{Minyak}
Tak nampak bagai angin...
Membawa kehangatan bagai mentari...
Menyelimuti bagai rembulan malam...
Menyinari bak gemerlap bintang angkasa...
Lembut bagai awan...
Ringan bagai kapas...
Tersapu angin ...
Tenggelam dalam lautan luas...
Mentari mu kini tinggal kenangan..
Lenteraku mulai kehilangan minyaknya...
Tidakkah kau berniat tuk mengisinya?..
Mengisinya dengan nyalamu yang terang benderang...
Tak ku rasa minyak cepat terkikis ....
Kini minyak ku telah habis....
Dan semangatku memudar ....
lenteraku segera padam...
Dan gelapnya menelanku dalam sepi yang abadi..
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~`~``~~~~~~~~~~~~``
"Hoam." Gadis itu menguap.Ia benar benar benar mengantuk,langit malam telah membuatnya nyaman duduk di tepi jendela kamarnya sembari mengurai kata,namun apalah daya cokelat panas di
mejanya telah menggugah rasa kantuk di hatinya.
Ia menutup buku diary nya kemudian beranjak dari kursi dan berjalan menuju tempat tidurnya.
"Brugh." Ia menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk itu.Senyaman apapun kau mengobrol dengan rembulan pasti nyaman nya akan terkalahkan rasa lelah,aku tau gejolak hati tak kan bisa dikalahkan. Batin gadis itu.
Kala itu pukul 00.00
Langit malam yang sejuk,sinar rembulan yang terang benderang, serta gemerlap bintang menemani gadis itu dengan lembaran kertas baru di buku diarynya.
Gadis itu nampak bagai bidadari malam, pakaiannya sungguh bercahaya di bawah kilaunya rembulan, rambut gelombangnya terurai indah dan kadang tersapu angin malam. Kacamata bulatnya membuat gadis itu terlihat imut.
Adinda Feranaila
Gadis itu baru kelas 1 SMP, seorang penulis pemula yang namanya belum melambung tinggi, mungkin suatu saat nanti.Ia hanya gadis biasa dengan kisahnya yang juga biasa.Bangun, berangkat sekolah,belajar,mengarang puisi bahkan kadang juga novel lalu pergi tidur.Terlalu biasa untuk di ceritakan.
Namun tanggal 5 Januari 2021 kisahnya terjungkir, hidupnya bagai roda yang berputar karena memang itulah takdir umum bagi makhluk hidup.
Dari mentari berubah jadi rembulan
Dari terang jadi petang
Kini ia telah jatuh cinta pada malam
Karena hanya malam yang paham tentangnya.
Perasaannya tak terlihat namun begitu mempengaruhi
Cerianya membawa kehangatan bagai hangatnya pagi
Dilingkup memori dibawah terang
Ia bersinar bagai bintang
Rana...
Ia selembut awan
Pembawaannya begitu ringan seringan kapas
Terkait dengan takdir
Dan terjebak dalam kisah yang ia tak harapkan
Adnandra Zalfan Prasasta
Mentari bagi seorang Adinda Feranaila
Minyak bagi seorang Rana
Seorang yang pergi dan kemudian datang kembali
Meninggalkan dalam gelap dan kembali dalam terang.
Mungkin itulah alasan Rana mencintai gelap,ia tengah menanti,menanti seorang Adnandra Zalfan Prasasta yang tak kunjung menyapa.
Cahaya dari mata Rana mulai meredup, perlahan namun pasti, ia diliputi kerinduan yang tak pasti dimana pemberhentiannya.Bola kristal bening itu ada di ujung matanya,ia menangis rembulan lah saksinya,saksi kesedihannya.
Rana..
Ia berlari terlalu jauh demi meninggalkan
Seberapa pun jauhnya ia,ia tak kan pernah bisa kabur
Karena bayangan itu telah mengepungnya dari berbagai arah
Sekalipun ia berada di dalam mimpi sekalipun ia akan tetap bertemu dengannya.
Gelapnya menelan Rana dalam sepi yang abadi.
Hari baru masih tersisa, dan lembaran kosong kan segera terisi,masih banyak kisah menanti tinggal menunggu masa dalam ketenangan yang nyaman.Istirahatlah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan!
