Duk.. duk.. duk.." Suara dentuman bola basket yang sedang Ku dribble terdengar begitu halus, seirama dengan tangan putih mulusku yang mendribblenya.
Ya, banyak yang bilang saat Aku sedang memainkan bola besar yang sering disebut bola basket ini cukup mengagumkan. Skillku yang sudah cukup mahir, mampu menyihir banyak mata saat Aku memainkan bola ini.
Oh ya, perkenalkan namaku Erina, salah satu anggota tim bola basket di sekolahku “Nagasaki” jersey nomer 13 yang kebetulan nomer kesukaanku.
Banyak teman-temanku bilang, Aku yang mirip dengan orang chinese ini tidak cocok dengan hobiku sebagai pemain bola basket, Aku lebih cocok seperti perempuan-perempuan lain yang hilir mudik sana sini, bersolek, dan menebar pesonanya di depan para lelaki2 yang menurut mereka keren.
Seperti sore-sore biasanya, Aku selalu berlatih bermain basket di gedung olahraga sekolah. Hanya saja 1 hal yang membedakan hari ini, perekrutan anggota tim basket baru.
Bukannya tidak senang punya anggota baru, tapi bagiku, jika ada anggota baru, pasti juga ada yang akan terbuang. Bukannya yang baru akan menggantikan yang lama?.
Akhirnya satu per satu anggota tim basketku datang. Kami pun memulai pemanasan dan lari lari ringan. Jam dinding besar yang berada di salah satu sisi tembok gedung telah menunjukkan pukul 15.00 WIB, menandakan bahwa sebentar lagi akan datang anggota tim basket baru.
Benar yang Aku pikirkan. Satu persatu anggota tim basket putra yang baru memasuki lapangan. Aku tetap memainkan bola basket di tanganku dengan lihai, sesekali memasing pada teman satu timku.
Berbeda dengan teman-teman satu timku yang segera membenahi kuncir rambut dan penampilan mereka, mungkin agar terlihat lebih cantik di hadapan anggota baru, MUNGKIN.
Aku menghentikan latihanku dan istirahat di pinggir lapangan, sesekali mendengarkan bisikan-bisikan dari teman satu timku. Ya kalau bukan membicarakan anggota baru ya siapa lagi?
“Lihat itu yang rambutnya kriting.” Ucap Linda temanku yang paling playgirl di antara yang lain.
“Iya rambutnya lucu, tubuhnya kecil lagi. Jadi tambah lucu.” Sahut Rina, temannya.
Mataku mencari sosok yang dari tadi mereka bicarakan, menjelajahi kesegala arena lapangan basket sambil terus menegak air putih yang dari tadi Aku gengam.
Mataku tertuju pada sosok mungil di tengah lapangan sedang menerima passing dari salah satu pemain, ya tidak terlalu ganteng, tapi ya lumayan lah.
Dia menggunakan jersey nomor 13, sama seperti jerseyku, dan di bagian belakang jerseynya tertulis nama pemiliknya “billy”. Tapi entah mengapa lama kelamaan Aku mual mendengar bisik-bisik Linda dan Rina yang semakin lama semakin menjadi jadi.
Aku pun mengambil tas kecil berisi sandal di sampingku, dan memutuskan untuk berjalan ke luar gedung, daripada Aku muntah, karena terus-terusan mendengarkan pembicaraan mereka tentang pria jersey 13 itu.
Aku berjalan menyusuri jalan menuju rumahku. Jarak sekolah menuju rumahku memang tidak terlalu jauh, jadi Aku lebih suka berjalan kaki.
.
Keesokan harinya sepulang sekolah, langit terlihat begitu mendung dan gerimis mulai berjatuhan. Aku berlari menuju bagian luar gedung olahraga.
Entah mengapa tiba-tiba hujan semakin deras, memaksaku tetap tinggal di tempat itu. Aku pun duduk di salah satu bangku di bagian luar gedung itu.
Tiba-tiba sebuah benda menggelinding dan mengenai kakiku, mataku sudah tak asing dengan benda itu lagi, bola basket.
“Eh.. maaf bolanya ngenain kaki kamu ya.” Kata seorang pria sedetik setelah bola itu mengenai kakiku.
“Iya gak papa kok.” Kataku sambil mengulurkan bola basket yang sekarang sudah ada di tanggannya.
“Boleh duduk disana?” Katanya sambil menunjuk bangku kosong di sampingku. Kami pun berkenalan, namanya Billy orang yang selama ini banyak dibicarakan oleh banyak gadis di sekolah ini.
Kami berdua bercengkrama sesekali tertawa-tawa kecil ditemani dengan rintikan hujan yang semakin lama semakin reda.
“Hujannya udah reda, Aku anter pulang yuk Rin” Ajak Billy.
“Ayo, eh liat itu.” Tunjukku ke atas, warna-warna mejikuhibiniu yang berbaris rapi, sebuah pelangi.
“Waw baru pertama kali Aku lihat pelangi seindah itu.” Lanjutku.
“Iya lah, pelanginya bisa indah gitu gara-gara ada Aku di sini.” Ucap Billy sambil cengegesan.
“Ih kePDan banget sih. Masak ada pelangi dari bola basket yang ngelinding di kaki bidadari?” Candaku membalas perkataan Billy.
Aku dan Billy akhirnya memutuskan untuk pulang. Berjalan beriringan di bawah warna indah pelangi sepanjang jalan, hingga persimpangan jalan memisahkan kami.
Entah mengapa Aku selalu memikirkan Billy sejak saat itu, pelangi dari bola basket yang menggelinding mengenai kakiku.
Jika kejadian itu tidak terjadi, mungkin Aku tidak akan mengenal Billy hingga sedekat ini. Dan entah mengapa Aku menginginkan Billy tetap di sampingku hingga suatu saat nanti.
Mengharapkan Billy tetap menjadi pelangiku, menebarkan kebahagiaan disetiap warna yang ia ciptakan. Billy, Kau adalah pelangi dari bola basket yang Aku miliki.
Aku menyukai warna yang engkau ciptakan, tapi bukan berarti Aku harus mengikatmu dengan komitmen ini itu, Aku biarkan Kamu bebas memberikan warnamu kemanapun dan ke siapapun yang kamu mau.
Tapi semoga sejauh manapun kamu pergi, tetap Akulah tempat berpulangmu nanti.
°°°°°°°