♡•KANA DAN KARA•♡
*KARA DAN PENGORBANANNYA*
Kana dan Kara itu saudara kembar, sifat mereka sama-sama baik. Tapi Kana adalah orang yang blakblakan dan mengatakan apa-pun yang ada di pikirannya. Sedangkan Kara lebih memilih memendam apa-pun yang ada di-pikirannya. Kana akan memberi pelajaran bagi siapa-pun yang menyakiti adik kembarnya, Kara. Kara tidak mengerti kenapa melawan jika dirundung itu hal yang sulit baginya. Kara tidak suka kekerasan, tapi teman sekelasnya melakukan kekerasan terhadapnya. Dan Kana tidak segan-segan menggunakan kekuasaan keluarganya untuk membalas perbuatan seseorang yang menyakiti adiknya.
Kana selalu punya cara untuk melindungi adiknya. Tidak peduli itu akan menyakitinya, yang terpenting baginya adalah Kara. Kara tahu kakaknya itu mencoba melindunginya, tapi Kara tidak mau terus berlindung dibalik badan Kana. Sesuatu yang harus diketahui Kara, Kana tidak akan membiarkan dia sendiri.
♡♡♡♡
Seperti sekarang, Kana tersenyum puas melihat sekelompok siswa yang tengah diberi siraman rohani oleh para guru BK. Ya, mereka siswa yang suka merundung Kara, adik Kana. Melihat mereka dipergoki guru dengan tidak aesthetic nya membuat hati Kana tergelak. Bagaimana tidak, salah satu dari mereka tidak sengaja memukul pipi guru BK hingga lebam. Kana sangat puas karena bisa menggagalkan kelakuan para manusia kurang akal sehat seperti mereka yang merundung Kara.
“ Kakak.....” Cicit Kara.
“ Iya Kara? Kenapa?” Tanya Kana, dipandanglah wajah adiknya yang kentara pucat tanpa rona.
“ Jangan lakukan lagi.” Ucapnya lirih. Kana mengerti maksud adiknya, Kara berpikir dia telah membebani kakaknya.
“ Tidak. Kakak harus melakukannya.” Balas Kana.
“ Tapi kasihan mereka juga.” Tunjuk Kara pada si perundung.
“ Jangan terlalu baik menjadi seseorang. Ingat sesuatu yang terlalu itu juga tidak baik.” Kana menggandeng bahu adiknya, dulu sempat berpikir, kenapa adiknya sangat pendek. Cukup, ini penghinaan bagi Kara.
“ Tidak hanya itu. Kara tidak mau terus membebani Kakak dan selalu berlindung dibalik punggung Kakak.” Kana sudah tahu apa yang akan diucapkan Kara. Entah berapa kali Kara mengatakan ini, Kana sudah lupa saking seringnya.
“ Kara adalah Adiknya Kakak. Bukankah ini tugas seorang kakak? Jangan mengelak, ini memang tugas Kakak, jadi biarkan Kakak menjalankan tugas Kakak dalam menjaga Kara. Kakak tidak pernah merasa terbebani dengan Kara. Jangan pernah merasa tidak enak hati pada Kakak. Jika Kara menganggap Kakak sebagai Kakak Kara, maka terima apa yang Kakak lakukan untukmu. Kakak rasa kamu sudah cukup mengerti akan apa yang Kakak lakukan untukmu.” Jelas Kana panjang lebar, Kara tersenyum teduh. Kakaknya selalu sama, tidak berubah walaupun tahu cepat atau lambat Kara akan pergi meninggalkannya. Mati mentalnya mengambil kesadarannya dengan paksa, jiwa dan raganya seakan dipisahkan secara paksa. Karena benteng kokoh nan tinggi didirikan oleh Bunda dan Ayahnya sendiri, Kara semakin sulit digapai. Kana sendiri mengakui bahwa adiknya sudah pergi jauh dari dekapan keluarganya. Dari sana Kana mencoba memberi kasih sayang yang selama ini tidak didapatkan Kara, walau tidak seutuhnya.
“ Pada akhirnya tujuan hidup manusia adalah.......”
“ Terima kasih, Kakak.” “ Maaf Kara akan mengingkari janji Kara pada Kakak.”