Esok harinya! 5 Januari 2021
"Kring!"
"Ya..Ya..Ya.....Aku bangun dasar alarm berisik!" Gerutu Rana sembari menekan keras alarm itu hingga ia diam.
"Aaaaaaaaargh........" Teriak Rana,ia benar benar kesal hari ini padahal hari masih baru di mulai dan sudah banyak yang ia keluhkan.
"Rana jangan teriak teriak!" Tegur Ibu Rana dari arah dapur,ibunya sedang menyiapkan sarapan di dapur.
"Iya!" Sahut Rana.
"Aku pamit berangkat dulu Bu! Aku sarapan di jalan." Ujar Rana sembari mencomot roti di meja makan kemudian ia berlari keluar dari rumahnya.
"Rana..." Sebelum ibunya marah Rana telah lebih dulu keluar dari rumahnya.
"Huuh....Dasar anak muda." Keluh Ibu Rana.
"Ardi!" Sapa Rana, kemudian ia berlari menghampiri Ardi teman sekelasnya,tetangganya sekaligus sahabatnya sejak masih dalam kandungan.
"Ya Tuhan...Bisakah kau menjauhkannya dariku?Aku bosan dengan tingkahnya yang masih saja kekanak Kanakan ini." Keluh pemuda bernama Ardi itu.
"Nebeng ya Di!" Ujar Rana kemudian dengan cepat ia langsung naik ke atas motor Ardi dan membuat Ardi hampir terjatuh dari motornya sendiri karena belum siap dengan kejutan dari Rana.
"Tabahkan hati hamba menghadapi perilaku makhluk ciptaan anda satu ini!" Batin Ardi memohon.
Perjalanan yang menyenangkan bagi Rana sekaligus perjalanan yang menyebalkan bagi Ardi pun akhirnya selesai saat mereka telah tiba di sekolah mereka.Rana langsung turun dari motor Ardi dengan meloncat tentunya dan juga membuat Ardi jantungan karena motornya hampir saja jatuh......Lagi dan itu dilakukan oleh orang yang sama yakni Adinda Feranaila.
"Rana gak usah lari lari!" Teriak Ardi.Ardi memang terbiasa mengurus Rana dengan sifat kekanak-kanakan nya,sejak kecil saat pertama kali bermain dengan Rana,Ardi telah di pasrahi oleh ibu Rana agar Ardi senantiasa menjaga Rana dan hebatnya lagi Ardi terus melakukannya sampai saat ini, bahkan tak jarang orang orang sering salah paham menganggap Rana dan Ardi adalah sepasang kekasih.Salah sendiri teman tapi mesra sih.
"Ay!Ay! Kapten." Balas Rana tanpa memperlambat laju larinya, beruntung kondisi lorong masih sepi kalau tidak sudah tak terhitung lagi berapa banyak orang yang telah di tabrak oleh Rana.
Ardi mengejar Rana,yang namanya mengejar pastilah dengan berlari jadilah mereka bermain kejar kejaran di lorong sekolah, beruntung kala itu masih jam 05.30 jadi belum banyak siswa juga guru yang datang,kalau tidak baguslah mereka di ruang tata tertib.
Brak!
Rana membuka pintu kelasnya kasar
"GOOD MORNING EVERYBODY!!" Teriak Rana menggelegar di seluruh ruangan kelas.
"MMM!!"
"Rana! Diamlah!!" Peringat Ardi melotot ke arah Rana sembari membekap mulut Rana agar ia diam,gadis itu jika tidak di solasi mulutnya tidak akan bisa diam, sungguh!
Waktu terus berjalan dan makin lama makin banyak siswa berdatangan,berangsur angsur sifat Rana mulai berubah 180°.Dari mentari menjadi rembulan,dari yang awalnya ricuh jadi pendiam.Itulah Rana ia hanya akan menunjukkan sifat kekanak-kanakan nya pada orang terdekatnya saja.
"Hi Rana!" Sapa teman sebangku Rana.Syafa!
Sapaan dari Syafa seperti biasa hanya mendapat balasan berupa senyum dari Rana.
"Seperti biasa Rana,kau selalu menjawab ku dengan senyum,tapi tak masalah karena aku lebih menyukai senyummu yang tulus." Ujar Syafa lalu duduk di samping Rana.Ia mengeluarkan buku IPS nya.Rana yang melihatnya hanya berpikir "Kenapa dia mengeluarkan buku IPS?"
