Yang diceritakan pada orang pertama adalah Kacang Hijau, sampai di orang ke sekian sudah jadi bubur.
=======
"Tita!"
Seorang gadis berseragam putih abu-abu dengan ransel pink tampak melambai dan berlari pada temannya yang sudah sampai di ambang pintu. Gadis yang dipanggil tersenyum lebar dan berhenti tak meneruskan langkahnya.
"Selamat pagi Rika." sapa gadis yang dipanggil Tita itu setelah si pemanggil tadi berhenti di sampingnya dengan napas yang terengah-engah.
"Selamat pagi. Sudah belajar untuk Ulangan Mingguan Kimia?" tanya Rika tersengal-sengal.
"Sudah dong." jawab Tita dengan senyum lembutnya. "Yuk masuk kelas."
Rika hanya mengangguk dan melangkah bersama Tita ke dalam kelas, mereka berdua adalah teman semeja.
"Eh, kemarin siang aku bertemu Pak Romi Si Guru BP dan Ibu Guru Sinta di Toko Buku." Tita bercerita setelah mereka duduk di bangku.
Rika terlihat terkejut walau hanya sesaat, namun sedetik kemudian wajahnya kembali normal. "Jam berapa kamu bertemu mereka?"
"Ehmmmm." Tita tampak berpikir sejenak. "Sekitar jam 3 sore." lanjutnya sedikit ragu.
Rika mengangguk-anggukkan kepala, namun ekspresinya terlihat aneh. Tita ingin bertanya namun Rika segera mengubah topik obrolan.
***
Tiga hari kemudian, beredar gosip ada Bapak dan Ibu Guru yang menjalin hubungan terlarang. Bahkan keduanya terlihat berkencan di sebuah Toko Buku. Dua hari kemudian identitas keduanya semakin jelas yaitu Pak Guru Romi dan Ibu Guru Sinta yang notabenenya memiliki suami.
Karena menyangkut nama baik sekolah, Kepala Sekolah melakukan investigasi yang langsung dipimpin oleh beliau. Dan akhirnya nama terduga penyebar gosip mengerucut pada Rika dan Tita dan Kelas XI Ilmu Alam 3. Mereka berdua diintrogasi secara terpisah dan Tita menjadi orang terakhir yang diintrogasi oleh Kepala Sekolah.
"Apa benar kamu yang menyebar berita itu?" Kepala Sekolah berdiri di hadapan Tita dengan tangan dilipat di dada.
"Bu-bukan Pak." Tita sangat gugup.
"Tapi kata sahabatmu, kamu yang melihat mereka berkencan."
"Saya hanya bertemu Pak Guru dan Ibu Guru di Toko Buku, Pak." jawab Tita jujur.
"Temanmu bilang, kamu melihat mereka bergandengan tangan di dalam Toko."
"Tapi saya tidak pernah mengatakan hal itu, Pak." Tita tetap menyangkal.
"Jadi menurut kamu temanmu itu berbohong?" desak Kepala Sekolah.
"Saya tidak bermaksud seperti itu, Pak. Tapi saya memang tidak mengatakan hal seperti itu. Saya hanya bilang bertemu Bapak dan Ibu Guru di Toko Buku."
"Baiklah, saya akan memanggil temanmu yang tadi."
Seusai berkata demikian Kepala Sekolah keluar dan memerintahkan seseorang untuk memanggil Rika, Pak Guru Romi dan Ibu Guru Sinta. Tak lama kemudian ketiganya muncul dan duduk di dalam ruangan Kepala Sekolah. Ibu Guru Sinta terisak pelan, matanya terlihat sangat bengkak. Mungkin beliau menangis dalam waktu yang sangat lama. Bahkan terlihat lebam di kening bagian kanan seperti bekas terbentur sesuatu dengan sangat kuat.
"Temanmu ini bilang dia tidak mengatakan semua gosip itu." Kepala Sekolah menatap Rika dengan tajam. Gadis itu terlihat tenang, tak tampak ketakutan atau gugup, berbeda dengan Tita.
