Plakk
Seorang gadis cantik bernama Nayra terjatuh di lantai kantin. Bahunya bergetar hebat, menahan tangis. Dia menguatkan mentalnya untuk bersiap-siap menerima serangan selanjutnya. Karena dia tahu, gadis di depannya ini tidak akan puas hanya dengan menamparnya.
Para penghuni kantin diam-diam bersemangat mendapat tontonan. Mereka memperhatikan dengan seksama sembari makan, beberapa diantaranya bahkan menyalakan ponsel untuk mengabadikan kejadian yang sudah sering kali terjadi ini.
Tidak ada seorang pun yang berani menghentikannya. Guru-guru bahkan sudah angkat tangan untuk menangani tingkahnya. Jika bukan karena otak cerdiknya, dia pasti sudah ditendang dari sekolah ini sejak lama.
"Lo tau kan gue muak banget sama lo! Tapi, lo malah cari masalah sama gue?! Udah berani ya lo!" marah gadis itu.
"G-gak, ak-aku gak berani, Von. Hiks, maaf," Tangis Nayra pecah, dia sangat ketakutan sekarang. Ini salahnya karena tidak sengaja menabrak dan menumpahkan semangkok bakso panas ke seragam gadis di depannya. Tapi, dia benar-benar tidak sengaja. Dia mana berani mencari masalah dengannya.
Dimanasih lelaki itu? Kenapa tidak muncul-muncul saat sedang dibutuhkan seperti saat ini?
"Lo..."
Brakk
Sekelompok lelaki beranggotakan 4 orang memasuki kantin.
"Nayra!" Alatas berlari menghampiri pacarnya dengan panik. Namun, langkahnya berhenti kala melihat gadis di depan pacarnya. Tangannya mengepal sembari mengumpulkan keberanian.
"Ivona, gue tahu lo masih cinta sama gue, tapi jangan buli Nayra kayak gini!"
Ivona, gadis cantik yang tadi menampar Nayra, mengerutkan kening. Sedetik kemudian, dia tersenyum remeh.
Ivona mendekati Alatas lalu...
Bugh
...Membogem wajah tampannya.
"Pede banget lo! Gue masih cinta sama lo? Yakali gue masih suka lelaki bajingan kayak lo! Gue ngasih pelajaran sama Nayra karena dia berani numpahin bakso ke seragam gue dan gue juga muak sama muka jalang itu," Ivona menunjuk Nayra yang masih terduduk di lantai lalu beralih menunjuk Alatas. "Dan lo, jangan ikut campur urusan gue sebelum gue tendang selangkangan lo sekali lagi!" peringat Ivona.
Alatas pucat pasi, dia mundur beberapa langkah. Alatas menatap Nayra seolah mengatakan 'Maaf'.
Nayra tersenyum kecut, sudah pasrah dengan nasibnya kali ini.
Ivona mengambil semangkok bakso yang entah milik siapa.
Byurr
Dia menjatuhkannya di atas kepala Nayra. Nayra meringis sakit, darah perlahan menetes dari kepala gadis malang itu.
Ivona belum berhenti, dia mengambil semangkuk sambal lalu menumpahkannya ke kepala Nayra. Dia membuang mangkuk sambal yang sudah kosong itu ke sembarang arah.
Ivona berjongkok, dia meremas dagu Nayra. "Kalo lo sekali lagi cari masalah sama gue, konsekuensinya bakalan lebih parah dari ini, Bitch!"
Ivona berdiri dia mengibaskan rambut panjangnya sombong, "Hah, karya gue emang gak pernah mengecewakan," katanya memandangi tubuh mungil Nayra.
Dia kemudian berbalik meninggakan kantin yang kini heboh memotret Nayra.
"Huueeee, gak tahan lagi. Al kita putus aja!" teriak Nayra. Dia menangis sesenggukan.
Alatas bergegas menghampiri Nayra yang terlihat sangat menyedihkan.