"Rana!Kau sudah belajar?Hari ini kita ulangan IPS" Jelas Syafa.
Rana terkejut tapi wajahnya tetap terlihat begitu santai menutupi gejolak kaget di hatinya.
"Mati aku,aku lupa hari ini ulang IPS dan aku belum belajar.Aaaaaaaaa Ardi tolong aku." Batin Rana berteriak, seandainya tidak ada orang di sana Rana pasti telah berteriak dengan sangat sangat-sangat keras,beruntung kala itu kelas dalam kondisi ramai sehingga mencegah Rana untuk berteriak kalau tidak pecahlah gendang telinga Ardi karena teriakan panik Rana.Ardi harus mengucapkan rasa terimakasih yang besar pada teman teman sekelasnya yang hadir saat itu.
Kring!
Pelajaran dimulai,Ulangan di laksanakan
Kring!
Pelajaran berakhir kini giliran waktu istirahat yang menyapa
Kring!
Istirahat pergi dan pelajaran tiba kembali
" Perkenalkan dirimu!" Perintah guru IPA mereka,ada seorang pemuda yang ramah senyum di sampingnya,murid murid menduga ia adalah murid baru,semua kagum dengannya hingga pemuda itu menyebutkan namanya.
"Adnandra Zalfan Prasasta,kalian bisa memanggilku Zalfan!" Ujarnya dengan ramah.Rana yang mendengar nama pemuda itu langsung kaku, wajahnya mulai terlihat panik, wajahnya yang tadi fokus ke arah depan kini menunduk dalam dalam.Merenung!
Kring!
Pelajaran kala itu terasa begitu sesak bagi Rana,ia keluar kelas siap dengan membawa sekarung pertanyaan di pundaknya.Itulah yang membuatnya diam sedari tadi walaupun sebenarnya di kelas ia dikenal sebagai seorang yang pendiam namun tadi di kelas ia lebih pendiam dibandingkan biasanya.
{Pergi}
Musim panas telah pergi...
Musim hujan telah tiba...
Kenangan mu telah pergi...
Terganti kosakata tak bermakna...
Kini mentari undur diri...
Dan rembulan datang menyapa...
Hari silih berganti...
Dan engkau masih tetap disana...
Wahai kebahagiaan..
Enggankah kau menyapa?..
Dalam tetesan embun pagi...
Engkau hadir menghilangkan dahaga...
Lalu kau pergi membawa makna...
Kau yang memang sejak awal bukan siapa siapa..
Kini jadi pelipur lara...
Kemudian engkau pergi merenggut semua...
Menghilang tanpa jejak yang tertata
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~``|``^^°°
Seperti malam sebelumnya.Rana kembali menuliskan kata dalam lembaran barunya.Tinggal menanti esok agar lembaran kosong itu segera terisi.
"Kenapa dia harus kembali?"Tanya Rana pada dirinya sendiri.Ia sedang berdiri berhadapan di depan cermin dengan jendela kamarnya yang terbuka,membiarkan rembulan menyinari kamar yang gelap gulita itu.Rambutnya terkuncir kuda,lantas ia menarik tali rambut di rambutnya.Elegan....Rambutnya terurai indah bergoyang ke sana kemari seolah sedang menari,wajahnya berkilauan dibawah siraman sinar rembulan tapi lihatlah wajahnya!Lihatlah matanya!Tersirat betul kesedihan hatinya....Tersirat betul kelelahannya.
Dihadapan cermin ia berkata"Hanya hati yang hancur yang kini tinggal tersisa." Dengan Isak tangis yang tak berhenti ia melanjutkan perkataannya "Aku masih berusaha memperbaiki semua saat kau pergi menghadirkan badai lalu kau datang lagi membawa kembali badai itu." Sekuat tenaga ia bercerita mencurahkan seluruh isi hatinya......Pada dirinya sendiri. " Aku tahu aku berantakan,aku bukan orang yang sistematis juga bukan orang kreatif,sungguh.....Aku Lelah dengan semua ini...." ". SEKARANG KELUARKAN AKU DARI SINI!" Teriak Rana.kakinya lemas,ia duduk terisak di hadapan cermin tinggi itu.Kini,tak hanya rembulan yang menjadi saksinya namun kini cerminpun turut menjadi saksi atas kesedihannya.