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Kara duduk menyendiri di balkon kamarnya. Kana dan orang tuanya sedang pergi untuk urusan Kana. Jika sendiri Kara punya kebiasaan buruk, self injury. Alasan Kara simple, dia hanya perlu pelampiasan. Jujur Kara sakit hati pada kedua orang tuanya. Mereka lebih menyayangi Kana daripada Kara. Kara sadar diri bahwa dirinya bukan anak yang berguna, jadi dia juga tidak berani meminta lebih. Mentalnya perlahan rusak, dirusak keluarga sendiri itu lebih menyakitkan. Tapi Kara senang, Kana sangat perhatian padanya.
Tangannya sudah dipenuhi cairan merah pekat yang merembes menembus kulitnya. Ada rasa tidak puas saat melihatnya, seakan darah McLeod itu tidak ada artinya bagi Kara.
“ McLeod.”
Setelah puas dengan permainannya, Kara membersihkan darah yang merembes dari daerah lengannya. Jika ada yang tahu apa yang dilakukan Kara ini, pasti akan menjadi sebuah masalah. Maka dari itu, Kara menutup rapat rahasianya.
Perhatian Kara teralih-kan dengan dering ponsel di atas nakas. Seakan tidak ada yang terluka, Kara menggunakan tangannya yang dia gunakan bermain untuk mengambil ponselnya. Tanpa meringis, sungguh sosok yang tidak dapat dikenal, seperti bukan Kara. Nama “ Dokter Daniel “ tertera apik di layar ponsel Kara. Ditekanlah tombol hijau dilayar ponselnya.
“ Kenapa Dokter Daniel?”
‘ Orang tuamu dan kakak kembarmu mengalami kecelakaan, Kara. Cepat ke rumah sakit.’
Seakan disambar petir dimalam yang tiada mendung maupun hujan. Air mata Kara luruh seketika.
“ I-iya. Kara ke sana bersama Kak Kanzia.”
Sambungan telepon terputus. Kara langsung mencari Kanzia dikamarnya. Kakak perempuannya itu entah sudah tahu apa belum. Kara tidak peduli.
“ Kak Zia. Ayah, Bunda, dan Kakak.....”
“ Tidak ada waktu Kara. Cepat ke mobil, kita ke rumah sakit sekarang.” Mungkin Kanzia sudah tahu.
**
Sampai di Rumah sakit, Kanzia dan Kara langsung bertemu Dokter Daniel. Kanzia, gadis itu sudah menangis sejak tadi. Dan Kara, padangan remaja 16 tahun itu kosong.
“ Dokter Daniel, bagaimana?” Tanya Kanzia tanpa basa-basi.
“ Orang Tua kalian hanya mengalami luka ringan. Tapi Kana, dia memerlukan donor darah dan donor jantung secepatnya. Selain itu Kana akan mengalami kebutaan karena matanya terkena serpihan kaca mobil.” Jelas Dokter Daniel, terlihat menghela nafas. Dalam pikirannya Kana bisa menyerah kapan saja.
“ Mcleod. Kara mau memberi donor darah Kara untuk Kakak!” Ucapnya dengan yakin.
“ Tapi Kara anemia......”
“ Kara tidak peduli. Kara hanya mau menyelamatkan saudara Kara. Jangan halangi Kara ya. Kali ini saja.” Ucap Kara dengan binar mata yang menunjukkan ke putus-asa-an.
“ Baiklah, ikut saya kalau begitu.” Final Dokter Daniel.
“ Kak Zia tunggu ayah dan bunda saja ya. Kana, biar jadi urusan Kara.” Ucapnya lalu berlalu meninggalkan Kanzia. Gadis itu langsung menuju ruang rawat orang tuanya.
**
“ Dokter Daniel, ambil semua darahku jika perlu. Asalkan saudara kembar Kara selamat.” Ucapnya dengan begitu lirih.
“ Dokter akan berusaha yang terbaik Kara. Tapi kita juga sedang mencari donor jantung untuk Kana.” Balas Dokter Daniel sambil mengambil darah langka milik Kara.
