Hujan rintik-rintik tak kunjung reda, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Seorang gadis berpakaian SMA melirik jam tangannya dengan gelisah. Kopi di hadapannya telah dingin, namun tetap saja ia menyeruput minuman itu seolah-olah cairan di dalamnya masih panas.
Hhhhhhh....
Terdengar helaan napas berat keluar dari bibirnya. Sebenarnya ia telah menduga hal ini akan terjadi, namun hatinya tetap teguh akan terus menunggu.
"Hai, mau saya ganti dengan kopi yang baru?" seorang pria dengan kemeja yang berbeda dengan seragam pelayan berdiri di sampingnya.
Gadis itu mengamati, tertulis Manajer di Name Tag yang digunakannya. Remaja itu tersenyum dan menggeleng.
"Tidak perlu, terima kasih. Saya sudah mau pulang." dengan satu tegukan ia menghabiskan kopinya kemudian melangkah pergi.
"Tunggu!" seru Sang Manajer saat gadis SMA itu telah berada di luar Kedai. "Siapa namamu?"
"Ami." jawab gadis itu datar.
"Baiklah Ami, sudah hampir satu bulan ini kau melakukan hal yang sama hampir setiap hari. Siapa yang kau tunggu?"
"Maaf, tapi saya rasa itu bukan urusan anda Pak Manajer."
Manajer itu tersenyum lembut. "Memang bukan, tapi jika siapa tahu suatu hari ia akan muncul saat kau tak ada disini. Saya bisa memberi tahunya."
Ami terdiam beberapa saat, ia sedang mempertimbangkan tawaran Sang Manajer. Sejurus kemudian ia membuka tas dan mengeluarkan selembar kertas dari sana. Di dalam kertas itu tampak sebuah foto pemuda tampan disertai tulisan orang hilang kontak yng bisa dihubungi.
"Namanya Dani, dia kekasihku." Ami menunduk menyembunyikan kesedihannya. "Hampir 4 minggu yang lalu kami berjanji untuk bertemu di Kedai ini. Namun Dani tidak pernah muncul."
"Masalah sebesar ini mengapa tidak kau beritahukan kepada kami?" kedua alis Sang Manajer bertaut.
"Karena dia tidak pernah datang, jadi saya berpikir kalian tidak akan mengetahuinya."
"Kami akan memperbanyak dan menempelkannya."
"Terima kasih, Pak." Ami tersenyum bahagia.
"Sama-sama, sekarang pulanglah sebelum hujan lebat akan turun."
Ami mengangguk dan berbalik meninggalkan pria itu. Sang Manajer menatap kepergian Ami sesaat sampai akhirnya ia berbalik memasuki Kedai.
***
Waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB, Kedai Kopi telah dibersihkan dan akan segera tutup. Sang Manajer lebih dulu menuju parkiran khusus pegawai dan melajukan mobilnya menuju rumahnya yang agak jauh dari Kedai. Satu jam kemudian ia telah sampai di sebuah rumah kecil yang ia sewa untuk sementara.
Setelah memarkirkan mobil, ia turun dan mengamati keadaan sekelilingnya sebelum akhirnya ia masuk ke dalam rumah. Pria itu segera masuk dan mengunci pintu. Ia meetakkan jaket dan tasnya di lantai ruang tamu yang kosong melompong.
Perlahan ia berjalan mendekati sebuah ruangan, senyuman bahagia terlihat jelas pada raut wajahnya. Ia memegangi dadanya untuk menekan debaran yang bergemuruh semakin kencang. Bahagia menyelimuti hati karena akan bertemu pujaan.
Dengan senyum yang tak pudar, ia membuka kunci pintu dan menekan gagangnya. Aroma rempah yang sangat tajam menguar saat pintu mulai terbuka, ruangan itu remang-remang karena pencahayaan hanya berasal dari sebuah lampu tidur.
Di dalam kamar hanya ada satu ranjang king size. Berbagai macam rempah-rempah berserakan di lantai dan di ranjang tepat di atas tubuh seseorang yang sedang tidur.
Manajer Kedai Kopi mendekati dinding untuk menyalakan lampu. Setelah itu ia melangkah mendekati ranjang.
"Apa kabarmu, sayang?" ucapnya lembut dengan tatapan penuh cinta. Tak ada jawaban dari sosok di balik kain itu.
"Kau marah karena aku mengunci pintu dari luar ya." hening, tetap tak ada sahutan.
Sang Manajer menghela napas berat. "Mengapa hari ini kau tidur dengan menutup wajahmu, hmm?" ia mengulurkan tangan membuka kain yang menutupi tubuh itu.
Tampak wajah tampan dengan mata yang terpejam. Kulitnya sangat putih, tanpa aliran darah. Bibirnya bahkan seperti berwarna kebiruan.
"Kau semakin tampan saja, sayangku." ucap Sang Manajer sambil duduk di tepi ranjang.
"Hari ini gadis yang bernama Ami itu datang lagi. Aku sangat jijik melihat wajahnya." ujarnya dengan kilat kebencian memenuhi netranya "Namun tak apa, aku bisa menahannya. Karena sampai kapan pun, ia tak akan bisa bertemu dan merebutmu dariku."
Tangan Sang Manajer terulur menyentuh rambut pemuda itu. "Kau hanya milikku, Dani. Hanya milikku!" desisnya menahan geram. "Tunggu aku, tak lama lagi kita akan hidup bersama."
Tiba-tiba seekor ulat kecil berwarna putih melompat keluar dari dalam hidung Dani.
"Belatung sialan!" hardiknya. "Tunggu sebentar Dani sayang. Aku akan membersihkanmu, kekasihku."