Dengan kaki yang masih sempoyongan gadis itu berjalan ke arah ranjangnya,rambutnya menari nari dibawah sinar rembulan yang tembus melalui jendela kamarnya,angin terus menerpa tubuh lemah gadis itu namun gadi itu tetap berdiri.Ia butuh istirahat,ia tertidur lelap di atas ranjangnya melupakan sejenak kesedihannya untuk hari esok yang semoga menjadi hari yang lebih baik baginya maupun bagi semua orang.
Esok harinya 6 Januari 2021
Mentari pagi bersinar terang awan awan menari nari di angkasa dan burung burung berkicau dengan senandung mereka.Mood Rana telah membaik.Ceria pendiam ceria pendiam ceria pendiam lagi seperti semula.Dan seperti biasa ia berangkat sekolah dengan nebeng pada tetangga,sahabat karibnya sekaligus pengawalnya Ardiansyah Firmansyah alias Ardi.
Di kelas Rana seperti biasa bersikap acuh terlebih lagi pada Adnandra Zalfan Prasasta alias Zalfan, tapi tetap pada pendirian Rana gak ada yang bisa ngalahin nilai rapornya, sahabat maupun masalahnya gak ada yang boleh ngehalangin.TITIK!! Itulah prinsip Rana.
Pluk!
Sebuah buntalan kertas tiba di meja Rana.
*Hah?Apaan nih?* Batin Rana bertanya tanya.
*Sreet* Rana menyenggol buntalan kertas itu agar menjauh dari mejanya.
Hap!
"Rana! Kertas apa ini?" Tanya Bu Dijah
"Saya tidak mengetahuinya Bu,Ibu bisa membaca isi kertas tersebut jika Ibu tidak yakin dengan perkataan saya." Jawab Rana tanpa emosi.
JAUH SEBELUM HARI ITU TIBA
aZkYa El hAnS
Hi kawan!
Masih ingatkah berapa banyak waktu yang telah kita habiskan bersama?
Berapa banyak detik yang telah kita lewati?
Berapa menit kita bersama?
Berapa jam kita habiskan untuk bercanda ria?
Berapa hari telah kita lewati untuk saling berbagi?Berapa Minggu kita telah bertukar cerita?
Berapa bulan?Berapa banyak masa yang telah kita habiskan bersama?
Jawabannya hanya satu:Tak terhitung karena setiap kebahagiaan tak pernah mengenal masa.
Hei kawan!
Masih ingatkah kapan pertemuan pertama kita?
Masih ingatkah bagaimana kita bisa menjalin ikatan " teman "?
Masih ingatkah kapan kita membangun pohon kenangan?
Masih ingatkah kapan kita terakhir berkumpul bersama?
Semuanya berisi tentang pertanyaan pertanyaan
Pertanyaan pertanyaan kosong namun memiliki sejuta arti
Memiliki ratusan juta kasih sayang yang perlahan memudar
Dan memiliki milyaran kata yang tak tersampaikan
Jauh sebelumnya....Jauh sebelum hari itu tiba.....
Hari dimana kita berpisah....... Hingga kini atau bahkan nanti
From: Adnandra Zalfan Prasasta
to: Adinda Feranaila
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Adnandra?" Tanya Bu Dijah.
"Ya Bu?"Jawab Adnandra santai,ia tak salah,ia tak mencontek,dan tak pula memberi contekan.
"Kamu yang menulis ini?"
"Saya yang menulisnya Bu,ada apa?"
"Kamu ibu ikutkan lomba sekabupaten dan Adindra?"
"Adinda Bu!" Sela Rana,ia paling tidak suka jika orang salah menyebut namanya, namaku terlalu mudah untuk di sebut dan orang orang masih saja salah menyebutnya?Benar benar keterlaluan. Pikir Rana.
"Adinda Feranaila kamu Ibu ikutkan lomba bersama Adnandra.Minggu depan beri Ibu 2 puisi kalian."Titah Bu Dijah.