“ Ambil jantung Kara dan berikan mata Kara untuk hadiah ulang tahun Kana besok.” Ujarnya tiba-tiba.
Dokter Daniel tersentak atas ucapan Kara. “ Jangan bercanda Kara, ini bukan saatnya.” Jawab Dokter Daniel.
“ Sejak kapan Kara pandai bercanda. Apa Kara terlihat sedang bercanda? Tidak! Kara mau mendonorkan jantung dan mata Kara untuk Kakak!” Kara berujar kepercayaan. Matanya meyakinkan Dokter Daniel kalau Kara benar-benar ingin melakukannya.
“ Kara ini bukan sekedar transplantasi. Jika kamu tetap bersikeras mendonorkan jantung dan matamu, sama saja kamu mengakhiri hidupmu sendiri.” Dokter Daniel tengah menahan dirinya untuk tidak berteriak.
“ Kara memang sudah mati, dari awal ia menghirup udara dunia dan beranjak dewasa Kara sudah mati. Tubuh Kara memang masih hidup tapi mental Kara sudah mati sejak awal. Siapa yang membuat Kara mati mental? Ayah dan Bundanya sendiri. Setidaknya jika mental dan tubuh Kara sudah mati, tapi Jantung Kara masih berdetak di tubuh Kana. Mata Kara masih bisa melihat dengan terbukanya kelopak mata Kana. Jangan halangi Kara. Kara ingin selesai sampai di sini, biar Kara menjadi kenangan di keluarga itu.” Ucap Kara panjang lebar. Memang benar mental Kara telah mati, hanya tubuhnya masih ingin berjalan-jalan didunia.
“ Tapi Kara......”
“ Kali ini saja. Biarkan Kara membayar hutang budi Kara kepada Kana.” Ucapnya dengan mata yang siap mengeluarkan chrystal bening itu.
“ Baiklah Kara. Saya tidak bisa menolak keinginan kamu. Tapi apa kamu benar-benar yakin?” Tanya Dokter Daniel pada Kara.
“ Iya, Kara yakin.”
**
Diruang ICU, Kana terbaring. Remaja yang biasanya tersenyum hangat saat melihat Kara muncul itu hilang. Kara tersenyum miris, jika bisa memilih, lebih baik Kara yang terbaring di situ.
“ Kakak, maaf kalau Kara ingkar janji. Ini terakhir Kara bisa lihat Kakak. Kara tahu Kakak pasti marah. Tapi ini keinginan terakhir Kara. Kara sayang Kakak, nanti Kara ada sesuatu untuk Kana. Tunggu ya.” Kara menghapus air matanya. Mengusap lembut tangan Kana yang tidak sehangat biasanya.
“ Kara permisi ya. Kara sayang Kakak, sampai kapan-pun.” Ucapnya terakhir lalu meninggalkan Kana di ruangan itu.
Kara melangkah dengan gontai. Kepalanya sedikit pening, efek dari donor darah. Tujuan Kara adalah ruang rawat ayah dan bundanya.
Sampai di sana, terlihat Kanzia masih menangis walaupun dalam diam. Kara melangkah masuk.
“ Kak, nanti kalau Bunda sama Ayah sudah sadar bilang kalau Kakak sudah dapat donor Jantung dan donor mata.” Ucap Kara sambil menepuk pundak Kanzia.
“ Kara serius?” Tanya Kanzia pada Kara.
“ Iya kak. Tapi Kara mau pergi sebentar, kakak Zia jaga Bunda sama Ayah. Kakak hari ini langsung transplantasi.”
“ Kamu mau ke mana?” Tanya Kanzia.
“ Gereja.” Balasnya lalu pamit pergi.
‘ Maaf kak Zia, Kara tidak akan kembali. Jangan tunggu Kara.’
**
Setelah 3 jam lebih Bunda Kirana akhirnya sadar dan Ayah Harris sadar 15 menit kemudian.
“ Zia. Bagaimana Kana sayang??” Bunda Kirana langsung menangis histeris mengingat Kana tadi bersama mereka.
“ Bunda tenang. Kana sedang melakukan transplantasi jantung dan transplantasi mata.” Ucap Kanzia menenangkan Bunda Kirana.
