Aku berjalan menyusuri gang-gang sempit yang sangat sepi. Malam ini lagi-lagi aku pulang terlambat dari tempat kerja. Aku mempercepat langkahku ketika mendengar suara langkah kaki berderap seperti sedang mengejar. Sesaat, aku merasa menyesal telah melewati jalanan sepi ini. Niat hati agar cepat sampai rumah, malah terjebak dengan rasa takut.
Jarak rumah yang seharusnya tidak terlalu jauh dari tempatku berada saat ini terasa sangat jauh. Aku merutuki kakiku yang tidak mau diajak kerjasama.
"Sial, kakiku sakit sekali. Seharusnya aku tidak memakai sepatu ini," gumamku.
Aku sangat yakin jika saat ini tungkai kakiku terluka. Rasa sakit di kaki tidak kurasakan lagi saat ini. Pikiranku hanya terfokus pada satu hal, yakni cepat sampai di rumah. Tempat paling aman yang dapat aku datangi.
Suara derap langkah itu sudah tidak terdengar lagi, membuatku perlahan memelankan langkah. Aku menoleh ke belakang ingin melihat siapa orang yang memiliki derap langkah menakutkan itu. Namun, hanya gelap yang menyapa. Tidak ada siapapun di sana. Bulu kudukku seketika meremang. Aku kembali melanjutkan langkahku. Setidaknya kini aku tidak berjalan tergesa seperti tadi. Namun masih kutahan rasa sakit di kaki.
Beginilah nasib jika tinggal di kompleks perumahan. Baru pukul delapan malam saja suasana sudah sangat sepi. Jalanan sangat menakutkan bagi para pejalan kaki sepertiku saat ini. Hanya dinding tinggi yang menemani tiap langkah. Penerangan jalan juga dipasang seadanya. Bahkan kamera pengawas banyak yang tidak berfungsi dengan benar. Sangat rawan terjadi kejahatan.
"Sepertinya aku harus pindah ke tempat yang lebih sedikit ramai," gumamku mengeratkan pegangan pada tasku.
Aku bernapas lega saat melihat gerbang rumahku. Langkahku menjadi ringan tidak seberat tadi. Bayangan-bayangan menyeramkan juga seketika sirna. Akhirnya aku sudah sampai rumah. Segera kucari kunci gerbang agar aku dapat segera masuk. Namun baru saja pintu gerbang terbuka, seseorang tiba-tiba saja memegang bahuku. Membuatku tentu saja terkejut. Spontan aku berteriak.
"Siapa?" tanyaku pada seseorang yang berdiri didepanku.
"Maaf, tadi anda menjatuhkan ini," jawab orang itu memberikan sebuah gantungan kunci.
Aku membulatkan mata dan segera mengecek tasku. Ternyata benar, gantungan kunci yang seharusnya terpasang di tas menghilang. Aku segera menerima gantungan kunci milikku.
"Ah, terima kasih telah mengembalikannya," ucapku tulus.
"Pakai ini, sepertinya kakimu terluka," katanya memberikan sebuah plester luka.
Aku menerimanya dengan banyak tanda tanya di dalam kepalaku. Namun, aku tetap berterimakasih padanya walau aku tidak mengenal orang ini.
Orang itu segera pamit setelah memberikan plester tadi. Sementara aku masih menatap punggungnya yang berjalan menjauh. Aku terkejut saat dia tiba-tiba berbalik dengan senyum diwajahnya.
"Jangan pulang larut malam lagi!" teriaknya yang dapat terdengar jelas oleh telingaku.
Teriakannya barusan membuatku bergeming. Bertanya-tanya, sebenarnya siapa dia? Bagaimana bisa dia tahu aku sering pulang larut malam?
🍂🍂🍂