"Lho?Kok tiba tiba saya dipilih Bu? Walaupun Ibu wali kelas saya Ibu gak boleh seenaknya nentuin keputusan kayak gini dong!" Batin Rana,kalau saja ia tega mengucap semua itu tak terbayang lagi sejuta perdebatan yang akan di bawakan oleh Bu Dijah dan Rana.
"Kenapa mendadak Bu?" Tanya Rana.
"Sebagai hukuman kalian!"
"Rana aku yang menang!"
"Aku membencimu sungguh aku benar benar membencimu ADNANDRA ZALFAN PRASASTA."
Mata pelajaran Bu Dijah adalah jam terakhir,tadi sebelum bel berbunyi Rana sempat melemparkan sebuah buntalan kertas pada Zalfan
"Temui aku di belakang sekolah!" Begitulah isi kertas tersebut,Zalfan yang membacanya hanya tertawa pelan.
~~~~~`|``||~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~||•
"Apa yang kau coba lakukan?"Beberapa lama ia terus menunggu di belakang sekolah, sekarang pukul 18.00 dan ia belum juga datang,ia memutuskan untuk pulang.
Penantian adalah harapan dan harapan adalah bibit dari kebencian...
"Kenapa kau melakukannya?...."
"Mengapa kau melakukannya Rana?! Apa yang membuat mu begitu membenciku? Apa pada saat aku pergi tanpa menemui mu?Bukan kah aku telah mengirimkan sebuah surat?Apa surat itu masih belum cukup?"
"Aaaaaaaaargh!!!" Zalfan menambah laju motornya,membelah kegelapan senja yang menaunginya.
Bagiku senja adalah awal dari kegelapan yang sangat gelap.
~|•~|`~||~~~`|~`|```````|``||~`||`||•√~~`~~~`||``~~~~`•|
Slurp!!
"Rana!Aku tau kau melakukan suatu kesalahan dan aku juga tau kau merasa sakit setiap kali melakukan kesalahan."
"Ya,aku tau, terimakasih karena telah peduli!"
Dua Minggu telah berlalu, matahari pagi memancarkan kehangatan namun tidak dengan keadaan di sekitar mereka.
"Rana!" Panggilnya pelan.
"Maaf."
"Rana!" Panggilnya lembut.
"Maaf telah mempermainkan mu!"
"Rana!Aku tau apa yang kau coba sampaikan!Kau ingin aku juga merasakan sebuah penantian." Jelas Zalfan.
" tiga tahun yang lalu kita memulai persahabatan lalu setahun kemudian aku pergi meninggalkan sebuah surat untukmu.Apakah kau menerimanya?" Tanya Zalfan.Rana hanya menggeleng pelan.
"Sudah kuduga,ini adalah penyebab masalah kita selama ini.Sekarang tenanglah!Kita masih bisa memulainya kembali dari awal,kau aku dan Ardi kita adalah sahabat sejati.Benar begitu?"Zalfan menenangkan Rana,ia memegang pundaknya dam memberikan jaketnya memasangkannya pada tubuh Rana.
"Aku memang tak bisa memelukmu tapi setidaknya biarkan kau merasakan pelukanku lewat jaket ini." Ujar Zalfan.
"Ya.."Lirih Rana.
"Bisakah aku mendengar surat itu?"
"Tentu." Jawab Zalfan.
~~~```•`√|~|~√~||~|`~`~~``~~~~~~~`~``~~~~~`~
{Tenggelam}
Seandainya aku memiliki sayap
Aku pasti akan terbang mengejar mu diatas sana....
Seandainya aku memiliki kecepatan super
Aku pasti akan menangkap mu tuk tetap di sisiku...
Seandainya aku bisa memutar waktu
Aku akan pergi sebelum aturan ini sempat membelenggu....
Seandainya aku dapat menebas
Kan ku tebas lautan hanya untuk mu...
Seandainya malam tak jadi pagi
Aku pasti masih bersamamu....
Seandainya kala itu tak hujan
Aku pasti masih dapat melihat senyumanmu...
Saat langit tak mendung mengapa hujan harus turun?..
Aku ingin tetap disini..
Berpijak di bumi ini...
Namun kalian pergi,terbang jauh tak tergapai...
Aku ingin mengejar kalian...
Namun jalan kita berbeda....