“ Di mana Kara?” Tanya Ayah Harris pada Kanzia.
“ Dia bilang akan ke Gereja. Tapi sudah 3 jam dia tidak kembali, Zia punya perasaan yang buruk terhadap Kara.” Jawab Kanzia.
“ Kenapa anak itu malah menghilang di saat kakaknya sekarat.” Ayah Harris terlihat marah pada Kara.
“ Jangan marah. Kara sempat mendonorkan darahnya untuk Kana. Apalagi golongan darah mereka langka.” Balas Kanzia agar sang ayah tidak marah pada Kara.
“ Zia, Bunda ingin menemani Kana.” Ucap Bunda.
Bunda dan Ayah memaksa untuk menunggu Kana selama operasi berjalan. Kanzia masih diliputi perasaan takut dan bingung. Ke mana Kara pergi. Kanzia membuka ponselnya yang sedari tadi dalam kondisi daya mati. Tidak menyangka akan menemukan pesan pendek dari Kara yang dikirimkan hampir 4 jam yang lalu.
‘ Kana akan kembali dengan selamat. Sampai jumpa.’
Kanzia tidak mengerti maksud dari pesan Kara.
6 jam berlalu untuk operasi Kana. Akhirnya dokter pun keluar. Dokter Daniel tersenyum sumbang. Ada rasa sakit dihatinya saat dia kehilangan Kara.
“ Bagaimana Kana?” Tanya Kirana tanpa basa-basi.
“ Semuanya lancar. Sekarang perlu melakukan pemantauan selama pemulihan Kana. Tapi apa kalian khawatir pada Kara? Dia tidak terlihat di sini.”
“ Anak itu menghilang. Tentu kami khawatir.” Balas Harris.
“ Hmm baiklah. Dan ini, titipan surat dari pen-donor untuk Kana.” Dokter Daniel menyerahkan sepucuk surat pada Kirana.
“ Apa kami boleh melihat wajah pen-donor?” Tanya Kanzia pada Dokter Daniel.
“ Oh tentu, kalian bisa melihatnya dikamar jenazah...” “ lihatlah untuk terakhir kalinya.”
Kanzia, Kirana dan Harris berada dikamar jenazah untuk melihat pen-donor jantung dan mata Kana. Entah kenapa Kanzia merasa gugup dan khawatir. Hati gadis berusia 19 tahun itu bergemuruh tidak karuan. Mata Kanzia bergerak secara gelisah. Dokter Daniel memulai membuka kain putih yang menutupi jenazah di-depannya.
Saat wajah pucat tanpa rona itu tampak. Bagai ribuan belati mengarah dan tertancap direlung hati Kirana, Harris maupun Kanzia. Kirana menyentuh wajah berbalut kulit dingin itu. Tangan bergemetar, perasaannya tak karuan.
“ Jangan bercanda, Bunda mohon Kara.” Lirih Kirana mengusap pipi dingin putra bungsunya.
“ Dokter Daniel, kenapa tubuh Kara sangat dingin? Kembalikan pakaian hangat Kara. Kau tahu sendiri kan Kara tidak suka dingin, dia akan sakit jika terkena udara dingin. Kara sedang tidur kan? Ayo bangun, kita pulang. Jangan tidur di sini, dingin kan sayang?” Mati-matian Kirana menahan suara bergetarnya. Mencoba menolak mentah-mentah apa-pun yang dia lihat.
Harris diam, tidak tahu akan berkata apa. Lidahnya terasa begitu kelu dan dadanya terasa sesak. Rasa bersalah dihati Harris membuncah, selama ini ia kurang memperhatikan Kara. Dia pikir Kara akan baik-baik saja, tapi ternyata tidak. Perlahan Harris membunuh Kara.
Kanzia masih mencoba mencerna semua yang ia lihat. Matanya memanas, perasaannya sudah hancur sejak tadi. Bagaimana bisa adiknya yang beberapa jam lalu masih menepuk bahunya dan tersenyum, kini pergi dan memilih menyerah. Kanzia akhirnya paham maksud kalimat terakhir Kara ‘Sampai Jumpa’ artinya Kara sudah berpamitan dengan Kanzia namun Kanzia terlambat melihatnya. Kanzia merutuki kebodohannya membiarkan Kara pergi.