"Nay, jangan! Lain kali aku pasti bakal nolong kamu kok,"
"Lain kalinya kapan, Al! Kamu aja gak berani sama Ivona. Udah pokokya aku mau kita putus!"
Bagas menepuk bahu Alatas prihatin. "Makanya kalo punya pacar jangan diselingkuhin," katanya sok bijak.
Noah menoyor kepala Bagas, "Ngaca! Pacar lo ada dimana-mana. Gak usah sok nasehatin Alatas segala,"
Gibran hanya bisa menghela napas lelah melihat tingkah ketiga sahabatnya ini. Yang satu bajingan, satu lagi playboy, yang satunya lagi sadboy.
Sementara itu, Ivona tersenyum miring mendengar teriakan Nayra.
Fufufu, menyenangkan sekali menindas pasangan itu.
Sebenarnya Ivona dulunya bukankah gadis yang berperilaku seperti antagonis.
Gadis itu mulai bertingkat seperti ini sejak dua bulan yang lalu. Saat rentetan kejadian memuakan datang dan membuat gadis itu berubah.
Flashback On
Ivona berjalan memasuki pekarangan rumahnya. Dia memaksakan tubuh rapuhnya agar tidak tumbang saat perjalanan pulang. Dia menengok ke garasi, dua buah mobil mewah berwarna hitam terparkir disana.
Kedua orang itu ... Pulang?
Ivona berjalan mendekati pintu rumah, lalu menyenderkan tubuhnya. Suara-suara gaduh yang tidak asing terdengar dari balik pintu.
"Aku sudah bilang berapa kali sama kamu, rawat Ivona! Jangan terus-terusan sibuk dengan pekerjaanmu! Biar saya saja yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga ini! " bentak seorang lelaki paruh baya yang merupakan ayah Ivona, Roy.
Ibu Ivona, Amelia terkekeh sinis, "Bilang saja kamu cemburu dengan jabatan saya yang lebih tinggi daripada kamu,"
"Aku tidak cemburu! Hanya saja Ivona pasti butuh kasih sayang seorang ibu, Amelia,"
Amelia menatap tajam suaminya, "Lalu kamu akan bersenang-senang dengan selingkuhan kamu itu di kantor?"
"Aku tidak pernah selingkuh, Amelia! Dia hanya sekertaris aku,"
"Sudahlah kamu mengaku saja! Percuma menutupinya, semua karyawan kantor juga sudah tahu perihal hubungan gelapmu dengan wanita jalang itu,"
"Amelia, jaga ucapanmu! Berani-beraninya kau menyebut wanita lembut seperti Hanin dengan sebutan jalang!"
"Wah, kau sudah terang-terangan membelanya sekarang. Sudahlah, aku capek terus-terusan berdebat dengan kamu. Lebih baik kita pisah saja dan kamu bisa bahagia bersama wanita jalang itu!"
"Sudah kukatakan jangan menyebutnya jalang! Memang dari dulu aku seharusnya tidak menikah denganmu! Kalau ingin pisah ya silahkan. Aku juga sudah muak dengan sikapmu!"
Pisah yah?
Jadi pada akhirnya mereka akan pisah? Ivona tersenyum miris, air mata merembes keluar dari pelupuk matanya. Tidak apa, dia juga sudah menduga pada akhirnya mereka akan berpisah. Tapi, bisakah sekali saja tanyakan pendapatnya atau paling tidak pikirkan perasaannya. Bukankah dia anak mereka? Kenapa? Kenapa mereka tidak pernah memikirkan perasaannya?!
Dia sudah terbiasa di rumah sendirian, tanpa kasih sayang orang tua. Dia juga sudah terbiasa meringkuk di depan rumah saat mendengar perdebatan mereka yang tidak ada habisnya. Tapi, bisakah mereka memikirkannya saat hendak bercerai?
Ivona mengelap air matanya yang tidak kunjung berhenti. Dia memeriksa ponselnya, mencoba menghubungi seseorang yang mungkin bisa menenangkan pikirannya.