Kalian terbang sedang aku tenggelam....
~`|~~~~~~~~~~~~~```•`√|~|~√~||~|`~`~~
"Surat itu tak tersampai, bagaimana mungkin?" Tanya Rana.
"entahlah." Zalfan mengambil jaketnya yang terjatuh kemudian memasangkannya kembali di tubuh Rana lalu ia mengecup kening Rana.
~~```•`√|~|~√~||~|`~`~~``~~~~~~~`~``~~~~~
{Kau}
Hadirmu adalah sebuah karunia dalam hidupku....
Namun hadirmu juga adalah sebuah karma dalam hidupku..
Engkau adalah karunia sekaligus karma dalam takdirku...
Aku tak bisa menyebut mu sebagai karunia namun aku juga tak dapat menyebutmu sebagai karma...
Kau tak buruk namun tak pula baik untuk ku...
Kau adalah rembulan namun juga malam yang gelap...
Engkau adalah cahaya namun engkau juga adalah kegelapan itu sendiri....
~~```•`√|~|~√~||~|`~`~~``~~~~~~~`~``~~~~~
Zalfan mengecup kening Rana "Jaga dirimu dan cinta kita yang ada dalam rahimmu.Aku pamit." Zalfan menurunkan topi jenderalnya memberi hormat pada adindanya tercinta.
Mereka kini telah menikah dan lulus kuliah,Rana kini tengah mengandung anak pertama mereka,usia kandungan Rana menginjak usia 6 bulan saat seorang jenderal Adindra Zalfan Prasasta harus turun tangan langsung dalam melindungi perbatasan..
"Kemarilah Adinda ku!" Panggil Zalfan pelan.Rana maju perlahan ia masih menangis sama seperti belasan tahun lalu.Zalfan memeluk Rana dalam bayangan senja, perlahan namun penuh arti.
"Kembalilah!Aku akan terus menunggu mu!" Lirih Rana.
"Aku akan berusaha!"
"Ardi tolong jaga mereka!" Titah Zalfan.
"Siap jenderal!"
Adnandra Zalfan Prasasta seorang jenderal yang akan meninggalkan Adindanya yang tengah mengandung demi negaranya tercinta.
~~```•`√|~|~√~||~|`~`~~``~~~~~~~`~``~~~~~
{Terganti}
Sejuk kini menerpa..
Membawa kesunyian yang terasa abadi...
Percuma terasa...
Kala ku menanti dalam sunyi...
Jika hingga akhir pun kau tetap tak jumpa...
Biru kini menjadi hitam...
Mentari kini jadi rembulan...
Ricuh yang terganti sunyi...
Membawa pergi kenangan berarti...
Burung burung diganti bintang...
Aktivitas kini terganti rehat...
Jalannya begitu cepat..
Tak mau menunggu yang lama...
Waktu...
Bisakah kau melambat?
Biarkan aku mengenang nya dalam putaran mu...
Waktu...
Bisakah kau berhenti?
Membiarkan ku bersamanya lebih lama lagi ..
Andai malam bisa ku ubah jadi pagi kembali..
~~```•`√|~|~√~||~|`~`~~``~~~~~~~`~``~~~~~
6 bulan telah berlalu sejak keberangkatan Zalfan dan Rana telah melahirkan seorang putri yang kini berusia 3 bulan ADINDA RAINIKA PRASASTA atau RAINI.
"Ardi apa kau sudah mendapat kabar dari pasukan perbatasan!" Itulah pertanyaan Rana setiap bulannya.
Rana menghadap ke jendela kamarnya, menyaksikan hujan yang turun dengan lebat seolah tengah mewakili air mata seseorang.
Ardi membisu mulutnya bungkam tak dapat di gerakkan dan ia segera terduduk lemas di lantai itu.
"Jendra Adnandra Zalfan Prasasta gugur dalam perang mempertahankan perbatasan nyonya Feranaila!" Jawab Ardi lirih.
"Begitu ya?"
"Nyonya tak menangis?"
"Haha...Air mataku telah diwakili oleh hujan ini Ardi!" Rana tertawa hambar.
"Aku adalah manusia biasa Ardi,pastilah aku merasakan kesedihan yang mendalam tapi aku tak bisa melanggar janjiku padanya." Rana menutup matanya khidmat, mengingat kembali masa masa yang telah ia lewati.Menyakitkan.