“ Kara, kenapa kamu bohong? Kamu bilang ke Gereja tapi kamu malah pulang ke yang kuasa. Kamu mengorbankan hidupmu demi Kana, kamu pikir Kana bisa hidup tanpa kamu? Kara, Kak Zia mohon, kembali sayang. Bangunkan kak Zia dari mimpi buruk Kak Zia.” Kanzia menyentuh mata Kara lalu mengusapnya lembut.
“ Tidak Kanzia. Adikmu hanya tidur, dia mungkin lelah setelah mendonorkan darahnya untuk Kana. Jadi dia tidur. Kara sayang, ayo bangun. Kara jangan membangkang, dengarkan bunda Kara! Kara! Bangunlah Bunda mohon!” Kirana berteriak histeris, Kara tidak mau bangun, Kirana takut ditinggalkan. Namun sadarkah Kirana bahwa dia juga membunuh putranya secara perlahan?
“ Sudah terlambat. Kara tidak akan bangun. Kara pergi tepat saat ulang tahun ke-16-nya dan memberikan matanya sebagai hadiah ulang tahun untuk Kana. Kara pasti lelah, dia menyembunyikan kebiasaan buruknya dari kalian, Self injury, dia hanya perlu pelampiasan dan pengalihan depresinya tapi usahanya gagal. Itu justru terus menyakitinya dan mengikis usianya. Kara iri karena kalian lebih memanjakan Kana, tapi dia juga merasa tidak berhak mendapatkan lebih dari ini. Dia merasa dirinya tidak berguna. Kali ini dia adalah yang paling berguna di sini, mengorbankan jalannya yang panjang demi kebahagiaan kalian. Ingat berikan titipan terakhir Kara untuk Kana.” Dokter Daniel pergi, dia tidak mau pertahanannya runtuh karena melihat Kara. Kara yang sudah dianggap adik oleh Dokter Daniel. Kini Daniel tidak bisa melihat senyum cerah Kara, tidak ada lagi cerita-cerita yang terlontar dari bibir peach Kara dan sekarang digantikan dengan bibir pucat tanpa rona sedikit-pun. Dunia kehilangan satu lagi permata mereka.
2 Hari Kana tertidur, kelopak matanya mulai terbuka pelan. Pandangannya sedikit berbayang sehingga ia mengerjapkan matanya pelan. Pikirannya langsung tertuju pada Kara. Dia melihat Bunda, Ayah dan Kanzia di sana tapi tidak ada Kara. Mungkin Kara sekolah ya?
“ Bunda, Kara di mana?” Tanya Kana pada Kirana.
“ Nanti kita bertemu Kara ya. Sekarang Kana istirahat dulu. Kara punya sesuatu buat Kana kalau Kana sudah pulih.” Ucap Kirana, suara bergetarnya coba ia redam agar Kana tak mendengarnya.
“ Kenapa tidak suruh Kara kemari? Kenapa harus menunggu nanti?” Tanya Kana, Kirana diam.
“ Ini kejutan Kara. Jadi tunggu saja ya, Kana.” Kanzia menyahuti Kana dengan nada tenang. Ia tahu Kirana tengah bingung memilih kata.
1 Minggu, Kana akhirnya keluar dari belenggu rumah sakit. Kana langsung merengek ingin melihat Kara. Kirana tak kuasa, hatinya hancur tak berbentuk. Kana yang awalnya antusias bertemu adiknya mendadak diam. Pemakaman, Kana takut sekarang. Bibirnya tidak berhenti bergumam kata ‘ kumohon jangan ‘.
Harris menuntun Kana menuju salah satu makam. Kana membeku membaca tulisan yang tertulis apik di nisan berlambangkan salib itu.
DEKARA RADESKA MAHESWARA
Apa ini? Kana mendadak bingung dan linglung. Hatinya hancur dalam sekejap, dalam hatinya masih berharap ini hanya mimpi buruk dan berharap lekas bangun dari mimpi buruknya.
“ Maksudnya...ini.....”