"Apa Bapak ingin menuduh saya berbohong?" Rika dengan berani menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan. "Saya Putri seorang anggota Dewan dan pengurus inti Yayasan Sekolah ini, tidak mungkin saya berbohong."
Kepala Sekolah tercekat, jawaban Rika seperti mengingatkannya bahwa remaja itu sanggup melakukan apa saja dengan posisi orang tuanya. Pria paruh baya itu menatap Tita dengan wajah sedih. Karena dari jawaban Rika, sudah jelas Tita tidak bersalah. Rika menggunakan kekuasaan orang tuanya untuk melimpahkan semua kesalahan pada Tita.
"Tita!" suara Kepala Sekolah terdengar sangat sedih. Tita adalah gadis cerdas yang selalu mengharumkan nama Sekolah sekalipun ia dari kalangan orang biasa. "Mulai besok kamu tidak perlu pergi ke sekolah lagi. Ambil tasmu dan tunggu Surat Keputusan saya untuk diberikan pada Kakek Nenekmu."
Tita mendongak dan menatap wajah Kepala Sekolah dengan mata terbelalak. Air matanya langsung mengalir dengan sangat deras. Ia memalingkan wajah dan menatap Rika, namun teman sebangkunya itu memasang ekspresi datar kemudian membuang muka.
Satu jam kemudian, dengan langkah gontai Tita berjalan meninggalkan gedung sekolahnya. Saat itu jam pelajaran tengah berlangsung. Tita teringat bagaimana teman satu kelas menyoraki bahkan melemparinya dengan kertas saat ia masuk untuk mengambil tas. Hatinya terasa sakit, apalagi Rika teman sebangkunya melemparkan kesalahan yang tidak diperbuat kepadanya.
Di luar gerbang terlihat Rika masih menunggu mobil jemputan. Dengan alasan tak enak badan, Rika meminta ijin pada Guru Piket untuk pulang.
"Kenapa kamu tega begini sama aku?" Tita langsung bertanya setelah ia berdiri tak jauh dari Rika.
Rika berbalik dengan raut wajah yang terlihat bingung. "Aku sudah lama menyukai Pak Romi, jadi aku tak ingin namaku jelek di depannya. Tenang saja, aku sudah menelepon Papa dan akan memberikanmu uang ganti rugi."
Tita tersenyum kecut. "Tidak perlu." tukasnya dingin. Ia segera menghentikan angkot yang kebetulan melintas. Tanpa melihat sedikit pun pada Rika, ia segera naik.
Lima belas menit perjalanan Tita meminta Sang Supir untuk menepikan kendaraan. Setelah membayar Tita segera turun kemudian melangkah dengan tergesa-gesa memasuki sebuah gang dan tiba di depan sebuah rumah type 36 berwarna biru.
Remaja itu mengucapkan salam, kemudian duduk di bangku yang ada di teras untuk membuka sepatu.
"Lho, Non Tita sudah pulang?" seorang wanita tua keluar.
"Sudah Nek." jawab Tita lesu. "Nek, Bilang Kakek Tita mau pulang sekarang juga." lanjutnya sambil membawa sepatu ke dalam rumah.
"Iy-iya Non." Nenek semakin terkejut setelah melihat wajah Tita yang sembab. Namun ia tak berani bertanya lebih jauh.
Tak lama kemudian sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah mungil itu. Tita dan kedua orang tua yang dipanggil Kakek dan Nenek segera naik. Mobil melaju ke arah pinggiran kota Jakarta dan selanjutnya menuju Bogor.
Matahari hampir terbenam saat mobil mewah itu memasuki halaman sebuah mansion. Seorang wanita cantik berdiri dengan anggunnya di depan pintu masuk utama mansion.
"Mama!" seru Tita setelah ia turun dari mobil. Remaja itu menghambur ke dalam pelukan wanita tadi dan menangis sejadi-jadinya.
Setelah tangis Tita reda, Mama segera menuntun dan mendudukkan putrinya itu di sebuah sofa dalam Ruang Keluarga. Sementara Kakek dan Nenek tadi setia mengikuti dengan mulut terkunci.