Mengenang adalah hal paling menyakitkan walaupun kamu sedang mengenang hal paling bahagia yang pernah kamu alami.....
Saat menyadari bahwa waktu telah berlalu begitu cepat di situlah kamu akan merasakan sejuta kesedihan...
"Aku dan Afdel istriku akan menjagamu dan jua Raini."Rana hanya tersenyum simpul menanggapi nya.
~~```•`√|~|~√~||~|`~`~~``~~~~~~~`~``~~~~~
{Jani atas Rindu}
Tetesan demi tetesan air mata kian menetas..
Tawa ceria yang mulai redup...
Hati yang kian lama kian retak..
Tubuh yang telah lelah menghadapi semuanya..
Dengan itu semua aku masih bisa bertahan...
Dengan itu semua aku sedang berusaha tuk maju ke depan...
Kemana saja kau?
Hanya dengan harapan kau akan segera kembalilah aku dapat bertahan..
Bisakah kau segera datang?
Menemani dan mendampingi ku lagi sama seperti dulu?
Aku sangat membutuhkan dekapanmu yang hangat..
Aku merindukan dukungan yang selalu kau beri...
Aku merindukan tingkah konyolmu..
Aku merindukan segalanya tentang mu...
Bisakah kau muncul di hadapan ku?
Aku menanti janji janji yang kau berikan padaku saat itu..
Janji bahwa kita akan membagi segalanya...
Janji bahwa kita akan ada untuk satu sama lain
Aku menantimu... I Miss You..
~~```•`√|~|~√~||~|`~`~~``~~~~~~~`~``~~~~~
"Ardi!" Panggil Rana.
"Ya?"
"Terimakasih untuk semuanya"
~~```•`√|~|~√~||~|`~`~~``~~~~~~~`~``~~~~~
{Hujan}
Rintikan mu membuat ku hanyut dalam kenangan...
Dalam terlalu dalam...
Dan saat kau berhenti...
Aku merasakan sejuta kerinduan..
Sebenarnya apa maumu?
Kau datang membawa kenangan dan pergi membawa kerinduan..
Apa yang kau lakukan?
Mengapa harus mempermainkan hati untuk membuat sebuah kisah?
Di sini ku menanti dalam kerinduan..
Bertahan dengan kenangan..
Dan mulai menjauh dalam kekecewaan...
Lalu kau turun..
Membawa sekali lagi kekecewaan...
Membiarkannya menelanku lagi dan lagi...
Hujan...
Kenangan yang terjadi saat kau datang adalah hal paling abadi yang ku tau...
Seandainya yang terjadi adalah kenangan suka pasti bahagia lah bila di ingat...
Namun seandainya yang terjadi adalah kenangan duka?
Sakitlah kenangan itu bila di ingat..
Ku harap kau mengerti...
Wahai hujan yang turun dari langit mendung....
~~```•`√|~|~√~||~|`~`~~``~~~~~~~`~``~~~~~
{Tertipu}
Bagaimana bisa seorang jadi pelipur lara
Saat ia sendiri yang membawa lara?
Bagaimana seorang bisa mengusap air mata
Saat ia sendiri yang membuat air mata mengalir?
Bagaimana seorang bisa membawa tawa
Saat ia sendiri telah menenggelamkannya di lautan luas?
Bagaimana mungkin hari yang harusnya bahagia jadi berlinang air mata?
Lihatlah arus takdir ini wahai langit biru!
Perhatikanlah jalan ini wahai awan yang bertaburan!
Lihatlah seberapa dalam kesedihan ini wahai lautan yang dalam tak terkira!
Tenggelam di dalamnya
Pergi di terpa angin malam
Terhempas kepalsuan, tenggelam dalam kekecewaan...
Hati yang telah rapuh kau tekan
Hancurlah ia jadi butiran debu ..
Ketika urusan hati menghancurkan segala!
~~```•`√|~|~√~||~|`~`~~``~~~~~~~`~``~~~~~
Nb:Semua kata dan kalimat yang ada di sini adalah karangan murni dari penulis harap tidak mencopy maupun me repost ulang karya tanpa seizin penulis aslinya!!