di duga, di lorong itu Sasthi bertemu lagi dengan Dimas.
"Hai Sasthi," sapa Dimas datar saat berpapasan dengan Sasthi.
"Kamu siapa?" tanya Sasthi
"Aku Dimas, kita baru aja kenalan kan?"
"Kamu siapa?!" tanya Sasthi lagi, kali ini dengan intonasi suara yang lebih tinggi.
"Aku Dimas, Sasthi,"
Tanpa mempedulikan Dimas lagi, Sasthi berjalan cepat menyusuri lorong menuju sebuah ruangan di ujung koridor. Suara sepatu hak nya bergemelotak mengisi keheningan malam.
KAMAR JENAZAH
Di dalam kamar dingin itu terbujur kaku sesosok mayat yang ditutupi dengan kain putih. Dengan sedikit perasaan takut, Sasthi menyibak selimut yang menutupi sekujur tubuh mayat itu.
Saat selimut itu tersingkap, nampaklah tubuh yang nyaris hancur dan wajah yang sudah tidak bisa dikenali lagi. Hanya sisa-sisa potongan kain berwarna putih yang menempel di bagian atas dan bawah tubuh mayat itu. Jika diamati, potongan-potongan kain putih itu sama persis seperti seragam yang dipakai Dimas.
"Ini kamu Dimas?! Ini kamu?!" tanya Sasthi dengan berani kepada Dimas yang berdiri di samping Sasthi, entah dari mana datangnya.
Dimas mengamati jasad yang terbaring dihadapanya dengan seksama, kemudian dia menangis kencang.
"Tempat kamu bukan di sini Dimas, kamu harus pergi ke tempatmu yang seharusnya," jelas Sasthi dengan segenap keberanian yang tersisa.
Dimas sama sekali tidak menjawab ucapan Sasthi, dia terus saja menangis sambil meratapi jasadnya yang sudah tidak bisa dikenali lagi.
Mendengar keributan di kamar jenazah, beberapa petugas lalu datang.
"Ada apa Mbak Sasthi?" tanya penjaga kamar jenazah dan juga supir ambulance yang datang.
"Pak Pardi, tolong antar jenazah ini pulang,"
"Iya tapi kemana Mbak? Ini kan korban ketabrak kereta 3 hari yang lalu, ngga ada identitas apa-apa, wajahnya juga tidak bisa dikenali,"
"Kalau begitu, minta tolong resepsionis menghubungi rumah sakit Duta Sehat. Minta mereka bawa ambulance ke sini untuk jemput jenazah Dimas Prasetya, petugas laboratorium yang bekerja disana,"
"Tapi Mbak.. Dari mana Mbak Sasthi tau?"
"Nanti saya ceritakan Pak, sekarang lebih baik kita urus saja jenazah ini dulu,"
"Baik Mbak,"
Pak Pardi lantas bergegas menuruti perintah Sasthi.
"Terima kasih Sas.. Terima kasih.." ucap Dimas lirih masih sambil menangis.
Sasthi hanya tersenyum membalas ucapan terima kasih itu, dan segera mengurus jenazah Dimas.
==== END ====