"Mari kita akhiri ini." Ucapku tanpa basa-basi.
Udara malam, angin sepoi-sepoi lewat ditengah dua dari kami. Malam itu, sisi sungai begitu indah ketika tidak ada siapapun disana selain kami.
Sayangnya, semua harus berakhir.
"Ya, mari kita akhiri." Katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari sungai yang mengalir pelan.
Aku bersandar pada besi pembatas sungai yang sudah, sesedikitnya terlihat berkarat. Begitu dingin. Kemudian mataku beralih pada langit. Bintang-bintang yang kini mulai muncul satu persatu setelah matahari menenggelamkan dirinya.
Sangat dingin.
"Meski begitu, maukah kau berjanji untuk melihat prediksi meteor itu nyata atau tidak di tempat ini... bersamaku?" Tanyaku tak mengalihkan pandangan pada kegelapan yang bergemerlap oleh bintang-bintang.
Hening untuk beberapa saat. Aku melihat wajahnya sekilas. Mulutnya terkatup-katup ingin mengatakan sesuatu. Saking heningnya malam itu, hembusan nafasnya yang keras terdengar begitu jelas olehku.
"Ya. Mungkin." Jawabnya tanpa mengalihkan tatapannya pada air sungai.
Kini aku menghela nafas dengan sama kuatnya yang ia keluarkan. Tidak ada mulut yang mulai bersuara. Yang didengar oleh telinga adalah suara angin dan sungai yang mengalun damai.
Dan kepahitan.
"Tidak ada yang berharap ini berakhir," katanya.
"Dan tidak ada yang ingin mengakhirinya seperti ini," timpalku.
Lalu, tanpa di sengaja atau malah tanpa di duga. Wajah kami bertemu. Aku melontarkan senyum. Walau terpaksa. Bibirnya naik ke atas seperti memaksakan diri untuk tersenyum pula.
"Tak ada pula yang menginginkan sebuah perpisahan." Lanjutnya.
Langkah kaki yang dingin itu tak berhenti. Sementara aku melihat punggung yang kesepian itu menjauh. Dan berhenti hanya sekedar untuk berkata,
"Untuk janjinya, jika prediksi itu benar adanya." Lalu pergi.
Malam yang sama, mengingat yang sudah lama. Namun, diriku masih sama. Apakah dirimu sudah tidak sama lagi?
Lagipun, ini sudah lima tahun sejak kejadian itu. Kau... pasti sudah berubah banyak.
Aku menatap langit. Lagi. Lagi.
Dan lagi.
Tak ada yang istimewa.
Meteor itu ternyata tidak ada.
Lagi-lagi prediksiku salah.
Sama seperti hubungan yang sudah lama terjalin dan sudah lama ditinggalkan.
"Meski begitu, apakah kau berubah? Meski waktu berjalan begitu cepat, bisakah kau berubah? Meski prediksiku selalu gagal dan gagal, akankah kau berubah?" Aku bergumam pada tengah malam.
Di pelupuk mata, ada bulir yang tidak kuinginkan malam itu. Air yang hampir jatuh itu di kejutkan dengan kain yang terlempar di atas kepalaku.
"Pakailah. Udara akan semakin dingin." Sebuah suara menyusul.
Aku berdiam mematung.
Aku tahu. Aku tahu bahwa itu dirimu. Tidak mungkin suara itu milik orang lain. Kain yang beraroma khas tembakau dan pinus. Bisa saja ini bukan milikmu.
Aku mencoba menahan nya.
Untuk tidak berbalik.
Tapi, apa yang ada di dalam hati kecil ini menginginkan hal yang sebaliknya.
Tanganku kini merangkul dirimu. Tak bisa kutahan meski harus berlari sejauh mungkin. Akan kukejar. Meski sebenarnya tak pernah kubayangkan rasa perih ini datang dan menyayat segala sesuatu yang ada padaku.
"Kau tahu," wajahku terangkat. "Kau benar. Aku tidak bisa mengakhirinya seperti yang kau inginkan. Seperti dulu kau berharap ini harus berakhir." Dengan lembut dia mengelus rambut kusut milikku.
"Sama halnya dengan ku." Kataku.
Tersenyum. Hal yang paling jujur aku lakukan saat itu hanyalah tersenyum.
"Meteor." Tatapannya lurus ke langit.
Aku memasang wajah penuh tanda tanya.
"Kini, segala prediksimu benar adanya. Meteor. Sesuai janji." Katanya.
Kaki ku mengajak ku untuk berbalik. Tak ada awan mendung. Tak ada awan tipis. Segalanya jernih. Aku dan dirimu melihat meteor itu berjalan-jalan di atas langit. Dari mataku terlihat seperti menari-nari.
Orang menyebutnya bintang jatuh. Atau mungkin sebagai minoritas lebih memilih kata meteor jatuh.
Dia tidak mengalihkan pandangannya setelah mengatakan fakta itu padaku. Fakta bahwa prediksi-prediksi yang aku miliki benar. Ada.
Setelah puas dan cukup lama ku tatap hujan cahaya itu, aku tak menjatuhkan mataku darinya. Tak beralih dari wajahnya. Hanya dia satu-satunya meteorku.
Hanya dia.