Hari ini Joshua berulang tahun. Ia mentraktir dirinya makan enak di restoran.
Sebelum menyantap makanan, ia menutup matanya dan berdoa di dalam hatinya, "Tuhan, kirimkan aku jodohku.". Hanya satu itu permintaannya.
Saat Joshua membuka matanya, ia melihat ada seorang wanita di depannya.
"Maafkan aku. Aku terlambat," ucap wanita itu.
Joshua menggelengkan kepalanya.
Siapa dia?
Apa ia jodoh yang aku minta?
"Aku Hana." Wanita itu memperkenalkan dirinya.
"Aku Joshua." Joshua meraih tangan Hana dan bersalaman.
"Apa hari ini ulang tahunmu?" Hana melihat ada cake ulang tahun.
"Iya ...."
Joshua memotongnya dan memberi Hana sepotong. Tapi bukan Hana namanya bila ia hanya memakan seiris cake.
"Kau mau lagi?"
"Apa nggak pa pa aku makan seiris lagi?"
"Nggak pa pa. Aku juga nggak bakal habis makan ini sendirian."
"Maaf, ya. Kalau aku tahu hari ini hari ulang tahunmu, aku pasti siapkan kado."
Hana ....
Kau itu kadonya.
Dan itu lebih dari cukup.
Mereka berbincang-bincang. Joshua merasa cocok dengan Hana. Begitu juga sebaliknya. Sampai akhirnya Hana ditelpon oleh seseorang.
"Hana ... Kau di mana?"
"Aku sudah di resto."
"Pria kencan butamu marah ke aku. Katanya ia sudah menunggumu sangat lama. Ia sudah pulang sekarang."
"Eh? Tapi ... Aku lagi sama dia sekarang." Hana bingung. Ia merasa Joshua itu pria kencan butanya.
Senior Hana mengirim foto pria kencan buta Hana. Hana melihatnya lalu melihat Joshua.
"Maafkan saya. Saya salah orang." Hana merasa malu. Ia sudah salah mengira kalau Joshua itu pria kencan butanya.
Hana beranjak dari kursinya. Ia ingin segera pergi dari tempat itu. Joshua memegang tangan Hana. Ia merasa jika Hana pergi sekarang, ia takkan pernah lagi bisa bertemu Hana.
"Jangan pergi."