Aku sudah lama berlangganan untuk membeli kopi di sini. Ah mungkin sebutan anak muda sekarang lebih sering di sebut cafe?
Padahal ini lebih cocok dengan sebutan coffee'shop. Karena memang lebih menekankan pada penjualan kopinya apalagi hampir berbagai macam kopi dari seluruh Indonesia bisa ditemukan di sini.
Meski terdapat juga pilihan non-kopi, yang tentu saja tak sebanyak pilihan kopi-nya.
Aku sendiri selalu mencoba menu kopi secara bergiliran dan kebetulan hari ini adalah giliran kopi sidikalang.
Saat aku mengangkat kepalaku untuk memesan kopi dan desertnya, aku terlonjak kaget melihat siapa yang ada di hadapanku.
"Manajer, apa yang kau lakukan disini?" Refleks kata-kata itu yang keluar dari mulutku, bukan pesanan seperti yang awalnya kuinginkan.
Sangking seringnya aku ke sini bahkan aku sampai mengetahui bahwa yang akan mencatat pesananku ini bukanlah seorang pelayan seperti biasa tetapi manajer toko ini. Ha! Yang benar saja.
"Hallo, Nona langganan kami. Karena saat ini coffee'shop ini kekurangan karyawan tepatnya pelayan, jadi saya memutuskan untuk terjun langsung mengisi kekosongan itu. Jadi apa pesanan anda, Nona?" Jelasnya dengan senyum yang tak pernah berhenti selama beebicara.
"Ah iya, kau benar. Aku ingin memesan kopi sidikalang less sugar dengan desertnya cheese cake saja." Aku pun teringat pesananku.
"Baiklah, Nona. Silahkan tunggu sebentar ya."
Saat dia berbalik dan pergi, aku pun larut dalam pikiranku.
Betapa jarangnya ada seorang lelaki yang sudah berpangkat manajer di sebuah toko kopi terkenal semacam ini, mau merendahkan dirinya dengan menjadi seorang pelayan rendahan hanya karena mereka kekurangan pegawai!
Terlebih lagi, dia terlihat sangat luwes dan terbiasa dalam segala hal yang dilakukannya. Senyumnya pun tak dibuat-buat tetapi memang dari hati karena sampai juga ke hati yang melihat senyumnya.
Andaikan setiap orang berada di pangkat dan status seperti dirinya, betapa indahnya dunia ini.
Tetapi sekali lagi ini hanyalah khayalanku saja. Pada kenyataannya tidak semua orang bisa melakukan seperti apa yang dia lakukan.
Tidak semua orang bisa menerimanya. Bahkan pandangan merendahkan yang lain saja sulit untuk dihapuskan, apalagi melakukan pekerjaan pelayan itu?
Lamunanku terbuyarkan, ketika panggilan manajer kembali menyadarkanku. Ternyata ia telah kembali dengan pesananku di tangannya yang memegang nampan.
"Nona langganan. Silahkan dinikmati," ujarnya disertai senyuman yang cerah.
Tentu saja aku membalas dengan senyum yang tak kalah cerahnya. "Terimakasih, tuan manajer."
Dan dia pun pamit meninggalkanku untuk menikmati pesananku dan dia melayani pelanggan lainnya yang baru datang.
Ah betapa senangnya aku melihat orang-orang pekerja keras dan tak mudah merasa jijik melakukan sesuatu yang sebenarnya memang bukan kapasitasnya seperti dia.
Sungguh seseorang yang sangat sulit ditemukan di zaman sekarang seperti ini.
FIN~~~
A/N :
Tadinya pengen dibuat romance tapi kayanya lebij baik gini aja wkwkwk. Setiap cerita tidak perlu selalu menitikberatkan pada romance-nya bukan?
Terimakasih telah membaca sepenggal kisah ini.