"Apa yang terjadi sayangku?" Sang Mama meminta penjelasan karena tak biasanya putri mereka pulang dengan kondisi seperti tadi. Tita menceritakan kejadian yang dialaminya di Sekolah.
"Tunggu Papamu pulang ya sayang. Kita akan menyelesaikan masalah ini." ucap Mamanya setelah mendengar cerita Tita. "Pak Sadeh dan Bu Dami bisa beristirahat." titahnya pada kedua pengsuh Tita.
"Terima kasih, Nyonya."
Tita tak pernah mengungkapkan tentang siapa debensrnya dirinya dan keluarganya pada teman-teman di sekolah. Bahkan dengan kekuasaan yang dimiliki Papanya, ia bisa menutupi identitasnya dengan mudah. Hanya operator data siswa saja yang mengetahui bahwa Tita anak seorang CEO perusahaan tambang batu bara. Bayarannya tentu tidak main-main hingga ia rela menutup data dan mulutnya dari Yayasan dan Kepala Sekolah.
Seusai makan malam, Tita dan keluarganya berdiskusi. Sampai akhirnya tercapailah sebuah rencana yang akan membalikkan keadaan.
***
Keesokan harinya, Breaking News sebuah televisi menampilkan berita Operasi Tangkap Tangan yang dilakukan KPK pada seorang anggota DPR RI. Anggota Dewan itu di tangkap bersama seorang pengusaha di sebuah hotel. Disinyalir mereka melakukan transaksi untuk memuluskan Alih fungsi lahan, yaitu hutan lindung menjadi area tambang. Anggota dewan itu adalah orang tua dari Rika.
Rika sangat terkejut mendengar berita yang disampaikan Mamanya. Remaja itu bahkan tidak berani pergi ke Sekolah. Belum habis keterkejutannya, di grup WA kelas beredar rekaman suara percakapannya dengan Tita saat menunggu jemputan. Dari suara Tita yang terdengar sangat jelas, Rika yakin Tita yang mereka percakapan itu. Entah menggunakan apa karena Rika tak melihat gawai sama sekali pada tangan Tita.
Dunianya terasa runtuh, dalam semalam keadaan telah berbalik merugikannya. Orang tuanya yang selama ini diandalkan untuk menutupi kenakalannya, mungkin tak akan bisa keluar dari tahanan dan akan mengenakan rompi Orange dalam waktu yang lama.
Rika menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya. Sampai kemudian sebuah pesan masuk di dalam WAnya. Ia melihat nomor tak dikenal mengirim sebuah video. Awalnya ia tak ingin membuka karena takut, namun karena penasaran akhirnya ia mendownload video tadi dan segera memutarnya.
Gambar awal menunjukkan sebuah kamar yang memiliki tempat tidur mewah dengan tema Tuan Putri. Kamar tersebut menggunakan warna ungu muda dan putih pada cat dinding dan semua interior di dalamnya. Kemudian muncul sosok Tita dengan menggunakan dress yang anggun. Remaja itu duduk di depan kamera, tersenyum manis dan melambai.
"Hai Rika, kita satu sama. Kamu pikir hanya kamu saja yang bisa menggunakan kekuasaan keluarga." Tita menyeringai, wajah ayunya terlihat menyeramkan. Video tadi sudah berakhir, namun Rika masih saja menatap layar iphonenya. Hampir 2 tahun selalu bersama Tita, ia tak pernah melihat wajah Tita berkespresi seperti tadi.
Tak lama berselang, muncul sebuah chat. Kali ini dari Kakak Sepupu Rika yang berada di Pulau Sumatera. Kakaknya itu mengirim sebuah foto disertai kalimat:
"Ternyata temanmu itu Putri pemilik perusahaan tambang tempatku bekerja.
Di foto itu terlihat sebuah pigura yang berisi foto pemilik tambang bersama istri dan anaknya, Tita.
"Oh Tuhan, aku sudah mengubah malaikat menjadi iblis." gumam Rika dalam hati sambil meraung.