Ivona mengernyit melihat nomor pacarnya tidak bisa dihubungi. Dia menilik jam yang tertera di ponsel.
15.08
Masih jam tiga sore dan sekarang hari Rabu. Ah, pacarnya itu pasti sedang ekskul basket. Apa dia pergi ke sekolah pacarnya saja ya? Sekolah mereka memang terpisah saat SMA. Ayahnya tidak setuju dia sekolah disana. Dia merapikan seragamnya yang sedikit berantakan.
Ivona memesan taksi online untuk mengantarnya ke sekolah tempat pacarnya berada.
Ivona menyeka air mata dan ingusnya. Hanya tinggal hidung dan matanya yang memerah.
Beberapa menit kemudian, Ivona tiba di depan gerbang sekolah itu. Dia berlari menuju lapangan basket.
Sesampainya di lapangan basket, Ivona melihat kerumunan siswa yang sedang menyaksikan seorang lelaki yang menyatakan cintanya kepada perempuan di depannya.
Ivona terheran, kenapa lelaki itu tampak ... tidak asing?
Hahaha pasti bukan dia kan? Tidak mungkin, pasti bukan dia! Dia tidak mungkin melakukan ini!
Sementara itu di tengah kerumunan, Alatas memandangi gadis di depannya lembut. Gadis yang dia cintai...
Nayra.
"Nay, aku suka sama kamu. Apa kamu mau jadi pacar aku?" tanya Alatas penuh harap.
Nayra mengangguk malu-malu, menerima permintaan cinta Alatas.
Prok.. Prok.. Prok.. Prok
Siswa-siswa yang mengerumuni mereka berteriak heboh.
Namun, suara tawa membuat mereka terdiam seketika.
"Hahahaha," Ivona tertawa dengan air mata yang membasahi pipinya. Para siswa mulai berbisik, penasaran dengan identitas Ivona.
Ivona berjalan menghampiri kerumunan yang membelah memberinya jalan. Dia mendengarnya, suara yang begitu ia rindukan milik seorang lelaki yang ia harap bisa meringankan sedikit rasa sakitnya malah menyatakan cinta kepada gadis lain.
"Selamat, Al!" kata Ivona sembari tersenyum manis.
Alaska membelalak kaget, tidak menyangka pacarnya akan ke sekolahnya di saat dirinya menembak Nayra.
"Iv..."
Bugh
Alatas terhuyung ke belakang. Dia terkejut. Ivona menonjok wajahnya? Bukankah Ivona adalah gadis manis yang penurut dan juga manja saat bersamanya?
Alatas tertegun saat bertatapan dengan Ivona. Tatapannya begitu tajam seolah ingin membunuhnya sekarang juga.
"Bangsat! Bisa-bisanya gue pacaran 3 tahun sama bajingan kek lo!"
Ivona kembali menghampiri Alatas kali ini bukan melancarkan bogeman tetapi tendangan mematikan yang mengincar selangkangan lelaki itu.
Duak
Pyarrr
"Arrggghhhhhh!"
Para siswa yang berada di lapangan ikut meringis mendengar teriakan Alatas.
Astaga! Itu pasti sakit kan?
Flashback Off
Dan setelah hari itu, ayah dan ibu Ivona berpisah. Ivona ikut ibunya, sementara ayahnya menikah lagi satu minggu setelah perceraian.
Ivona meminta ibunya untuk memindahkannya ke sekolah tempat Alatas berada.
Ivona mulai membuli pasangan itu sampai sekarang. Dia bersikap layaknya wanita antagonis di dalam novel. Semua orang takut padanya dan menjulukinya Antagonist Queen.
Wanita yang mengacaukan cinta sepasang kekasih.
Setelah beberapa bulan menjadi antagonis, Ivona merasa kalau menjadi antagonis tidak seburuk kedengarannya.
Lagipula, dia tidak boleh membiarkan mereka bahagia begitu saja, bukan?