“ Kara sudah pulang sayang. Dia sudah pulang ke rumah yang lebih indah. Biarkan Kara pergi dengan tenang ya sayang.” Kirana membawa Kana ke dalam dekapannya, betapa hancurkan hati Kana sekarang.
“ Tapi kenapa Kara pulang tanpa mengajak Kana? Apa Kara tidak sayang Kana?” Tanyanya begitu lirih, membuat hati Kirana teriris dan terasa perih.
“ Tidak sayang, bukan begitu. Buktinya jantung Kara masih berdetak di sini, dan mata Kara masih bersemayam di balik kelopak mata Kana. Darah Kara masih mengalir ditubuh Kana.” Ucap Kirana, sontak Kana menyentuh dadanya dan merasakan detak jantungnya, menyentuh matanya yang terpejam.
“ Jadi Kara pulang karena Kana?” Tanya Kana pada Kirana.
“ Tidak. Bukan karena Kana, tapi Kara yang ingin. Dia ingin menyelamatkan Kakaknya. Jangan merasa kamu yang salah. Bukan sayang, bukan. Orang tuamu yang patut disalahkan.” Ucap Kirana.
“ Kara tidak seutuhnya pergi sayang.” Lirih Kirana ditelinga Kana, Kirana semakin mengeratkan pelukannya pada Kana.
Hampir 1 jam mereka di sana, mereka memutuskan untuk pulang. Bagaimanapun Kana belum pulih total.
**
Kana memegang surat terakhir Kara yang dia titipkan untuknya. Rasa sesak menyelimuti dadanya. Perlahan lipatan kertas itu dibuka.
Kana, ini adalah Kara....
Selamat ulang tahun untuk kita berdua. Walaupun Kara tidak tahu kapan Kana akan membaca ini. Kana jangan sedih karena Kara pergi. Jangan marah karena Kara pergi tanpa mengucap pamit pada Kana. Maaf ya? Sehat terus Kana. Jaga pemberian Kara untuk Kana. Setidaknya Kara sudah membalas semua perlindungan Kana pada Kara. Lihatlah luasnya dunia dengan netra gelap milik Kara. Tapi sekarang sudah menjadi milik Kana. Kara tidak seutuhnya mati, jantung Kara masih berdetak ditubuh Kana. Kana, Kara selalu bersama Kana. Jangan lama bersedih ya, Kara tidak suka Kana sedih. Kara ingin Kana selalu bahagia bersama Bunda, Ayah dan Kak Zia. Walaupun tanpa Kara.
Terima kasih atas semua perlindungan dan kasih Kana beri untuk Kara. Kara senang punya Kakak yang baik seperti Kara. Tapi Kara punya rahasia yang hanya Kara dan Tuhan yang tahu. Kana jangan marah ya jika tahu Kara suka bermain dengan cutter dan membuat sebuah karya ditangan maupun lengan Kara. Jangan berpikir Kara tidak menghargai tubuh dan darah pemberian Tuhan, tapi Kara perlu pelampiasan. Maaf lagi. Jaga diri baik-baik ya Kakak, jangan seperti Kara. Kara pamit. Kara sayang 𝙆𝙖𝙣𝙖.
“ Baik Kara. Tunggu Kakak ya. Kita akan bersama nanti.” Gumam Kana sambil memeluk kertas berisikan tulisan tangan Kara.
“ Kara adalah penghuni rumah Tuhan yang paling indah. Kisahnya akan terkenang “ Kara dan pengorbanannya.’_ 𝘼𝙍𝙆𝘼𝙉𝘼 REDESYA MAHESWARA.
Tidak ada kata sad ataupun happy ending dalam kehidupan walaupun yang tertulis di sini sudah mencapai akhir tapi kisahnya masih berlanjut dan panjang. Karena hidup terus berjalan dan melewati berbagai masalah dalam kehidupan. Kehidupan tidak hanya berhubungan dengan satu masalah namun kehidupan ditakdirkan untuk melewati berbagai rintangan dan masalah ke depannya. Intinya hidup tidak akan berhenti hanya karena satu masalah berakhir. Maka jangan menyerah, jalani hingga lelah.
“ Pada akhirnya tujuan dari kehidupan manusia adalah.......kematian”
*SELESAI*